
AH! BRONDONGKU SAYANG
Lima tahun menikah, Alia terjebak dalam rumah tangga yang terasa seperti penjara—suami yang dingin, kata-kata yang menyakitkan, dan mertua yang menuntut cucu seolah hidup Alia hanya berharga jika ia bisa memberi keturunan.
Hingga suatu malam sebuah kecelakaan kecil mempertemukannya dengan Arhan, seorang mahasiswa yang tanpa sengaja melihat bagaimana suami Alia merendahkan harga dirinya di depan umum meski berbisik.
“Udah mandul, masih nyusahin.”
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Bukan hanya bagi Alia-tapi juga bagi Arhan
Ketika perhatian kecil berubah menjadi kedekatan, dan kedekatan berubah menjadi kebutuhan… muncul fakta yang selama ini dikubur: Alia bukanlah pihak yang mandul.
Rahasia itu menjadi pintu ke hubungan terlarang yang tak pernah mereka bayangkan.
Yang bisa memberi Alia sesuatu yang tak akan pernah ia dapatkan dari suaminya.
Namun setiap pilihan memiliki konsekuensi.
Dan di antara rasa bersalah, hasrat, dan luka yang lama terpendam, Alia harus memilih:
menyelamatkan dirinya… atau mempertahankan pernikahan yang sejak awal tak pernah memihaknya.
Read
Chapter: Bab 81 : Si Kutu BukuMelihat hal itu, Arhan yang memang posisinya paling dekat secara spontan langsung berjongkok untuk membantu memunguti kertas-kertas tersebut. "Ceroboh banget sih," gumamnya pelan.Alia pun ikut berjongkok di balik meja untuk mengambil sisa kertas yang terlempar agak jauh ke sudut bawah. "Lagian, tidak sengaja."Di balik meja dosen yang tinggi dan tertutup rapat oleh panel kayu pembatas itu, posisi mereka berdua mendadak menjadi sangat privat. Suara riuh mahasiswa di luar sana terdengar sayup-sayup, tergantikan oleh deru napas mereka yang mendadak terasa dekat.Saat tangan mereka berdua bergerak memungut lembaran yang sama, jemari mereka bersentuhan. Alia mendongak, berniat mengucapkan terima kasih dan meminta Arhan mengembalikan kertas itu."Arhan, terima ka—"Kalimat Alia terputus di udara. Ia tidak menyangka bahwa Arhan akan memanfaatkan celah sempit itu dengan gerakan secepat kilat. Sebelum Alia sempat menarik wajahnya mundur, Arhan sudah
Last Updated: 2026-05-18
Chapter: Bab 80 : Hukuman KecilLangkah kaki Arhan terdengar menghentak-hentak di sepanjang koridor menuju gedung Fakultas. Alia yang baru menapakkan kakinya di aspal pelataran parkir hanya bisa menatap punggung tegap itu dengan gelengan kepala. "Astaga, anak itu... sifat kekanak-kanakannya keluar lagi kalau sedang merajuk," gumam Alia pelan.Bukannya merasa terganggu, ada segaris senyum yang tanpa sadar terukir di sudut bibir Alia. Namun, dunia kampus tidak memberikan Alia waktu lama untuk melamun. Jadwal kuliah berikutnya adalah kelas Manajemen Seni—dan sial bagi Arhan, Alia adalah dosen pengampunya siang ini.Ia meletakkan tasnya di meja dosen, mengedarkan pandangan, dan langsung menemukan apa yang dicarinya. Arhan duduk di barisan paling belakang, tepat di pojok ruangan.Cowok itu menopang dagunya dengan sebelah tangan, matanya menatap lurus ke arah papan tulis hitam, namun pandangannya sengaja dibuat kosong. Ia membuang muka setiap kali netra Alia tidak sengaja berputar ke arahnya.
Last Updated: 2026-05-18
Chapter: Bab 79 : Apa Alia Belum Sadar?Begitu mereka menyelesaikan makan siang yang penuh ketegangan itu dan berjalan menuju area parkir, Arhan langsung menghentikan langkahnya. Ia berbalik menghadap Bagas dengan senyum yang dipaksakan."Gas, makasih ya udah nemenin makan. Tapi setelah ini aku sama Bu Alia masih ada urusan penting soal draf jurnal yang belum selesai dibahas. Kamu balik ke kampus sendiri gak apa-apa, kan? Naik ojek online atau angkutan depan aja," ujar Arhan tanpa basa-basi, nadanya terdengar seperti perintah yang tidak bisa diganggu gugat.Alia yang mendengarnya langsung mengernyitkan dahi. Ia menyenggol lengan Arhan dan menegurnya dengan suara pelan namun tegas. "Arhan, apa-apaan sih? Kita kan berangkat bertiga, ya pulangnya harus bertiga. Jangan keterlaluan."Namun, Arhan tetap bersikeras. Ia menatap Alia dengan pandangan memohon sekaligus keras kepala, mengisyaratkan bahwa ia tidak ingin diganggu lagi. "Cuma sebentar kok, Kak. Lagian Bagas pasti mau buru-buru ke perpustak
Last Updated: 2026-05-18
Chapter: Bab 78 : Makan Siang BersamaSinar matahari pagi menembus celah gorden ruang tengah, menerpa wajah Alia yang terbangun dengan leher terasa kaku akibat semalaman tidur di sofa. Setengah jam kemudian, Alia sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Saat ia melangkah ke meja makan, ia terkejut melihat Rendra sudah duduk di sana. Pria itu tampak tidak bersemangat; lingkaran hitam di bawah matanya memperjelas bahwa dia tidak tidur nyenyak semalaman. Di atas meja, Bi Inah sudah menyiapkan sarapan berupa nasi goreng, namun tak satu pun dari mereka yang menyentuh sendok.Rendra berdeham pelan, memecah keheningan yang menyiksa. Ia meletakkan cangkir kopinya, lalu menatap Alia yang sibuk merapikan berkas-berkas di dalam tasnya. Pria itu tampak ragu sejenak, menghela napas panjang, lalu mencoba menurunkan sedikit egonya yang setinggi langit."Alia," panggil Rendra dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, terdengar jauh lebih tenang dibanding bentakannya semalam.Alia menghentikan gerakannya sejenak, namun tidak mendongak. "Ya?"
Last Updated: 2026-05-17
Chapter: Bab 77 : Ciuman Terakhir?Rendra terpaku di posisinya. Tubuhnya masih bersandar pada kepala tempat tidur, tempat di mana Alia baru saja mendorong bahunya beberapa detik lalu. Sentuhan lembut di dadanya masih terasa, dan sensasi hangat dari bibir Alia yang tiba-tiba menciumnya masih membekas dengan jelas. Namun, kata-kata yang keluar dari mulut Alia setelahnya terasa seperti air es yang disiramkan langsung ke wajahnya."Aku putuskan, sepertinya aku sudah tidak menyukaimu lagi," ucap Alia santai.Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti kamar tidur mereka. Rendra menatap Alia dengan tatapan tidak percaya, rahangnya mengeras, dan napasnya tertahan di tenggorokan."Alia... kamu bicara apa sih?" Suara Rendra terdengar serak, ada kombinasi rasa syok, bingung, dan amarah yang mulai merayap naik. "Kamu baru saja menciumku, dan sekarang kamu bilang kamu tidak menyukaiku lagi? Kamu sedang mempermainkanku?"Alia tidak berkedip. Wajahnya yang beberapa menit lalu memerah karena mengomel dan melempar bantal, kini berub
Last Updated: 2026-05-17
