Share

4

Di siang hari yang panas itu, Davin melihat melalui jendela kelasnya, mata pelajaran ketiga kelas Lisa adalah olahraga. Destiny Prameswari sang ketua kelas terlihat membawa beberapa bola basket. Umumnya sulit bagi seorang wanita untuk membawa beberapa buah bola basket sendirian seperti itu karena ukurannya yang cukup besar dan cukup berat, tapi melihat Destiny yang biasa saja, sepertinya dia tidak mendapat masalah dengan bola basket. Jadi, alasan Destiny menanyakan tentang bola basket kemarin ke Azka adalah karena pelajaran olahraga mereka hari ini tentang basket. 

"Selain cantik dan tegas, Destiny juga adalah seorang gadis yang kuat" Azka yang duduk di belakang Davin berbisik, sepertinya dia juga sedang memperhatikan pelajaran olahraga kelas Lisa. Mata pelajaran ketiga di kelas Davin adalah sejarah, guru sejarah mereka itu adalah seorang pria paruh baya, pelajarannya itu membosankan dan bisa menjadi obat tidur di kelas. Guru mereka itu juga seseorang yang tidak peduli meski siswa-siswi yang sedang diajarnya tertidur atau keluar dari kelas tanpa pamitan, ia tetap melanjutkan pelajarannya. Maka saat Davin dan Azka memperhatikan keluar dan berbisik-bisik tadi, sang guru tidak memberi mereka teguran, hanya tetap bercerita mengenai sejarah. 

Kini para murid perempuan dan laki-laki terlihat memisahkan diri, masing-masing membagi kelompok. Karena sekolah mereka adalah sekolah elite dan sekolah yang sulit sekali dimasuki, maka satu kelas hanya berisi dua puluh orang murid saja, sepuluh murid perempuan dan sepuluh murid laki-laki. 

Pertandingan basket pun dimulai. Davin dan Azka hanya memperhatikan pertandingan para murid perempuan, Lisa dan Destiny terlihat berada di tim yang sama, sedangkan Alice berada di tim lawan. Beberapa menit pertandingan berjalan, kini skor keduanya seimbang. Alice melempar bola basket ke kronum—keranjang bola basket, namun memantul dan bola itu mengenai punggung Lisa, membuatnya terjatuh. Davin yang melihat itu tanpa sengaja berdiri, suara kursinya yang berderit membuat seisi kelas kini menatapnya, bahkan sang guru pun menatapnya sekejap sebelum akhirnya melanjutkan menulis catatan di papan tulis. Sadar dengan tingkahnya, Davin akhirnya kembali duduk. 

Azka yang tadi melihat Lisa terjatuh juga terkejut, namun ia lebih terkejut saat tiba-tiba teman yang duduk di depannya itu berdiri. Ia menelungkupkan wajahnya guna meredam suara tawanya. Konyol sekali temannya itu, apa tadi dia berniat berlari ke lapangan dan menolong Lisa? 

"Jangan tertawa" Davin berbisik pada Azka yang sedang menyembunyikan wajahnya itu. Ia memukul belakang kepala Azka, seperti yang sering Azka lakukan padanya, membuat pria itu kini menatapnya dengan kesal sembari memegangi belakang kepalanya. 

Mereka kembali memantau lapangan, tidak ada Alice, Lisa dan Destiny di sana, mungkin mereka sedang ke UKS. Terkena bola basket tentu saja sakit karena bola itu keras, Azka sudah sering mengalaminya dan belum terbiasa hingga sekarang, entah bagaimana nasib Lisa sekarang. Sepertinya pertandingan basket itu sudah berakhir sekarang, sebagian murid sudah tidak ada. 

***

"Maaf, maafkan aku, b-bagaimana ini" seperti yang biasa dilakukannya saat panik, kini Alice menggigiti kukunya melihat memar di punggung Lisa dikarenakan bola basket yang mengenainya. Matanya sudah mulai memerah dan berair. 

"Apanya yang bagaimana? Tentu saja bantu aku mengkompresnya" Destiny yang berada di sebelahnya berujar dengan gemas, melihat Alice yang hanya berdiri dengan panik dan hanya menatapi punggung memar Lisa. 

