LOGINIn the extravagant world of wealth and power, a forbidden union ignites between Ariel, a beautiful and naive young woman, and Connel, a ruthless billionaire with a reputation for stopping at nothing to get what he wants. When Ariel awakens in Connel's luxurious mansion, she's forced to make a desperate choice: marry the mysterious billionaire, to protect her family's reputation. But as their first night together is concealed by lies, Ariel begins to unravel the dark secrets of Connel's past, revealing a tangled web of lies, deceit, and hidden agendas. As she navigates the risky landscape of her new role, Ariel discovers shocking truths about her own family's history and its connection to Connel's. The secrets she unearths threaten to destroy the fragile bond between them, forcing Ariel to confront the ultimate truth: that her marriage of convenience may hold the key to her own salvation – or her downfall. Dive into a world of luxury, secrets, and betrayal, where the lines between love and obsession are blurred, and the truth can be deadly.
View MoreUdara musim panas pagi itu cukup bersahabat, angin bertiup lembut mengiringi langkah para wisudawan dan tamu undangan menuju hall tempat acara wisuda akan berlangsung.
Tampak seorang tamu undangan muda mengedarkan pandangannya ke sana kemari, meneliti tiap inci halaman universitas Disburg Essen yang luas dengan gedung-gedung perkuliahan yang tinggi nan megah. Mencari seseorang.
Tak lama kemudian, dari arah berlawanan, seorang wanita dengan rambut dicepol rendah dan bawahan kain songket dengan desain kekinian berlarian ke arahnya. Membelah kerumunan orang-orang yang sedang berjalan.
“Sayang!” seru seorang perempuan cantik yang telah mengenakan pakaian wisuda khas universitas Duisburg Essen. Tubuh semampai nan langsingnya menghambur ke dalam pelukan seorang lelaki gagah berambut legam.
Yang dipeluk seketika menegang dan tanpa si perempuan sadar wajah lelakinya itu samar-samar memerah menahan gugup dan gejolak.
Udara musim panas pagi itu cukup bersahabat, angin bertiup lembut mengiringi langkah para wisudawan dan tamu undangan menuju hall tempat acara wisuda akan berlangsung.
Tampak seorang tamu undangan muda mengedarkan pandangannya ke sana kemari, meneliti tiap inci halaman universitas Disburg Essen yang luas dengan gedung-gedung perkuliahan yang tinggi nan megah. Mencari seseorang.
Tak lama kemudian, dari arah berlawanan, seorang wanita dengan rambut dicepol rendah dan bawahan kain songket dengan desain kekinian berlarian ke arahnya. Membelah kerumunan orang-orang yang sedang berjalan. “Sayang!” seru seorang perempuan cantik yang telah mengenakan pakaian wisuda khas universitas Duisburg Essen. Tubuh semampai nan langsingnya menghambur ke dalam pelukan seorang lelaki gagah berambut legam. Yang dipeluk seketika menegang dan tanpa si perempuan sadar wajah lelakinya itu samar-samar memerah menahan gugup dan gejolak di dada. “Lepas, Alma, malu aku diliatin orang-orang!” ujar si lelaki itu yang pagi ini tampak lebih tampan dengan setelan formalnya. Alma mengintip keadaan sekitar dengan ekor matanya, beberapa orang berlalu lalang tanpa memerdulikan mereka. Ia justru sengaja mengeratkan pelukannya pada lelaki itu. Tersenyum centil. Lelaki