LOGINLima tahun menikah, Alia terjebak dalam rumah tangga yang terasa seperti penjara—suami yang dingin, kata-kata yang menyakitkan, dan mertua yang menuntut cucu seolah hidup Alia hanya berharga jika ia bisa memberi keturunan. Hingga suatu malam sebuah kecelakaan kecil mempertemukannya dengan Arhan, seorang mahasiswa yang tanpa sengaja melihat bagaimana suami Alia merendahkan harga dirinya di depan umum meski berbisik. “Udah mandul, masih nyusahin.” Satu kalimat itu mengubah segalanya. Bukan hanya bagi Alia-tapi juga bagi Arhan Ketika perhatian kecil berubah menjadi kedekatan, dan kedekatan berubah menjadi kebutuhan… muncul fakta yang selama ini dikubur: Alia bukanlah pihak yang mandul. Rahasia itu menjadi pintu ke hubungan terlarang yang tak pernah mereka bayangkan. Yang bisa memberi Alia sesuatu yang tak akan pernah ia dapatkan dari suaminya. Namun setiap pilihan memiliki konsekuensi. Dan di antara rasa bersalah, hasrat, dan luka yang lama terpendam, Alia harus memilih: menyelamatkan dirinya… atau mempertahankan pernikahan yang sejak awal tak pernah memihaknya.
View MoreRuang tamu rumah Ibu Rendra terasa pengap. Bukan karena panas, tapi karena suasananya yang selalu membuat Alia merasa kecil. Di dinding ada banyak foto Rendra—kecil, remaja, dewasa—semuanya tersenyum bangga. Tidak ada ruang kosong untuk siapa pun selain putra kesayangan itu.
Alia berdiri sambil meremas ujung bajunya.
“Bu… aku cuma kecewa. Rendra janji mau datang ke wisudaku. Itu hari penting buat aku.”Ibu Rendra mengangkat wajah dari cangkir tehnya, nada suaranya langsung ketus.
“Alia, kamu itu kalau jadi istri jangan manja begitu. Suami kerja buat rumah tangga. Masa gara-gara wisuda aja kamu ribut sama Rendra?”Alia menelan napas. “Aku cuma berharap dia ada. Sekali ini aja, Bu.”
Rendra yang dari tadi sibuk main ponsel akhirnya bersuara.
“Udah kubilang, ada laporan mendadak. Kamu tuh susah banget ngerti, ya?”Nada datar itu memukul lebih keras daripada teriakan. Alia menunduk agar tak terlihat goyah.
“Ren, kamu jangan angkat suara,” tegur Ibu Rendra, tapi bukan untuk membela Alia. “Ibu heran, Alia ini kenapa makin lama makin sensitif. Baru lima tahun nikah, kelakuannya masih kayak anak kecil.”
“Bu, aku cuma minta—”
Belum selesai bicara, Ibu Rendra sudah memotong.
“Kamu tuh ngerepotin, Alia. Semua hal kecil dijadiin masalah. Kalau kamu sibuk urus rumah, sibuk bangun keluarga, kamu nggak sempat ngeluh terus.”Kata bangun keluarga itu membuat dada Alia mengencang. Ia tahu arah pembicaraan ini.
Rendra ikut menimpali, enteng.
“Makanya, Lia. Fokus ke hal yang penting. Bukan drama kayak gini.”Alia memejam sebentar.
Drama. Begitu mudah mereka menyebut perasaannya.Ibu Rendra bersedekap, menatapnya dari ujung kaki sampai kepala.
“Kalian ini udah lima tahun menikah. Orang lain baru setahun udah punya anak. Kamu? Apa sih yang kamu kerjain sampai sekarang?”Alia menahan napas. Ia ingin bilang bahwa ia sudah periksa. Bahwa dokter juga sudah bilang hasilnya. Tapi apa gunanya? Tidak ada yang mau dengar.
“Bu… aku berusaha,” ucapnya pelan.
“Usaha gimana? Ibu nggak lihat ada hasilnya.”
Nada itu menusuk, dingin, membuat tengkuk Alia panas.Rendra menggeleng kecil, seolah bosan.
“Udahlah. Lia tuh memang suka lebay, Ma. Susah dikasih tahu.”Alia akhirnya mengangkat wajah, matanya bergetar.
“Aku cuma pengin janji ditepati. Itu salah?”Ruangan itu hening. Lalu Ibu Rendra mendesah panjang.
“Kamu mulai dulu dari satu hal, Lia. Jangan bikin Rendra stres. Itu aja.”Pelan, Alia merasa sesuatu di dalam dirinya remuk. Tidak keras, tapi cukup untuk membuatnya sulit bernapas.
Ia berdiri di antara foto-foto Rendra yang selalu dipuji, sementara dirinya hanya jadi orang yang “manja”, “lebay”, dan “ngerepotin”. Seakan seluruh hidupnya hanya rangkaian kesalahan yang tidak pernah benar.
