MasukTerlahir menjadi seorang pewaris, Farabella harus dihadapkan pada ujian yang sangat besar ketika sang ayah membawa wanita lain ke rumah yang dan menjadi penyebab ibunya gila lalu meninggal. Wanita yang akhirnya menjadi nyonya itu membawa seorang anak yang usianya di bawah Farabella. setelah kematian sang Ibu, ayahnya mengirim Farabella ke pesantren dan tidak pernah dijenguk, apalagi diajak pulang. Hingga dewasa, ia harus menjalani hidup seorang diri. Setelah lulus kuliah dan bekerja, Farabella kembali untuk mengambil semua harta mendia ibunya. Ia bertekad mengembalikan ibu tiri serta adik tirinya ke tempat dimana keduanya berasal.
Lihat lebih banyakBAB 5Ternyata kami menuju lantai yang sama. Saat aku keluar dari lift, Nizar memandangku dengan pandangan yang seperti memohon untuk tidak berbuat hal yang bisa merugikannya. Aku cuek, pura-pura tidak saling kenal.“Papa, Mama, nanti kita akan berenang bersama. Papa, jangan pergi-pergi lagi ya? Jangan tinggalkan Aurell terus. Kasihan Mama sering nangis sendirian kalau Papa enggak pulang.”Aurell masih kecil, tetapi berbicaranya jelas sekali.Aku masuk kamar dan pikiran ini sibuk menerka tentang status Nizar. Tasya, tidak ada hidup yang sempurna. Kamu menganggap jika dirimu sudah mendapatkan semua, tetapi ternyata, lelaki yang menikah denganmu dia menyembunyikan rahasia besar. Aku yakin, setelah ini Nizar akan menceritakan tentang apa yang ia sembunyikan.Udara di luar sepertinya sejuk. Aku berjalan menuju balkon untuk menikmatinya. Saat berpaling ke arah kanan, tak disangka, Nizar berdiri di sana mengamati. Wajahku segera berpaling ke arah lain.Kenapa kamu ada di hotel ini?Kamu tid
BAB 4Pagi aku sudah sampai kantor. Menata meja, membersihkan ruangan, lalu duduk santai sambil mengerjakan administrasi yang berkaitan dengan bagianku.Cleaning servis yang baru datang kaget, melihat ruangan sudah bersih.“Mbak ngepel sendiri?”Aku mengangguk sambil tersenyum.“Mbak, lain kali jangan ya! Nanti aku dimarahi Pak Adnan.”“Aku tidak akan lapor.”“Aku sudah mendengar.” Pak Adnan tiba-tiba masuk ruangan.“Jangan marah sama dia. Marah sama aku saja!” ucapku memasang wajah kesal.“Kamu beli furniture untuk ruangan bos yang baru selesai direnovasi.”“Baik, Pak. Mohon share alamat toko yang Bapak inginkan.” Aku menjawab sambil merapikan tas untuk dibawa pergi.“Kamu akan membeli sama aku.”“Jika saya yang harus memilih barangnya, saya bisa pergi sendiri atau diantar Pak Abdul. Tetapi kalau harus Pak Adnan yang memilih barangnya, mohon maaf, Pak, cukup Bapak yang pergi sendiri sepertinya.”Aku kembali duduk.“Ok, kamu berangkat sama Pak Abdul.” Pak Adnan berlalu pergi.Akhirnya
BAB 3Aku berangkat ke kantor Nizar naik mobil bersama pak Abdul, sopir kantor. Sepanjang jalan berdoa, semoga hari ini bisa bertemu langsung dengan Nizar. Meskipun nantinya akan menimbulkan luka jika mengetahui sebahagia itu kehidupan Tasya, tetapi aku ingin cepat masuk ke kehidupan mereka.“Mbak sudah sampai, itu kantornya benar ada tulisan nama perusahaannya. Semoga Mbak Nara diberi kelancaran ya?” ujar Pak Abdul ketika sampai di depan kantor Nizar.Lentera Hermawan Land. Nama kantor perusahaan milik Nizar. Aku masuk untuk bertemu dengan pemiliknya. Meski hanya berbekal keyakinan setipis tissue bisa bertemu dan bekerjasama, nyatanya nyaliku cukup kuat untuk bisa berhadapan langsung dengan sosok suami Tasya.Pak Abdul kembali ke kantor setelah menurunkanku. Aku langsung menemui bagian resepsionis.“Pak Nizar sedang turun ke lapangan, Bu. Kalau mau menunggu silakan, tapi tidak janji beliau mau kesini jam berapa.” Jawaban dari resepsionis membuat aku sedikit kecewa.“Tapi pasti datang
Bab 2Tidak banyak barang kubawa pindah, karena memang aku tidak memiliki barang yang banyak. Hidup di pesantren dengan kiriman uang yang pas-pasan, sudah cukup melatih diri menjadi pribadi yang serba secukupnya, bahkan terkadang kekurangan. Terlebih saat kuliah yang sering membutuhkan uang untuk kegiatan di luar kampus. Seringnya aku berpuasa agar uang yang ku miliki tidak cepat habis.Sebuah foto yang masih tersimpan rapi, kupandang dan kuusap gambar wajahnya.“Ibu, seandainya dulu tidak hadir wanita perebut kebahagiaan kita, aku pasti masih hidup bersama Ibu. Ibu, belasan tahun aku hidup sendirian. Melewati malam lebaran dengan derai air mata. Menangis seorang diri di kamar yang sepi. Takbir yang banyak dirindukan teman-teman, menjadi suara yang membuat hati tercabik-cabik. Bu, jika Ibu masih hidup, meski dibuang mereka, aku pasti tidak akan melewati waktu belasan tahun dengan penderitaan.” Kudekap foto Ibu sambil menangis.Setiap melihat foto itu, energi untuk balas dendam pada me






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.