LOGINDiceraikan dan dibuang saat bayinya baru berusia satu bulan membuat hidup Arunika hancur. Di tengah keputusasaan mencari kerja sambil menggendong anak, sebuah mobil mewah berhenti di hadapannya. Altair, CEO kaya raya yang divonis mandul, datang membawa tawaran rahasia kepada Arunika yakni, Pernikahan siri. Altair berjanji memberi rumah, jaminan hidup, serta memasukkan Bintang ke Kartu Keluarga sebagai pewarisnya. Demi masa depan sang buah hati, Arunika menerima tawaran pria asing itu. Mampukah pernikahan kesepakatan tanpa cinta ini bertahan di tengah rahasia besar dan ancaman masa lalu?
View MoreDada Arunika berombak hebat saat melangkah setengah berlari menelusuri lorong rumah sakit yang dingin. Deretan lampu neon membias kaku di lantai keramik, memantulkan bayangan tubuhnya yang gemetar. Air mata tak berhenti menetes membasahi pipinya yang pucat.
Di dalam pelukannya, Bintang.... bayinya yang baru berusia satu bulan menangis melengking dengan napas yang megap-megap. Tubuh kecil itu terasa begitu panas membakar, kejang tipis berkali-kali melanda jemari mungilnya. "Sabar ya, Nak... Sedikit lagi kita sampai," bisik Arunika dengan suara bergetar serak. Pikirannya kalut luar biasa. Semua ini terjadi karena kelalaian Bu Suminar, ibu mertuanya. Hanya karena Bintang terus menangis saat ditinggal bekerja sebentar, wanita itu dengan gampangnya menyuapi sang bayi dengan susu formula kental dan sedikit pisang lumat, padahal pencernaan bayi satu bulan belum siap sama sekali. Bintang mendadak demam tinggi hingga melilit parah. Jemari Arunika yang bebas merogoh saku celana, mencoba menghubungi nomor Gantara untuk yang kesepuluh kalinya. Sambungan akhirnya terhubung di dering ketiga. "Mas! Mas Gantara di mana?!" jerit Arunika histeris, tak sanggup lagi menahan tangisnya di depan unit gawat darurat. "Bintang kejang, Mas! Demamnya tinggi banget gara-gara dikasih makan sembarangan sama Mama! Tolong pulang, Mas... Aku di rumah sakit sendirian!" Namun, bukannya rasa khawatir yang terdengar, di ujung telepon justru helaan napas malas yang menyambutnya. "Aduh, Nika! Kamu tuh lebay banget sih!" bentak Gantara dari seberang telepon. Suara musik dan hiruk-pikuk samar terdengar di latar belakangnya. "Anak kecil demam itu biasa! Paling cuma masuk angin, enggak usah bikin drama sampai ke rumah sakit segala! Aku lagi sibuk, banyak urusan pekerjaan penting. Jangan ganggu!" "Tapi Mas, ini Bintang kejang! Dokter harus segera....." Tut... tut... tut... Sambungan diputus sepihak. Arunika membeku. Rasa tidak percaya dan hancur menghantam dadanya begitu keras. Suaminya lebih memilih urusannya ketimbang nyawa anak kandungnya sendiri yang sedang kritis. Pandangan Arunika kabur oleh genangan air mata. Seluruh kekuatannya seolah hilang merembes ke tanah. Dalam kondisi panik, terluka, dan terus menangis sesenggukan seraya menatap layar ponselnya yang gelap, Arunika berbalik arah dengan terburu-buru hendak mencari ruang pendaftaran. BRUK! Arunika tersentak kaget saat tubuhnya tidak sengaja menabrak dada bidang seorang pria berjas gelap yang baru saja keluar dari area lift VIP. Pelukan Arunika pada Bintang makin diperketat refleks, sementara tubuhnya sendiri hampir limbung ke belakang karena hilang keseimbangan. "Astaga... Maaf!" pekik Arunika lirih, suaranya tercekat di tenggorokan. Sebuah tangan kekar dengan cepat tertahan di lengan atas Arunika, menopang tubuh wanita itu agar tidak jatuh ke lantai. Aroma parfum woody yang mahal dan maskulin seketika menyeruak di antara bau karbol rumah sakit. Arunika mendongak pelan dengan mata sembap yang basah. Di hadapannya, berdiri seorang pria bertubuh jangkung dengan wajah tegas, pahatan rahang yang tajam, dan tatapan mata hazel yang begitu dalam namun dingin. Pria itu menatap wajah Arunika yang berantakan dengan guratan sejuta rasa cemas. "Kamu tidak apa-apa?" suara pria itu terdengar berat, tenang, namun menyiratkan wibawa yang sangat kuat. Tatapan mata pria itu sempat bergulir sebentar ke arah bayi di pelukan Arunika yang masih merintih kejang. Ada kilat keprihatinan yang tak biasa terpancar di sana. "Ma--maafkan saya, Pak... Saya tidak fokus," gumam Arunika terbata-bata seraya mengusap air matanya yang menetes ke dagu. "Anak saya... anak saya demam tinggi, saya harus cepat-cepat..." Pria berjas gelap itu, Altair menatap Arunika sejenak tanpa mengedipkan mata. Ada sesuatu dari raut ketulusan dan duka wanita di hadapannya yang mendadak menyentil sudut hatinya yang paling dalam. "Ruang tindakan UGD ada di sebelah kanan koridor ini, bukan di depan," ujar Altair pelan, menunjuk arah dengan gerakan tangannya yang tenang. "Segera bawa anakmu ke sana sebelum kejangnya bertambah parah." "Terima kasih, Pak... Terima kasih banyak!" Arunika mengangguk cepat penuh rasa syukur, lalu segera berlari menelusuri koridor yang ditunjukkan pria tersebut. Altair berdiri diam di tempatnya selama beberapa detik. Pandangannya tidak terlepas dari punggung wanita muda yang berlari ketakutan demi menyelamatkan bayinya itu. "Bos?" suara Arjuna, asisten pribadinya yang baru keluar dari kamar rawat inap memecah lamunan Altair. "Ada masalah?" Altair merapikan lengan jasnya, mengalihkan pandangan kembali dingin seperti biasa. "Tidak ada. Hanya seorang ibu yang sedang berjuang demi anaknya." Dua jam berlalu di ruang tindakan. Setelah melewati masa kritis dan penanganan intensif dari tim dokter, kondisi Bintang akhirnya berhasil distabilkan, meski tubuh kecil itu masih terpasang infus dan harus diobservasi ketat. Arunika duduk bersimpuh di samping brankar, menggenggam jemari kecil bayinya yang tertidur lelap. Rasa lelah luar biasa mendadak menyerangnya, namun hatinya lega sang buah hati selamat dari maut. Brak! Pintu ruang rawat terdorong kasar. Bu Suminar dan Tasya melangkah masuk dengan raut wajah gusar, tanpa ada sedikit pun raut khawatir pada Bintang. "Bagus ya kamu, Nika!" semprot Bu Suminar tanpa basa-basi, menunjuk wajah Arunika dengan telunjuknya. "Gara-gara kamu bawa Bintang ke rumah sakit, Gantara jadi kepikiran dan malah kena masalah di tempat kerjanya!" Arunika bangkit berdiri, menatap ibu mertuanya dengan pandangan tak percaya. "Ma, Bintang itu tadi kejang! Nyawanya hampir melayang karena dikasih makanan padat!" "Halah! Alasan kamu aja!" sahut Tasya sinis. "Mas Gantara tadi telepon Mama, katanya dia malas pulang ke rumah kalau kamu cuma bisa bikin drama. Dan ingat ya, biaya rumah sakit ini kamu cari sendiri uangnya! Jangan bebanin Mas Gantara!" Arunika mengepalkan tangannya rapat-rapat. Air matanya kembali menetes, namun kali ini bukan karena takut, melainkan amarah yang sudah membakar sampai ke ubun-ubun. "Di mana Mas Gantara sekarang, Ma?" tanya Arunika dengan suara bergetar namun tajam. "Anaknya terbaring di sini, kenapa dia tidak ada?!" Bu Suminar menyunggingkan senyum mengejek, menatap Arunika dari atas ke bawah. "Gantara sedang sibuk menemani bos barunya," ujar Bu Suminar dengan nada bangga yang memuakkan. "Dan kamu bersiap-siap saja, Nika. Malam ini, Gantara akan pulang membawa keputusan besar untuk hidupmu."Langkah kaki Arunika terasa kian berat menyusuri trotoar kota yang mulai berdebu. Bayangan harapan yang pagi tadi membakar dadanya kini telah padam, berganti menjadi keputusasaan yang melumpuhkan.Niatnya untuk kembali bekerja di kantor lamanya berujung pada penolakan mentah-mentah. Alasannya hanya satu karena Arunika membawa Bintang ke tempat kerja. Manajemen kantor tidak mengizinkan karyawan membawa bayi ke area kerja karena dianggap mengganggu konsentrasi dan profesionalisme.Namun, Arunika tidak punya pilihan lain. Trauma akibat kecerobohan mantan ibu mertuanya membuat Arunika berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah menitipkan Bintang kepada siapa pun lagi.Seharian penuh Arunika berjalan dari satu toko, warung, hingga perkantoran kecil di pinggiran kota untuk melamar pekerjaan apa saja. Dari menjadi pencuci piring, kasir, hingga pelayan toko, semuanya memberikan jawaban menolak yang sama. Tidak ada tempat kerja yang mau menerima karyawan yang membawa anak bayi dalam
Pintu mobil sedan mewah itu tertutup dengan bunyi berat yang berwibawa. Altair Dirgantara melangkah keluar, merapikan jas gelap yang melingkupi tubuh tegapnya, lalu berjalan menembus keheningan pilar-pilar tinggi kediamannya. Suasana rumah berarsitektur modern itu nampak tenang seperti biasa, tenang yang selalu terasa terlalu rapi dan tertata. Langkah kaki Altair membawanya naik menuju kamar utama di lantai dua. Begitu ia mendorong pintu kayu mahoni itu perlahan, pemandangan di dalam kamar langsung menyambutnya. Di sana, di tepi ranjang berukuran king size, Alice sudah menunggu. Istrinya itu mengenakan lingerie sutra berwarna marun yang kontras, membuat kulit putih bersihnya nampak begitu menyala di bawah pendar lampu kamar yang hangat. Senyum manis nan lembut mengembang di bibir Alice, menggoda tanpa perlu banyak kata. Altair menelan salivanya perlahan. Bohong besar jika ia bilang tubuhnya tidak bereaksi. Ia pria normal, dan wanita di hadapannya adalah istri sah yang amat ia cint
Suara derit pintu kamar yang tua terdengar samar di tengah keheningan malam yang makin mencekik. Arunika melangkah masuk ke dalam kamar sempitnya, membaringkan Bintang yang tertidur lelap dengan sangat perlahan di tengah tempat tidur. Tubuh kecil itu masih terasa agak hangat, namun napasnya sudah jauh lebih teratur dibanding saat berada di UGD tadi. Arunika menarik napas panjang, mencoba menetralkan gemuruh di dadanya. Setelah kalimat talak yang diucapkan Gantara secara dingin di depan ibu dan adiknya tadi, tak ada lagi alasan bagi Arunika untuk menumpahkan air mata. Duka dan pengkhianatan yang bertubi-tubi dihantamkan padanya telah membekukan rasa sakit itu menjadi tekad yang keras. Dari sudut atas lemari, Arunika menarik sebuah koper kusam berdebu dan tas kain berukuran besar. Ia membukanya lebar-lebar di atas lantai. Jemari Arunika mulai merogoh lemari pakaian. Namun, alih-alih membereskan baju-bajunya sendiri, sembilan puluh persen ruang koper itu justru diisinya dengan perlen
Tanpa mengindahkan pandangan sinis Bu Suminar dan Tasya yang terus mengomel di lorong rumah sakit, Arunika melangkah gontai menuju bagian administrasi. Kedua tangannya gemetar hebat saat merogoh isi tas dan dompetnya.Rasa cemas kembali mencengkeram dadanya. Setelah dihitung berulang kali, sisa uang tabungannya sama sekali tidak cukup untuk melunasi biaya tindakan darurat Bintang.Minta kepada ibu mertuanya? Jelas mustahil, wanita itu hanya akan melontarkan caci maki. Minta kepada Gantara? Untuk diajak bicara saja panggilan teleponnya langsung diputus sepihak.Dengan bibir yang makin pucat, Arunika melepas cincin emas polos seberat dua gram dari jari manisnya. Ia menyodorkannya ke hadapan petugas resepsionis dengan mata berkaca-kaca."Mbak... uang saya tidak cukup," ucap Arunika lirih, menahan rasa malu yang membakar dadanya."Boleh saya jadikan cincin nikah ini sebagai jaminan dulu? Besok pagi setelah saya cari pinjaman, saya janji akan melunasinya..."Petugas resepsionis itu terseny






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.