LOGIN"Khai."Mendengar suara tajam yang memanggil namanya, langkah Khaisar yang semula santai langsung terhenti seketika. Padahal ia sudah berusaha berjalan tanpa menimbulkan suara sedikit pun agar bisa langsung melarikan diri ke kamar. Sial, insting mamanya benar-benar luar biasa. Di hadapan Bu Juliana yang memandangnya, ia diperlakukan bagaikan anak kecil yang ketahuan pulang larut malam. Sebuah ironi besar di benaknya, mengingat sekitar empat puluh jam lalu ia sukses meresmikan hubungan sah dan meniduri anak perempuan orang sebagai seorang suami.Bu Juliana melangkah mendekat dengan dagu terangkat, matanya menyipit penuh selidik. Hidungnya mencium aroma asing. Ini wangi parfum perempuan yang begitu lembut dan khas, jelas bukan aroma parfum yang biasa dipakai putranya."Are you going traveling with a girl, Khai?" tanya Bu Juliana dengan tatapan menyelidik. "Who is she?""No. Aku pergi sama teman laki-laki, Ma.""Kamu punya pacar? Makanya nolak Amara," cecar mamanya."No," sahut Khaisar
Dan dirinya sendiri juga bertanya-tanya, siapa yang menjemput Nindiya tadi? Sopir taksi? Tidak mungkin, cara bicara pria tadi terlalu siap dan sigap. Apa saudara dekatnya? Atau pria lain? Pertanyaan demi pertanyaan itu mengendap tajam, menyisakan sesak yang kian menghimpit dadanya. Walaupun dalam dada menyangkal, tidak mungkin laki-laki tadi kekasihnya Nindiya. Terlihat dia sangat sopan dan menghormati wanita itu.🖤Pintu samping Ford Ranger gagah itu terkuak pelan. Nindiya segera menyelinap masuk ke jok penumpang, tepat di samping kursi kemudi. Di balik kemudi, Khaisar duduk bersandar dengan raut wajah kaku dan rahang mengeras."Mas, yang mau mengantarku pulang?" tanya Nindiya heran, menatap suaminya yang tampak begitu gusar di zona parkir resmi itu. "Tadi Mas Manto mendadak mengajakku naik ke sini."Hening sejenak. Pria itu berusaha memendam gejolak panas yang mendadak membakar dadanya usai menyaksikan Indra dan kedua orang tuanya menemui Nindiya di bawah tadi."Nin," Khaisar akhir
AKAN KUTUNGGU- 49 Tak SengajaLangkah kaki Nindiya terhenti saat dua sosok yang sangat dikenalnya melangkah menghampiri. Pak Ikram dan Bu Cahya berdiri di hadapannya dengan pakaian rapi, khas orang baru selesai bepergian jauh.Dari jarak beberapa meter di belakang, Khaisar memperhatikan itu. Dadanya menegang, menyaksikan istrinya bertemu dengan orang tua Indra. Namun karena keadaan, ia menahan diri untuk tidak menghampiri. Ia tidak ingin keadaan menjadi kacau. Orang tua Indra jelas saja mengenalnya.Sedangkan Nindiya dengan tenang dan sopan, mengulurkan tangan untuk menyalami Pak Ikram dan Bu Cahya."Kamu dari mana, Nin?" tanya Bu Cahya ramah, mengamati lelaki asing yang membawakan koper dan sedang berdiri di samping Nindiya."Saya baru pulang dari Bangka, Bu. Dari rumah Mbak Nila. Bapak sama Ibu sendiri dari mana?" Panggilan papa dan mama dulu, sekarang sudah berubah menjadi bapak dan ibu. Nindiya tetap bersikap tenang. Selama Indra tidak membeberkan fakta sebenarnya kepada kedua
Itu adalah penyesalan terdalam dalam hidup Indra. Dulu ia terlalu buta oleh ego dan godaan luar hingga mengabaikan kerapuhan istrinya. "Andai saja anak itu hadir dan selamat, pasti hubungan kami masih bisa diselamatkan. Nindiya pasti bersedia memaafkanku demi anak kami," batinnya meraung hampa.Namun benaknya mendadak menangkap satu hal yang mengusik. Nindiya pasti sudah sadar kalau dirinya sedang hamil saat proses perceraian mereka bergulir di Pengadilan Agama. Namun wanita itu memilih bungkam, tidak memberitahunya, dan sama sekali tak berniat mencabut gugatan. Nindiya justru membiarkan persidangan yang melelahkan itu berlanjut hingga tujuh kali sidang sampai ketukan palu hakim resmi memutus hubungan pernikahan mereka.Indra menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya. Sebuah ironi yang menyiksa. Kenapa rasa cintanya pada Nindiya justru kian menggila dan membakar jiwanya saat wanita itu benar-benar telah pergi."Lalu bagaimana sekarang dengan Cinda?" tanya Hari memecah keheningan
Padahal sejak awal mereka telah sepakat untuk menunda momongan selama satu tahun ke depan. Hal itu demi memulihkan kondisi fisik Nindiya pasca keguguran, memberi ruang baginya untuk kembali merintis karier, serta menjaga kerahasiaan pernikahan mereka untuk sementara.Begitu keheningan kembali menyergap ruangan, Nindiya yang baru tersadar langsung berbisik parau. "Mas, aku ke kamar mandi sebentar, ya."Padahal Khaisar masih ingin merengkuh dan mendekap tubuh istrinya. Namun Nindiya dengan tergesa meraih pakaian di lantai, mengenakannya seadanya, lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.Beberapa menit berlalu, Nindiya belum juga keluar. Khaisar mulai merasa khawatir. Dengan cemas, ia turun dari pembaringan tanpa mengenakan atasan dan mengetuk pintu itu. "Honey, kamu tidak apa-apa?" teriak Khaisar dari luar."Aku tidak apa-apa, Mas! Ini aku mau keluar," sahut Nindiya dari dalam.Pintu terkuak pelan. Dua pasang mata itu saling bertumpu tepat di ambang pintu. Nindiya sempat terpana menden
AKAN KUTUNGGU- 48 Malam Deluxe room itu menjadi satu-satunya kamar yang bisa dipesan dadakan sore tadi oleh Khaisar. Sebuah jendela kaca berukuran besar membentang langsung menghadap ke arah pantai. Di dalam ruangan, hembusan pendingin udara bekerja maksimal membalut kehangatan pasangan yang baru saja mengikat janji suci.Usai merampungkan salat Isya berdua, Nindiya melangkah mendekati jendela kaca. Di bawah sana, pendar lampu-lampu taman dan dermaga kelap-kelip begitu indah menembus pekatnya malam.Khaisar baru saja hendak melangkah mendekatinya ketika dering ponsel di atas meja menghentikan. Nama mamanya tertera di layar. Sebelum menggeser tombol hijau, Khaisar sempat bertukar pandang dengan Nindiya sejenak."Halo, Ma," sapa Khaisar tenang."Where are you, Khai? Di telepon dari tadi malam tidak diangkat. Pagi tadi malah mematikan ponsel. Mama khawatir," cecar Bu Juliana dari seberang sana dengan nada gusar campur cemas."Aku baik-baik saja, Ma. Tidak perlu khawatir," balas Khaisar