Chapter: Bab 76 : Cinta MemudarAlia melangkah santai menuju dapur, meninggalkan ruang tamu yang mendadak sunyi seperti kuburan. Di belakangnya, Arhan mengekor dengan langkah ringan, wajah cowok itu tampak sangat puas, seolah baru saja menonton pertunjukan panggung kelas dunia di mana Alia adalah bintang utamanya.Begitu sampai di dapur, Alia langsung mengambil posisi di dekat wastafel, berpura-pura sibuk mencuci sayuran dan membantu Bi Inah yang sedang memotong bawang. Tangannya bergerak ritmis, mencoba meredam gemuruh di dadanya setelah nekat menyindir ibu mertuanya secara terang-terangan tadi."Wah, Kak... asli, keren banget," bisik Arhan yang kini bersandar di dekat konter dapur, menatap Alia dengan binar mata penuh kekaguman. "Muka ibunya Rendra tadi langsung berubah jadi abu-abu. Aku hampir kelepasan ketawa.""Arhan, diam. Jangan berisik," tegur Alia setengah berbisik tanpa menoleh, wajahnya tetap lurus menatap daun sawi di tangannya.Bi Inah yang berada di sana hanya bisa tersenyum tertahan, pura-pura tidak m
Last Updated: 2026-05-17
Chapter: BAB 234 : Tamat Cahaya matahari menembus tirai kamar dengan lembut, menghangatkan udara pagi yang segar. Burung-burung di luar jendela berkicau riang, dan dari dapur terdengar samar suara panci serta aroma kopi yang baru diseduh. Elena masih terlelap di pelukan Daniel ketika pintu kamar tiba-tiba diketuk keras. “Bangun! Hei, pengantin baru! Sudah jam delapan, kalian mau tidur sampai siang?” suara ceria itu jelas milik Lily, adik Daniel. Daniel bergumam pelan, separuh sadar. “Mmhh… Lily… lima menit lagi…” Pintu terbuka sedikit, dan kepala Lily menyembul masuk. “Lima menit? Lima menitmu bisa jadi satu jam, Kak. Mama nyuruh turun sarapan, semua orang udah nunggu.” Elena langsung membuka mata, panik kecil. Ia menyadari posisi mereka masih berpelukan, rambutnya berantakan dan selimut agak melorot. “Lily! Kau nggak bisa asal masuk begini—” Lily tertawa kecil, menutup pintu lagi tapi masih sempat menyelipkan kalimat, “Kau sekarang bagian dari keluarga, kak Elena. Nggak usah malu-malu!” Pintu te
Last Updated: 2025-10-12
Chapter: BAB 233 : Epilog tanpa Prolog Setahun kemudian Musim semi membawa keharuman manis ke seluruh taman pusaka yang kini dipenuhi bunga liar. Tempat yang dulu hanyalah proyek kini berubah menjadi lokasi paling indah di Maple Hollow — dan di sinilah, di bawah langit biru muda, Elena dan Daniel akhirnya mengucapkan janji suci mereka. Tamu-tamu dari berbagai kalangan berbeda berkumpul: rekan kerja dari Molgrad yang sibuk mengambil foto, keluarga besar Daniel Harper yang duduk di barisan depan bersama ibu dan nenek Rose, hingga keluarga Elena yang datang dari Cakrawana dengan pakaian tradisional lembut berwarna biru dan emas. Suasana terasa hangat, seolah budaya dua tempat itu menyatu dalam satu napas cinta. Daniel berdiri di altar sederhana yang dihiasi daun maple dan kain tenun khas Cakrawana. Ketika Elena berjalan perlahan menghampirinya dengan gaun putih gading dan buket bunga liar di tangan, Daniel sampai kehilangan kata. Ia tersenyum gugup tapi matanya tak lepas dari Elena. “Kalau aku pingsan, tolong tangk
Last Updated: 2025-10-12
Chapter: BAB 232 : Usai Tiga Bulan Tiga bulan berlalu sejak Daniel mulai mengerjakan proyek besarnya. Kini, rancangan itu akhirnya rampung sepenuhnya. Hanya tinggal menunggu tahap pembangunan fisik selama dua bulan ke depan. Saat Daniel menatap hasil desain yang terbentang di layar komputernya, ia tak bisa menahan senyum kecil — rasa puas sekaligus lega bercampur jadi satu. Proyek ini bukan sembarang taman. Ia dan Elena menamainya “Taman Lintas Budaya”, sebuah ruang hijau yang memadukan keindahan khas Cakrawana — tempat asal Elena — dengan nuansa hangat dan arsitektur khas Molgrad. Setiap detailnya seolah bercerita tentang perjalanan mereka; tentang dua dunia yang berbeda namun akhirnya berpadu menjadi satu kesatuan yang harmonis. Sejak Daniel menyatakan perasaannya tiga bulan lalu, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang nyata. Tidak lagi sekadar rekan kerja atau pasangan pura-pura demi visa. Kini mereka benar-benar hidup bersama, berbagi ruang, waktu, bahkan rutinitas kecil sehari-hari yang dulu terasa sepel
