
AH! BRONDONGKU SAYANG
Lima tahun menikah, Alia terjebak dalam rumah tangga yang terasa seperti penjara—suami yang dingin, kata-kata yang menyakitkan, dan mertua yang menuntut cucu seolah hidup Alia hanya berharga jika ia bisa memberi keturunan.
Hingga suatu malam sebuah kecelakaan kecil mempertemukannya dengan Arhan, seorang mahasiswa yang tanpa sengaja melihat bagaimana suami Alia merendahkan harga dirinya di depan umum meski berbisik.
“Udah mandul, masih nyusahin.”
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Bukan hanya bagi Alia-tapi juga bagi Arhan
Ketika perhatian kecil berubah menjadi kedekatan, dan kedekatan berubah menjadi kebutuhan… muncul fakta yang selama ini dikubur: Alia bukanlah pihak yang mandul.
Rahasia itu menjadi pintu ke hubungan terlarang yang tak pernah mereka bayangkan.
Yang bisa memberi Alia sesuatu yang tak akan pernah ia dapatkan dari suaminya.
Namun setiap pilihan memiliki konsekuensi.
Dan di antara rasa bersalah, hasrat, dan luka yang lama terpendam, Alia harus memilih:
menyelamatkan dirinya… atau mempertahankan pernikahan yang sejak awal tak pernah memihaknya.
Read
Chapter: Bab 22 : Tanpa Cinta MertuaSuasana di dalam mobil terasa sangat kaku. Bau parfum Alia yang elegan memenuhi ruang sempit itu, namun tak satu pun dari mereka berani membuka suara setelah insiden di kamar tadi. "Kak," panggil Arhan pelan, memecah kesunyian.Alia tersentak kecil. "Ya?""Acara anniversary pernikahan... setau aku itu bukannya bersifat pribadi? Biasanya untuk keluarga atau kalian berdua?" tanya Arhan hati-hati. Ia teringat pesta besar yang mereka tuju, lengkap dengan daftar tamu kolega bisnis yang mentereng.Alia membuang muka ke arah jendela, menatap lampu-lampu kota yang mulai menyala. Senyum pahit terukir di wajahnya."Bagi Rendra, ini bukan soal merayakan cinta," jawab Alia lirih. "Ini soal panggung. Dia hanya ingin menunjukkan pada kolega kerjanya kalau pernikahannya harmonis. Citra adalah segalanya bagi dia. Aku di sana hanya sebagai pelengkap dekorasi agar ceritanya terlihat sempurna."Arhan terdiam, tangannya mencengkeram setir sedikit lebih erat. Ada amarah kecil yang mulai membara di dadany
Last Updated: 2026-03-16
Chapter: Bab 21 : Pesona DewiMatahari sudah mulai turun saat Alia melangkah menuju parkiran dengan langkah gontai. Noda hitam di kemejanya sudah mengering, namun langkahnya seketika terhenti saat melihat sosok jangkung yang bersandar di pintu mobilnya."Arhan?Kamu nggak langsung pulang?" tanya Alia, suaranya terdengar lelah."Menunggu sumber uangku lebih penting," sahut Arhan enteng. Ia menegakkan tubuhnya."Hari ini kamu pulang saja. Aku ada acara dengan Arhan, jadi nyetir sendiri," tolak Alia halus sembari merogoh kunci mobil di tasnya.Arhan tidak bergerak. Ia justru mengambil kunci itu dari tangan Alia sebelum jemari wanita itu sempat menggenggamnya. "Ibu masih marah soal kejadian di kelas tadi?"Alia menghela napas panjang. "Aku tidak marah, Arhan. Aku hanya... cemas. Kamu lihat sendiri kan bagaimana reaksi Maya tadi? Ini tidak baik untuk kita."
