Bab 2Tidak banyak barang kubawa pindah, karena memang aku tidak memiliki barang yang banyak. Hidup di pesantren dengan kiriman uang yang pas-pasan, sudah cukup melatih diri menjadi pribadi yang serba secukupnya, bahkan terkadang kekurangan. Terlebih saat kuliah yang sering membutuhkan uang untuk kegiatan di luar kampus. Seringnya aku berpuasa agar uang yang ku miliki tidak cepat habis.Sebuah foto yang masih tersimpan rapi, kupandang dan kuusap gambar wajahnya.“Ibu, seandainya dulu tidak hadir wanita perebut kebahagiaan kita, aku pasti masih hidup bersama Ibu. Ibu, belasan tahun aku hidup sendirian. Melewati malam lebaran dengan derai air mata. Menangis seorang diri di kamar yang sepi. Takbir yang banyak dirindukan teman-teman, menjadi suara yang membuat hati tercabik-cabik. Bu, jika Ibu masih hidup, meski dibuang mereka, aku pasti tidak akan melewati waktu belasan tahun dengan penderitaan.” Kudekap foto Ibu sambil menangis.Setiap melihat foto itu, energi untuk balas dendam pada me
Última actualización : 2026-08-30 Leer más