Dan malam itu, tanpa ada yang sadar, retakan kecil di hati Alia akhirnya pecah.
Pelan… tapi pasti.***********************
Di kamar, Alia duduk sambil menahan napas yang tersendat-sendat. Air mata masih jatuh pelan. Pintu baru saja tertutup ketika Rendra masuk, wajahnya biasa saja, seolah tidak melihat keadaan istrinya.
Ia mengambil handuk dan langsung menuju kamar mandi.
Pintu tertutup. Terbuka lagi. Masuk lagi. Keluar lagi.Alia mengusap matanya. “Ren… kamu nggak mau ngomong sama aku?”
Rendra yang sedang mencari kaus di lemari berhenti sebentar. “Ngomong apa lagi? Kita udah ribut dari rumah Ibu.”
“Aku bukan mau ribut,” suara Alia parau. “Aku cuma sedih karena kamu nggak datang. Itu aja.”
Rendra mendengus kecil, tidak menatap. “Lia, aku udah bilang kan ada kerjaan mendadak.”
“Tapi kamu janji.”
Alia mencoba menahan suaranya agar tidak pecah. “Kamu bilang kamu bakal datang. Aku nunggu… sampai acara selesai.”Rendra akhirnya menatap, tapi dengan wajah jengkel. “Terus? Kamu mau aku bilang apa? Aku harus pilih kerjaan atau wisuda kamu? Kamu mau aku dipecat?”
Alia memijat dada yang terasa sesak. “Aku cuma ingin kamu tepati apa yang kamu bilang. Nggak lebih.”
Rendra tertawa sinis. “Kamu tuh selalu nuntut. Kecil-kecil dijadiin besar.”
“Aku nggak nuntut, Ren…”
Air mata turun lagi. “Aku cuma pengen kamu ngerti perasaanku.”Rendra mendecak. “Nah itu. Kamu nangis lagi. Dari rumah udah nangis. Masuk mobil nangis. Sampai sini nangis. Kamu nggak capek?”
Alia menggeleng pelan. “Aku nangis karena kamu nggak pernah denger aku.”
Rendra langsung membalas cepat, seperti tersinggung.
“Aku denger! Tapi kamu yang nggak mau denger aku. Aku capek kerja, aku capek ngadepin Ibu yang cerewet, terus pulang-pulang harus ngadepin kamu yang sensitif!”“Jadi salahku?”
Alia menatapnya, mata merah. “Salahku kamu nggak datang? Salahku Ibu ngomel gitu?”Rendra mengangkat tangan, frustrasi. “Lia, please. Udah berhenti. Aku cuma mau istirahat.”
“Tapi aku masih merasa sakit, Ren…”
“Aku juga sakit! Sakit kepala denger kamu nangis terus!”
Nada suaranya meninggi.Alia terdiam, tersedak. Tangisnya makin pecah, meski ia mencoba menahannya.
Rendra langsung mengambil bantal dari tempat tidur. “Aku tidur di kamar sebelah.”
Alia terkejut. “Kenapa harus gitu? Kita kan bisa selesaikan baik-baik.”
“Gimana mau baik-baik kalau kamu nggak berhenti nangis?” Rendra meliriknya kesal. “Aku nggak bisa tidur kalau kamu terus begini.”
Alia mengusap pipinya buru-buru. “Aku… aku berusaha tenang.”
“Ya nggak berhasil.”
Rendra sudah di depan pintu. “Aku butuh tidur. Kamu butuh… ya entahlah, butuh waktu sendiri mungkin. Besok kalau kamu udah nggak drama, baru kita ngomong.”“Drama?”
Alia hampir tidak percaya dengan kata itu.Rendra membuka pintu. “Iya. Ini semua capek, Lia. Aku capek banget.”
Pintu tertutup perlahan.
Dan untuk pertama kalinya, Alia merasakan dingin yang bukan dari AC kamar—tapi dari seseorang yang seharusnya jadi tempat pulangnya.Ia memeluk lutut, tenggelam dalam kesunyian yang makin tebal.
Sementara di kamar sebelah, Rendra sudah tidak memikirkan apa pun selain tidurnya sendiri.Saat Alia masih duduk di tempat tidur, pelan-pelan menenangkan napasnya yang tersendat. Tangisnya mereda, tapi dadanya masih sesak.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah cepat di luar kamar. Alia menegangkan telinga. Langkah itu semakin dekat, kemudian menuruni tangga dengan tergesa-gesa.
“Ren…?” Suaranya terdengar parau, pelan, hampir seperti berbisik. “Ren, kamu… mau kemana?”
Tidak ada jawaban. Hanya suara langkah yang semakin menjauh.
Alia berdiri, berjalan ke pintu kamar, matanya menangkap sosok Rendra—masih pakai piyama tidur—melewati koridor dengan tergesa-gesa, langsung menuruni tangga, lalu menghilang di pintu depan rumah.
Alia menatap kosong pintu yang tertutup, jantungnya berdegup kencang.
