Mag-log in"Bisa kita duduk sebentar di sana?" Khaisar menunjuk ke arah tempat duduk di bawah payung outdoor minimarket.Erni sempat ragu sejenak, tapi akhirnya ia mengangguk dan melangkah mengikuti Khaisar. Mereka mengambil tempat duduk berseberangan dengan meja bundar kecil yang menjadi pembatas di antara mereka."Benarkah Nindiya bercerai?" tanya Khaisar tanpa basa-basi sedikit pun. Matanya menatap serius pada Erni.Membuat Erni menarik napas panjang. Ia sudah menduga kalau Khaisar akan menanyakan hal itu. Lalu ia mengangguk. Tidak ada gunanya menutupi karena yakin saja, pasti Khaisar pun sudah tahu kabar itu dari berita online. "Iya, Mas. Itu benar.""Sudah selesai prosesnya?" desak Khaisar dengan gestur lebih serius lagi."Sudah diputus pengadilan tiga hari lalu. Sekarang tinggal menunggu proses administrasi dan masa sanggah selesai sampai Akta Cerai terbit," jelas Erni jujur. "Mas Khaisar tahu kabar perceraian ini dari mana?""Dari media online," jawab Khaisar singkat. Tatapannya kian inte
"Terima kasih banyak, Pak Billy. Anda langsung sudi datang ke sini setelah saya kabari," ucap Erni tulus seraya menangkupkan tangan.Mereka diam sejenak, kemudian Billy kembali bicara. "Mbak Erni yang menjaga Mbak Nindi sendirian?""Iya. Saya nunggu ibunya Nindiya datang, Pak. Baru saya pulang. Nanti malam saya jaga lagi ditemani suami saya. Mungkin lusa kakaknya yang dari Bangka baru bisa pulang.""Bagaimana kondisi bapaknya Mbak Nindi?""Beliau shock saat dikasih tahu Nindiya kecelakaan, Pak. Cuman untuk perceraiannya sampai sekarang belum tahu."Billy manggut-manggut. "Kalau ada apa-apa di luar kasus yang saya tangani ini, kabari saya, Mbak. Saya akan membantu. Bahkan untuk masalah pengobatannya.""Terima kasih banyak, Pak Billy.""Kalau begitu saya pamit kembali ke kantor dulu. Assalamu'alaikum.""Wa'alaikumsalam."Erni memandangi langkah tegap sang pengacara yang perlahan menghilang di ujung lorong rumah sakit. Dengan perasaan yang jauh lebih tenang, ia berbalik dan kembali melan
AKAN KUTUNGGU- 28 Perhatian Seorang pria bertubuh tegap yang mengenakan kemeja biru dengan rapi melangkah masuk. Tangannya menjinjing sebuah parsel buah berukuran sedang yang dikemas cantik dengan hiasan pita satin merah."Silakan duduk, Pak Billy," Erni mempersilakan pengacara itu seraya menggeser sebuah kursi di dekat meja."Terima kasih, Mbak," jawab Billy sambil meletakan parcel buah di atas meja.Nindiya yang berbaring di atas ranjang hanya memandang pria itu dengan tatapan polos penuh tanda tanya. Billy tersenyum tulus dan prihatin melihat kondisi kliennya. Ada rasa yang tak sekedar rasa iba."Siapa pria ini? Apa dia suamiku?" batin Nindiya menerka-nerka dalam hati. Namun melihat gerak-gerik pria yang sangat menjaga jarak itu, sisi hatinya yang lain menolak. Sikapnya begitu sopan dan formal. Pria itu tidak menunjukkan tanda-tanda hendak mendekat, menggenggam tangannya, apalagi memeluknya seperti sepasang suami istri pada umumnya. Berarti bukan dia. Lalu siapa lagi dia ini? Pr
Setelah duduk di mobil, Indra masih diam. Dia ingin sekali Nindiya hamil anaknya. Namun saat harapan itu terkabul, yang terjadi sangat menyakitkan. Kali ini ia merasakan sakitnya kehilangan janin yang gugur itu. Sudah dua bulan usianya. Sama seperti kehamilan Nindiya yang pertama.Indra menekan kedua matanya yang memanas. Tubuhnya terguncang karena tangis. "Kenapa kamu tidak mau memberitahuku kalau kamu hamil, Nin," sesal pria itu.🖤LS🖤"Beneran bukan kalian yang ngejar Nindiya dan membuatnya kecelakaan!" bentak Indra dengan suara kasar menembus speaker ponselnya."Sumpah, Pak. Bukan kami pelakunya," jawab anak buahnya di seberang sana dengan nada panik. "Kami bahkan kaget waktu mendapatkan kabar itu tadi malam."Indra langsung mematikan sambungan telepon, lalu melempar gawainya ke atas meja kerja hingga menimbulkan bunyi benturan. Pria itu sungguh frustrasi. Pikirannya luar biasa kalut. Sejak semalam melangkah keluar dari rumah sakit, ia tidak bisa tidur.Bayangan Nindiya yang mena
AKAN KUTUNGGU- 27 Kehilangan KeduaHati Indra terasa remuk, hancur lebur tak berbentuk. Rasa terpukul yang menghantamnya berlipat ganda. Nindiya bukan hanya tidak mengingat sosoknya sama sekali, tetapi wanita itu juga baru saja mengalami keguguran. Untuk kedua kalinya, mereka kehilangan calon buah hati."Kenapa Nindiya tidak pernah memberitahunya kalau sedang hamil?" jerit Indra dalam hati. Tidak mungkin Nindiya tidak menyadarinya selama proses persidangan perceraian mereka berjalan. Betapa rapinya wanita itu menyembunyikan kenyataan pahit ini sendirian. Indra duduk tersungkur di kursi koridor, menunduk dalam-dalam. Semua orang di depan ruang IGD membisu, tenggelam dalam nestapa masing-masing. Bu Mira duduk bersandar dengan tatapan kosong yang menyayat hati. Badai menghantam keluarganya tanpa ampun. Suaminya sedang terbaring sakit, dan kini Nindiya mengalami musibah.Dengan tubuh gemetar, Indra bergeser mendekat ke arah ibu mertuanya. Ia berlutut di lantai, menatap wajah wanita yang
Wanita itu mengembalikan cincin pernikahannya pada Indra. Ia mendoakan agar Indra bisa bersama dengan wanita yang sudah menunggunya."Hanya kamu yang kutunggu untuk kembali, Nin," suara Indra parau.Nindiya tersenyum getir lalu melangkah pergi bersama Billy.🖤LS🖤Tiga hari setelah putusan pengadilan mengetuk palu perceraian mereka, Indra memacu mobilnya membelah kelam malam kota Surabaya. Dadanya bergemuruh hebat, cengkeramannya pada kemudi begitu erat."Nindiya!" teriaknya histeris di dalam mobilnya. Tak sanggup menampung gelombang penyesalan yang membakar jiwanya.Pria itu baru saja dikabari oleh orang kepercayaannya bahwa kemarin pagi taksi yang ditumpangi Nindiya mengalami kecelakaan hebat. Indra sempat mengamuk karena baru diberi tahu hari ini, meski anak buahnya berdalih informasi tersebut baru saja mereka dapatkan.Mobil berhenti asal di area parkir. Indra melompat keluar dan berlari kencang menuju ruang ICU. Namun petugas mengarahkan bahwa Nindiya telah dipindahkan ke ruang







