LOGINLidya, Anggi dan Haris yang baru datang langsung bertanya pada Indi apa yang terjadi. Bukan urusanku kenapa Inggit dipanggil ke ruang Pak Aryo. Aku memilih melanjutkan pekerjaan. Bukan urusanku dan aku tidak ingin tahu apa yang terjadi.Keluar dari ruangan, Inggit mampir lagi ke ruanganku. Dia berkacak pinggang di depan mejaku.“Puas kamu sudah membuat aku dimarahi Pak Aryo? Mengadu apa kamu sama dia?” Inggit membentakku tidak suka.“Mengadu? Aku tak paham maksudmu.”“Jangan berlagak bodoh! Jangan mentang-mentang kamu baru mendapatkan proyek, terus kamu berlagak. Atau kamu juga mau menggoda Pak Aryo?” Inggit meletakkan kedua tangannya di atas meja sambil membungukukkan badan.“Bukan Nara yang yang mengadu. Tapi aku yang memberitahu Pak Aryo. Tindakan kamu itu termasuk anarkis, jadi perlu ditegur ama bos.” Pak Adnan muncul dan langsung berkata demikian.Sungguh aku tidak suka terlibat dalam konflik orang lain. Aku hanya diam mengamati mereka. Bukankah kita tak perlu menjelaskan apapun p
BAB 14“Dimana suamiku?” teriak Tasya lagi.Ingin rasanya menampar dia yang sudah merebut semua kebahagiaanku, tetapi sadar jika aku posisinya adalah sebagai Nara, bukan Bella.“Jangan berlagak bodoh! Kamu tahu kan aku siapa? Aku Tasya. Aku istri Nizar. Lelaki yang sedang kamu dekati.”“Anda sudah salah, Bu. Kenapa Anda mencari Pak Nizar kesini?” Seabagai seorang yang dia anggap rendah, maka aku harus bisa memposisikan jika aku adalah bawahannya.“Jangan berlagak sok suci. Dimana dia, buka kamar kamu!” teriak Tasya.“Ibu telpon saja Pak Nizar ada dimana coba! Di dalam kosong, tidak ada siapa-siapa. Pak Nizar bahkan tidak tahu saya kos disni. Dari mana Ibu tahu saya kos disini?” Akumasih tenang menghadapi sikap Tasya.“Mana ada simpanan mengaku. Buka pintunya!”Aku membuka pintu dan memperlihatkan kamar yang sudah rapi dan kosong.“Baunya wangi. Pasti kamu pakai parfum buat menjerat suamiku kan? Kamu membuat dia betah di kamar kecil ini kan? Makanya Nizar jarang pulang. Kamu sembunyika
Pak Adnan masih duduk di dalam kursi ketika keretaku datang. Segalak apapun, dia berjasa untukku hari ini.Aku duduk seorang diri. Kursi di sebelah kosong. Ku peluk erat kotak pemberian Ibu seolah akan ada yang mengambilnya. Otakku buntu, memikirkan langkah selanjutnya. Seandainya bisa masuk ke rumah itu, tentu saja semuanya akan mudah. Aku mengambil kartu nama notaris yang sudah ku pisah di dompet.Bagus Permadi.Setelah ini aku akan mencari Pak Bagus. Aku akan berkonsultasi dengannya perihal apa yang ku alami.Pendingin ruangan membuat badan yang lelah didera rasa kantuk. Aku menguap berkali-kali, lalu tak tahan akhirnya terlelap.Sampai stasiun tujuan aku sudah bangun. Sesuai arahan dari Pak Adnan, aku langsung memesan ojek online. Rasanya ingin cepat sampai di tempat kos agar bisa benar-benar melepas penat.Sampai kamar, ku letakkan benda berharga itu, lalu melaksanakan sholat dzuhur yang dijamak dengan Ashar karena pada saat naik kereta, pas adzan dzuhur berkumandang.Usai melaks
BAB 13Mataku memanas, tangan bergetar membuka kotak. Isinya kertas dan sepasang gelang serta kalung dengan model yang sangat bagus.Aku membuka kertas yang ternyata isinya adalah salinan surat wasiat dari Ibu. Dalam surat salinan itu Ibu menuliskan bahwa semua harta disebutkan satu per satu akan jatuh ke tanganku bila Ibu meninggal.Semua harta, tanpa terkecuali. Tidak ada nama Ayah di sana.Selain surat wasiat, ternyata ada lagi surat pribadi dari Ibu untukku. Kertas itu sudah sangat usang, tetapi masih bisa dibaca dengan jelas.Teruntuk anakku, Farabella Naraya.Hai, Sayangnya Ibu. Apa kabar kamu saat membuka surat ini? Semoga baik-baik saja ya, anak cantikku.Berapa usiamu sekarang, Bella? Ketika kamu membuka surat ini, Ibu mungkin sudah tidak ada di dunia ini.Ibu menulis surat ini ketika kamu sudah dibawa ke pesantren.Bella, Sayang, Ibu tidak gila seperti yang mereka tuduhkan. Ibu stress karena ayahmu menikah lagi, tetapi Ibu tidak sampai hilang ingatan. Namun perlakukan ayahmu
“Om bekerja di sana sudah berapa tahun yang lalu?” Aku terus menyelidiki.“Umur Om bekerja di sana itu dua puluh tahun. Habis lulus SMA ya. Kamu masih umur berapa ya. Om lupa.”“Berarti sudah lama ya, Om?”“Lama sekali. Om keluar sepuluh tahunan kayaknya.”“Hendro Wibowo punya anak berapa, Om?”“Kamu kenapa sih serius sekali?”“Gak papa, Om. Ada pegawai yang aku curigai di kantor. Om tinggal jawab saja. Tenang, aku tidak akan melibatkan Om Tyo dalam urusan apapun.”“Hemh ....” Om Tyo bergumam.Ia menyandarkan kepala pada bagian atas kursi. Aku menanti dia menjawab dengan jantung yang berdegup kencang. Beberapa menit kemudian, Om Tyo bercerita.“Hendro Wibowo dulunya hanya pekerja di perkebunan itu. Dia memang cerdas. Sangat cerdas dan juga tampan. Waktu itu Om belum kerja di sana. Om tahu karena ada teman bercerita. Perkebunan itu milik keluarga Sanjaya. Anak keluarga Sanjaya jatuh cinta sama Hendro. Kesalahan dari Pak Sanjaya, dia tidak mau memberikan pendidikan tinggi pada anak semat
BAB 12POV ADNANPak Aryo mengundangku ke ruangan. Dia memberitahu jika kantor ini akan kedatangan pegawai baru yang dipindahkan dari kantor cabang. Dia memintaku untuk mencarikan tempat tinggal. Aku agak malas menuruti sebenarnya. Karena selama ini, pegawai wanita yang datang rata-rata bersikap menyebalkan. Cari perhatian, berdandan berlebihan, sering mengganggu untuk urusan yang tidak penting.“Bisa tidak, Pak, jangan saya yang ngurus? Atau jangan dijadikan di tim saya?” Aku menolak halus.“Dia yang memiliki kemampuan untuk mendampingi kamu. Kenapa? Anti terus sama perempuan.”“Atau Bapak saja yang cari tempat kos. Atau dia sendiri saja yang mencari.”“Dia baru di kota ini. Tidak paham seluk beluknya. Pimpinan pusat yang minta. Kamu tinggal laksanakan apa susahnya.”Pada akhirnya aku mencari juga tempat untuk tinggal pegawai baru itu. Aku sudah benar-benar malas berhubungan pekerjaan dengan wanita yang statusnya single. Tapi ini perintah dari bos pusat, mana bisa menolak?Hari itu d