Mau ke mana Rendra pergi di tengah malam begini… dan kenapa ngga bilang apa-apa?
Alia menggigit bibir, ragu untuk keluar kamar. Tapi rasa penasaran dan sedikit takut membuatnya menahan napas, sambil berharap suara langkah itu segera kembali.
Keesokan harinya, fajar menyingsing di atas lereng bukit dengan warna keemasan yang lembut. Kabut tipis masih membungkus pepohonan karet, membawa aroma tanah basah dan udara pegunungan yang sangat segar. Suara jangkrik malam perlahan berganti dengan cicitan burung liar dan kokok ayam jantan dari kejauhan. Di rumah panggung kayu itu, suasana begitu hangat dan tentram—sebuah kontras yang sempurna dibanding badai yang sedang mengamuk di luar sana. Alia terbangun dari tidurnya dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Di teras depan yang menghadap langsung ke hamparan kebun hijau, Bagas sudah duduk santai di atas bangku kayu panjang. Mahasiswa cerdas itu mengenakan kaus polos dan celana kain sederhana, kacamata bingkai hitamnya bertengger rapi saat dia memegang secangkir kopi hitam panas yang berasap tipis. Di sampingnya, Pak Danu sedang merapikan beberapa papan kayu bakar. "Pagi, Kak Alia," sapa Bagas dengan nada suara yang tenang dan renyah. Senyuman tipisnya terkembang, senyuman
Empat bulan berlalu sejak tragedi penyisiran hutan perbatasan yang sia-sia itu. Waktu terus berjalan di kota, namun bagi Rendra dan Arhan, hidup mereka seolah telah mati dan membusuk di tempat.Di pusat kota, nama Rendra tak lagi menjadi simbol kejayaan pengusaha muda berprestasi. Pencarian skala besar yang gagal, laporan kepolisian yang menggantung, serta hilangnya sang istri secara misterius perlahan membocorkan skandal keretakan rumah tangganya ke publik. Dewan komisaris perusahaan akhirnya memutus posisinya sebagai CEO demi menyelamatkan saham perusahaan yang merosot tajam.Penthouse mewah milik Rendra kini tak ubahnya seperti makam yang megah. Tirai-tirai jendela raksasa tidak pernah lagi dibuka, membiarkan ruangan besar itu tenggelam dalam remang-remang yang suram. Rendra duduk di sudut sofa, tubuhnya jauh lebih kurus dengan janggut tipis yang tidak terurus. Matanya yang merah dan cekung menatap kosong ke arah lemari kaca, tempat foto pernikahan formalnya dengan Alia masih berdi
Sementara Rendra dan Arhan sedang menyusuri lorong Rumah Sakit Medika untuk mencari rekam medis, di rumah panggung lereng bukit udara pagi terasa begitu sejuk. Matahari bersinar cerah menembus celah-celah daun karet, menyinari teras kayu tempat Bidan Marni seorang bidan desa senior yang ramah dan yang sedang menata peralatan medis sederhananya di atas meja.Alia duduk di tepi tempat tidur kamar utama, mengenakan daster hamil yang longgar. Perutnya yang makin membuncit kini terasa kencang dan bergerak-gerak pelan. Di sampingnya, Bagas berdiri dengan sigap memegang buku catatan kehamilan berwarna merah muda."Coba berbaring santai ya, Mbak Alia," ujar Bidan Marni lembut seraya mengoleskan gel dingin ke permukaan perut Alia.Bidan Marni kemudian menempelkan ujung alat fetal doppler portabel ke perut Alia. Dalam hitungan detik, suara detak jantung janin bergema memenuhi ruangan kayu yang tenang itu—cepat, ritmis, dan sangat kuat.Dug-dug-dug-dug-dug...Bagas yang berdiri di dekat kepala r
Bagas menghela napas panjang. Dia menarik sebuah kursi kayu dan duduk tepat di samping tempat tidur Alia, membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan tenang yang sama sekali tidak mencerminkan tindakan nekat yang baru saja dilakukannya."Aku lihat Ibu nangis tiap hari di ruang dosen," lanjut Bagas pelan, kini tatapannya melunak. "Aku tahu Pak Rendra jarang menganggap Ibu, dan aku tahu Arhan cuma bocah egois yang mengira obsesinya adalah cinta. Dan sekarangn ini mereka berdua sedang menghancurkan hidup Ibu. Jadi... kenapa Ibu ngga biarkan mereka bertengkar dan saling menyalahkan aja?"Alia menatap mahasiswa bimbingannya itu dengan napas memburu. "Tapi cara kamu ini gila, Bagas! Penculikan? Pemalsuan? Kamu bisa dipenjara!""Aku sudah memperhitungkan semuanya," balas Bagas mantap. "Aku sudah menyiapkan tempat yang bakal buat Ibu nyaman. Tidak ada seorang pun dari keluarga Pak Rendra yang tahu. Kalau Ibu menghilang secara 'misterius', mereka akan sibuk memburu bayangan dan saling menghan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews