LOGINKhaisar menyandarkan punggung, memasang wajah sedingin es. "What is it about, Pa?"Pak Hangga berdeham pelan, menatap putranya dengan sorot mata penuh ketegasan. "Ini tentang kelanjutan perjodohanmu dengan Amara. Papa tidak mau kamu terus-terusan mengulur waktu. Lebih baik disegerakan saja.""Betul, Khai," sela Bu Juliana cepat. Menyunggingkan senyum manis yang kini justru terlihat begitu culas di mata Khaisar. "Amara itu gadis yang sangat baik, cantik, dan terpelajar. Latar belakang keluarganya setara dengan kita. Jika kalian bersatu, kalian bisa jadi partner yang sangat solid untuk membesarkan perusahaan."Khaisar tersenyum sinis sambil menyilangkan kakinya. "Kami tidak saling mencintai. Bagaimana mungkin aku menikahi wanita yang sama sekali tidak ada di dalam hatiku?"Bu Juliana tersenyum. "Cinta itu akan datang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu, Khai. Yang paling utama sekarang adalah stabilitas. Kita butuh aliansi strategi yang kuat untuk tetap mempertahankan dan mema
Jika saja tidak terhalang oleh aturan masa iddah, ingin rasanya detik ini juga ia merengkuh Nindiya, membawanya ke dokter spesialis terbaik di negeri ini untuk mengembalikan seluruh ingatannya. Ia ingin Nindiya ingat betapa indahnya ikatan cinta yang pernah mereka rajut bersama. Kemudian mereka bisa kembali melanjutkan hubungan yang pernah hancur.Andai ia tahu alasan yang membuat Nindiya pergi, tentu dia tak akan membiarkan Nindiya meninggalkannya waktu itu. "Kenapa saat itu Nin tidak mau jujur saja setelah diancam mama," gumam Khaisar penuh penyesalan.Erni tersenyum getir. "Nindiya mana mungkin berani, Mas. Dia takut Mas Khai musuhan dengan orang tua. Nindiya takut Mas Khai bakalan mengamuk dan menentang orang tua. Nindiya juga memikirkan kesehatan ayahnya saat itu."Napas Khaisar terdengar begitu berat. Matanya memerah menahan sakit dan murka. Sekalipun sudah tahu hal yang sebenarnya, Khaisar tidak mungkin konfrontasi dengan sang mama. Ini akan membahayakan Nindiya. Mungkin saja
AKAN KUTUNGGU - 33 NinTubuh Khaisar seketika menegang saat mendengar nama mamanya disebut. Tatapannya tajam yang dipenuhi ketidakpercayaan. Selama ini sang Mama sosok yang begitu lembut, hangat, dan tak pernah sekali pun menunjukkan tanda-tanda menentang hubungannya dengan Nindiya."Ini serius, Er?" tanya Khaisar dengan suara bergetar.Erni mengangguk mantap. "Nindiya nggak mungkin bohong tentang hal ini, Mas. Waktu itu dia diajak ketemuan di sebuah kafe oleh Bu Juliana. Di sana dia diperingatkan secara tegas untuk menjauhi kamu. Bu Juliana jujur kalau selama ini beliau sebenarnya nggak suka sama Nindiya dan nggak pernah merestui hubungan kalian. Bagi beliau, Nindiya sama sekali nggak sepadan untuk bersanding denganmu, dan kamu berhak mendapatkan gadis dari kelas sosial yang setara."Tangan Khaisar yang berada di atas meja mulai gemetar hebat. Ia mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Menahan gejolak amarah yang memuncak. Antara percaya dan tidak, memori tentang sikap sang Mama berputar l
Nindiya duduk. Kemudian memandang Indra. "Aku sudah menerima akta cerai kita. Mas, juga kan?"Mendengar itu Indra terkejut. Dadanya berdebar. Apa Nindiya sudah ingat semuanya? Tadi ia memang belum sempat ngobrol lama dengan Bu Mira. Baru datang, dipersilahkan duduk, kemudian wanita itu masuk untuk menemani Pak Tirto wudhu dan salat. "Kamu sudah bisa mengingat lagi? "Belum. Tapi aku sudah diberitahu kalau Mas Indra mantan suamiku.""Ya." Indra mengangguk lemah."Aku memang penasaran, siapa pria yang menikahiku. Yang nggak datang saat aku dirawat. Padahal aku juga keguguran. Tapi ternyata Mas-lah mantan suamiku. Dan Mas datang membesuk saat aku sakit."Deg. Dada Indra kembali terasa perih yang teramat sangat. Rasa kehilangannya benar-benar double kill baginya. Bercerai dari Nindiya dan kehilangan janin mereka.Sejenak keheningan menjadi jeda. Indra harus menjelaskan apa? Tidak mungkin membeberkan segala permasalahan mereka yang sangat menyakitkan bagi Nindiya. Sedangkan Nindiya sendiri
Pria itu membuka pintu mobil dan turun. "Mas, nggak ada masalah, kan?" Amara menghampiri dan bertanya. Ia khawatir kalau ada kendala dalam pengerjaan proyek ini. Sebab ia melihat wajah Khaisar begitu tegang. Maklum karena dia baru pertama kali benar-benar dipercaya oleh papanya untuk pegang projek besar, makanya khawatir."Tidak ada," jawab Khaisar singkat.🖤LS🖤Nindiya sudah mendapatkan baju yang ingin dibelinya. Kemudian ia menyusuri trotoar di sepanjang deretan pertokoan kota yang ramai. Di antara bising kendaraan, ia berusaha keras menggali kembali potongan ingatannya. Amnesia ini membuatnya merasa seperti orang asing yang tersesat di dalam kehidupannya sendiri.Langkahnya mendadak terhenti di depan sebuah bangunan megah. Matanya terpaku pada papan nama berbahan akrilik emas yang berkilau di bawah sengatan matahari. IVANA BOUTIQUE.Dadanya berdebar. Tempat itu terasa amat familier. "Bukankah ini toko milik Ibu?" batin Nindiya ragu. Namun bangunan di hadapannya terlalu eksklusif
AKAN KUTUNGGU- 32 Rahasia Pada saat yang bersamaan Khaisar menoleh ke samping kanan. Detik itu juga ia terkejut. Dari kaca taksi yang bening, ia bersipandang dengan Nindiya yang duduk di kursi penumpang bagian belakang. Wanita itu yang selalu berhasil mengacak-acak tatanan hatinya.Begitu matanya bertaut dengan netra Khaisar, dada Nindiya bergemuruh hebat. Rasa sesak yang membakar mendadak menyeruak sewaktu ia melihat sosok wanita cantik nan modis duduk anggun di samping Khaisar.Dengan gestur santun, Nindiya mengulas senyum formal, lalu menganggukkan kepala memberi hormat. Dirinya sadar bukan siapa-siapa bagi mantan atasan tempatnya magang dulu. Ingatannya tentang jatuh cinta itu mungkin salah. Mereka tak mungkin ada hubungan istimewa. Itu hanya perasaan Nindiya saja.Saat lampu hijau menyala. Taksi yang ditumpangi Nindiya melaju lebih dulu, membelah keramaian dan menyisakan Khaisar yang terpaku. Pria itu buru-buru menancap gas, berusaha mengejar, tapi deretan mobil di depannya de