Last Updated: 2025-10-12
Chapter: BAB 231 : Momen Terindah Sore itu, langit Molgrad mulai berwarna jingga saat para karyawan beranjak pulang dari kantor. Elena sempat menoleh ke arah meja Daniel yang kosong.“Kamu nggak pulang bareng?” tanyanya sebelum berpisah. Daniel tersenyum tipis, menatap layar laptopnya. "Aku ada urusan sedikit, kamu duluan aja. Jangan lupa makan, ya.” Elena mengangguk. “Baiklah. Tapi jangan pulang kelamaan.” “Janji,” jawab Daniel dengan senyum kecil. Namun janji itu ternyata membuat Elena menunggu hingga malam. Waktu terus berjalan. Pukul delapan malam, Daniel belum juga pulang. Telepon yang Elena lakukan hanya berakhir di nada sambung tanpa jawaban. Hatinya mulai tak tenang.“Dia jarang begini…” gumamnya cemas sambil menatap layar ponsel. Pukul sepuluh lewat, baru sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal."Halo?” Suara di seberang terdengar tergesa, distorsi samar di antara deru angin. “Anda Elena, istri Daniel Harper?” “Iya, benar. Ada apa ini?” “Mohon maaf, kami butuh Anda segera datang ke a
Last Updated: 2025-10-11
Chapter: BAB 230 : Menuju Kebahagiaan Keesokan paginya, udara Molgrad terasa sejuk dengan langit yang cerah. Elena dan Daniel berjalan berdampingan di trotoar bandara sambil membawa koper besar milik ayah Daniel. Lelaki paruh baya itu tampak santai, tapi senyumnya menyimpan sedikit berat hati. “Kalian nggak usah repot-repot nganter, Ayah bisa naik taksi sendiri,” katanya sambil tertawa kecil. “Nggak bisa begitu, Yah,” sahut Daniel cepat. “Nanti Nenek kirim surat marah kalau tahu kita nggak nganterin Ayah.” “Benar, Yah,” tambah Elena tersenyum. “Nanti beliau pikir kita anak durhaka.” Mereka bertiga tertawa bersama. Begitu sampai di area keberangkatan, suasananya mulai terasa sendu. Suara pengumuman penerbangan bergema dari pengeras suara, dan aroma kopi dari kafe bandara mengiringi keheningan kecil di antara mereka. Ayah Daniel menatap keduanya dengan lembut.“Daniel, jaga dirimu baik-baik, Nak. Ayah tahu kamu keras kepala… tapi kali ini keras kepalamu mengarah ke hal yang benar.” Daniel menunduk sedikit, tersen
Last Updated: 2025-10-11
Chapter: BAB 229 : Akhir yang BagusDaniel menatap ayahnya cukup lama, mencoba mencerna kabar itu. Pindah ke Maple Hollow? Kota tempat semuanya dimulai — dan juga tempat semua kenangan masa lalu tertinggal. Elena menunduk, memikirkan banyak hal yang akan berubah jika mereka benar-benar menerima tawaran itu. Namun, sebelum suasana menjadi terlalu berat, Daniel akhirnya tersenyum kecil. "Yah… kalau itu memang yang terbaik untuk pengembangan taman kota dan proyek baru, aku akan pikirkan,” katanya tenang. “Tapi kali ini aku nggak mau meninggalkan Molgrad sepenuhnya. Aku masih punya mimpi yang belum selesai di sini.” Ayahnya menatap anaknya dengan tatapan bangga."Ayah sudah tebaik kamu akan jawab apa"Elena menoleh ke Daniel, "Kamu beneran mau milih tinggal di Molgrad?" “Iya. Aku bisa mengelola usaha pembibitan keluarga dari jarak jauh. Lagipula, sekarang semua bisa dilakukan online. Ada manajer di sana, aku bisa kontrol dari sini,” jelas Daniel dengan mantap. Elena menatapnya, tersenyum lebar.“Itu artinya kamu bi
Last Updated: 2025-10-10