로그인In the heart of a bustling metropolis, two worlds collide. By day, she's Luna Cruz, an unassuming office worker. By night, she's Dew, a renowned practitioner of BDSM, celebrated for her ability to awaken hidden desires. When Alex Quinn, a CEO/Boss, crosses paths with Dew on a crowded subway, their lives take an unexpected turn. Drawn into Dew's enigmatic world of dominance and submission, Alex Quinn embarks on a journey of self-discovery, challenging societal norms and his own desires. As their connection deepens, Alex Quinn's younger brother, Danny, and his close friend, Mike, also become entangled in Dew's world, exploring their own forbidden fantasies. Together, they navigate the intricate dance of pleasure and restraint, pushing the boundaries of their desires. But Dew harbors a mysterious past, and when it resurfaces, the delicate balance they've found is threatened. The characters must confront their inner demons, unravel secrets, and make choices that will change their lives forever. "A Master Intern and her Submissive Boss" is a captivating exploration of human desire, the complexities of relationships, and the power of embracing one's true self. In a world where hidden desires are revealed, will they succumb to temptation or find the strength to forge their own paths? Prepare to be enthralled by a story that challenges conventions and delves deep into the realms of passion, love, and self-acceptance. "A Master Intern and her Submissive Boss" is a tale that will leave you questioning the boundaries of your own desires and the captivating power of connection.
더 보기01
"Bang, ayo, kita pulang," ajak Alvaro Gustav Baltissen, sembari memegangi lengan kiri seniornya.
Haikal Jabbar bergeming. Direktur utama Baltissen Grup tersebut masih termangu, sambil memandangi gundukan tanah yang dipenuhi banyak bunga di hadapannya.
Tatapan nanar Haikal menjadikan rekan-rekannya saling melirik. Mereka memahami jika salah satu pengawal PBK lapis satu tersebut, masih berat untuk meninggalkan makam istrinya, Isnindar Herawati.
Alvaro menghela napas berat dan mengembuskannya perlahan. Dia beradu pandang dengan Hamid Awaluddin, direktur utama PG, yang berada di sebelah kanan Haikal.
Keduanya seolah-olah tengah berbincang dengan menggunakan bahasa batin, kemudian mereka sama-sama mengangguk.
Alvaro mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dia memberi kode pada asistennya, untuk memanggilkan orang-orang yang sangat disegani Haikal.
Tidak berselang lama, beberapa pria menyambangi kelompok tersebut. Alvaro dan teman-temannya bergeser untuk memberikan tempat pada mereka.
"Kal, kita harus pulang. Ini sudah gerimis," bujuk Sufyan, Kakak tertua Haikal.
"Kamu bisa datang ke sini kapan pun kamu mau, tapi, sekarang kita mesti pulang," sahut Fahar, Ayah mertua Haikal.
Akan tetapi, Haikal tetap bergeming. Dia seolah-olah tidak mendengar ucapan kedua keluarganya tersebut, yang masih terus mencoba membujuknya.
Pria tua asli Spanyol, merangkul pundak Haikal dari samping kanan. "Iis tidak akan senang, jika kamu melupakan tugas untuk merawat anak-anak kalian," tutur Gustavo Demetrio Baltissen, dengan lembut.
"Gustavo benar. Kamu sudah berjanji pada Iis, untuk fokus merawat anak-anak," sela Sultan Pramudya. "Kamu tidak akan bisa menuntaskan janji, jika kamu tetap di sini dan hujan-hujanan," lanjutnya.
Haikal tetap diam. Bulir bening luruh dari kedua matanya. Haikal menunduk dan terisak-isak, hingga menimbulkan kesedihan semua orang yang melihatnya.
Gustavo berpindah ke depan Haikal. Dia memeluk anak angkatnya tersebut, yang akhirnya sesenggukan dalam dekapannya.