"Sudahlah, lagi pula ini tidak sesakit yang terlihat" bohong Lisa, sejujurnya ini lebih sakit daripada saat Ibunya atau Ayahnya menamparnya. Pandai sekali dia berbohong. Punggungnya itu jadi lebih baik karena Destiny menempelkan kain berisi es batu. 

"Kau mau makan? Biar aku belikan di kantin" tawar Destiny, namun Lisa menggeleng. Rasa sakit di punggungnya lebih besar ketimbang rasa laparnya, ia hanya ingin minum dulu untuk sekarang. 

"Tolong belikan aku minum saja" Destiny segera berjalan keluar UKS menuju kantin. Sebagai seseorang yang selalu ingin berteman dengan Lisa, ia tau minuman dan makanan apa saja yang gadis itu sukai. Sejak dulu, Destiny memang selalu mendekati Lisa, ia ingin menjadi temannya, namun gadis itu lebih suka menyendiri dibanding memiliki teman. Ia memang sering terlihat bersama Alice, namun bukan berarti ia berteman atau dekat dengan saudari kembar Lisa. Saat Destiny ingin ke kantin, ia selalu mengajak Lisa, namun gadis itu selalu menolak dan menyuruhnya untuk pergi bersama Alice, itulah sebabnya ia jadi sering terlihat bersama Alice. 

Setelah membeli beberapa minuman kaleng yang sering Lisa minum, Destiny berjalan cepat menuju UKS. Sesampainya di UKS, ia melihat Alice yang kini menangis dan beberapa kali meminta maaf pada Lisa. Ia merotasikan bola matanya melihat pemandangan itu, ia tau Alice merasa sangat bersalah karena bola basket tadi memantul dan malah mengenai Lisa, tapi setidaknya ia bisa membantu merawat Lisa kan? Bukannya malah menangis dan terus-terusan minta maaf begitu, ia jadi heran kenapa Lisa masih bisa bertahan dengan kakak kembarnya itu hingga sekarang, dia pasti orang yang sabar. 

"Pergilah ke kelas, pelajaran selanjutnya akan segera dimulai. Biar aku yang menjaga Lisa di sini dan meminta izin pada guru" 

"Tapi—" ucapan Alice terpotong karena Destiny yang sekarang menunjuk pintu dengan raut wajah tegas yang tak ingin dibantah. Maka ia segera keluar dari UKS dengan raut wajah cemberut. 

Lisa memperhatikan gadis dengan rambut sebahu yang kini sedang menata berbagai macam minuman kaleng pada nakas di depannya itu. Ia cukup terkesan pada Destiny yang selalu sabar menghadapinya, padahal ia selalu mendapat penolakan. Bukannya menyerah seperti orang lain, dia malah keras kepala dan terus-menerus ingin dekat dengan Lisa. Apa sebaiknya Lisa berteman saja dengannya? Mereka memiliki cukup banyak kemiripan pada sifat dan Destiny berbeda dengan gadis lain yang menginginkannya menjadi teman mereka. Yaah, tidak ada salahnya mencoba berteman dengan seseorang. 

"Aku akan meminta izin pada wali kelas agar kau bisa beristirahat sampai nanti pulang sekolah" Destiny yang hendak berjalan keluar tiba-tiba berhenti kala ia merasakan cekalan di lengannya. 

"Ayo makan bersama di kantin besok" butuh beberapa menit bagi Destiny untuk bereaksi, ia menatap Lisa dengan pandangan menyelidik. 

"Kau serius?" tanya gadis itu memastikan, Lisa mengangguk singkat. Sepersekian detik kemudian, wajah Destiny terlihat berseri-seri, penantiannya sekian lama untuk diterima Lisa akhirnya ada hasilnya. Ia mengangguk-angguk antusias dengan senyum lebar, sebelum akhirnya pergi dari sana dengan riang. Orang di luar akan mengira Destiny baru saja menemukan berlian dan emas di UKS. Lisa tak menyangka, hanya mengajak Destiny makan bersama di kantin saja reaksinya akan sangat senang begitu. Apa selama ini ia terlalu mengabaikan Destiny yaa? 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status