로그인Kekesalanku pada saudara yang selalu datang di saat jam makan. Tidak ada sedikitpun pengertian mereka, padahal baru saja aku pindah di sini, yang sebelumnya aku tinggal di desa suamiku. Bagaimana caraku untuk buat mereka jera datang ke rumahku? Bagaimana caraku supaya mereka mengerti dengan keuanganku saat ini?
더 보기ราล์ฟ อายุ29ปี
เป็นเจ้าของธุรกิจหลายอย่าง สูง188 เซนติเมตร ปลายฝัน อายุ23ปี . . . . . ตัวอย่างนิยาย "แต่ก่อนฉันแค่กอดเธอ หอมแก้มเธอและจูบเธอ..." "แต่คืนนี้...ฉันจะทำกับเธอมากกว่าหกปีก่อน" "ไม่ได้นะคะ" "ก็ไหนเธอบอกว่ามารับจ้างอุ้มบุญให้ลูกของฉันไง แล้วจะมาปฏิเสธทำไม" "แต่การอุ้มบุญไม่ใช่ใช้วิธีนี้นะคะ เราจะทำด้วยวิธีทางวิทยาศาสตร์กันค่ะ" "ฉันไม่อยากทำด้วยวิธีทางวิทยาศาสตร์ แต่ฉันจะใช้วิธีผสมกันแบบธรรมชาติ" . . . . "ถ้าเธอท้องเมื่อไหร่ ฉันจะให้เธอกลับไปอยู่บ้านของเธอ เพราะฉันอยากมีเวลาส่วนตัวอยู่กับเอมี่สองต่อสอง" "ได้ค่ะ" "ดังนั้นฉันจึงต้องเข้ามาทำลูกกับเธอทุกวันเพื่อให้เธอได้ท้องเร็วๆ เพราะฉันไม่อยากเห็นหน้าเธออยู่ในบ้านของฉันนานๆ" . . . . "เธอ...กลับมาบ้านทำไมถึงไม่บอกฉัน แล้ว...เธอกลับมาทำไม" "คุณเคยบอกว่าถ้าฉันท้องเมื่อไหร่ ฉันก็ต้องออกมาจากบ้านของคุณ" "เธอ...ทะ ท้องแล้วเหรอ" "เธอได้ไปฝากท้องหรือยัง" "ยัง" "งั้นพรุ่งนี้ฉันจะมารับเธอไปโรงพยาบาลนะ" "ไม่ต้องหรอกฉันไปเองได้ คุณไปดูแลแฟนของคุณเถอะ" "..." "คุณอยากอยู่กับแฟนของคุณสองต่อสองไม่ใช่เหรอ ตอนนี้ก็สมใจคุณแล้วนี่ที่ไม่มีฉันอยู่ที่นั่นกับพวกคุณ" "..." . . . . . . . . . . . . . . . บ้านราล์ฟ อ๊อกๆๆ บ๊วบๆๆ "ซี้ด อา" เสียงทุ้มต่ำเปล่งเสียงครางออกมาจากลำคอหนาเมื่อท่อนเอ็นยาวใหญ่ถูกริมฝีปากนุ่มของหญิงสาวที่ชื่อว่าเอมี่ครอบลงมาเกือบจะมิดลำพร้อมกับดูดเลียอย่างหิวโหย ซึ่งเขาเรียกมาปรนเปรอเขาอยู่บ่อยครั้ง ส่วนมากหลังเลิกงานตอนเย็นเขาจะโทรให้เธอมาหาที่บ้านเพื่อระบายความใคร่กับเธอ เขาขี้เกียจออกไปซื้อกินข้างนอก ดังนั้นซื้อมากินที่บ้านจะสะดวกกว่า "อา เร็วหน่อย ฉันใกล้แล้ว" สิ้นเสียงทุ้มกระเส่าบอก เจ้าของริมฝีปากที่เคลือบด้วยลิปสติกสีแดงสดก็ผงกหัวดูดลำเอ็นขนาดใหญ่เข้าออกอย่างกระชั้นชิด จนในที่สุดร่างสูงที่นั่งตรงขอบเตียงก็ได้ปลดปล่อยน้ำกามสีขุ่นเข้าปากของหญิงสาวร่างเปลือยเปล่าซึ่งนั่งคุกเข่าอยู่ตรงหว่างขาของเขา "อ อาา" น้ำเชื้อสีขุ่นได้ถูกปล่อยเข้าไปในโพรงปากของหญิงสาวจนเธอเกือบจะสำลักออกมา เมื่อเธอได้กลืนกินน้ำรักของเขาจนหมดแล้ว จากนั้นจึงลุกขึ้นยืนแล้วผลักร่างแกร่งให้นอนราบไปบนเตียง มือบางหยิบถุงยางอนามัยมาจัดการสวมใส่เข้าที่แก่นกายหนาซึ่งยังแข็งชูชันอยู่ด้วยความชำนาญ ก่อนจะจับเข้ามาสอดใส่เข้าไปในรูสวาทของตัวเองและขย่มอยู่นานนับนาที จนกระทั่งทั้งสองได้ปลดปล่อยอารมณ์ความต้องการออกมาพร้อมกัน "อ๊า อ๊า" "อ อาา" เมื่อทุกอย่างเสร็จสิ้นร่างแกร่งที่นอนอยู่ใต้ร่างของหญิงสาวทรงโตจากศัลยกรรมก็เอ่ยออกมา "หมดหน้าที่ของเธอแล้ว กลับไปได้" เสียงทุ้มนิ่งเอ่ยบอกกับหญิงสาวที่คร่อมอยู่บนตัวเขา "ค่ะ" รับคำเสร็จหญิงสาวจึงยกก้นพร้อมกับลำเอ็นหนาได้หลุดออกจากรูสวาทของเธอ เธอลงจากเตียงแล้วเข้าห้องน้ำไปชำระล้างร่างกาย ก่อนจะออกมาสวมใส่เสื้อผ้าและเดินออกจากบ้านของเขาไป ราล์ฟหยัดตัวลุกจากที่นอนแล้วไปอาบน้ำและออกมาสวมใส่เสื้อผ้า จากนั้นจึงเปิดประตูออกจากห้องนอนไป ก่อนโทรศัพท์เครื่องหรูจะมีเสียงเรียกเข้ามา ราล์ฟหยิบออกมาดูเมื่อเห็นว่าเบอร์ของคนเป็นแม่ที่ช่วงนี้ชอบรบเร้าให้เขาแต่งงานมีลูกก็แสดงสีหน้าเหนื่อยหน่ายออกมาแล้วกดรับสาย 'ครับ' 'ลูกพาผู้หญิงมานอนที่บ้านอีกแล้วใช่ไหมราล์ฟ' ที่นางรู้เพราะคนใช้บ้านของราล์ฟจะโทรมาบอกทุกครั้งที่เขาพาผู้หญิงมานอนที่บ้าน 'แม่จะถามทำไมครับ ก็ในเมื่อแม่รู้อยู่แล้วว่าผมทำแบบนี้มาหลายปีแล้ว' 'แม่จะหาเมียให้ลูก เพราะแม่ไม่อยากให้ลูกต้องซื้อผู้หญิงแบบนี้ไปเรื่อยๆโดยไม่มีที่สิ้นสุด ปีนี้ลูกอายุยี่สิบเก้าแล้วนะ เพราะฉะนั้นลูกควรจะแต่งงานมีครอบครัวได้แล้ว ลูกของเพื่อนแม่แต่ละคนต่างก็มีลูกกันหมดแล้ว' 'เขาจะมีลูกมีหลานก็เรื่องของเขาสิแม่ แล้วมันเกี่ยวอะไรกับผมล่ะ' 'แม่แก่แล้วนะลูก แม่อยากมีหลานเหมือนกับคนอื่นๆเขาบ้างสิ' กนกวรรณคลอดราล์ฟตอนนั้นนางอายุสามสิบสองปี และตอนนี้อายุก็หกสิบเอ็ดปีเข้าไปแล้ว 'ถ้าแม่อยากมีหลานงั้นแม่ก็หาผู้หญิงมาอุ้มบุญให้ลูกของผมสิ แต่แม่อย่าหาเมียมาให้ผมก็แล้วกัน' เขาจะไม่มีเมีย แต่ถ้าแม่อยากมีหลานเขาก็ยินดีจะมีให้โดยวิธีอุ้มบุญ 'ลูกรับปากแม่แล้วนะราล์ฟ เพราะฉะนั้นถ้าแม่หาผู้หญิงมาอุ้มบุญให้ลูกได้ ลูกก็อย่าปฏิเสธล่ะ' 'อะไรที่ผมพูดแล้ว ผมไม่กลับคำหรอกครับ' 'อืมดี งั้นแค่นี้นะลูก' ว่าจบนิ้วหนาจึงกดวางสายแล้วเดินไปหย่อนตัวนั่งยังโต๊ะอาหารที่แม่บ้านจัดเตรียมอาหารไว้ให้พร้อมแล้วAku mengintai dari sudut ke sudut ternyata memang tidak ada suamiku di dalamnya. Hal seperti ini sudah beberapa kali terjadi, tapi aku tidak pernah aku cek kamar mandinya. Baru hari ini aku kepo tentang ketenangannya dia di dalam kamar mandi, tapi malah enggak ada orangnya.Aku berjalan ke depan untuk melihat sendal miliknya, tapi kenapa sendalnya masih ada di depan? Aku balik lagi berjalan ke belakang.Bruk!Aku dan Devan bertabrakan di pintu tengah yang di tutupi oleh kain gorden."Aduh! Kalau jalan itu lihat-lihat!" Ucapnya dengan nada tinggi.Astaga, dia kenapa? Apa yang salah dariku sampai-sampai dia ketus seperti ini? Niatku yang ingin bertanya padanya, aku urungkan. Aku lebih memilih masuk ke dalam kamar dan langsung merebahkan tubuhku di ranjang ketika dia sedang mencari sesuatu di lemari."Mana ini kolor nya!" Ucapnya tanpa memandangku.Aku hanya mendengarkan tanpa menjawab, kalau sudah dengan cara seperti itu jangan harap aku akan memedulikannya.Devan keluar masuk kamar, ak
"Iya, loh dek," sahutnya dengan nada marah.Aku menatap Devan yang pergi ke arah dapur dan masuk ke dalam kamar mandi. Sudah beberapa bulan ini Devan kerja di bengkel tidak membuahkan hasil. Malah semua jadi kacau.Tabunganku merosot, padahal aku ikut serta mencari uang. Apa aku kasih tahu saja ya pekerjaan yang di tawarkan Dareen beberapa bulan lalu? Toh Dareen belum mendapatkan seorang sopir sampai saat ini.Aku berjalan ke arah luar rumah, di sana tampak Dareen sedang mengemudi mobilnya. Di sisi lain ada sang istri sedang melambaikan tangan ke arahnya.Tidak lama Devan berjalan ke arah luar, suamiku melewatiku begitu saja sambil mengeluarkan motor miliknya."Enggak sarapan dulu, Mas?" Tanyaku heran."Enggak. Nanti saja di luar," ucapnya tanpa memandangku. Matanya fokus dengan ban yang akan turun dari teras."Kamu ini, ya. Sudah tahu gaji kecil malah makan di luar. Enggak kasihan apa sama anak kamu yang makan seadanya gitu? Heran deh," ucapku kesal.Devan tidak menjawab pertanyaanku
"Ya, waktu itu Mas Harman pernah kerja bareng ayahku. Pas dilihat ayah, tenaganya kuat. Kerjanya rajin, tiba udah nikah, males, makin ke sini malah kaya' tahe," ucapnya kesal.Aku tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Mila. Aku pernah juga mendengar desas-desus nya dulu kalau Mila hamil duluan, tapi aku enggak pernah bertanya karena kau tidak mau mencari masalah yang bukan urusanku.* * *"Mas, gimana tadi kerjanya? Capek?" Tanyaku."Enggak, Dek. Apalah capeknya, cuman megang kunci terus di putar-putar," ucap Devan sambil menghela nafas.Nafasnya begitu berat, aku yakin pasti keadaan sedang tidak baik-baik saja.Aku memeluknya saat kami masih tiduran di ranjang. Anak-anak sudah pada tidur, tanganku melingkar merangkul bagian dada bidangnya."Mas, sebenarnya ada masalah apa?" Tanyaku memaksa Devan untuk menjawab."Enggak ada apa-apa loh, dek.""Gimana enggak ada? Aku istrimu, dan aku tahu bagaimana kamu," ucapku.Aku sangat mengenal suamiku sehingga dia tidak akan bisa menutupi masal
"Makan—? Hmmm, Aku belum masak, Mas," ucapku lirih."Kok bisa sih dek? Seharian di rumah, ngapain?" Tanya Devan dengan nada datar.Aku menceritakan semua kejadian tadi, namun, aku belum bicara soal Dareen yang memberikannya pekerjaan sebagai sopir.Aku belum siap untuk di tinggal malam-malam oleh Devan karena masih trauma dengan kejadian beberapa malam yang lalu."Ya, sudah, beli mie instan aja dek, laper," ucapnya sambil merebahkan tubuhnya di depan TV."Bentar, ya, mas," ucapku sambil mengambil uang dari dalam dompet.Aku berjalan menuju rumah Bu Endah, rumah itu terlihat sangat sepi, sampai aku berada di depan pintunya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya."Buuu, Bu Endah," panggilku dengan suara sedikit agak keras. Bu Endah keluar dari arah belakang, "Ada apa, Ta? Tanyanya."Bu, mie instan, dua," ucapku sambil menunjuk sebuah kotak mie kesukaan suamiku yang terbungkus oleh plastik berwarna hijau.Dengan sigap, Bu Endah memasukkan dua bungkus mie instan ke dalam plastik be
"Wulan," ucap bibi."Enggak tahu, tadi sih katanya mau datang duluan," sahutku sambil tersenyum.Bibi menganggukkan kepala dan berlalu. Tak sengaja aku menatap Mila, kini wajahnya merah merona. Setelah kupandang ke belakangku, ternyata ada paman berdiri di sana."Hmm, pantes," gumamku.Mila mengerti den
"Ya sudah, tidur sama-sama saja di rumahku, Mbak. Kebetulan Devan lagi enggak di rumah.""Makasih, ya, Mbak," sahutnya dengan semringah.* * *Malam ini kami memutuskan untuk tidur di ruang keluarga. Tikar besar terbentang dari pintu ke pintu. Aku di ujung kanan dan Mila di ujung kiri. Aku mematikan te
Bude Sarni menghentikan langkahnya, dia menoleh ke arah Mila."Mbak, uangnya yang tadi malah ketinggalan," ucap Mila sambil memperlihatkan uang berwarna merah ke padaku."Walah, Mil. Tapi enggak apa-apalah, Mas Devan kaya' nya bawa dompet kok," ucapku sambil tersenyum."Ya, malah mendingan, Mil, enggak
"Mbak, aku boleh pinjam uang? 100 ribu saja, Mbak," ucap Mila lirih sambil menghapus air mata yang mengalir di pipi."Mil, kamu kenapa?" Tanyaku sambil melangkah menghampirinya."Bapak mertuaku meninggal, Mbak," ucapnya sambil menangis sesenggukan."Innalilahi, Mil, aku sekeluarga tutut berdukacita, ya
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.