Selama beberapa saat suasana hening. Tidak ada seorang pun yang urun suara. Mereka turut terharu dan bisa merasakan kesedihan Haikal ditinggal istri tercinta, untuk selama-lamanya.
Rinai hujan kian membesar. Puluhan payung dikembangkan untuk melindungi diri. Satu per satu pelayat jalan menjauhi tenda hijau yang menaungi makam Isnindar Herawati.
Panggilan seorang perempuan menjadikan tangisan Haikal berhenti. Dia mengurai pelukan dan menjauhkan diri dari Gustavo, lalu mengambil tisu yang diberikan perempuan tersebut, untuk mengusap wajahnya yang basah.
"Mari kita pulang, Bang. Anak-anak sudah capek," ungkap Mayuree Fitriachara Pramudya, putri kedua Sultan Pramudya, sekaligus istri Alvaro.
Haikal mengalihkan pandangan pada ketiga anaknya yang tengah duduk di dekat Ummi dan Ibu mertuanya. Haikal akhirnya mengangguk mengiakan ucapan Mayuree, karena dia tidak mau anak-anaknya kelelahan.
Haikal berjongkok dan mengusap nisan bertuliskan nama istrinya. "Ayah pulang dulu, Bu. Besok Ayah datang lagi," bisiknya.
Haikal menatap makam itu sesaat, sebelum dia mengambil sekuntum bunga dan menggenggamnya erat. Pria berbaju koko hitam itu berdiri. Dia membaca doa agar istrinya bisa tenang di alam kubur.
Haikal mendengkus pelan, lalu dia memutar tubuh dan jalan mendatangi keluarganya. Haikal mengambil putra bungsunya dari pangkuan sang nenek, kemudian dia menggendong lelaki kecil tersebut yang telah terlelap.
Haikal memegangi tangan kiri putrinya, sembari meminta agar putra sulungnya ikut dengannya menuju mobil. Haikal jalan sembari memastikan anak-anaknya tetap bersama. Keluar dari tenda, mereka langsung dipayungi beberapa ajudan muda.
Sekian menit berlalu, Haikal dan ketiga anaknya telah berada di mobil Jeep Mercedes-Benz hitam, yang dikemudikan pemiliknya sendiri.
Haikal menyandarkan badannya sambil memeluk Baadal Syarifian yang berusia 2 tahun. Haikal memejamkan mata sambil membayangkan paras istrinya, yang mengembuskan napas terakhir kemarin malam.
Runutan peristiwa dari awal perjumpaan mereka belasan tahun lalu, kembali berputar dalam benak Haikal. Dia masih mengingat jelas sosok Isnindar yang merupakan perempuan tangguh.
Semenjak menikah 13 tahun silam, Isnindar nyaris tidak pernah mengeluh akan kesibukan suaminya. Isnindar juga menjadi pendukung terkuat Haikal, sejak merintis karier sebagai pengawal keluarga Pramudya.
Bulir bening kembali luruh dari sudut mata Haikal. Dia membiarkan lelehan air itu dan tidak berniat mengusapnya.
Alvaro yang melihat hal itu, mengerjap-ngerjapkan matanya yang mengabut. Alvaro memahami kesedihan senior kesayangannya tersebut, karena dia tahu jika Haikal sangat mencintai istrinya.
Isakan pelan Haikal terdengar keempat penumpang di belakang. Hamid mengeratkan pelukan pada Ghazwa Sabiqah, putri kedua Haikal. Sedangkan Darma Suhendar memeluk Bariq Khalaf Mahdi, putra tertua Haikal, yang turut menangis.
***
Malam harinya, acara takziah pertama dilaksanakan di kediaman Haikal, di kawasan Cilandak. Rumah besar itu nyaris tidak mampu menampung banyaknya tamu yang hadir, untuk mendoakan almarhumah Isnindar Herawati.
Tenda besar yang dipasang menutupi halaman depan, juga tidak bisa menaungi seluruh tamu. Banyak dari mereka yang mengikuti takziah, sambil duduk bersila di karpet yang dihamparkan di jalan depan rumah dua lantai bercat gading.
Hadirin terlihat serius mengaji sambil memegangi buku Yaasin, yang telah dibagikan panitia. Hal serupa juga dilakukan seluruh anggota keluarga Haikal dan Isnindar, yang memenuhi area dalam rumah.
Puluhan menit terlewati. Acara takziah telah usai. Para tamu sebagian besar sudah pulang. Hingga tersisa keluarga dan kerabat Haikal.
"Abang, dimakan dulu," cakap Lula Faida Annaila, Adik sepupu Isnindar, sembari memberikan piring pada Haikal.
"Abang nggak lapar," jawab Haikal.
"Abang belum makan dari siang."
"Beneran nggak lapar, La."
Lula memandangi lelaki berkumis tipis, yang matanya bengkak. "Oke, piringnya kutaruh di sini. Dicemil aja lauknya, kalau Abang nggak mau makan nasi."
Haikal tidak menyahut. Dia memandangi piring tanpa berniat menyentuhnya. Lula mendengkus pelan, lalu dia berdiri dan jalan menjauh.
Tidak lama kemudian, Ghazwa menghampiri ayahnya dan duduk di depan Haikal. Tanpa mengatakan apa pun, Ghazwa menyendok nasi dan menambahkan sedikit daging semur. Lalu dia mendekatkan sendok itu ke depan mulut sang ayah.
"Makan, Yah. Kakak suapin," bujuk gadis kecil berusia 8 tahun tersebut.
"Ayah makan sendiri aja," tolak Haikal.
Ghazwa menggeleng. "Kalau Ayah nggak makan, Kakak nangis, nih!" ancamnnya sembari memandangi Haikal saksama.
Pria berbaju koko putih itu terkesiap. Haikal seakan-akan tengah melihat Isnindar kecil, karena paras Ghazwa yang mirip dengan ibunya.
Haikal tertegun ketika menyaksikan sepasang mata Ghazwa berkaca-kaca. Haikal memaksakan diri untuk membuka mulut dan membiarkan Ghazwa menyuapinya.
Hamid dan seluruh sahabat Haikal, serentak menghela napas lega. Mereka sangat mengkhawatirkan Haikal yang menolak makan sejak pulang dari makam.
"Cukup, Kak. Ayah sudah kenyang," tukas Haikal.
"Baru lima suap. Nggak mungkin kenyang," sanggah Ghazwa.
Haikal mengeluh dalam hati, karena putrinya mewarisi sifatnya yang keras hati. "Satu suap lagi. Setelah itu, Ayah mau makan jeruk."
Ghazwa mengangguk mengiakan. Dia menyuapi sang ayah, kemudian hendak berdiri, ketika Bariq datang sambil membawakan beberapa buah jeruk.
Hadirin memerhatikan kala kedua bersaudara tersebut mengupas jeruk dengan cepat. Kemudian Bariq dan Ghazwa bergantian menyuapi ayahnya.
Haikal tidak kuasa menolak dan membiarkan dirinya disuapi, hingga semua jeruk habis. Haikal memaksakan senyuman untuk menghibur kedua anaknya. Kemudian dia maju dan mendekap Bariq serta Ghazwa, yang balas memeluknya erat.
