MasukAlia masuk ke rumah dengan napas yang masih sedikit memburu akibat perdebatan di depan gerbang. Di ruang tamu, Rendra sudah duduk santai di sofa sambil membolak-balik halaman bukunya."Baru pulang? Olahraga atau jalan-jalan?" tanya Rendra tanpa mengalihkan pandangan dari buku.Alia tidak menjawab. Ia terus melangkah menuju tangga, mengabaikan pertanyaan suaminya seolah Rendra hanya bagian dari perabotan rumah.Rendra menutup bukunya, mencoba bersabar menghadapi sikap dingin Alia. Ia berdiri dan menyusul istrinya. "tunggu sebentar, aku mau ajak kamu belanja di mall, sudah lama kan aku tidak membelikanmu barang-barang baru?"Alia berhenti di anak tangga pertama, menoleh sekilas. "Aku capek, mau istirahat saja."Rendra menghela napas, rasa kesalnya mulai naik ke permukaan namun ia tahan. "Cuma sebentar, jangan ditolak terus. Ayo, bersiap-siap sekarang."Meski malas berdebat, Alia akhirnya mengangguk pasrah. "Ya sudah. Aku ganti baju dulu."Tak butuh waktu lama, Alia kembali turun ke lant
Rendra tersentak dan segera bergeser menjauh. Ia berdehem canggung, Alia hanya menatapnya sekilas dengan mata sayu, lalu kembali memejamkan mata dan menarik selimut tanpa sepatah kata pun. Rendra bersandar di kepala ranjang sambil menatap langit-langit kamar."Alia," panggil Rendra pelan. "Andai saja kamu tidak sering membantahku dan lebih menurut pada Ibu, aku tidak mungkin marah-marah seperti tadi. Semuanya bisa tenang kalau kamu tidak keras kepala."Alia masih membelakangi Rendra, namun suaranya terdengar jernih di tengah sunyinya kamar."Cerai saja, kalau kamu ngga puas denganku."Rendra langsung terduduk tegak. Wajahnya menegang, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat mendengar kata itu meluncur begitu santai dari mulut istrinya."Apa kamu bilang? Cerai?!" suara Rendra meninggi, mulai meracau panik. "Jangan bicara yang aneh-aneh! Kamu pikir pernikahan ini mainan? Kamu kira bisa bicara seenaknya karena kesal!"Alia tidak bergeming, tetap diam dalam posisinya."Kamu pikir hidup
"Alia!"Suara Rendra menggelegar, memecah ketenangan alunan musik instrumen di restoran mewah itu. Beberapa pasang mata pengunjung sontak menoleh ke arah meja mereka. Rendra berdiri dengan napas memburu, menatap istrinya tajam, mencari gurat amarah, tangis, atau setidaknya tanda cemburu.Namun, Alia justru tetap tenang. Ia masih mengunyah potongan daging terakhirnya dengan perlahan, lalu meletakkan garpu secara anggun tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun."Apa?" tanya Alia singkat. Suaranya rendah, tanpa emosi yang meluap."Kamu dengar tidak apa yang Ibu katakan?! Desy akan ikut ke Puncak hari Minggu besok!" bentak Rendra lagi, seolah memancing reaksi yang tak kunjung ia dapatkan.Alia mendongak, menatap suaminya dengan sorot mata yang jernih namun terasa kosong. "Iya, aku dengar. Telingaku tidak bermasalah, Rendra. Silakan saja, bukankah dia memang asisten atau apa pun itu untuk Ibumu?"Melihat ketenangan itu, harga diri Rendra justru terasa terinjak. Ia lebih suka jika Alia memaki at
Setelah urusan dokumen selesai, Bagas pun pamit. Alia mengantarnya ke depan, lalu berbalik menuju ruang tamu. Di sana, ia melihat Rendra duduk di sofa dengan mata terpejam, tampak kelelahan menunggu.Alia berniat melangkah pergi tanpa suara, namun Rendra tiba-tiba memanggilnya."Udah selesai ya, kayaknya masih sempat nih makan malam." ujar Rendra pelan."Aku capek, Ren," jawab Alia singkat tanpa menoleh.Untuk pertama kalinya, Rendra menurunkan egonya. Ia berdiri dan menatap Alia dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Kita ini suami istri yang sah. Memang apa salahnya kita makan berdua? Lagian sudah lama kan?"Alia terdiam sejenak. Meski hatinya masih tawar, ia merasa tak punya energi lagi untuk membantah. Akhirnya ia mengangguk pasrah. "Tunggu di mobil. Aku bersiap-siap sebentar."Di luar pagar, Arhan masih membeku di balik bayangan pohon. Rio sudah lama pulang, menyisakan Arhan sendirian dalam kesunyian malam.Tak lama, ia melihat Rendra keluar menuju mobil, disusul oleh Alia yang
Rendra mematung di depan pintu kamar Alia, napasnya masih memburu dengan wajah yang merah padam akibat amarah yang tertahan. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak di rumahnya sendiri. Dengan langkah kasar, ia turun ke bawah dan memerintahkan Bi Inah menyiapkan air panas.Di dalam kamar mandi, Rendra meledak. Ia memukul dinding keramik berkali-kali hingga tangannya memerah. "Dia pikir dia siapa?! Dia pikir dia satu-satunya perempuan di dunia ini?!" teriaknya frustrasi. Ini pertama kalinya dalam sejarah pernikahan mereka, Alia yang penurut berubah menjadi singa yang membentaknya balik.Sementara itu, di luar pagar, Arhan akhirnya menarik gas motornya dengan perasaan campur aduk. Ia pergi, namun pikirannya tertinggal di dalam rumah itu. Di saat yang sama, di balik pintu kamar yang terkunci, pertahanan Alia runtuh. Isak tangis yang ia tahan sejak tadi pecah begitu saja.Malam harinya, Alia memilih mengunci diri. Ia makan sendirian di kamar, mengabaikan panggilan Bi Inah yang membujuknya tu
Arhan berdiri mematung di depan pagar besi yang menjulang tinggi. Ia sudah mengetuk berkali-kali, namun Bi Inah—yang biasanya menyambutnya dengan senyum cemas—kali ini seolah lenyap ditelan bumi.“Ada yang bisa dibantu, Nak?” tanya seorang satpam yang berjaga, suaranya memecah keheningan sore yang gerah.“Mau bertemu Bu Alia, Pak. Ada urusan bimbingan mendesak,” jawab Arhan ketus, mencoba menutupi kegelisahan yang nyaris meledak di dadanya.Satpam itu menggeleng pelan. “Waduh, tadi Nyonya pesan tegas, hari ini tidak menerima tamu siapa pun. Katanya, selain Pak Rendra, tidak ada yang boleh masuk.”Arhan terdiam. Kalimat itu seperti tembok beton yang menghantamnya. Ia tetap berdiri di sana, menggigit ujung kukunya hingga perih, matanya menatap tajam ke arah jendela kamar Alia di lantai dua yang tertutup rapat. Sore perlahan meredup, namun Arhan tak bergeming, sampai suara deru mobil yang sangat ia kenali masuk ke halaman."Ada apa ini?" suara berat dan penuh intimidasi itu muncul. Rendra







