LOGINNamanya Nindiya. Mantan kekasih yang masih dicintai Khaisar. Meskipun dia sudah menjadi istri pria lain. Indra. Lelaki playboy yang diam-diam ada hubungan spesial dengan seseorang. Melihat wanita yang dicintainya dikhianati, jiwa Khaisar berontak. Ia tidak terima. Ia menyesalkan kenapa Nindiya dulu meninggalkannya dan lebih memilih pria itu. Harusnya Khaisar membenci karena sudah ditinggalkan. Tapi nyatanya tidak bisa. Cintanya pada Nindiya tak goyah. Padahal dia pria keturunan bangsawan, dari keluarga kaya raya, dan terhormat. Nama itu bukan sekadar nama biasa di kalangan jetset ibu kota. Sosoknya adalah perpaduan sempurna yang seolah dipahat begitu indah. Berdiri setinggi 190cm, tubuhnya tegap atletis dengan bahu lebar yang gagah. Khai mewarisi darah bangsawan Jawa yang kental dari sang ayah, berpadu dengan garis wajah Italia yang tegas dari kakek pihak ibunya. Wajah blasterannya memikat. Mata elangnya yang tajam berwarna cokelat gelap, hidungnya mancung tinggi khas Mediterania, dan kulitnya sawo matang bersih. Khaisar bisa mencari wanita yang model apapun. Bahkan pihak keluarga beberapa kali hendak menjodohkannya dengan anak relasi bisnis yang jelas setara dengan kedudukan mereka. Bukan seperti Nindiya yang berasal dari kalangan biasa. Namun perjodohan itu selalu ditolak. Jika sahabatnya bertanya, kenapa Khaisar tak segera menikah. Jawabannya singkat. "Karena wanita yang kucintai sudah menikah." Khaisar yakin, ada alasan besar kenapa Nindiya meninggalkannya. Bukan seperti pengakuan wanita itu yang mengatakan lebih mencintai Indra. Yang bilang karena sudah tidak cinta lagi padanya. Bagi Khaisar itu omong kosong. Khaisar merasakan ada alasan lain yang dirahasiakan Nindiya. Ia harus tahu itu. "Kenapa kamu masih bertahan dengannya? Lelaki yang hanya menjadikanmu boneka hidup. Pergilah Nin, akan kutunjukkan padamu sebuah rumah yang sesungguhnya. Bukan istana yang tak ubahnya seperti penjara." _KHAISAR_ "Pergilah, Mas. Aku bukan Nindiya yang kamu kenal dulu." _NINDIYA_ "Jangan harap aku akan melepaskannya. Nindiya milikku." _INDRA_ "Dia sudah nggak mencintaimu, lupakan dia. Aku yang mencintaimu sekarang ini, Khai." _AMARA_
View MoreAKAN KUTUNGGU
- 1 Patah Hati "Kenapa kamu bilang nggak ada pikiran untuk menikah? Rugi Bro, ketampanan dan kegagahanmu nggak berfungsi, sia-sia. Kekayaanmu juga untuk siapa. Ayolah, banyak yang mengantri untukmu," ujar Edi pada sahabat baik yang duduk merokok di depannya. Mereka baru saja membahas tentang sahabat mereka yang baru menikah hari ini. Dan mereka baru pulang dari menghadiri resepsinya. Di antara lingkaran pertemanan mereka, hanya Khai yang masih betah sendirian. Teman-teman se-geng mereka sudah menikah semua. "Wanita yang kucintai sudah menikah," jawab Khai datar dengan tatapan dingin sambil mengembuskan asap rokok ke udara. Pria berahang tegas yang ditumbuhi cambang tipis itu menatap langit malam yang kelam. Sekelam sorot matanya. Edi menghela napas panjang, bersandar pada kursi kayu kafe outdoor yang cukup ramai malam itu. "Perempuan di dunia ini bukan cuma dia saja, Khai. Bumi nggak selebar daun kelor. Kenapa kamu nggak sedikit saja mempertimbangkan gadis yang hendak dijodohkan denganmu oleh orang tuamu. Kudengar dia anak rekan bisnis papamu, lulusan luar negeri, cantik, dan jelas bibit, bebet, bobotnya setara dengan keluargamu." Khai menyeringai tipis. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis yang penuh misteri. Ia menarik napas dalam-dalam dari rokok di sela jarinya. Membiarkan nikotin membakar dadanya sejenak sebelum kembali mengembuskannya. Khaisar Luca Nathalaga. Nama itu bukan sekadar nama biasa di kalangan jetset ibu kota. Sosoknya adalah perpaduan sempurna yang seolah dipahat begitu indah. Berdiri setinggi 190cm, tubuhnya tegap atletis dengan bahu lebar yang kokoh. Khai mewarisi darah bangsawan Jawa yang kental dari sang ayah, berpadu dengan garis wajah Italia yang tegas dari kakek pihak ibunya. Garis rahangnya persegi dan kokoh, dihiasi cambang, membingkai wajah blasteran yang memikat. Mata elangnya yang tajam berwarna cokelat gelap, hidungnya mancung tinggi khas Mediterania, dan kulitnya sawo matang bersih. Kehadirannya selalu mendominasi ruangan, memancarkan aura maskulin yang dingin, berwibawa, sekaligus tak tersentuh. Khas wajah-wajah mafia yang kejam tak terbantahkan. "Lupakan Nindiya, Khai," ucap Edi lagi, nadanya berubah lebih serius dan pelan. "Jelas-jelas dia yang meninggalkanmu dan memilih menikah dengan pria lain. Kenapa kamu masih sebodoh ini? Menunggu dan mencintai wanita yang bahkan mungkin nggak memikirkanmu lagi saat ini?" Mendengar hal itu, Khai tidak menjawabnya sama sekali. Ia tetap bungkam, seolah kata-kata Edi hanya angin lalu. Mata elangnya menatap tajam ke angkasa malam yang pekat tanpa bintang. Namun di balik tatapan yang biasanya sanggup mengintimidasi siapa saja itu, ada kilatan luka yang amat dalam dan kerinduan yang tak berkesudahan. Sunyi yang diciptakannya terasa begitu menyiksa. Edi menggelengkan kepala karena heran. "Aku benar-benar nggak habis pikir. Apa sih yang kurang dari seorang Khaisar Luca Nathalaga? Kamu kaya raya, lahir di keluarga terpandang, keturunan darah biru. Kamu punya segalanya untuk mendapatkan wanita mana pun di dunia ini. Mau model kelas atas, artis, sampai putri pengusaha sukses, semuanya mengantri, Khai. Mereka bakal sukarela menyerahkan diri untuk bersanding denganmu. Sudah hampir dua tahun, dia meninggalkanmu." Hening. Edi menghela napas panjang. Ia sebenarnya sudah lelah ikut campur urusan pribadi sahabatnya, tapi entahlah. Mungkin karena ia memang peduli pada Khaisar karena mereka sudah bersahabat sejak masih kecil. Ayahnya Edi, orang kepercayaan Pak Hangga. Papanya Khai. Edi heran, secinta itu Khai pada perempuan itu. Nindiya Adhiswari. Dia cuma wanita biasa, anak pegawai rendahan, yang tega meninggalkan Khai demi pria lain. Tak ada masalah apapun, tiba-tiba memutuskan hubungan lalu pergi. Sebulan kemudian tunangan dan langsung menikah. Udara malam yang dingin terasa kian membeku. Khai masih saja bungkam, tak berniat menanggapi ucapan sahabatnya. Dan begitulah sosok Khai yang dikenal dunia luar. Dingin, misterius, dan tak tersentuh. Ia bagaikan batu es yang kokoh. "Kemarin aku sempat ngobrol sama mamamu. Pas aku ke rumahmu. Tante Juliana nanya apa kamu punya gebetan baru. Makanya nggak respon soal perjodohan. Kujawab nggak ada. Mamamu resah, Khai." Kali ini Khai menoleh pada sang sahabat. Tatapannya tajam. "Kalau mamaku tanya tentangku, jangan cerita apapun. Bilang saja kamu tidak tahu. Jangan ceritakan kalau aku masih sering membahas tentang Nindiya." Edi menatap teman sekaligus bosnya itu. Sebab dia asisten pribadi Khai. "Oke." "Ingat. Apapun yang kamu tahu tentang Nindi, jangan ceritakan pada mamaku atau pun papa." "Ya." Edi mengangguk. Jika Khai sudah memberikan larangan, pasti ada alasannya. Edi tahu kalau Pak Hangga dan Bu Juliana sangat marah karena Nindiya meninggalkan putranya. Khai seperti orang gila diputuskan begitu saja. Dia masih berusaha mempertahankan dengan menemui Nindiya. Namun perempuan itu tak pernah mau menemuinya lagi. Putusnya hubungan mereka membuat heboh kantor. Sebab Nindiya juga bekerja di perusahaan milik keluarga Khai. Saat memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Khai, Nindiya juga resign dari pekerjaannya. Suasana di antara mereka kembali hening. Hanya terdengar suara gesekan dedaunan yang ditiup angin malam dan sayup-sayup musik jaz instrumental yang diputar dari pengeras suara kafe. "Di usiaku yang sekarang, aku sudah melihat bagaimana teman-teman seusiaku atau seusia di bawahku pada menikah, punya anak, dan bercerai," kata Khai. "Nggak semua hubungan pernikahan berakhir tragis." "Aku tahu. Tapi sudah kubilang tadi, wanita yang kucintai sudah menikah." "Masih ada gadis lain." Khai tersenyum sinis sambil mengisap rokoknya kembali. Dan suasana kembali diam di antara mereka. Hingga tiba-tiba, pria yang membeku itu menegakkan duduknya. Kaki kanannya yang semula menumpang pada kaki kiri langsung diturunkan ke lantai. Matanya yang tajam terpaku pada pintu masuk kafe. Edi mengernyitkan dahi melihat perubahan sikap Khai yang begitu drastis. Ia menoleh, mengikuti arah pandang sahabatnya. Di sana seorang laki-laki tampan bertubuh jangkung sedang melangkah masuk dengan santai, bersama seorang wanita yang mengenakan terusan berwarna pastel. Rahang Khaisar mengeras seketika melihat mereka. Edi pun memandang dua orang yang baru masuk ke kafe dan ikut terkejut. Next ....AKAN KUTUNGGU- 5 Demi Perempuan Itu "Nin, aku pergi dulu." Indra berhenti di pintu dan menoleh karena sang istri belum menjawab ucapannya. "Terserah kamu, Mas," jawab Nindiya sambil memejam. Ia enggan sekadar mengalihkan pandangan untuk menatap punggung pria itu meski hanya sejenak.Indra menutup pintu lantas melangkah cepat menuruni tangga. Bersamaan dengan itu air mata Nindiya luruh tak terbendung. Rasa sakit kembali menghujam dadanya begitu dalam. Suaminya lupa menanyakan keadaannya paska terjadi srempetan tadi pagi, tapi dia begitu tergesa saat mendengar Cinda dalam masalah. Begitu ya? Nindiya menarik napas dalam-dalam sambil mengubah posisi. Memandang langit-langit kamar yang temaram."Mereka nggak ada hubungan apa-apa, Nin. Percaya sama Mama. Indra hanya kasihan pada Cinda saja," begitulah mama mertuanya selalu menenangkannya tiap kali ia mempertanyakan kedekatan sang suami dengan sepupunya itu. Wanita paruh baya itu selalu meyakinkan bahwa ikatan di antara Indra dan Cind
AKAN KUTUNGGU - 4 Kembali Terluka"Mama begitu akrabnya dengan Lara," seloroh Khai saat sang mama melangkah mendekatinya di lobi kantor. Pria itu baru saja mengamati dari kejauhan bagaimana Bu Juliana tertawa hangat bersama Lara, istri dari sepupunya Khai.Bu Juliana menghentikan langkah, menatap putranya yang berdiri tegap dalam balutan setelan kemeja hitam. Kedua tangan Khai terbenam di saku celananya, menonjolkan posturnya yang menjulang berwibawa."Mama mau akrab dengan mantu perempuan juga belum punya. Sebab anakku yang paling gagah dan tampan ini masih sibuk dengan dunianya sendiri," sungut sang mama mendengkus halus, lalu melangkah pergi meninggalkan aroma parfum bunganya yang lembut. Wanita itu berbelok menuju lift VIP untuk menemui suaminya di lantai atas.Khai mematung. Kata-kata sang mama menggema di kepalanya. Di balik meja resepsionis, dua staf wanita mendadak kaku dan pura-pura sibuk menatap layar monitor. Telinga mereka mendengar dan saling melempar lirikan sarat arti.
AKAN KUTUNGGU - 3 Kecewa "Berapa harus kubayar? Aku nggak ingin berhutang sama kamu." Nindiya menghampiri Khaisar yang menyusulnya ke kantor polisi.Mendengar ucapan itu, Khai tersenyum samar dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Ia berdiri tegak di depan Nindiya. "Bagaimana urusan kantor polisi?""Akan kuselesaikan sendiri. Bagaimana keadaan Bapak tadi?" tanya Nindiya dengan sikap angkuh. Meski dari lubuk hati terdalam, jiwanya berontak. Sedih. Kenapa Khai tetap bersikap baik padanya. Kenapa tiap ada kesulitan, pria itu yang membantunya. Bukan Indra. Kenapa Khai tak menjauh saja dan membencinya. Bukankah dirinya sudah dicap sebagai perempuan pengkhianat?"Bapak itu sudah pulang dijemput keluarganya. Beliau tidak mengalami cedera yang serius kata dokter. Aku sudah memberinya uang, termasuk untuk memperbaiki motornya. Bapak itu bilang kalau memang dirinya yang salah.""Akan kuganti semuanya. Berapa?" Nindiya gugup sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Ia membuk
AKAN KUTUNGGU- 2 Bau Busuk"Siapa perempuan yang bersamanya itu?" tanya Edi."Sepupunya," jawab Khai pendek. Rahang tegasnya masih mengeras dengan tatapan tajam seakan menembus kaca hingga ke dalam sana. "Sepupu? Kenapa sikap mereka keliatan beda gitu." Insting Edi bekerja dan cukup peka.Khai tersenyum sinis.Di balik jendela besar kafe, tampak Indra suami Nindiya sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita. Mereka ngobrol begitu akrab dan tak seperti sepupu yang sewajarnya."Apa mereka selingkuh?" Edi memastikan, tatapannya masih ke dalam.Khai mengisap kembali rokoknya. Sorot mata tajamnya berkilat sangat berbahaya karena amarah. "Menurutmu bagaimana?" tanya Khai balik."Terasa ganjil kalau akrabnya beda gitu. Apa kira-kira Nindi tahu hal itu?" tanya Edi lagi."Aku tak tahu." Ia memang tidak tahu apakah Nindiya sudah mengendus kebusukan suaminya atau belum. Namun tangan besarnya di atas meja kini mengepal kuat. Amarah yang bergemuruh di dadanya terasa begitu panas. Pria yang di












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore