Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?

Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?

Von:  Bella AmaraGerade aktualisiert
Sprache: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Nicht genügend Bewertungen
50Kapitel
7Aufrufe
Lesen
Zur Bibliothek hinzufügen

Teilen:  

Melden
Übersicht
Katalog
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN

“Mau?” Surya Setiawan menatap wanita yang menerjang masuk ke dalam pelukannya dengan wajah memerah, nadanya terdengar santai. Joana Widodo sedang kambuh. Ia gigit bibirnya dan mengangguk. Sudah setahun menikah, namun suaminya, Fajar Geraldi nggak pernah sekali pun sentuh dia. Karena itu, Joana menderita gangguan histeria, setiap kali kambuh, ia diliputi hasrat yang begitu kuat. Hingga suatu malam ia pergoki suaminya diam-diam cium foto kakaknya. Baru saat itu ia sadar kalau selama ini ia cuma pengganti. Kondisinya pun makin parah. Ia terpaksa pergi ke rumah sakit. Di sana, ia bertemu seorang dokter muda yang tampan. Saat pemeriksaan berlangsung, ia hampir kehilangan kendali dan nyaris …. Nggak nyangka, keesokan harinya saat masuk kerja, dokter yang semalam periksa dia dengan begitu intim ternyata adalah presiden direktur baru yang tiba-tiba ditunjuk? Joana berniat pura-pura nggak kenal dia. Namun, ia justru dipromosikan jadi asisten pribadi di sisi sang presiden direktur yang baru. “Surya, aku sudah punya suami. Apa kamu mau jadi pihak ketiga?” Di dalam kantor, Joana dipaksa duduk di pangkuannya dengan kaki terbuka, wajahnya merah padam karena kesal. Pria itu cengkeram pinggangnya dan cium dia. “Sayang, kamu lupa? Kemarin malam, semalaman kamu panggil aku suami.” Belakangan, Joana nikah lagi tanpa menoleh ke belakang. Mantan suaminya justru menyesal, dengan mata merah memohon ke dia, “Joana, ayo kita mulai lagi! Asal nggak cerai, kamu mau apa pun akan aku turuti!” Joana menatapnya dingin. “Maaf. Aku nggak tertarik dengan pria yang nggak mampu jadi suami seutuhnya.”

Mehr anzeigen

Kapitel 1

Bab 1

“Lepas dulu, lalu berbaring!”

Suara pria yang rendah dan dingin itu menggema di ruangan.

Jantung Joana Widodo berdegup keras. Ia sendiri nggak tahu sejak kapan dirinya mengidap penyakit memalukan yang sulit dijelaskan itu. Setiap kali kambuh, hasratnya datang begitu kuat, nggak kenal waktu dan tempat. Pekerjaan dan kehidupannya mulai terganggu karena masalah itu.

Karena nggak tahan lagi, Joana akhirnya beranikan diri daftar ke bagian ginekologi di sebuah rumah sakit swasta. Ia pilih tempat itu karena kerahasiaannya terkenal sangat ketat, meskipun biaya konsultasinya berkali-kali lipat lebih mahal dibanding rumah sakit biasa.

Tapi, bukannya ia pesan jadwal konsultasi dengan dokter senior wanita berusia empat puluhan? Kenapa yang duduk di hadapannya justru seorang dokter pria muda, tinggi, dan berwibawa?

“Ha-harus … lepas celana?” tanyanya gugup, suaranya nyaris nggak terdengar.

Lepas pakaian di depan pria asing, meski ia seorang dokter, tetap saja buat Joana merasa sangat canggung.

Surya Setiawan jawab dengan wajah serius, “Kalau nggak dilepas, gimana aku bisa periksa kamu?”

“Tapi, aku ….”

Wajah Joana memerah, jemarinya saling meremas gelisah.

Pria di hadapannya pakai masker, namun tatapannya tajam dan dalam, seolah mampu tembus apa pun. Entah mengapa, ia tiba-tiba merasa seakan akan didorong ke ranjang dan diperlakukan sesuka hati oleh pria itu.

Joana buru-buru menggeleng keras.

Astaga! Pikiran macam apa itu?

Dia itu dokter. Setiap hari ia periksa puluhan pasien seperti dirinya. Ini cuma pekerjaannya.

Joana berusaha tenangkan diri terus-menerus. Dengan tahan rasa malu, ia perlahan turunkan celananya dan berbaring di ranjang periksa.

“Bagian mana yang nggak nyaman?” tanya Surya sambil siapkan alat sterilisasi.

Wajahnya kembali memerah. “Aku, di bagian sana .…”

Lihat ia nggak mampu lanjutkan, Surya tanya dengan tenang, “Terlalu sering berhubungan? Atau luka?”

Biasanya gadis muda yang datang ke poli kandungan memang karena alasan itu.

Namun Joana menggeleng dengan wajah merah padam. “Bukan, aku nggak punya kehidupan seksual .…”

Gerakan Surya terhenti. Ia menoleh, menatap Joana dengan heran.

Gadis di depannya memiliki wajah yang begitu halus dan menawan, kulitnya lembut seperti bisa meneteskan air. Cantik, memikat, dengan aura yang anggun dan menggoda. Sekali lihat dia, orang pasti sulit untuk lupakan.

Dengan kecantikan seperti itu, pasti nggak kekurangan orang yang kejar dia. Namun ia bilang nggak punya kehidupan seksual?

“Aku … hanya … di sana … agak nggak nyaman .…” gumamnya terbata di bawah tatapan mata pria yang gelap dan dalam itu.

Jari Surya yang sedang pegang kapas steril tanpa sadar mengencang. Namun raut wajah Surya tetap tenang, terfokus padanya. “Nggak nyaman gimana?”

Joana terdiam.

Gimana ia harus jelaskan itu?

“Yah itu … aku .…”

Ia gigit bibir merahnya, ragu untuk lanjutkan.

Surya menatap wajah Joana yang sudah memerah, perlahan menelan ludah.

Badannya tanpa sadar mulai memanas.

Tapi dia tetap menahan semuanya. "Kenapa bisa begitu?"

Joana terbata-bata, dengan tidak enak berkata, "Aku .... Anu ...."

Apa ia harus ngaku hasratnya terlalu besar? Bahwa ia sangat ingin lakukan ‘itu’?

Padahal sudah lebih dari setahun menikah, suaminya, Fajar Geraldi nggak pernah sentuh dia.

Seiring waktu hasratnya semakin kuat, semakin nggak terkendali, tapi Fajar justru makin menjauh darinya. Bahkan tampak ketakutan setiap kali Joana singgung tentang hal itu.

Nggak ada pilihan lain, Joana hanya bisa cari cara sendiri untuk redakan itu. Namun jelas itu nggak cukup.

Ia ingin.

Ingin lebih.

Surya perhatikan reaksinya. “Sudah menikah?”

Joana mengangguk tanpa sadar.

Entah kenapa, ada sedikit rasa kecewa yang melintas di hati pria itu.

Sorot matanya menggelap. “Berbaring dulu. Biar aku periksa.”

Joana menurut.

Tangannya mengepal erat, wajahnya terasa panas seperti terbakar.

“Jangan gerak.” Surya menatapnya, suara pria itu mendadak lebih serak.

Rasa malunya sudah memuncak. Dengan penyakitnya ini, gimana mungkin ia bisa tenang saat diperiksa?

“Bisa nggak … diganti dokter wanita?” tanyanya canggung.

Tatapan Surya makin dalam. “Kamu nggak puas dengan aku?”

“Bu-bukan gitu .…” Joana buru-buru jelaskan.

Namun sebelum kalimatnya selesai, pria itu memotong dingin, “Hari ini kamu terdaftar atas nama pasienku. Kalau nggak mau berobat, silakan pergi saja.”

Pria ini galak sekali.

Dalam hati ia janji akan adukan ini nanti. Namun penyakitnya nggak bisa ditunda lagi. Untuk kali ini, ia putuskan percaya pada kemampuan dokter itu.

“Aku nggak bermaksud apa-apa, Dokter. Tolong sembuhkan aku,” pintanya pelan.

Ini pertama kalinya Surya gantikan jadwal jaga. Siapa sangka ia justru bertemu pasien wanita yang begitu istimewa.

Penyakit wanita itu sendiri saja sudah cukup buat Surya sulit bersikap netral, ditambah lagi Joana secantik itu. Ini benar-benar ujian terhadap kendali dirinya sebagai seorang pria.

“Nggak usah banyak bicara.”

Ia tegur Joana, jakunnya bergerak. Ia pun kenakan sarung tangan, ambil kapas steril, lalu perlahan mendekat.

Joana nggak kuasa menutup mata.

Suaminya saja, Fajar, belum pernah lihat dia seperti ini. Kini justru pria lain yang lihat lebih dulu.

Meski tahu ia dokter, tetap saja sulit untuk terima hal itu dalam hatinya.

“Ahh!” Seruan itu keluar dari bibirnya, manja dan enak didengar.

Tubuh Surya menegang, kulit kepalanya terasa panas. Ia sedikit tarik tangannya.

“Sakit?”

Mata Joana berkabut lembap. Bibir merahnya terbuka, namun nggak tahu harus berkata apa.

Akal sehatnya berkata ia harus tahan diri. Namun penyakitnya buat dia nggak mampu sepenuhnya kendalikan reaksinya.

Dalam keadaan rapuh dan memikat seperti itu, sungguh sulit bagi siapa pun untuk tetap tenang.

“Aku akan coba lebih pelan,” gumamnya seraya berdeham, memalingkan wajah dan kembali fokus pada pemeriksaan.

Setelah selesai, anehnya Joana justru merasa lebih hampa, lebih tersiksa.

“Dokter, apa kondisiku parah?” Suaranya sedikit bergetar.

Surya berusaha kendalikan emosinya, lepas sarung tangan perlahan.

“Ini histeria akibat gangguan hormon, diakibatkan karena kurangnya kehidupan seksual dalam jangka panjang.”

Kurangnya kehidupan seksual?

Joana menunduk, dia seketika malu.

Bukan kurang, tapi nggak pernah ada.

Suaminya punya gangguan OCD (Gangguan obsesif kompulsif) yang lumayan parah. Sejak pacaran sampai menikah, mereka hampir nggak pernah bermesraan. Namun justru karena itu, ia semakin rindu akan sentuhan.

Seolah setiap sel dalam tubuhnya mendambakan pelukan, belaian .…

“Aku kasih obat antiinflamasi dan penyeimbang hormon,” ujar Surya sambil duduk di depan komputer dan tuliskan resep. “Tapi sebaiknya kamu pulang dan lebih sering lakukan hubungan seksual dengan suamimu. Penyakit ini akan jauh berkurang.”

Wajah Joana sudah merah sekali seperti darah.

Ia kenakan kembali celananya, turun dari ranjang, dan terima resep itu.

“Makasih, Dokter.”

Baru saja ia keluar dari ruang periksa, seorang dokter wanita berjas putih masuk dari pintu belakang.

“Surya! Berani-beraninya kamu periksa pasienku waktu aku nggak ada!”

Susan Setiawan yang baru datang, langsung marahin adiknya.

Surya jawab dengan santai, “Jangan lupa, dulu waktu di fakultas kedokteran, nilaiku yang selalu ada peringkat pertama, kamu cuma ada peringkat kedua. Sekarang aku periksa pasienmu gratis, itu justru keberuntungan buat mereka. Lagian rumah sakit ini sekarang kan punyaku.”

“Kamu!” Susan melotot.

Anak ini benar-benar pandai membangkang.

Namun adiknya yang terkenal selalu jaga jarak dengan wanita, hari ini justru mau periksa pasien wanita, ini cukup aneh.

“Kalau aku nggak disambut, aku pergi saja,” ujar Surya dengan satu tangan di saku, pandangannya tertuju ke arah Joana menghilang.

“Pergi apaan? Aku panggil kamu ke sini hari ini untuk ketemu dengan dokter jantung baru kita, Dokter Wina Lestari. Dia muda, cantik, dan sangat berbakat. Bunga rumah sakit kita! Yang terpenting, masih lajang dan belum punya pacar .…” Susan buru-buru tahan Surya, berusaha keras jodohkan dia.

“Kita lihat saja nanti.”

Surya jawab sekenanya, tanpa minat, lalu melangkah pergi.
Erweitern
Nächstes Kapitel
Herunterladen

Aktuellstes Kapitel

Weitere Kapitel

An die Leser

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Keine Kommentare
50 Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status