Last Updated: 2026-03-15
Chapter: Bab 20 : Interogasi MayaWajah Alia memanas. Ia bisa merasakan tatapan menyelidik dari seluruh penjuru kelas, terutama dari Maya yang masih memegang kuasnya dengan pose menuntut jawaban. Detak jantung Alia berpacu, bukan lagi karena debaran manis, melainkan ketakutan akan reputasi profesionalnya yang terancam."Maya, jangan berlebihan," potong Alia cepat, ia segera menarik lengannya dari jangkauan Arhan, menciptakan jarak yang tegas."Arhan memang mahasiswa yang sangat cekatan. Dia juga yang membantu saya membawakan buku-buku referensi berat ke kelas tadi pagi," lanjut Alia sambil menatap Maya lekat-lekat, mencoba memberikan pembenaran yang masuk akal. "Wajar jika dia refleks menolong saat melihat cat tumpah di depan matanya."Alia kemudian beralih menatap Arhan dengan tatapan dingin yang dipaksakan—tatapan yang biasa ia berikan pada mahasiswa yang melanggar aturan."Terima kasih, Arhan. Kamu bisa kembali. Bentar lagi kelas selesai," ucap Alia formal, seolah-olah sapu tangan di tangannya hanyalah kain perca b
Last Updated: 2026-03-14
Chapter: Bab 19 : Perhatian KecilMatahari pagi itu menembus celah jendela dengan kecerahan yang menyakitkan, seolah sengaja mengejek Alia yang baru saja tersadar kalau ia kesiangan. Di sampingnya, sisi tempat tidur Rendra sudah dingin dan rapi. Pria itu tampaknya masih setia menganggap Alia tak lebih dari sekadar pajangan di rumah mereka."Apa cerai memang satu-satunya jalan keluar?" gumamnya lirih pada langit-langit kamar.Alia bergegas. Dua puluh menit lagi jam mengajarnya dimulai. Namun, langkahnya tertahan di ruang makan. Di sana, Rendra, ibu mertuanya, dan Desy sedang menikmati sarapan dengan tenang, seolah keberadaan Alia memang tidak diharapkan dalam rutinitas itu."Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Alia sambil menarik kursi, matanya tertuju pada Rendra.Tak ada jawaban. Rendra bergeming, jemarinya sibuk mengusap layar tablet."Istri macam apa yang baru bangun saat orang lain sudah selesai sarapan," sindir ibu Rendra tajam. Wanita itu bangkit dari meja, diikuti Desy yang melempar senyum puas yang tipis namun
Last Updated: 2026-03-14
Chapter: Bab 18 : Pemilik ObsesiRendra meremas kertas gugatan cerai itu hingga hancur di genggamannya. Pandangannya yang tadi meledak-ledak kini berubah menjadi dingin dan kosong—jenis kemarahan yang jauh lebih berbahaya daripada teriakan."Cerai?" Rendra mengulangi kata itu dengan nada rendah, hampir berbisik. "Setelah semua yang aku berikan, kamu menyiapkan ini di belakangku?""Rendra, aku..." Alia mundur perlahan, namun punggungnya tertahan oleh meja marmer yang dingin."Jawab!" bentak Rendra sambil melempar gumpalan kertas itu tepat ke wajah Alia. "Apa karena si berondong itu? Apa dia menjanjikan hidup yang lebih baik daripada yang aku berikan di rumah ini?"Nyonya Sofia melipat tangan di dada, menatap menantunya dengan senyum sinis. "Sudah Mama bilang, Rendra. Dia tidak pernah bersyukur."Desy, yang berdiri di samping Sofia, berpura-pura prihatin meski matanya berkilat senang. "Sabar, Rendra. Mungkin Alia hanya sedang emosional."Ibu Rendra menimpali dengan ketus, "Biarkan saja, Desy. Terlalu banyak bergaul di
Last Updated: 2026-03-13
Chapter: Bab 17 : CeraiBukannya menjauh, Arhan justru mempererat posisinya. Ia sengaja tetap menunduk, tangannya masih berada di tengkuk Alia, seolah-olah sedang membisikkan sesuatu yang sangat intim ke telinga dosennya itu. Ia melirik Rendra dari sudut matanya dengan tatapan yang sangat provokatif—sebuah tantangan terang-terangan yang mengatakan bahwa ia tidak takut pada otoritas Rendra."Lepaskan istriku, bajingan!" Rendra menderu, langkahnya yang besar membuat lantai kayu koridor itu bergetar.Arhan perlahan menegakkan tubuh, namun tangannya tetap bertengger di bahu Alia, menahan wanita itu agar tetap di sisinya. "Kenapa? Anda takut kehilangan sesuatu yang bahkan tidak pernah Anda jaga dengan baik?" sahut Arhan dengan suara rendah yang tajam."Arhan, lepas." Alia berseru panik. Ia mencoba melepaskan diri dari Arhan, sekaligus ingin menjelaskan pada Rendra. "Rendra, ini ngga kayak yang kamu lihat! Rambutku tersangkut dan—""Diam, Alia!" bentak Rendra. Wajahnya memerah padam, urat-urat di pelipisnya menonj
Last Updated: 2026-03-04
Chapter: BAB 234 : Tamat Cahaya matahari menembus tirai kamar dengan lembut, menghangatkan udara pagi yang segar. Burung-burung di luar jendela berkicau riang, dan dari dapur terdengar samar suara panci serta aroma kopi yang baru diseduh. Elena masih terlelap di pelukan Daniel ketika pintu kamar tiba-tiba diketuk keras. “Bangun! Hei, pengantin baru! Sudah jam delapan, kalian mau tidur sampai siang?” suara ceria itu jelas milik Lily, adik Daniel. Daniel bergumam pelan, separuh sadar. “Mmhh… Lily… lima menit lagi…” Pintu terbuka sedikit, dan kepala Lily menyembul masuk. “Lima menit? Lima menitmu bisa jadi satu jam, Kak. Mama nyuruh turun sarapan, semua orang udah nunggu.” Elena langsung membuka mata, panik kecil. Ia menyadari posisi mereka masih berpelukan, rambutnya berantakan dan selimut agak melorot. “Lily! Kau nggak bisa asal masuk begini—” Lily tertawa kecil, menutup pintu lagi tapi masih sempat menyelipkan kalimat, “Kau sekarang bagian dari keluarga, kak Elena. Nggak usah malu-malu!” Pintu te
Last Updated: 2025-10-12
Chapter: BAB 233 : Epilog tanpa Prolog Setahun kemudian Musim semi membawa keharuman manis ke seluruh taman pusaka yang kini dipenuhi bunga liar. Tempat yang dulu hanyalah proyek kini berubah menjadi lokasi paling indah di Maple Hollow — dan di sinilah, di bawah langit biru muda, Elena dan Daniel akhirnya mengucapkan janji suci mereka. Tamu-tamu dari berbagai kalangan berbeda berkumpul: rekan kerja dari Molgrad yang sibuk mengambil foto, keluarga besar Daniel Harper yang duduk di barisan depan bersama ibu dan nenek Rose, hingga keluarga Elena yang datang dari Cakrawana dengan pakaian tradisional lembut berwarna biru dan emas. Suasana terasa hangat, seolah budaya dua tempat itu menyatu dalam satu napas cinta. Daniel berdiri di altar sederhana yang dihiasi daun maple dan kain tenun khas Cakrawana. Ketika Elena berjalan perlahan menghampirinya dengan gaun putih gading dan buket bunga liar di tangan, Daniel sampai kehilangan kata. Ia tersenyum gugup tapi matanya tak lepas dari Elena. “Kalau aku pingsan, tolong tangk
Last Updated: 2025-10-12
Chapter: BAB 232 : Usai Tiga Bulan Tiga bulan berlalu sejak Daniel mulai mengerjakan proyek besarnya. Kini, rancangan itu akhirnya rampung sepenuhnya. Hanya tinggal menunggu tahap pembangunan fisik selama dua bulan ke depan. Saat Daniel menatap hasil desain yang terbentang di layar komputernya, ia tak bisa menahan senyum kecil — rasa puas sekaligus lega bercampur jadi satu. Proyek ini bukan sembarang taman. Ia dan Elena menamainya “Taman Lintas Budaya”, sebuah ruang hijau yang memadukan keindahan khas Cakrawana — tempat asal Elena — dengan nuansa hangat dan arsitektur khas Molgrad. Setiap detailnya seolah bercerita tentang perjalanan mereka; tentang dua dunia yang berbeda namun akhirnya berpadu menjadi satu kesatuan yang harmonis. Sejak Daniel menyatakan perasaannya tiga bulan lalu, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang nyata. Tidak lagi sekadar rekan kerja atau pasangan pura-pura demi visa. Kini mereka benar-benar hidup bersama, berbagi ruang, waktu, bahkan rutinitas kecil sehari-hari yang dulu terasa sepel
Last Updated: 2025-10-12
Chapter: BAB 231 : Momen Terindah Sore itu, langit Molgrad mulai berwarna jingga saat para karyawan beranjak pulang dari kantor. Elena sempat menoleh ke arah meja Daniel yang kosong.“Kamu nggak pulang bareng?” tanyanya sebelum berpisah. Daniel tersenyum tipis, menatap layar laptopnya. "Aku ada urusan sedikit, kamu duluan aja. Jangan lupa makan, ya.” Elena mengangguk. “Baiklah. Tapi jangan pulang kelamaan.” “Janji,” jawab Daniel dengan senyum kecil. Namun janji itu ternyata membuat Elena menunggu hingga malam. Waktu terus berjalan. Pukul delapan malam, Daniel belum juga pulang. Telepon yang Elena lakukan hanya berakhir di nada sambung tanpa jawaban. Hatinya mulai tak tenang.“Dia jarang begini…” gumamnya cemas sambil menatap layar ponsel. Pukul sepuluh lewat, baru sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal."Halo?” Suara di seberang terdengar tergesa, distorsi samar di antara deru angin. “Anda Elena, istri Daniel Harper?” “Iya, benar. Ada apa ini?” “Mohon maaf, kami butuh Anda segera datang ke a
Last Updated: 2025-10-11
Chapter: BAB 230 : Menuju Kebahagiaan Keesokan paginya, udara Molgrad terasa sejuk dengan langit yang cerah. Elena dan Daniel berjalan berdampingan di trotoar bandara sambil membawa koper besar milik ayah Daniel. Lelaki paruh baya itu tampak santai, tapi senyumnya menyimpan sedikit berat hati. “Kalian nggak usah repot-repot nganter, Ayah bisa naik taksi sendiri,” katanya sambil tertawa kecil. “Nggak bisa begitu, Yah,” sahut Daniel cepat. “Nanti Nenek kirim surat marah kalau tahu kita nggak nganterin Ayah.” “Benar, Yah,” tambah Elena tersenyum. “Nanti beliau pikir kita anak durhaka.” Mereka bertiga tertawa bersama. Begitu sampai di area keberangkatan, suasananya mulai terasa sendu. Suara pengumuman penerbangan bergema dari pengeras suara, dan aroma kopi dari kafe bandara mengiringi keheningan kecil di antara mereka. Ayah Daniel menatap keduanya dengan lembut.“Daniel, jaga dirimu baik-baik, Nak. Ayah tahu kamu keras kepala… tapi kali ini keras kepalamu mengarah ke hal yang benar.” Daniel menunduk sedikit, tersen
Last Updated: 2025-10-11
Chapter: BAB 229 : Akhir yang BagusDaniel menatap ayahnya cukup lama, mencoba mencerna kabar itu. Pindah ke Maple Hollow? Kota tempat semuanya dimulai — dan juga tempat semua kenangan masa lalu tertinggal. Elena menunduk, memikirkan banyak hal yang akan berubah jika mereka benar-benar menerima tawaran itu. Namun, sebelum suasana menjadi terlalu berat, Daniel akhirnya tersenyum kecil. "Yah… kalau itu memang yang terbaik untuk pengembangan taman kota dan proyek baru, aku akan pikirkan,” katanya tenang. “Tapi kali ini aku nggak mau meninggalkan Molgrad sepenuhnya. Aku masih punya mimpi yang belum selesai di sini.” Ayahnya menatap anaknya dengan tatapan bangga."Ayah sudah tebaik kamu akan jawab apa"Elena menoleh ke Daniel, "Kamu beneran mau milih tinggal di Molgrad?" “Iya. Aku bisa mengelola usaha pembibitan keluarga dari jarak jauh. Lagipula, sekarang semua bisa dilakukan online. Ada manajer di sana, aku bisa kontrol dari sini,” jelas Daniel dengan mantap. Elena menatapnya, tersenyum lebar.“Itu artinya kamu bi
Last Updated: 2025-10-10