itu kian salah tingkah, ia mengusap-usap rambutnya yang telah tersisir rapi hingga kembali acak-acakan. Sampai ia menemukan sebuah ide untuk mengecoh kekasihnya itu."Ngomong-ngomong, aku seneng kamu sudah lulus, jadi gak akan ada lagi cewek manja yang rusuh setiap weekend ngajak jalan-jalan,” canda lelaki berkulit sawo matang itu, yang berhasil mengalihkan perhatian si perempuannya hingga akhirnya melepaskan pelukan. “Nyebelin banget! Awas aja, abis ini kita ldr lho!” Alma mundur beberapa langkah, melipat sikunya. Memanyunkan bibir, kesal. “Tenang, aku gak bakal kesepian, cewek-cewek Jerman asik kok buat temen kencan.” Lelaki dengan rambut dibelah tengah khas pria-pria Asia itu berlagak melirik ke salah satu tamu undangan perempuan yang sedang melewati mereka. “Sana kalo berani, pegangan tangan sama aku aja jarang-jarang!” Tantang Alma sembari berkacak pinggang, mendelik ke arah tamu undangan perempuan itu. Namun, tingkah manjanya justru memicu tawa lelaki mahasiswa S-3 fakultas ilmu sosial di univertas yang sama. Seseorang yang baru tiba di halaman hall mendekati keduanya, “Alma, masuk, acara wisuda segera dimulai,” tegur seorang lelaki berkepala empat yang mengenakan setelan jas silver, menampilkan sisi jiwa muda meski dibalut sedikit kerutan di sudut mata. “Eh, Ayah, kebetulan, kenalin ini Damar.” Alma mengenalkan lelakinya. Ayah Alma hanya tersenyum tipis, tanpa mengatakan kalimat perkenalan sedikit pun. Yang dikenalkan seketika menegang, pasalnya Alma telah melanggar peraturan yang mereka buat, untuk tidak saling mengenalkan diri kepada keluarga besar masing-masing sebelum Damar sukses. Latar belakang keluarganya yang tergolong kalangan menengah ke bawah, membuatnya sedikit merasa rendah diri, sehingga sangat memperhitungkan untuk segera berlanjut ke hubungan yang lebih serius. Terlebih, bapak Pramusito, seorang pebisnis paling tersohor di Surabaya itu menatap dengan tidak bersahabat, membuat Damar semakin merasa ciut.“Hanya Alma yang berani mengenalkan seorang lelaki kepada saya, kakak-kakaknya justru saya sendiri yang mencarikan jodoh.” Kalimat dari ayah tiga anak itu lebih terasa seperti ancaman bagi Damar. Terlebih tatapannya justru terarah ke gedung megah beraksitektur klasik di hadapan mereka, bukannya ke arah Damar. Seolah-olah itu sendirian halus tentang betapa jauhnya perbedaan kasta antara mereka. “Itu artinya Alma anak Ayah yang paling cakep, karena cepet laku!” seru Alma mencairkan suasana.Sang ayah lantas mendaratkan usapan lembut pada ubun-ubun putri bungsunya. “Ayah tunggu di dalam, cepat!"
Alma mengedipkan satu matanya kepada sang ayah dan lelaki konglomerat itu pun balik kanan, melangkah pergi hingga punggungnya hilang di balik pintu auditorium nan megah. Alma pun menggamit lengan Damar, yang lebih terlihat seperti menyeret bocah kecil masuk ke ruang hall. Melalui pintu setinggi langit, Alma dan Damar masuk ke ruang wisuda yang telah dipadati orang-orang. Terdengar pula instrumen yang mengalun merdu, mengawal para tamu undangan yang masuk.Alma berdecak kagum pada interior gedung itu, megah dengan nuansa warna merah dan gold pada tiap sudutnya. Kursi-kursi wisudawan, tamu undangan, hingga panggung wisudan di desain bagaikan kerajaan kecil yang mengagumkan.