"Luna Cruz, how can you do this to me?!"In a cafe near the university, the afternoon sun cast a warm, inviting glow, illuminating just two or three tables occupied by guests.The barista served them a cup of latte, a cup of black coffee, and a special addition of freshly baked cookies.The guests at this table seem to be a couple who are quarreling. Perhaps the sweetness of dessert might soften the edges of their discord?In a gentle attempt to lighten the mood, the owner approached with a faint, empathetic smile and a discreet nod, offering a silent gesture of understanding before quietly retreating to the haven behind the counter.It wasn’t the taste that she found appealing; it was the coffee's rich, smooth texture that she found oddly comforting in that moment of unease."What's wrong with me?"Luna's expression, brimming with concern, inadvertently added a layer of discomfort to the situation.However, Luna Cruz never seemed to realize it.Daniel Quinn took a bite of a cookie, a
"Hello everyone, I'm Mr Howard. I will be teaching you guys for the second half of the semester of this course."The large classroom was filled with more than 200 people. This was a law school public class. The people who came to class were all industry elites. Every time, students had to compete to grab a spot in the class.Among them, there was the well-dressed and elegant Mr Howard.Mr Howard always wore a suit and leather shoes, exuding an elite demeanor. Without saying a word, he stands there like a person of remarkable talent.Daniel Quinn glanced upwards, momentarily distracted by Teacher Tan's relentless monologue from the podium. The barrage of complex terms was utterly foreign to him. As a fourth-year student, he had no interest in this elective course, except for the opportunity it provided to be near Luna Cruz."Luna..."He was seated right next to Luna Cruz. His eyes were wide open, radiating a sense of forlorn hope as he looked at her. Daniel Quinn’s voice was a soft mur
"Because I'm pursuing you, Alex."When Alex Quinn asked Luna Cruz why he was being so nice to him, Luna Cruz gave an answer as above.What did he say again?"Don't joke about that."Luna Cruz gathered the takeout bags, a simple task, yet she executed it with an unexpected elegance.As she was about to close the door, she threw him a seemingly nonchalant smile and asked rhetorically:"Who said I was joking?"Just from that enigmatic message, Alex Quinn found himself unable to concentrate on work all day. Upon arriving home, he received yet another text from Dew, this time with a bold proposition: asking if he was up for phone sex.He is really stupid.Fully aware of her knack for sweet talk, whether it be towards Daniel Quinn, strangers online, or even Alex Quinn himself, he knew well that not a shred of sincerity lay in her words. Yet, he couldn't help but feel his heart skip a beat at the fleeting glimpse of genuine emotion in her expression.However, Alex Quinn never expected that
"Shall we try something new today?"Dew Cruz's message popped up on Alex Quinn's screen for the first time.In his dimly lit study, only a desk lamp cast a warm, golden hue.Alex’s mouth suddenly felt dry.Trying not to appear overly keen, he waited a whole minute before replying with a measured curiosity,"What do you have in mind?"Dew's excitement seemed palpable, even through the impersonal screen."How about we do it over the phone?"Alex's thirst intensified.He reached for his thermos, taking large sips of berry-infused water.He knew what Dew was hinting at – a step-by-step testing of boundaries, starting with his voice.Yet, he always hesitated at the thought of being fully exposed to her."I want to hear your voice," Dew's text arrived, a blend of enticement and appeal.Alex knew she had an irresistible character, or maybe he already wanted to do this, or perhaps he simply couldn't refuse her.Alex downloaded the Chirp app on his phone, sending her his agreement.He moved si
The next morning, Danny woke up to find that Luna Cruz had already left. She had thoughtfully unbound the belt from his wrists and left croissants and lattes on the coffee table for his breakfast. Despite being a highly-priced trainer, her service felt like a real lover. Danny smiled wryly as he too
Today marked Alex Quinn's first time embarking on a task. May had arrived, and the weather was getting warm. Yet he adhered to his usual shirt and suit, nervously fiddling with the buttons on his chest. Whenever a colleague happened to encounter him and offered a greeting, he couldn't help but becom
"Ah-choo—"Alex Quinn had caught a cold.Having nearly slept naked on the floor for most of the night, it was no surprise he had fallen ill.Luna Cruz had instructed him to clean up before sleeping, but overwhelmed with pleasure, he lacked the strength to even crawl to the bathroom, instead falling dir
She's just a sweet-talking little lair. Saying that if it were him, she'd make time for him. But now, she's responding so warmly to an unidentified stranger on social media. Alex Quinn felt a tinge of disgust. He thought he should immediately close the chat window, pretend that nothing happened, and
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.