Share

3

Hari ini para guru ada rapat, sama seperti di sekolah pada umumnya, kini pun sekolah menjadi ramai karena para siswa-siswi bebas. Di saat-saat seperti ini, tempat yang paling ramai di sekolah adalah di kantin. Maka ketika Alice mengajak Lisa untuk makan di kantin, gadis itu langsung menolaknya. Lisa sedang tidak lapar sekarang dan sedang tidak ingin berada di tempat yang ramai. Lagi pula Alice pasti akan duduk dengan Zidan di kantin nanti, ia tidak ingin mengganggu pasangan itu. 

Sekarang Lisa hanya berjalan-jalan di koridor tanpa tujuan, ia bingung harus kemana. Di UKS pasti ada yang sedang tidur, di lapangan ramainya seperti di kantin karena sedang ada pertandingan basket dadakan, haruskah ia ke perpustakaan? Mungkin ke perpustakaan adalah ide yang cukup bagus, di sana hanya ada beberapa orang. Untung saja perpustakaan tidak dikunci karena biasanya dikunci jika guru penjaga perpustakaan sedang ikut rapat.  

"Saat kau bilang kau menyukaiku, itu hanya bohong kan?" suara itu membuat Lisa menghentikan aktivitasnya mencari buku dan membuatnya menoleh. 

"Kenapa? Kau tidak suka jika aku benar-benar menyukaimu?" bukannya menjawab, Lisa malah balas bertanya. Pria di depannya itu tersenyum, lantas menggeleng. 

"Bukan begitu, rasanya aneh saja kau tiba-tiba mengatakan bahwa kau menyukaiku, seperti ada yang salah" kecurigaan Davin itu memang terbukti benar. 

"Tolong pilih saja Alice untuk menjadi istrimu" mendengar ucapan Lisa itu, Davin terkekeh. Bisa-bisanya gadis ini mengatakan itu setelah kemarin mengatakan bahwa ia menyukai Davin? 

"Kita lihat saja nanti" setelah mengatakan itu, Davin pergi begitu saja. Apa maksudnya itu? Apa ada kemungkinan besar dia akan memilih Lisa? 

***

"Sedang memikirkan apa?" suara berat temannya itu berhasil menyadarkan Davin yang sedang melamun, pria itu menoleh dan menemukan si kapten basket yang dengan seenaknya meminum minumannya. 

"Hanya ini dan itu" jawaban Davin itu membuat Azkara Julian—teman Davin sekaligus kapten tim basket sekolah memukul belakang kepalanya. 

"Bagaimana menurutmu jika ada seorang gadis mengaku jika ia menyukaimu di depan orang tuamu, tapi lalu saat hanya berdua denganmu, dia mengatakan bahwa dia tidak menyukaimu" Azka melepas kaos hitamnya, menggantinya dengan seragam, ia lalu duduk disamping temannya itu. 

"Apa-apaan itu? Rumit sekali, itu masalahmu?" Davin mengangguk, yang membuatnya lantas mendapat tepukan di bahunya dengan raut wajah Azka yang terlihat sedih. Davin lantas menceritakan tentang perjodohannya dengan Alice, kejadian kemarin, keinginan Ibunya dan kejadian di perpustakaan tadi. 

"Masalah dengan si kembar Aldera yaa, mereka berdua itu misterius, terutama Lisa. Yang kutau tentang Alice, dia memiliki pacar, namanya Zidan Arkala, aku tidak tau apakah mereka teman atau bukan tapi Alice selalu terlihat bersama ketua kelasnya—Destiny Prameswari. Lalu yang kutau tentang Lisa hanyalah sifatnya, dia tidak dingin, hanya saja jarang tersenyum, dia juga selalu terlihat sendiri jika tidak sedang bersama Alice" jelas Azka. Memang mereka itu misterius, sampai-sampai Azka yang selalu tau segalanya itu hanya mengetahui info biasa tentang si kembar Aldera. 

"Tidak penting sekali, semua orang juga tau tentang itu" Davin kembali mendapat pukulan di belakang kepalanya setelah mengatakan itu. Ia memang tidak tau berterimakasih, sudah diberi tau malah mengatakan itu dan pergi seenaknya. Setelah dari perpustakaan tadi Davin memang pergi ke tempat ganti baju para pria, menunggu Azka selesai dengan pertandingan basket mendadaknya dan memikirkan berbagai hal. Kini ia berjalan di koridor tanpa tujuan dengan Azka di sampingnya. 

"Destiny Prameswari, bagaimana menurutmu?" pertanyaan itu membuat Davin sontak menghentikan langkahnya, dahinya berkernyit bingung. Kenapa tiba-tiba temannya itu menanyakan pendapatnya tentang si gadis galak dari kelas Lisa? 

"Kau tertarik padanya? Hei! Sadarlah, dia tidak akan menyukai laki-laki sepertimu" pukulan ketiga kalinya di belakang kepala Davin terhenti saat seorang gadis muncul di depan mereka. Orang yang sedang mereka bicarakan, Destiny Prameswari! 

"Apa bola basket sudah diletakkan kembali di gudang peralatan olahraga?" tanya Destiny dengan tatapan tajam menyelidik. Siapapun akan gugup saat ditatap begitu oleh gadis itu, seperti apa yang sedang dirasakan Davin dan Azka sekarang. 

"Hah? Su-sudah" jawab Azka terbata, membuat Davin tidak lagi merasakan gugup dan kini sedang menahan tawa. 

"Bagus, awas saja kalau besok bola basketnya tidak ada di gudang" seringai senyum terbit di bibir Destiny, membuat Azka kini menelan ludah dengan gugup. Setelah gadis itu pergi, barulah Azka merasa lega dan kembali bernapas dengan normal. 

"Aku akan memeriksa kembali apakah bola basket sudah diletakkan di gudang" setelah mengatakan itu, Azka pergi begitu saja meninggalkan Davin yang kini menggeleng pelan karena tingkah temannya itu. Baru saja tadi menanyakan pendapatnya tentang Destiny, saat bertemu dengan gadis itu malah takut dan gugup. 

Baru saja hendak melanjutkan jalannya, ia tiba-tiba berpapasan dengan Alice dan Zidan. Gadis itu sedang merangkul erat lengan pacarnya itu. Pertemuan yang canggung, sungguh Davin sangat membenci pertemuan yang sangat tidak tepat seperti ini. Ketiganya lama terdiam saling bertatapan sebelum bunyi dering ponsel milik Zidan menginterupsi. Ia pamit pada Alice untuk pergi sebentar mengangkat panggilan itu. Davin juga hendak pergi, namun suara Alice kini menghentikannya. 

"Maaf, bisa bicara sebentar?" Davin mengangguk ragu. Kini Alice berada di depannya, memimpin jalan menuju tempat sepi untuk mereka bicara berdua. Apa yang akan gadis itu katakan? 

Mereka pun tiba di gudang tempat peralatan musik, di sana memang sepi karena gudang itu sering dikunci, tapi ternyata hari ini tidak dikunci. 

"Jadi begini, emm tolong pilih Lisa untuk menjadi istrimu" satu alis Davin terangkat kala mendengar ucapan Alice. Apa kedua gadis ini sedang mempermainkannya? Tadi Lisa mengatakan agar ia memilih Alice dan sekarang Alice mengatakan agar ia memilih Lisa. 

"Uhh, kau tau kan, aku memiliki seorang pacar. Pria tadi, Zidan Arkala adalah pacarku" kedua tangan Alice saling bertaut, dia pasti sedang gugup saat ini. Sama seperti saat Lisa mengatakan bahwa ia menyukai Davin kemarin. 

"Kita lihat saja nanti akhirnya bagaimana" itulah kata-kata terakhir Davin sebelum ia pergi begitu saja meninggalkan Alice. 

Sebenarnya ada apa dengan mereka berdua? Apa ia benar-benar sedang dipermainkan? Mereka sudah jelas sama-sama tidak menginginkan dirinya sebagai suami di masa depan, tapi lalu kenapa Lisa kemarin tiba-tiba mengatakan bahwa ia menyukainya? Teka-teki yang cukup sulit, Davin butuh tempat yang sepi dan waktu yang banyak untuk berpikir. 

Setelah berbicara langsung tadi dengan Lisa dan Alice, sekarang Davin sedikit mengerti karakter keduanya. Karakter mereka benar-benar berbeda. Dan satu hal lagi yang ia tau, Lisa merasakan gugup kemarin saat mengatakan bahwa gadis itu menyukainya. Suara dan ekspresinya yang datar itu berhasil menutupi kegugupannya, tapi melihat melalui gelagatnya yang menautkan kedua tangannya kemarin seperti Alice tadi, itu berarti ia gugup. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status