Jerman memang juaranya kastil impian, bahkan Disneyland pun terinspirasi dari salah satu kastil yang ada di Jerman. “Mending pulang aja deh, ayah kamu mengintimidasi banget.” Damar justru merasa tak nyaman berada di sana. Alma menghela napas sebal, “insecure banget, sih! pd aja.” Senyum gadis itu terbit meyakinkan Damar, “justru ini kesempatan kamu mengenalkan diri ke ayah.” Damar masih bungkam, menimbang-nimbang. “Kelamaan mikir, kalo kamu gak mau nemuin ayah lagi, aku cium nih!” Alma sedikit berjinjit memonyongkan bibir. Damar sontak membekap bibir perempuan yang telah jadi pacarnya sejak lima tahun lalu itu. “Gak usah macem-macem deh, entar lipstik kamu luntur.” Alma melepas paksa tangan Damar dari bibirnya, lantas nyengir lebar karena berhasil mengerjai pacarnya yang menurutnya aneh, karena sejak awal pacaran selalu menjaga jarak untuk meminimalsir kontak fisik. Bahkan bergandengan tangan saat jalan bersama pun jarang Damar lakukan. Sebenarnya ia cukup kecewa, dengan berpacaran ia berharap bisa mendapatkan perlakuan-perlakuan mesra nan manis, ternyata tidak. Namun tidak ada pilihan lain selain menghormati keputusan pasangannya. Keduanya pun meneruskan langkah, mencari kursi kosong untuk di duduki, Alma sengaja mengaitkan jari kelingkingnya ke salah satu jari milik Damar. Kali ini tangan kekar itu tak mengelak diajak bergandengan. Samar-samar ia merasakan keringat dingin membasahi telapak tangan Damar, gugup karena akan bertemu sang calon mertua. Alma duduk di kursi peserta wisuda, yang berada di sayap kanan gedung, sedangkan Damar beberapa kali mengusap wajahnya dengan resah, karena merasa sial hanya menemukan kursi kosong tepat di sisi sang konglomerat tersohor, Pramusito. Baru saja Damar mendaratkan dirinya di kursi itu. “Putriku memiliki segalanya, kasih sayang, hidup berkecukupan, lantas apa yang dia lihat darimu?” Paramusito bersuara tanpa menoleh sedikitpun ke arah Damar, tatapannya lurus ke depan terkesan tajam. Damar yang mendengarnya seketika menegang dan tercekat. Awalnya ia hendak menjawab saya memberinya kenyamanan dan cinta, tapi setengah hatinya mengejek jawaban remeh itu, belum lagi kenyataannya keluarga Pramusito hanya mengukur potensi seseorang dari latar belakang ekonominya. Tentu jelas, jawaban semacam itu hanya akan jadi nilai buruk bagi Damar. “Ekhem.” Damar tersedak angan-angannya sendiri, “mungkin, Alma melihat potensi dalam diri saya yang bisa membuatnya bahagia di masa depan jika bersama saya.” Akhirnya sebuah jawaban diplomatis keluar dari mulutnya. Pramusito menyungging senyum dengan satu sudut bibirnya, lebih terlihat seperti menertawai lelucon yang garing. Sebuah musik instrumental mengalun merdu mengisi atmosfer hall wisuda, lalu dari pintu masuk di bagian kiri gedung para dewan petinggi universitas berjalan masuk. Dengan jubah hitam yang berkelebat dan ketukan sepatu pantofel menggema dari lantai, menambah kesan dramatis dan elegan. Membuat para tamu undangan berdecak kagum. Lain halnya dengan Damar, ia mengembuskan napas lega, itu artinya acara wisuda akan segera dimulai dan sang calon mertua akan fokus pada podium di depan sana daripada mengajukan pertanyaan-pertanyaan tajam yang menyebalkan.***
Matahari senja bersinar lembut, bias cahayanya menerawang dari balik kanopi pepohonan. Alma sengaja mengayunkan tangannya hingga menyentuh pucuk-pucuk bunga Daisy putih yang tengah bermekaran. Suasana hangatnya musim panas yang dipadukan keindahan taman kota Duisburg begitu serasi.
“Setelah pulang ke Indonesia aku pasti kangen banget sama suasana di sini,” ujar Alma yang berjalan di sisi Damar. Beberapa orang tampak berpapasan dengan keduanya, menikmati udara sore yang menyenangkan seperti mereka. “Sesekali kamu bisa liburan ke sini, kan?” sahut Damar ikut-ikutan menjulurkan tangan menyentuh pucuk-pucuk bunga yang berbaris rapi di tepi jalanan taman. “Gampang, aku ke sini musim dingin nanti ya, asalkan disuguhi kehangatan.” Alma bergelayut manja di pundak Damar, jemari lentiknya sengaja menyentuh pundak sang kekasih lalu merosot turun menyentuh dada dengan gerakan pelan tapi dibuat seintim mungkin. Tanpa Alma sadari, lagi-lagi wajah kekasihnya tampak samar-samar memerah menahan sebuah gejolak di dada.“Hmm,” sahut Damar singkat yang justru sibuk memperhatikan burung-burung berterbangan ke sana kemari berlatar saputan awan berwarna jingga, mengalihkan perhatian. Menyadari kode yang ia berikan tak mampu menyentil barang sesenti sisi kelelakian sang kekasih, Alma pun menjauhkan diri. Memberut kesal. Keduanya pun melanjutkan langkah, berjauhan. Namun lagi-lagi Alma bersuara “Btw, kamu gak ngasih aku hadiah kelulusan?” “Tadi kan udah, buket coklat.” Damar menatap Alma sekilas.“Kamu kan pacar masa gak ngasih yang istimewa, sih!” Damar menghentikan langkahnya. “Terus apa?” Memetik setangkai bunga Daisy lalu menghadap ke arah kekasihnya, menyematkan bunga kecil nan cantik itu ke sela-sela daun telinga Alam. Alma tersipu menangkupkan tangan ke wajahnya yang tersenyum-senyum salah tingkah. “Ehem.” Seseorang berdehem, memeringati keduanya untuk menyingkir dari tengah jalan. Giliran Damar yang salah tingkah, bergegas ia raih tangan Alma, mengajaknya beralih ke sebuah bangku kayu panjang di dekat mereka. Duduk bersisian, ditemani semilir angin yang menguarkan wangi Dahlia yang tertanam di sekitar bangku tersebut. “Hem....” Alma mencondongkan tubuh ke arah Damar sembari mengerucutkan bibirnya dengan sok menggemaskan. “Kenapa? Bibir kamu gatel?” Damar menarik bahunya menjauhi Alma. “Tau deh! Hubungan udah setengah dekade masih anyep-anyep aja!” Alma menggeser duduknya hingga ke ujung bangku, melipat tangan di dada. Memberengut lagi. Damar tersenyum kecil, mulai mengerti apa yang Alma damba, meraih bahu kekasihnya dengan lembut, dan menarik titik pandangannya. “Kalo cuma ngasih kaya begituan doang aku bisa, kapanpun kamu mau—““Kapan kamu ngasih? Gak pernah tuh!” Alma menatap manik mata hitam milik Damar yang terasa begitu dalam. “Tuh kan, kebiasaan buruk, orang lagi ngomong, kasih waktu sampe kalimatnya selesai.”Alma memberut, lantas tertunduk memainkan jemari tangannya yang kini saling bertaut. “Siapa sih, laki-laki yang gak tertarik liat pesona kamu?” Damar menyelipkan anak rambut Alma yang pirang ke belakang telinga. “Cuma aku gak bisa jadi laki-laki yang menikmati pesona kamu tapi belum sanggup bahagiain kamu seperti ayah dan keluargamu ngebahagiain kamu.”Alma membuang pandangan, menatap lalu lalang orang di taman. Ada rasa haru menyeruak dalam dadanya yang disertai sesak. “Kamu pasti bisa memahami itu.” Sekali lagi, Damar meyakinkan kekasihnya dengan tatapan lembut. “Huum.” “Yuk, jalan-jalan ke mana pun kamu mau, kita hunting kuliner sebanyak-banyaknya, biar pipi kamu tambah chubby!” Damar mencubit gemas pipi bundar milik Alma yang kemerahan bak delima. Lantas menggamit jemari kekasihnya yang berseru kesal. “Aaa! Gak suka deh dicubit-cubit pipinya, kek anak kecil tau!” seru Alma kesal, meski ia sebenarnya senang mendapatkan perlakuan manis dari Damar yang itu-itu saja. Namun dalam benak, Alma tengah merencanakan sesuatu untuk mengajari Damar cara menyenangkan dirinya sebagai pacar.The sun definitely rose from the east and the morning, more quiet than you imagine. The house looked the same, sunlight filtering in through the long windows, the faint noise from the door down the hall. The shift in the atmosphere wasn't visible but it did cohabit with them. Connel noticed it the moment he opened his eyes. He didn't move - not immediately. One arm was still beneath Ariel’s head which laid against his shoulders as she took in slow breaths. She had shifted closer to him during the night, her fingers holding on to his shirt as though letting go wasn't an option. For a second, he allowed himself to lay still. Then his gaze hardened. Be careful what you decide to protect - once again his brain repeated those words in his father's voice. His jaw clenched It felt more like a threat than a piece of information. Carefully, he turned to look at her and he slowly moved his arm from beneath her. Then he gently adjusted her head against the pillow without waking her, she
Ethan lounged back in the leather chair, a faint smile playing on his lips “That look on your face… it makes me wonder.” He glances sideways. “He still doesn't know, just look at him.” Ethan lets out a loud mocking laugh.“What's the meaning of this nonsense?” Mr Wilder asked in a commanding tone.Ethan clearly enjoys the reaction from his father, like a predator enjoying the kill.“It feels so good to inform you that the ashes from your fire never got to the ground.”Mr Wilder looked at Connel, his vein pulsing in his neck and his face tightening.His eyes meet with his father's, “Someone knows the truth behind Paris.”“That's impossible!” Mr Wilder exclaimed, getting up from his seat.“Oh! It is.” Ethan pulls out his phone and begins to show him images of the journal they took.“And why is this still breathing?” He asked.“Now you want us to do your dirty work after you couldn't get it right the first time.” Ethan gets up from his seat, “you might as well have this problem removed.”
The route to the main house hadn't changed but instead felt shorter.Connel noticed that first not because he was sentimental but because his mind calculated details when it needed something to hold onto. The same stretch of asphalt. The same fence posts half-swallowed by hedges that were never fully trimmed all the way back. Even the trees stood tall where they always had, their branches creating a canopy that dimmed the morning light.He drove at a steady speed, one hand on the wheel, the other resting closely near the gearshift. No music. No unnecessary movement. The engine's low hum filled the car, constant and remarkable.Ethan sat in the passenger seat, shoulders square, spine straight. Too straight. His hands were folded loosely in his lap, fingers not quite still. He hadn't said a word since they turned off the main road. He hadn't asked where they were going either. He already had an idea.Nico sat in the back, seatbelt fastened, eyes moving between the two men without commen
Ariel lay in bed, but sleep seemed far from her. The house felt different tonight - tight and compressed. Every shadow seemed to stretch, every crack sounded like footsteps. It might be knowing Toria was just a few rooms down the hall or probably the way Connel reacted when she came along.‘It seems like the worst is about to come.’She turned on her side, pulling the blankets tighter around her. But no matter how tightly she held the blanket or herself the worry didn't fade. It clung to her skin like goosebumps.Downstairs, she could hear faint movement- a pale smash, the low mumbles of male voices. Connel was still awake, there was no surprise there because while others rested he calculated every weight, movement and plan. Sleep didn't seem to have a problem with him at night - like they had a deal.Ariel exhaled heavily.Something was definitely wrong and she could feel it, her tummy rumbled. The sense of worry made her tummy demand for food, a habit she couldn't stop as a child. S












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews