LOGINFor eighteen years, I was raised as the Frost Pack's cherished heiress-an Alpha's daughter, a future Luna, promised to power and glory. Then, under the full moon, the truth was revealed. Their true heiress came back and I was found as a fake. Branded an impostor, accused of poisoning the "real" daughter, I was cast into Angel Reform Academy-a place that pretends to "fix" heirs but in truth grinds us into trash. Two years of whips, cages, and silence. Two years of waiting for the family who never came. Now the two-year reformation period ended,but I survived. And I'm done begging for love. The next time they see me, I won't be the discarded pup they abandoned. I'll be the wolf with fangs bared, the storm they created, the heir they can never erase.
View More"Astaga, Andre! Rara! Jadi ini yang kalian lakukan di belakangku?!"
Arsana Putri membekap mulutnya tatkala melihat Andre dan Rara, sahabat Arsana yang sedang memadu kasih di atas ranjang apartemen milik Andre Wiranto, tunangannya. Seketika, Andre yang terkejut langsung menyingkirkan Rara dengan kasar yang sedari tadi bergerilya dan bergoyang di atas tubuhnya, lalu memakai handuk kimono dengan tergesa."Dasar pengkhianat!" geram Arsana."Arsana, ini tidak seperti yang kamu lihat!" ujar Andre seraya menarik tangan Arsana yang hendak pergi."Apa? Kita ini sudah tunangan, Andre, sebentar lagi kita akan menikah!" teriak Arsana dengan mata yang berkaca-kaca."Arsana, lebih baik kamu bergabung saja dengan kami. Ayo!" ajak Rara tanpa merasa berdosa."Diam kamu, Rara!" Andre menatap tajam sahabat dari tunangannya itu."Kalian berdua memang menjijikkan!"Arsana mengepalkan tangannya yang berkeringat, air matanya sudah tak bisa tertahankan lagi, tetapi dia tak ingin menunjukkan rasa sedih itu di hadapan dua jalang tersebut."Aku hanya menyalurkan syahwatku saja karena kamu tak bersedia melakukannya denganku, jadi, aku menjadikan Rara sebagai alat pemuas nafsuku sampai kita berdua resmi menikah," ucap Andre saat Arsana sudah turun satu tangga dari sana."Alasanmu membuatku ingin muntah, Andre. Dasar munafik!" desis Arsana memicingkan matanya.Plak!Gadis itu menampar wajah Andre, membuat lelaki itu memegang pipinya yang terasa panas."Aku tidak mencintainya, aku bersumpah! Bahkan aku membayangkan wajahmu saat melakukannya!" ucap Andre lagi membuat Arsana menampar kembali tunangannya itu.Melihat Andre--lelaki yang amat Rara cintai sedari dahulu ditampar oleh Arsana, dia langsung maju dan langsung menampar Arsana juga."Bahkan kamu lebih membela lelaki ini daripada aku, sahabatmu!" pekik Arsana."Aku mencintainya!" ucap Rara dengan tegas."tetapi aku tidak mencintaimu, Rara. Kita sudah sepakat melakukan ini semua atas dasar kebutuhan saja, bukan karena cinta."Mendengar pernyataan tersebut, Rara berteriak frustrasi karena kesal cintanya tidak juga dibalas oleh Andre, padahal dia sudah merelakan seluruh tubuhnya dijamah dan digauli oleh lelaki itu. Dengan hati yang dipenuhi amarah, Rara berpikir jika dirinya harus mendapatkan Andre dengan cara melenyapkan Arsana saja."Arsana, Andre adalah milikku dan kamu tidak berhak bersamanya bahkan kamu juga tidak berhak berada di dunia ini karena kamu hanya anak h*ram!" pekik Rara seraya mendorong Arsana hingga terjatuh dan berguling-guling di tangga."Arsana! Tidaaak!" teriak Andre, namun, semua sudah terlambat. Arsana sudah terkapar di lantai bawah.Suara teriakan itu tiba-tiba berganti, tatkala Arsana merasakan tendangan di tubuhnya. Arsana membuka matanya dan mendapati sang ayah, Wijaya Kusuma, sedang berdiri di hadapannya yang sudah terkapar di lantai bawah ranjang."Ada apa, Ayah?" tanyanya dengan suara serak dan rambut berantakan sebab gadis itu baru saja bangun tidur."Masih bertanya ada apa? Memangnya kamu tidak sadar kalau kamu berteriak-teriak seperti orang gila di pagi buta sampai terdengar ke luar, hah?!" bentak Wijaya pada putrinya."Aku ... aku tadi jatuh dari tangga karena didorong Rara karena dia berselingkuh dengan Andre. Apa aku sudah mati sekarang?" ujar Arsana langsung panik memegangi kepalanya yang masih pusing."Apa kamu sudah tidak waras? Kamu jatuh dari ranjang, bukan dari tangga, Bodoh! Sekarang mandilah, kamu harus bersiap menemui seseorang!" titah Wijaya.Seketika Arsana menyadari jika tadi dirinya hanya bermimpi. Dia menatap sang ayah dengan berjuta pertanyaan."Menemui siapa, Ayah?" tanya Arsana menautkan alisnya."Tuan Zayver Megantara," jawab Wijaya."Siapa dia?""Suamimu!" balas sang ayah membuat Arsana membelalakkan matanya."Apa?!!"Mimpi buruk apalagi ini?***Arsana Putri, seorang gadis yang bertugas sebagai Agen rahasia dengan kode 02, terlihat sudah rapi setelah mandi dan membersihkan diri dari mimpi buruk yang menyambangi tidurnya. Kini, dia mesti membersihkan pikirannya juga karena disambangi mimpi buruk di dunia nyata. Bagaimana bisa, baru saja bangun tidur dirinya sudah sah menjadi istri orang yang sama sekali belum pernah dia temui?"Semalam ayah kalah main judi dan itu menyebabkan utang ayah menumpuk pada Tuan Zayver. Dan salahnya, ayah menjaminkan Arsina adikmu untuk dinikahinya jika ayah kalah." Wijaya memulai ceritanya."Di mana hati nuranimu sebagai seorang ayah, sehingga tega menjaminkan anakmu sebagai bahan taruhan judi? Ayah benar-benar tidak berperikemanusiaan!” Napas Arsana naik turun. “Dan lagi, yang Ayah jaminkan adalah Arsina, mengapa jadi aku yang dinikahkan dengan lelaki asing itu?" Arsana memberondong sang ayah dengan banyak pertanyaan.Wijaya hanya berdecak kesal dengan tangan yang bertolak pinggang. Dia menatap nyalang pada Arsana."Justru itu, adikmu si Arsina itu tidak mau dan malah kabur sehingga dengan terpaksa kamu yang harus menjadi penggantinya. Kalau tidak, Tuan Zayver akan menghabisi seluruh anggota keluarga kita.""Apa peduliku? Aku bahkan tidak tinggal denganmu." Arsana melipat kedua tangannya di depan dada.Keduanya terus saja berdebat hingga membuat Wijaya tersulut emosinya."Jangan banyak membantah! Dia sudah menunggumu di rumah megahnya. Kalau kamu tidak mau menjadi istrinya atas dasar cinta, setidaknya lakukan atas dasar balas budi karena selama ini aku sudah membiayai hidupmu!"Mendengar hal tersebut, Arsana merasa sakit hati dan tidak menyangka jika sang ayah sejahat itu padanya. Setelah tak dianggap anak di hadapan keluarga besar kusuma karena Arsana terlahir dari perempuan yang tidak selevel dengan keluarga Wijaya, kini Arsana harus mendengar jika dirinya adalah beban seorang ayah yang biaya hidupnya saja menjadi utang yang harus dibayar dengan cara tak manusiawi.Arsana harus menjadi pengantin pengganti."Kamu lupa bahwa aku akan segera menikah, ayah." Arsana menunjukkan jari manisnya yang kosong, tidak ada cincin tunangan di sana."Kamu bahkan lupa kalau kamu batal menikah dengan Andre, Arsana." Wijaya tertawa. "Lupakan lelaki br*ngsek itu dan terimalah suamimu yang baru. Percaya lah, kamu akan hidup bahagia dengan bergelimang harta di sana."Arsana terdiam, hatinya mengeras karena terlalu sakit dengan semua yang telah dia alami sejauh ini. Nasibnya yang tak seberuntung anak lain hingga tak diakui sebagai anak di depan keluarga besar hanya karena terlahir dari rahim wanita miskin, dikhianati sang kekasih, batal menikah, dan sekarang dinikahkan atas dasar utang budi pada ayahnya sendiri.Rasanya, Arsana mau mati saja."Jangan melamun! Cepat pergi dan datang ke alamat ini, Tuan Zayver sudah menunggumu!" perintah Wijaya."Lelaki itu menginginkan Arsina, bagaimana jika dia terkejut karena yang datang malah aku?" tanya Arsana mulai pasrah."Dia tidak akan tahu. Pergilah, dengan menuruti keinginanku ini, aku akan pastikan mengakuimu sebagai anak di hadapan keluarga besar." Arsana tersenyum sinis menatap tajam Wijaya."Mulai sekarang, aku menganggap jika aku tidak memiliki seorang ayah. Kamu jahat, Wijaya! Kamu keterlaluan. Semoga Tuhan membalas perbuatan jahatmu ini dengan balasan yang setimpal!" ucap Arsana seraya menyeret kopernya menuju alamat Tuan Zayver, lelaki yang konon telah sah menjadi suaminya.Third Person's POVCeleste didn't understand why Elias had gone out of his way to bring up the past kidnapping incident. The event had long passed, and in the minds of the Frost Family, her guilt was already assumed. Why suddenly revive it now? She had never been able to fathom the twisted logic of the Frosts. Yet Elias's words piqued a spark of curiosity in her."What clues are you talking about?" Celeste asked, her tone calm, almost detached, as she studied him with her wolf-sharp gaze.Elias, mistaking her question for interest and admiration, grinned smugly. "The kidnappers who took you and Serena were part of the same group. The Silverfang Pack's authorities have been tracking them-they'll be captured soon."Celeste's brow furrowed. The threads didn't align. The group that had taken Serena was led by Noah, while Liam had left Moonviel City only to investigate the person who had taken Serena. Michael Jones, of Emberwood Pack, had orchestrated Celeste'
Third Person's POVElijah gently dropped a rib into Celeste's bowl. "Don't worry, Celeste. If there's risk, I won't shoulder it alone."Celeste's amber eyes flicked toward him briefly. She didn't know the full extent of Elijah's abilities, nor had she ever questioned them. From years of observation, she trusted that if he said he had it under control, then it was more than likely true. She nodded silently, setting aside her doubts.After tidying up the kitchen, she moved to the balcony to continue her sketches. The soft breeze from Moonviel City's verdant inner courtyards brushed her hair as sunlight filtered through the leaves, casting dappled patterns across her canvas. Elijah sat quietly a meter away on a low chair, his thumbs tapping rhythmically on a tablet, seemingly in conversation with someone online. His face, chiseled under the sun, carried a rare pensive expression-wolfish instincts hidden behind the mask of calm concentration.For a few moment
Third Person's POVThe next moment, Celeste's voice cut through the cozy warmth of the Frost Family. "I'm investigating Liam's accident on behalf of Grandfather Carden."Serena froze mid-motion, her pupils contracting instinctively as her gaze locked onto Celeste's. Those eyes-cold, sharp, almost predatory-felt like they could strip her bare, exposing every hidden thought. Her hands clenched without her conscious control, and even her breath seemed caught in her throat.What did Celeste know? Could she have uncovered something?Callen, standing beside Serena, didn't notice the subtle shift in the air, the silent warning flickering between the two women. His brow furrowed, calm and disciplined as ever. "Wasn't it already confirmed that it was an accident? What are you still investigating?"Celeste let a measured silence stretch before she removed her gaze from Serena, her amber eyes now glinting with quiet determination. "Grandfather Liam called me
Third Person's POVCallen's face softened into that rare expression of indulgence, a faint smile playing at the corners of his lips as he reached out to pinch Serena's nose lightly. The scene struck Celeste like a hammer to her chest, reopening wounds she had long tried to bury.It had been so long since she had allowed herself to lean on Callen's shoulder in such a carefree, spoiled way. Even back then, when she was still Celeste Frost-the one groomed to be part of the Frost Family's polished image-she had never dared interfere in the family's business matters. Her influence had always been limited, carefully measured. Even when she had helped Ryan Wilson's father secure the vice-president position at one of their companies, it had been because Ryan's father had merit and incentives that aligned with the Frost Board's strategy. Her plea had been nothing more than gentle persuasion, a ripple in a current she could not control. And yet Callen had been furious, scolding
Third Person's POVSerena hesitated, her expression caught between guilt and reluctance, as though revealing some painful truth. Finally, she whispered, voice trembling just enough to sound convincing, "Actually… Celeste used to be in a relationship with my friend."Her lashes lowered demurely, and
Third Person's POVElijah rolled his eyes with utter disdain, his sharp gaze flicking toward Celeste Hallow. "What do you mean ‘are you'? I don't even know you. Who asked you to act all familiar the moment you showed up?"He slid his hand around Celeste's wrist, firm yet protective, his expression
Celeste's POVElijah's hand tightened around mine, firm and unyielding, and yet his presence alone seemed to radiate a protective heat that seeped into my bones."She didn't even speak, just a tiny show of hurt, and you're already rushing to shield her?" Elias's voice cracked like a whip, sharp wit
Celeste's POVNo one could have expected it-Elijah standing there on the street, so bold, so unapologetically proud, admitting in front of everyone that he was being "taken care of" by me. The words struck through the bustling noises of Moonviel City like the howl of a lone wolf piercing the night.






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews