BAB 7Nizar diam belum memberikan jawaban. Aku melirik jam sudah pukul lima sore.“Aku pamit, Pak Nizar. Salam untuk Aurell,” ucapku sambil bangun dari kursi.“Dua puluh lima persen, deal, Nara?”“Saya permisi, Pak.”“Tiga puluh persen.” Pak Nizar terus menaikkan angka, tetapi aku tetap pada pendirian.Aku mengangguk sopan, lalu melangkah pergi.“Nara, aku tidak menyangka kalau kamu punya niat sejauh itu ingin memanfaatkan keadaan ini.”“Aku memanfaatkan keadaan? Bukan aku yang mengajak kerjasama ini, Pak. Anda yang menawarkan. Jika iya, sepakat, maka terjadi. Jika tidak, aku tidak merasa rugi.”Langkah ku percepat meninggalkan caffe menuju jalan besar untuk mencari taxi. Tak ku sangka, Nizar berlari mengejar.“Ikut aku ke rumah sakit. Tolong, Nara. Adisti sadar. Aku tidak bisa menghadapi situasi ini sendiri. Aku aku butuh teman ....” Nizar menunduk dengan wajah yang menangis.“Aku tidak mau Anda mengatakan aku sedang memanfaatkan situasi. Hadapi sendiri, Pak! Jangan libatkan orang lai
Terakhir Diperbarui : 2026-09-12 Baca selengkapnya