LOGINLima tahun menikah, Alia terjebak dalam rumah tangga yang terasa seperti penjara—suami yang dingin, kata-kata yang menyakitkan, dan mertua yang menuntut cucu seolah hidup Alia hanya berharga jika ia bisa memberi keturunan. Hingga suatu malam sebuah kecelakaan kecil mempertemukannya dengan Arhan, seorang mahasiswa yang tanpa sengaja melihat bagaimana suami Alia merendahkan harga dirinya di depan umum meski berbisik. “Udah mandul, masih nyusahin.” Satu kalimat itu mengubah segalanya. Bukan hanya bagi Alia-tapi juga bagi Arhan Ketika perhatian kecil berubah menjadi kedekatan, dan kedekatan berubah menjadi kebutuhan… muncul fakta yang selama ini dikubur: Alia bukanlah pihak yang mandul. Rahasia itu menjadi pintu ke hubungan terlarang yang tak pernah mereka bayangkan. Yang bisa memberi Alia sesuatu yang tak akan pernah ia dapatkan dari suaminya. Namun setiap pilihan memiliki konsekuensi. Dan di antara rasa bersalah, hasrat, dan luka yang lama terpendam, Alia harus memilih: menyelamatkan dirinya… atau mempertahankan pernikahan yang sejak awal tak pernah memihaknya.
View MoreSuasana di dalam mobil terasa sangat kaku. Bau parfum Alia yang elegan memenuhi ruang sempit itu, namun tak satu pun dari mereka berani membuka suara setelah insiden di kamar tadi. "Kak," panggil Arhan pelan, memecah kesunyian.Alia tersentak kecil. "Ya?""Acara anniversary pernikahan... setau aku itu bukannya bersifat pribadi? Biasanya untuk keluarga atau kalian berdua?" tanya Arhan hati-hati. Ia teringat pesta besar yang mereka tuju, lengkap dengan daftar tamu kolega bisnis yang mentereng.Alia membuang muka ke arah jendela, menatap lampu-lampu kota yang mulai menyala. Senyum pahit terukir di wajahnya."Bagi Rendra, ini bukan soal merayakan cinta," jawab Alia lirih. "Ini soal panggung. Dia hanya ingin menunjukkan pada kolega kerjanya kalau pernikahannya harmonis. Citra adalah segalanya bagi dia. Aku di sana hanya sebagai pelengkap dekorasi agar ceritanya terlihat sempurna."Arhan terdiam, tangannya mencengkeram setir sedikit lebih erat. Ada amarah kecil yang mulai membara di dadany
Matahari sudah mulai turun saat Alia melangkah menuju parkiran dengan langkah gontai. Noda hitam di kemejanya sudah mengering, namun langkahnya seketika terhenti saat melihat sosok jangkung yang bersandar di pintu mobilnya."Arhan?Kamu nggak langsung pulang?" tanya Alia, suaranya terdengar lelah."Menunggu sumber uangku lebih penting," sahut Arhan enteng. Ia menegakkan tubuhnya."Hari ini kamu pulang saja. Aku ada acara dengan Arhan, jadi nyetir sendiri," tolak Alia halus sembari merogoh kunci mobil di tasnya.Arhan tidak bergerak. Ia justru mengambil kunci itu dari tangan Alia sebelum jemari wanita itu sempat menggenggamnya. "Ibu masih marah soal kejadian di kelas tadi?"Alia menghela napas panjang. "Aku tidak marah, Arhan. Aku hanya... cemas. Kamu lihat sendiri kan bagaimana reaksi Maya tadi? Ini tidak baik untuk kita."
Wajah Alia memanas. Ia bisa merasakan tatapan menyelidik dari seluruh penjuru kelas, terutama dari Maya yang masih memegang kuasnya dengan pose menuntut jawaban. Detak jantung Alia berpacu, bukan lagi karena debaran manis, melainkan ketakutan akan reputasi profesionalnya yang terancam."Maya, jangan berlebihan," potong Alia cepat, ia segera menarik lengannya dari jangkauan Arhan, menciptakan jarak yang tegas."Arhan memang mahasiswa yang sangat cekatan. Dia juga yang membantu saya membawakan buku-buku referensi berat ke kelas tadi pagi," lanjut Alia sambil menatap Maya lekat-lekat, mencoba memberikan pembenaran yang masuk akal. "Wajar jika dia refleks menolong saat melihat cat tumpah di depan matanya."Alia kemudian beralih menatap Arhan dengan tatapan dingin yang dipaksakan—tatapan yang biasa ia berikan pada mahasiswa yang melanggar aturan."Terima kasih, Arhan. Kamu bisa kembali. Bentar lagi kelas selesai," ucap Alia formal, seolah-olah sapu tangan di tangannya hanyalah kain perca b
Matahari pagi itu menembus celah jendela dengan kecerahan yang menyakitkan, seolah sengaja mengejek Alia yang baru saja tersadar kalau ia kesiangan. Di sampingnya, sisi tempat tidur Rendra sudah dingin dan rapi. Pria itu tampaknya masih setia menganggap Alia tak lebih dari sekadar pajangan di rumah mereka."Apa cerai memang satu-satunya jalan keluar?" gumamnya lirih pada langit-langit kamar.Alia bergegas. Dua puluh menit lagi jam mengajarnya dimulai. Namun, langkahnya tertahan di ruang makan. Di sana, Rendra, ibu mertuanya, dan Desy sedang menikmati sarapan dengan tenang, seolah keberadaan Alia memang tidak diharapkan dalam rutinitas itu."Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Alia sambil menarik kursi, matanya tertuju pada Rendra.Tak ada jawaban. Rendra bergeming, jemarinya sibuk mengusap layar tablet."Istri macam apa yang baru bangun saat orang lain sudah selesai sarapan," sindir ibu Rendra tajam. Wanita itu bangkit dari meja, diikuti Desy yang melempar senyum puas yang tipis namun
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.