LOGINContent: (Warning! +18 Sexual elements, Alpha Wolf, Witch, Cursed Love, Small Town, Young Wolf, War, Age Gap, Passion, Consensual Fantasy, Psychological Elements, Strong Female Lead, Drama, Romance) Bound by blood, sealed by magic. You have finally come, Rose's daughter… Eva Rose is the last and most powerful heir of a sacred witch bloodline. Kael is a cursed Crimson Alpha King. Centuries ago, on the night they discovered they were fated mates and were about to be married, their enemies attacked to destroy them both. To save Kael, Eva made a desperate choice , she trapped him in a magical sleep for 200 years. The price was her own life. But their love was so powerful that Eva did not truly die , she was reborn. Through her own bloodline, she returned to the world as the same woman, with the same soul, the same heart. Now, who is friend and who is enemy? And why does this man feel so strangely familiar? How can you escape someone who even visits your dreams?. 📌📚🔥
View MoreDi depan cermin setinggi plafon yang berbingkai emas murni, Renata Lurian menatap bayangannya sendiri seolah sedang melihat orang asing. Gaun pengantin off shoulder berwarna putih gading itu melekat sempurna di tubuhnya, memperlihatkan lekuk lehernya yang jenjang dan tulang selangka yang rapuh. Ratusan kristal swarovski yang dijahit tangan pada kain lace Prancis itu berkilauan setiap kali dia bernapas. Namun bagi Renata, setiap kilauan itu seperti mata-mata yang mengawasinya.
Tepat sebulan yang lalu, tangan Renata masih kasar karena pekerjaannya sebagai pemanen sayur di desa kecil—Brompton, asal mendiang ibunya. Sekarang jemarinya yang lentik dipoles kuteks bening mahal. Dia bukan lagi Renata si gadis yatim piatu yang miskin. Tapi Renata Doe, putri dari seorang politikus yang sedang naik daun, Henry Doe. Sebuah identitas yang dipaksakan, dia dibawa kembali setelah terpisah lama dari ayahnya. Tapi hanya dijadikan alat agar ayahnya bisa melunasi utang budi politik pada Julian Cooper. "Jangan melamun, Renata. Kau terlihat seperti orang bodoh jika mulutmu terbuka seperti itu." Suara tajam itu memecah keheningan. Renata tersentak mendengar langkah Sandra, ibu tirinya yang masuk ke ruang rias dengan aura mengintimidasi yang kental. Napas Renata tertahan begitu Sandra telah berdiri di belakangnya, menatap pantulan putri tirinya itu dengan tatapan menilai yang dingin. "Kau ini sungguh beruntung," lanjut Sandra sambil meraih tiara berlian dari kotak beludru. "Gadis desa sepertimu biasanya berakhir menjadi pelayan toko atau menikah dengan kuli. Tapi lihat dirimu sekarang! Kau akan menikah dengan Julian, SEKJEN dari Partai Merah. Semua wanita di London akan iri denganmu, karena hanya kau yang berhasil menikahi pria idaman mereka!" Renata meremas buket mawar putih di pangkuannya. Duri yang sengaja tidak dibersihkan sempurna oleh pelayan atau mungkin atas perintah Sandra. Menusuk telapak tangannya, terasa perih namun ia tidak meringis di depan wanita itu yang tak pernah bersikap baik padanya sejak menginjakkan kaki di kediaman Doe. Di belakang ayahnya, Henry, Renata diperlakukan seperti pembantu. "Semua wanita di London iri denganku?" Renata akhirnya bersuara, yang terdengar serak namun tegas. "Maksud Nyonya, mereka iri karena aku bisa tidur dengan pria yang rumornya impoten dan punya penyimpangan seksual? Kenapa tidak berikan saja keberuntungan ini pada putri kandungmu, Alice? Kenapa dia justru dikirim ke luar negeri saat perjodohan ini diumumkan?" PLAK! Tamparan itu mendarat keras di pipi kiri Renata. Rasa panas seketika menjalar di kulitnya yang pucat, hingga membuat kepalanya terhentak ke samping. "Tutup mulutmu!" Sandra