LOGINAfter years of being together, Joan was cheated on by boyfriend with her step sister because she's the love of your parents and the inheritor of family business. Worse, she forced to marry a bankrupt billionaire's son, in her stepsister's place. In desperate need of a big sum of money to pay her medical bills for a sickness which no one knew about, she agreed. But nobody knows that the ruthless billionaire's son whom everyone despises has his own business and his own empire. Her now ex-boyfriend regrets it and wants her back? Never. Her family all beg for her forgiveness so the family business can be saved? She is ready to show the how RUTHLESS she can be.
View MoreShayla Amaradhiva, gadis sembilan belas tahun yang sedang menempuh pendidikan S1 di sebuah Universitas swasta terbaik di Jakarta tiba-tiba terkejut saat mommy memberitahunya kalau beliau mencintai seorang pria dan akan menikah.
Selama ini Shayla hidup berdua dengan sang mommy dan sangat bahagia karena mereka layaknya bestie. Daddy-nya Shayla dulunya adalah Atase Perdagangan di Kedutaan Besar Inggris untuk Indonesia. Konon katanya, mommy dan daddy bertemu di sebuah acara yang diadakan oleh pemerintah sewaktu mommy masih magang di sebuah kantor Kejaksaan. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama lalu menikah dan lahirlah bayi mungil cantik yang wajahnya lebih mirip Daddy dan diberi nama Shayla Amaradhiva. Selesai masa jabatan daddy di Indonesia, beliau bermaksud memboyong mommy dan Shayla ke Inggris karena daddy akan melanjutkan karir Politiknya di sana. Namun saat itu mommy yang sedang melanjutkan kuliah lagi dan meniti karir di suatu kantor konsultan hukum terbaik di Negara tercinta ini langsung menolak mentah-mentah ajakan daddy. Sempat melakukan Long Distance Relationshiop namun tidak bertahan lama, akhirnya mommy dan daddy memutuskan untuk bercerai. Daddy memberikan hak asuh Shayla pada mommy dan setelah itu Shayla kehilangan sosok daddy. Sebenarnya oma dan opa juga menyayangi Shayla tapi sayangnya mommy sering berdebat dengan opa membuat Shayla jarang mendapat ijin bertemu mereka. Meski sebenarnya Shayla seringkali diam-diam bertemu oma dan opa tanpa sepengetahuan mommy. Baiklah, kembali pada Shayla yang masih dengan rasa terkejut yang menyelimuti hati dan pikirannya selama beberapa hari terakhir—ditambah setengah jam lalu mommy masuk ke dalam kamar dan memintanya untuk bersiap karena mereka akan makan malam di luar. Makan malamnya bukan hal yang asing karena setiap malam minggu, Mommy sering mengajak Shayla makan malam di luar bahkan mereka beberapa kali dugem bareng. Tapi makan malam kali ini adalah makan malam bersama kekasih Mommy. Demi apa Shayla malas sekali. Dia yang sedari tadi duduk di tepi ranjang memandangi deretan pakaian di dalam lemari langsung menghempaskan punggungnya ke kasur bersama hembusan napas jengah. Ada perasaan cemburu dan resah bila Mommy menikah lagi akan melupakannya karena otomatis perhatian mommy terbagi begitu juga waktunya yang sangat sedikit. Mommy sibuk sekali sebagai Pengacara, mereka terkadang hanya bertemu pagi atau malam hari saja bahkan terkadang bila ada kasus besar, seperti yang terjadi akhir-akhir ini selama beberapa minggu mereka tidak bertemu hanya bertukar pesan singkat atau notes yang ditempel di kulkas. Tapi tunggu …. Shayla menegakan punggungnya, dia tampak berpikir. Beberapa hari lalu mommy mengatakan kalau beliau akan menikahi kliennya. Apakah klien dari kasus besar yang sedang mommy tangani sekarang? Shayla merotasi bola matanya. “Ngapain sih mommy jatuh cinta sama klien? Kalau dia klien mommy berarti orangnya bermasalah donk!” Shayla misuh-misuh sembari menghentak-hentakan kakinya ke lantai. Dia bangkit dari sisi ranjang, tangannya terulur menarik satu dress berwarna hitam. Shayla menempelkannya di depan tubuh sembari menatap cermin seukuran lebih tinggi dari tubuhnya. Gadis berambut coklat panjang itu mengangguk, mantap menggunakan warna hitam karena menurutnya hari ini adalah hari berkabung lantaran dia akan kehilangan sebagian dari cinta, sayang dan waktunya mommy. Setelah memakai dress tersebut dan mengaplikasikan blush on juga lip gloss agar wajahnya tidak pucat—Shayla keluar dari kamar kemudian menuruni anak tangga. Kebetulan mommy baru keluar dari kamarnya dan beliau langsung mendongak ke arah tangga begitu menyadari kemunculan Shayla. “Kamu mau ke pemakaman?” Mommy menyindir. Kedua tangan mommy diletakan di pinggangnya yang ramping. Mata dengan smoke eyes itu memindai dari atas hingga bawah tubuh Shayla. “Naik … naik!” Mommy mengarahkan telunjuknya ke atas berulang kali meminta Shayla kembali naik ke kamar. Tanpa berani membantah Shayla memutar badan, tidak ingin membuat mommy marah. Shayla memang anak penurut. Mommy sangat cantik menggunakan dress bodycon warna maroon yang membentuk lekukan tubuhnya begitu sempurna. Rambut model Bob sebahu yang lurus dibiarkan tergerai dengan sedikit poni menutupi kening sempitnya. Lalu stiletto berwarna senada membuat kaki mulus Mommy kian jenjang. Selagi mommy mengobrak-abrik lemarinya, Shayla terus memandangi mommy. Mommy memang sempurna, pintar-sukses-dan cantik. Beliau adalah manifestasi impian para wanita, pria mana yang tidak menyukai mommy. “Pake dress ini sama sepatu wedges warna senada, oke?” Mommy menunggu jawaban. Shayla menatap dress berwarna peach dengan banyak renda dan tile. Shayla seperti anak SD bila menggunakan itu tapi lagi-lagi Shayla tidak ingin membuat mommy kesal. “Oke.” Akhirnya Shayla menjawab singkat. “Good girl!” Mommy memuji, ada senyum sedikit di sudut bibirnya. Mommy lantas pergi meninggalkan Shayla di kamar. Mommy bukan ibu yang otoriter, buktinya mereka pernah dugem bareng. Beliau juga tidak pernah melarang Shayla pacaran tapi Shayla saja yang malas menjalin hubungan dengan seorang pria. Shayla tidak ingin terjerumus seperti sahabatnya yang bernama Dewi. Dewi sama seperti dirinya, kehilangan sosok ayah semenjak kecil dan ketika remaja—Dewi selalu menjalin kasih dengan pria yang usianya lebih tua darinya dan berakhir menjadi simpanan om-om. Menurut buku yang Shayla baca pun seperti itu, seorang anak yang kehilangan sosok ayah sejak kecil akan mencari sosok ayah pengganti pada pria lain. Walaupun daddy sudah menikah lagi dan memiliki anak kembar perempuan yang lucu—Shayla masih bertukar kabar dengan daddy. Yaaa, sekitar sebulan sekali lah saat daddy mentransfer uang jajan. Hak Shayla sebagai anak yang membutuhkan waktu bersama daddy tidak terpenuhi tapi bagi Shayla mommy saja sudah cukup, dia tidak pernah berharap banyak kepada daddy. Namun itu dulu, sebelum mommy memiliki kekasih. “Mommy salah ya memutuskan untuk menikah lagi?” Mommy bertanya menguar hening di dalam mobil selama perjalanan. Shayla menoleh ke samping pada mommy, mungkin mommy bertanya demikian karena melihat ekspresi wajah Shayla yang murung. Detik berikutnya Shayla merasakan usapan tangan mommy di puncak kepalanya. “Mommy hanya menikah, kamu tetap menjadi anak mommy … nanti kita akan tinggal di rumah om Abraham.” “Kenapa mommy enggak minta pendapat Shayla?” Mata Shayla mulai berkaca-kaca, dulu memilih warna lipstik saja mommy pasti minta pendapat Shayla. “Karena kamu belum mengerti tentang perasaan bernama cinta, kamu sendiri belum punya pacar.” Shayla mengembalikan tatapan ke depan lalu hening, dia enggan menanggapi. “Mommy masih tetap menyayangi kamu, kita masih tinggal bersama dan akan melakukan aktifitas rutin kita bersama … tidak ada yang berubah, hanya saja hidup kita lebih ramai dengan kehadiran om Abraham dan anaknya.” Tangan mommy menarik pipi Shayla sehingga Shayla kembali menatap wajah cantik mommy. “Mommy mencintai pria ini setelah sekian lama mommy menutup hati mommy semenjak perceraian dengan daddy kamu … jadi Mommy minta tolong sama kamu, ikut berbahagialah karena mommy sangat bahagia saat ini.” Suara mommy terdengar memohon, matanya pun mulai menampung buliran kristal. Shayla tidak tega bila harus menghancurkan kebahagiaan mommy dengan tetap bersikap murung dan menjadi gadis tidak menyenangkan. Jadi Shayla menganggukan kepala, mengubah sorot matanya menjadi antusias bersama senyum merekah. “Kalau Mommy bahagia, Shayla juga bahagia.” Shayla tidak bohong, dia memang akan merasa bahagia bila sang mommy bahagia tapi untuk sekarang dia butuh waktu menerima kalau harus berbagi mommy dengan pria lain. “Makasih ya sayang.” Mommy merentangkan tangan merangkul pundak Shayla, memeluk sang putri yang sudah beranjak remaja. Shayla balas memeluk mommy yang pelukannya selalu hangat dan menenangkan.MARRIED.JOAN.Standing alone in the bridal room, no friends, no family, all alone and staring at my reflection, I can't help but remember when it was my life took a drastic turn.I should have ran.When he showed up at the funeral home and said he was taking me home.I should have screamed and ran.If I had done that, I would not be here, about to get married to a stranger.Two months.They had me licked in that room for two months before I finally caved.On the first night, my phone and laptop were seized and then Mira told me that they had informed my workplace that I wouldn't be returning.Effectively cutting me off from anyone who could have helped.I had tried to hold on, to hang in for just a little longer but for what?No one was coming to save me.No one cared enough.I was truly alone in this world.And if I wanted to get free of them, then I needed to leave the room first and marriage was the only way to do that.And so, here I am.A few moments away from getting married.I
ENGAGED.JOAN.“We have guests.”“And how does that concern me?” I spit at her.“Joan!” I hear my father’s voice before he shows up beside her.Logan Valon, at the age of fifty-three, can still be considered a handsome man. Lean and muscular with a silver train in his hair and beautiful green eyes, eyes that I took from him.“How can you talk to your sister like that?!”“She is not my sister,” I snarl at him. “She certainly doesn't behave like one.”“You-”“Logan, what is going on?” Vivian asks as he joins them.“Oh, great, the whole gang is here!” I snark at them. “Well, I am not interested in whatever shit you have going on and your guests are of no concern to me.”“You will come down this instant or I will make you regret it.”Ohh, I want to see what he would do, I sorely do but at the end of it, I choose to obey.We do have guests and I am not ready to debase myself because of them.With an irritated sniff, I stomp down the stairs, past them, and head to the living room, the three
SAVEDJOANComing out of the complex and walking down the streets with silent tears rolling down my face is a direct contrast to how I came in.The one joy of my life was a fraud.I have no one.Absolutely no one, on my side.Unable to help it, I collapse to the floor, right there on the streets as deep wracking sobs tear through me.“What did I do to deserve this?!” I cry. “It's not like I wanted to be a part of their family!”It wasn't.I had gone through my childhood years knowing nothing about my father until my mom died and then at her funeral, he showed up and said he would be taking me home.I was twelve when that happened and there is not a day that has passed that I haven't regretted it. I don't know why he came for me if he was just going to ignore me but that is what he did.Ignored me and left me at the hands of his vicious wife while showering his other daughter with all love and affection.Out of everyone, it is him I hate the most.“Hey! Yes you, are you okay?”I look
BETRAYED.JOAN.I hurry across the busy streets, my feet tapping with excitement as I hurry over to George's apartment.My boyfriend.I had just gotten a coffee and bagel from one of my favorite bakeries and was informed that he had stopped by to get a cake.Today is my birthday and I bet he just has a surprise waiting for me.I cross the road, narrowly escaping the collision with a car whose owner violently honks at me.“Sorry!” I shout back with a wave as I continue on my way.Still, on the streets, I hear my phone ring, bringing me out of the clouds my head is stuck in and see the caller ID, “she-devil”It is Vivian, my stepmother.Instantly, every trace of a good mood vanishes.I am sorely tempted to ignore the call but knowing her, she would only keep at it until I pick up, the irritating woman.“Hello, Vivian.”“Joan! Why didn't you pick up your calls? I was worried and how many times do I have to tell you to call me mother.”“You must be with guests,” I remark with a bland ton












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.