Teilen

BAB 10 A

last update Veröffentlichungsdatum: 13.09.2026 22:21:32

BAB 10

Pagi hari Nizar mengirim lokasi rumah Tasya. Tentu saja aku masih ingat alamat ini, rumahku, rumah Ibu. Tempat seharusnya kami tinggal. Ada rasa yang susah dijelaskan dengan kata-kata ketika naik kendaraan untuk berangkat kesana. Mereka dengan seenaknya akan membangun taman. Entah seperti apa rumah itu sekarang.

Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit dengan naik motor, aku sampai di depan rumah yang sangat ku rindukan. Rumah besar di hadapanku masih terlihat sama megahnya dengan sa
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (1)
goodnovel comment avatar
Persada Mulia
kshn nara, keep strong
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 15 B

    Tasya menutup mata. Nizar mengambil sebuah kertas denah rumah yang aku buat. Aku menunduk, malu melihat kemesraan sepasang suami istri.“Apa ini, Sayang?”“Ini rumah yang aku buat spesial untuk kamu. Aku minta Nara membuat designnya. Dia juga yang mengurus pembangunannya karena aku sangat sibuk.”“Serius, Sayang kamu sedang buatkan aku rumah?” tanya Tasya.“Iya. Rumah masa depan kita. Masa depan aku dan anak-anak kita.”“Jadi, Mbak Tasya, aku tidak ada hubungan apapun dengan Pak Nizar.”Tasya menatapku lalu menggeleng kecil.“Tapi aku lebih betah tinggal di rumah keluargaku. Rumah masa kecilku. Aku tidak bisa meninggalkannya.”Panas telinga mendengar Tasya berucap demikian.“Tapi itu milik keluarga kamu. Aku punya harga diri untuk memberi kamu rumah.”“Rumah orang tuaku megah, lebih besar dari ini. Anak-anak kita akan bahagia tinggal di sana. Ada kebun mininya juga. Ada buah mangga, alpukat, durian, rambutan, kelengkeng. Aku lebih suka tinggal di sana, Sayang.”Kebun yang diceritakan

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 15 A

    Part 15Hari-hari berjalan seperti biasanya. Pagi aku berangkat kerja dan menyelesaikan urusan kantor, siangnya izin untuk keperluan di luar urusan kantor. Waktu habis Dzuhur aku gunakan untuk mengelola proyek Aurell Residence. Kadang turun ke lapangan, kadang hanya memantau lewat pesan saja.Pak Aryo tidak keberatan, karena aku membawa kerjasama baru. Asuransi unit Aurell Residence menggunakan perusahaan tempatku bekerja, jadi aku mendapatkan tiga keuntungan dari kerjasama dengan Nizar. Mendapatkan tanah, mendapatkan kerjasama asuransi dan tentunya dapat uang tambahan dari pekerjaanku sebagai arsitek.Inggit tidak lagi berulah dan mencari masalah, sementara Tasya dia juga tidak muncul lagi ke hadapanku. Untuk masalah notaris yang memegang surat kuasa asli Ibu, aku belum bisa menemukan titik terang. Memilih fokus dulu dengan yang di hadapan sekarang dan ada satu pekerjaan lagi, mendesign rumah Tasya yang langsung dikerjakan demi menutupi kecurigaan atas Nizar.Sore ini Nizar mengajakk

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 14 B

    Lidya, Anggi dan Haris yang baru datang langsung bertanya pada Indi apa yang terjadi. Bukan urusanku kenapa Inggit dipanggil ke ruang Pak Aryo. Aku memilih melanjutkan pekerjaan. Bukan urusanku dan aku tidak ingin tahu apa yang terjadi.Keluar dari ruangan, Inggit mampir lagi ke ruanganku. Dia berkacak pinggang di depan mejaku.“Puas kamu sudah membuat aku dimarahi Pak Aryo? Mengadu apa kamu sama dia?” Inggit membentakku tidak suka.“Mengadu? Aku tak paham maksudmu.”“Jangan berlagak bodoh! Jangan mentang-mentang kamu baru mendapatkan proyek, terus kamu berlagak. Atau kamu juga mau menggoda Pak Aryo?” Inggit meletakkan kedua tangannya di atas meja sambil membungukukkan badan.“Bukan Nara yang yang mengadu. Tapi aku yang memberitahu Pak Aryo. Tindakan kamu itu termasuk anarkis, jadi perlu ditegur ama bos.” Pak Adnan muncul dan langsung berkata demikian.Sungguh aku tidak suka terlibat dalam konflik orang lain. Aku hanya diam mengamati mereka. Bukankah kita tak perlu menjelaskan apapun p

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 14 A

    BAB 14“Dimana suamiku?” teriak Tasya lagi.Ingin rasanya menampar dia yang sudah merebut semua kebahagiaanku, tetapi sadar jika aku posisinya adalah sebagai Nara, bukan Bella.“Jangan berlagak bodoh! Kamu tahu kan aku siapa? Aku Tasya. Aku istri Nizar. Lelaki yang sedang kamu dekati.”“Anda sudah salah, Bu. Kenapa Anda mencari Pak Nizar kesini?” Seabagai seorang yang dia anggap rendah, maka aku harus bisa memposisikan jika aku adalah bawahannya.“Jangan berlagak sok suci. Dimana dia, buka kamar kamu!” teriak Tasya.“Ibu telpon saja Pak Nizar ada dimana coba! Di dalam kosong, tidak ada siapa-siapa. Pak Nizar bahkan tidak tahu saya kos disni. Dari mana Ibu tahu saya kos disini?” Akumasih tenang menghadapi sikap Tasya.“Mana ada simpanan mengaku. Buka pintunya!”Aku membuka pintu dan memperlihatkan kamar yang sudah rapi dan kosong.“Baunya wangi. Pasti kamu pakai parfum buat menjerat suamiku kan? Kamu membuat dia betah di kamar kecil ini kan? Makanya Nizar jarang pulang. Kamu sembunyika

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 13 B

    Pak Adnan masih duduk di dalam kursi ketika keretaku datang. Segalak apapun, dia berjasa untukku hari ini.Aku duduk seorang diri. Kursi di sebelah kosong. Ku peluk erat kotak pemberian Ibu seolah akan ada yang mengambilnya. Otakku buntu, memikirkan langkah selanjutnya. Seandainya bisa masuk ke rumah itu, tentu saja semuanya akan mudah. Aku mengambil kartu nama notaris yang sudah ku pisah di dompet.Bagus Permadi.Setelah ini aku akan mencari Pak Bagus. Aku akan berkonsultasi dengannya perihal apa yang ku alami.Pendingin ruangan membuat badan yang lelah didera rasa kantuk. Aku menguap berkali-kali, lalu tak tahan akhirnya terlelap.Sampai stasiun tujuan aku sudah bangun. Sesuai arahan dari Pak Adnan, aku langsung memesan ojek online. Rasanya ingin cepat sampai di tempat kos agar bisa benar-benar melepas penat.Sampai kamar, ku letakkan benda berharga itu, lalu melaksanakan sholat dzuhur yang dijamak dengan Ashar karena pada saat naik kereta, pas adzan dzuhur berkumandang.Usai melaks

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 13 A

    BAB 13Mataku memanas, tangan bergetar membuka kotak. Isinya kertas dan sepasang gelang serta kalung dengan model yang sangat bagus.Aku membuka kertas yang ternyata isinya adalah salinan surat wasiat dari Ibu. Dalam surat salinan itu Ibu menuliskan bahwa semua harta disebutkan satu per satu akan jatuh ke tanganku bila Ibu meninggal.Semua harta, tanpa terkecuali. Tidak ada nama Ayah di sana.Selain surat wasiat, ternyata ada lagi surat pribadi dari Ibu untukku. Kertas itu sudah sangat usang, tetapi masih bisa dibaca dengan jelas.Teruntuk anakku, Farabella Naraya.Hai, Sayangnya Ibu. Apa kabar kamu saat membuka surat ini? Semoga baik-baik saja ya, anak cantikku.Berapa usiamu sekarang, Bella? Ketika kamu membuka surat ini, Ibu mungkin sudah tidak ada di dunia ini.Ibu menulis surat ini ketika kamu sudah dibawa ke pesantren.Bella, Sayang, Ibu tidak gila seperti yang mereka tuduhkan. Ibu stress karena ayahmu menikah lagi, tetapi Ibu tidak sampai hilang ingatan. Namun perlakukan ayahmu

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status