melotot. Wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Renata. "Alice punya masa depan yang cerah. Dia tidak pantas disandingkan dengan pria cacat seperti Julian. Berbeda denganmu yang hanyalah sampah yang kami pungut dari lumpur." Perkataan itu seperti belati menembus jantung Renata. Matanya seketika memanas, dadanya terasa sesak. Entah kenapa meski seringkali direndahkan oleh Sandra, kali ini rasanya begitu sakit melebihi tamparan tadi? "Buat posisi ayahmu selalu aman." Sandra kembali mengecam, "jika kau sampai berani macam-macam? Mempermalukan keluarga Doe atau melarikan diri ... ingatlah nenekmu yang jompo itu." Dia menyeringai, menunjukkan kekuasaannya yang membuat nyali Renata ciut. "Satu telepon dariku, oksigen di rumah sakit itu akan dicabut!" Debar jantung Renata semakin meningkat mendengar ancaman itu. Air matanya hampir jatuh, namun setengah mati ia tahan. Harus lebih bersabar lagi menelan semua harga dirinya, membiarkan bara kebencian mengendap di dasar hatinya. Menjadikannya fondasi kuat untuk membalas dendam suatu hari nanti. 'Tidak, aku harus kuat demi Nenek! Lagi pula ini hari terakhirku keluar dari neraka ini!' batinnya menguatkan diri. "Kau mengerti?!" sentak Sandra. "Aku mengerti," jawab Renata. "Aku akan melakukannya." "Bagus!" Sandra tersenyum puas, seolah baru saja menjinakkan seekor hewan liar. Ia lalu memasangkan tiara di kepala Renata dengan gerakan kasar. "Sekarang hapus tatapan sedihmu. Tersenyumlah! Karena di luar sana, ribuan kamera telah menunggumu!" Renata pikir, selepas keluarnya Sandra, ia dapat menyendiri beberapa saat sebelum drama baru hidupnya akan dimulai. Tapi pintu besar itu kembali terbuka. Bukan pelayan yang masuk, melainkan seorang pria muda dengan setelan jas hitam yang sangat pas di tubuh atlestisnya bersandar di bingkai pintu. "Kenapa k-kau di sini?" tanya Renata gugup mendapati keberadaan Kakak tirinya, Devan. Pria yang sejak hari pertama dirinya menginjakkan kaki di rumah itu, selalu menatapnya dengan cara yang membuatnya ingin bersembunyi di bawah tempat tidur. Namun Devan tidak bicara saat melangkah perlahan mendekati Renata yang beranjak dari duduk terburu-buru. Ketukan sepatu pantofelnya bergema di ruangan sunyi itu dan berhenti tepat di belakang Renata, menggantikan posisi ibunya. "Kau tidak seharusnya ada di sini," peringat Renata dengan tubuh membeku, melihat mata gelap Devan menelusuri tubuh Renata begitu dekat. Mulai dari bahu yang terbuka hingga pinggangnya yang ramping. "Bidadariku sangat cantik hari ini," bisik Devan dengan suara berat, dengan nada tidak wajar. "Terlalu cantik bersanding untuk pria impoten seperti Julian." Tubuh Renata menegang saat merasakan jari besar Devan menyentuh bahunya yang terbuka. Sentuhan itu dingin, namun terasa membakar kulitnya. "Pergilah, Dev. Upacara pernikahanku akan dimulai lima menit lagi!" usirnya halus. "Upacaramu resmi menjanda, maksudmu?" kekeh Devan. Renata membelalak. Tapi tangan Devan dengan cepat turun ke arah punggung Renata yang terekspos karena model gaunnya yang rendah. "Ckk! Renata... Julian tidak akan pernah menyentuhmu. Beda denganku ..." Devan mendekatkan wajahnya ke leher Renata yang tersengal napas. Menghirup aroma citrus yang melekat, hingga Renata gelisah merasakan napas panas pria tampan itu. "Jangan lancang, Dev! Aku ini adik tirimu!" peringatnya dengan berusaha kabur, tapi Devan menahan pinggangnya agar bisa dipeluk. "Adik tiri? Tidak. Kau tetaplah gadis desa yang aku inginkan sejak pertama kali melihatmu turun dari bus dengan baju loakmu itu," bisik Devan posesif. Renata meronta. "Lepaskan aku!" "Oke, tapi ingatlah Renata. Jika malam nanti kau kedinginan di ranjang, telepon aku dan aku akan datang menjadi selimutmu." "Kau