MasukLima tahun menikah, Alia terjebak dalam rumah tangga yang terasa seperti penjara—suami yang dingin, kata-kata yang menyakitkan, dan mertua yang menuntut cucu seolah hidup Alia hanya berharga jika ia bisa memberi keturunan. Hingga suatu malam sebuah kecelakaan kecil mempertemukannya dengan Arhan, seorang mahasiswa yang tanpa sengaja melihat bagaimana suami Alia merendahkan harga dirinya di depan umum meski berbisik. “Udah mandul, masih nyusahin.” Satu kalimat itu mengubah segalanya. Bukan hanya bagi Alia-tapi juga bagi Arhan Ketika perhatian kecil berubah menjadi kedekatan, dan kedekatan berubah menjadi kebutuhan… muncul fakta yang selama ini dikubur: Alia bukanlah pihak yang mandul. Rahasia itu menjadi pintu ke hubungan terlarang yang tak pernah mereka bayangkan. Yang bisa memberi Alia sesuatu yang tak akan pernah ia dapatkan dari suaminya. Namun setiap pilihan memiliki konsekuensi. Dan di antara rasa bersalah, hasrat, dan luka yang lama terpendam, Alia harus memilih: menyelamatkan dirinya… atau mempertahankan pernikahan yang sejak awal tak pernah memihaknya.
Lihat lebih banyak"Ini... ini tulisan dia," bisik Arhan, suaranya tercekat di tenggorokan.Rendra yang sejak tadi menahan napas langsung menoleh tajam. "Siapa? Kamu tahu siapa bajingan ini?!""Bagas," jawab Arhan, matanya melotot menatap kosong. "Dia mahasiswa bimbingan Kak Alia juga, satu kelas denganku. Dia anak kesayangan jurusan. Aku sering liat tulisan tangan ini di papan tulis waktu dia presentasi tugas kelompok. Nggak salah lagi, ini tulisan Bagas!"Mendengar nama itu, Rendra tidak membuang waktu. Rendra langsung mengerahkan seluruh koneksi dan tim keamanan siber perusahaannya, sementara Arhan memberikan segala detail informasi mengenai Bagas.Bagas layaknya hantu. Semenjak tulisan yang dia kirim dibelakang polaroid, dia hilang seperti di telan bumi bahkan tempat tinggalnya kosong dan pemilik kosan bilang kalau dia sudah pindah sebulan yang lalu, dan tidak tahu kemana dia pindah setelahnya. Bagas yang hilang begitu juga Alia, tak ada yang tahu dia kemana seakan dunia dua pria itu hancur melihat
Deru mesin sepeda motor, dia tidak memedulikan angin malam yang menghantam wajahnya tanpa ampun, ataupun beberapa kali bannya selip saat melewati jalanan berbatu yang sepi."Bertahan, Kak... please, bertahan," bisik Arhan di balik helmnya, napasnya memburu.Begitu sampai di koordinat yang dituju, Arhan langsung mengerem keretanya dengan kasar hingga menciptakan bunyi decitan panjang di atas tanah kering. Arhan melompat dari motornya tanpa mencabut kunci. Dia berlari menerobos pintu besi gudang yang sudah berkarat dan setengah terbuka."Kak Alia?! Kak?!" teriak Arhan, suaranya menggema parau di dalam ruangan luas yang pengap dan berdebu itu.Dia menyalakan senter dari ponselnya, mengarahkan cahayanya ke segala penjuru arah. Jantungnya berdegup kencang, bersiap menghadapi penyergapan atau baku hantam dengan bajingan yang nekat menculik dosennya.Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Gudang itu kosong, sampai akhirnya sorot senter ponselnya menangkap sebuah kursi kayu yang tegak di tengah
Hanya dalam hitungan detik, dada Alia terasa sesak, pandangannya yang memang sudah kabur oleh air mata langsung diselimuti titik-titik hitam yang berputar cepat, hingga akhirnya kesadarannya tumbang sepenuhnya. Tubuhnya mendadak lemas, jatuh pasrah di dalam dekapan pria asing bertopeng tersebut.Pria itu mendengus pelan, memastikan korbannya benar-benar sudah tidak berdaya. Dia mengangkat tubuh Alia yang pingsan ke atas bahunya, menyambar koper pakaian Alia di sudut ruangan, lalu melangkah keluar melalui pintu penghubung rahasia di dalam kamar mandi yang entah bagaimana bisa dia akses. Kamar hotel nomor 204 itu kembali sunyi senyap, menyisakan bau kimia yang menguar tipis di udara dan selimut yang acak-acakan di atas ranjang.Sementara itu, di luar gedung hotel Arhan berjalan gontai menyusuri trotoar. Langkah kakinya terasa begitu berat, seolah ada beban berton-ton yang mengikat pergelangan kakinya. Dia merogoh saku celananya, berniat mengambil kunci sepeda motor namun kedua sakunya k
"Benar, Pak Rendra..." cicit Arhan, suaranya dibuat bergetar seolah ketakutan setengah mati pada wibawa Rendra. Dia mengeluarkan beberapa map folio dan sebuah laptop kecil dari dalam tasnya, memperlihatkannya kepada Rendra dan dua pria tegap di belakangnya. "Aku cuma mengantar berkas-berkas ini atas perintah Bu Alia. Tadi sore setelah urusan di rektorat selesai, aku kembali ke ruang dosen untuk mengambil barang-barang ini. Karena jalanan macet dan aku harus mengurus administrasiku dulu, aku baru aja sampai di hotel ini. A ku gak ada niat macem-macem kok, Pak."Rendra menatap map-map folio yang ditunjukkan Arhan dengan tatapan tidak percaya. Dia melirik ke arah salah satu pria berjas kulit di belakangnya. Pria itu, yang ternyata adalah seorang mantan interogator kepolisian yang disewa Rendra, maju selangkah lalu menatap intens ke arah gestur tubuh Arhan dan Alia."Bu Alia," pria tegap itu membuka suara, nadanya menyelidik. "Pelacakan kami menunjukkan adanya panggilan dari nomor satelit












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.