gila!" Devan tersenyum miring melihat reaksi marah Renata yang menggemaskan, saat ia melepas tangan dari pinggang ramping itu sebelum berbalik pergi. Renata gemetaran hebat, merasa dikelilingi oleh monster. Ayah yang tega menjualnya, Ibu tiri yang mengancam nyawa sang nenek, Kakak tiri yang terobsesi padanya dan sebentar lagi ... ia akan hidup dengan suami misterius dan berbahaya. "Aku tidak boleh lemah begini." Sesaat Renata menarik napas panjang, menenangkan diri dan menatap pantulannya sekali lagi. Tidak, bekas tamparan di pipinya yang merah harus segera ditutupi. Dengan gerakan amatir Renata menutup bekas itu, mengaplikasikan ulang bedak dengan gemetaran. Selesai. Bertepatan setelah itu Aliyah, pelayan yang khusus mendampinginya selama tinggal di kediaman Doe mengetuk pintu. "Nona Renata, sudah saatnya." Renata berdiri. Ia mengangkat dagunya tinggi saat keluar menuju altar, disambut Aliyah yang mengangkat ekor gaunnya yang panjang. Melewati lorong gereja yang dipenuhi orang-orang penting yang menatapnya penuh penilaian. Sementara itu di depan Pendeta, berdiri seorang pria tinggi dengan aura begitu mendominasi hingga udara di sekitarnya terasa menipis. Tidak salah lagi, itu pasti Julian. Renata baru pertama kali mengetahui wajahnya dengan jelas. Pria itu tidak tersenyum. Matanya tajam seperti elang menatap Renata yang berada di sampingnya. Bukan sebagai pengantin wanitanya, melainkan seperti musuh yang harus diwaspadai. "Mulai saja, Pendeta!" suruh Julian yang terkesan dingin. Renata terpaku mendengar Julian mengabaikan kesakralan pernikahan mereka, yang dijalani hanya demi misi politik. Detik berikutnya, Julian meraih tangan Renata untuk menyematkan cincin, ia merasakan dingin luar biasa, bukan karena AC gereja melainkan aura Julian. "Lalu sekarang cium istrimu, Tuan Julian!" Pendeta memberi aba-aba dengan tersenyum. Jantung Renata seolah berhenti saat mata mereka berdua bertemu, walau dibatasi veil dia bisa melihat jelas tatapan Julian yang sulit ia deskripsikan. Seketika mengingatkannya ucapan terakhir Devan di ruang rias. 'Kalau Julian mau menciumku, berarti rumor kalau dia impoten adalah bohong!'Meanwhile, at the waterfall grotto, the twins had completely sealed the dungeon door. Since the dungeons of the stone manor were carved entirely from rock, they were sure Liam couldn't escape. But their real fear was him shattering the steel door into pieces.Rai stood right behind them, watching with a growl."How much time do you think we have left?" he asked.Alex looked at the deep claw marks on Axel's chest with worried eyes."We have a lot of work to do, but I don't think we have much time, boss. Even one of his claws is enough to tear us apart right now," he grumbled.Rai understood the severity of the situation. He had to act according to the worst-case scenario left to him."Alright, we have no guardian, no witch, no Alpha. There's only one thing left for us to do, children," he said.Alex and Axel turned their gazes to him. The twins had always shown Rai great respect. No matter how much they acted playful, careless, or sarcastic, being part of this pack had always made them
Elly stood between the two Alphas, her patience wearing thin from their competitive glares."Enough! Stop this nonsense. I'm going to figure out what 'the firstborn's claw' actually means. You two behave yourselves," she said. She turned her back and headed for the books.Kael's eyes were locked on Joe's. His teeth were clenched, a low growl rumbling in his chest.Joe, meanwhile, had his back against the wall, arms crossed over his chest, speaking calmly."I knew you were old, but I didn't expect this much," he said.Kael's eyes narrowed. He was annoyed by Joe's empty talk, but he didn't care enough to waste a reply on him.Joe continued, laughing."Should we call you grandpa now? Or maybe uncle?"Kael shook his head and looked away, as if to say, "What is this idiot talking about?"But Joe had no intention of stopping. Shamelessly, he burst out laughing."And on top of that, you married a hot twenty-six-year-old. Good for you, grandpa!"Kael closed his eyes. He was growling with irri
Kael was running through the forest in his wolf body, heading toward Elly's mountain house. But as he got closer, he realized he couldn't smell Elly's scent nor feel her guardian power. He understood that she wasn't there.The only place that came to his mind where he could find Elly was Eva's mountain house. He quickly changed direction and headed there.Meanwhile, Joe had met with Nancy and learned that everything was fine. After that, he had returned to Elly's side. Joe got out of the car and was about to enter Eva's house when he felt the presence of an ancient wolf behind him. He knew Kael had arrived.Without turning around, he heard Kael's growl."You can't enter that house, bad blood?"There was a questioning expression on his face, but underneath it, a grin was not missing.Joe answered with a smile."As a matter of fact, I managed to enter this mountain house this morning without even realizing it."He approached Kael as he spoke.Kael was surprised."Impossible. Grandmother
Eva had always felt at peace in this mountain house. Even in those first days when she had returned to town, she had never felt truly alone. But now, with the Demon King's return, she felt a void inside her, as if she had lost Kael. She placed her fingertips on the midnight seal on her chest, trying to feel his presence.But one thing she was certain of now: it was time to take the reins. She quickly pulled herself together and got to work.A little later, the inside of the mountain house was dim with the orange glow of the late afternoon sun. Elly had lit the incense and drawn a circle. Eva sat on the floor, cross-legged, her eyes closed. In front of her lay the items from her grandmother's chest: an old bone comb, dried gerbera flowers, and a small crystal vial.Elly sat across from her, holding a rolled parchment. She wet her lips and murmured the ancient guardian spells. But nothing was happening. The seal on Eva's chest remained dull. No purple flames. No wind. Nothing.Asia sat
Elly, grumbling to herself, had found the way to Eva's mountain house. She got out of the vehicle and slammed the door hard."You're also at fault, why are you going to that man's house anyway? Look at what he did to you! Why are you still thinking about him?" she muttered to herself.Then, as she
Elly gripped Eva's hand tightly as they moved through the pitch-black void, their consciousness alert yet unable to see ahead, advancing without direction. She called out fearfully:"Eva, are you still here? I'm scared."Eva responded with a calm but determined voice:"Yes, I'm here. Try to feel my
Eva was slowly emerging from the depths of darkness into the light. Her body was heavy, but at the same time... light. It was as if every cell in her body had been reborn.When she opened her eyes, the first thing she saw was Elly's horrified face."Eva!" Elly's voice trembled. "God... Eva... are
Kael's massive frame tore through the depths of the forest like a storm. His claws shredded the snow-covered earth, branches snapping with each stride as he carved his path forward.Centuries of loneliness and longing had become too heavy to bear. He couldn't lose Eva.Not again, he growled inwardl












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.