LOGINFor three long years, Seraphina "Sera" Vance stuck in a cold contract marriage to New York real estate titan Lucian Vance. Subjected to the public cruelty of his elite family and forced to watch him take care of his sick childhood first love, Seraphina was stripped of her dignity, her freedom, and finally her blood forced to sign divorce papers and undergo a forced bone marrow donation. But when her offshore yacht detonated in the coastal waters of Florida, Seraphina let the world believe that she died in the fire. Two years later, Lucian is a drunk, empty shell of a man, shattered by the horrific truth: his beloved sweetheart framed Seraphina for every scandal. Drowning in gut-wrenching regret, Lucian comes face-to-face with his dead wife at a London summit. She isn't just alive; she is Seraphina Sterling the ruthless, newly revealed CEO of Sterling Global and fiancé to Lucian’s fiercest rival, Julian Sterling. Lucian drops to his knees, offering his entire multi million dollar real estate empire to earn a second chance. But Seraphina isn't interested in his money or his groveling. She has returned to systematically tear down the Vance empire brick by brick. What neither of them realizes, however, is that the real monster pulling the strings, isn't the jealous sweetheart... but someone hiding in plain sight within their own inner circle.
View More"Masa jam segini Tante Aya udah tidur?"
Joni menyapu pandangannya ke sekeliling rumah berlantai dua itu. Satpam yang tadi mengizinkannya masuk sudah tidak kelihatan di posnya. Pemuda itu baru saja menempuh perjalanan 12 jam dengan bus hingga akhirnya tiba di Jakarta. Tepatnya di depan rumah Tante Aya, sahabat mendiang ibunya. Jemarinya yang kasar mengetuk pintu kayu jati itu sekali lagi. Tok! Tok! Tok! Hening. Hanya suara jangkrik dari taman samping dan deru halus angin malam yang menyapa kulit lengannya. Joni menghela napas panjang. Ia merogoh saku celana jinsnya yang sudah memudar, mengeluarkan ponsel dengan layar retak di pojok kanan atas. Jarinya mengusap layar yang meredup, membuka catatan berisi alamat, yang diberikan oleh sang ibu. Alamatnya sudah benar. Tidak ada yang salah. Joni baru saja membalikkan badan, berniat berjalan keluar dari halaman menuju jalan utama untuk mencari warung atau masjid terdekat guna menumpang tidur malam ini, ketika sebuah suara daun pintu yang terbuka terdengar pelan di belakangnya. Sebelum Joni sempat menoleh sepenuhnya, dua lengan halus dan hangat mendadak melingkar dari belakang, mengunci pinggangnya dengan erat. Deg! Sensasi lembut yang tak asing bagi insting seorang laki-laki menyentuh punggungnya secara penuh. Kenyal dan padat. Aroma wangi yang menggoda, campuran antara bunga melati malam dan vanila yang mahal, langsung menusuk indra penciumannya, begitu memabukkan dan pekat. "Kok baru pulang, sih, Mas? Kamu tahu nggak aku nungguin dari tadi sampai ketiduran?" suara itu berbisik sangat dekat di tengkuknya. Desahan napasnya hangat, menerpa leher Joni dan mengirimkan sengatan ke seluruh saraf di tubuhnya. Joni membeku seketika. Tubuhnya menegak kaku seperti patung. Lengan halus itu makin mengerat, lalu jemari dengan kuku bercat merah menyala bergerak perlahan naik ke dada Joni, meraba kain kaus tipisnya yang lembap oleh keringat. "Mas jahat banget... Bilangnya cuma sebentar, tapi jam segini baru nyampe. Niat banget bikin aku kangen, ya?" bisikan itu berlanjut, diikuti kekehan manja yang terdengar amat sensual. Bagian depan tubuh wanita itu menempel makin lekat ke punggung Joni, memberikan kehangatan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Joni menelan ludah dengan susah payah. Jakunnya naik turun. Jantungnya mendadak berdegup kencang, menghantam dadanya seperti genderang perang. Sebagai pemuda 20 tahun yang besar di desa dan hanya pernah melihat wanita dengan pakaian daster longgar atau pakaian kerja di ladang, situasi ini benar-benar menghantam akal sehatnya. Ia mencoba bersuara, tetapi tenggorokannya mendadak terasa sekering padang pasir. "Anu... Ma-maaf..." Saat kata itu terucap, gerakan jemari wanita di dadanya terhenti seketika. "Lho??" Suara Joni yang berat, sedikit serak, dan jelas bukan suara suaminya membuat wanita itu sadar. Dengan cepat, ia melepas pelukannya dan mundur dua langkah. Joni buru-buru memutar tubuhnya. Dan saat pandangannya jatuh pada sosok wanita di depannya, napasnya seolah tertahan di dada. Bayangan Joni tentang Tante Aya, sahabat lama ibunya, adalah sosok wanita paruh baya berwajah teduh, mungkin dengan rambut yang mulai beruban dan pakaian ibu-ibu rumah tangga pada umumnya. Namun, wanita yang berdiri di depannya sekarang benar-benar meruntuhkan semua ekspektasinya. Aya berdiri di bawah pendar remang lampu teras. Ia mengenakan gaun malam bahan sutra berwarna merah marun yang amat tipis dan jatuh pas memeluk lekuk tubuhnya. Pakaian itu memiliki potongan leher V-neck yang cukup rendah, mengekspos tulang selangka yang tegas serta belahan dada yang begitu mengundang. Tali gaunnya yang tipis menopang bahu mulusnya yang terbuka bebas tanpa halangan. Rambut hitamnya yang bergelombang dibiarkan terurai berantakan secara alami, jatuh melewati bahu dan membingkai wajah cantiknya yang tampak matang. Kulitnya putih bersih, tampak begitu kontras dengan warna gaunnya. Di usianya yang hampir berkepala empat, tidak ada tanda-tanda penuaan yang berarti. Yang ada justru aura keanggunan wanita dewasa yang matang dan penuh pesona sensual yang berbahaya. Aya membeku. Matanya yang lebar menatap Joni dari atas ke bawah. Wajahnya yang tadinya menyiratkan manja mendadak berubah merah padam begitu menyadari siapa yang baru saja ia peluk erat-erat. "K-kamu..." suara Aya tertahan. Tangan kanannya dengan refleks menutup bagian dada atasnya, meski itu tidak banyak membantu menyembunyikan lekuk tubuhnya yang tampak jelas. Joni buru-buru menundukkan kepalanya, mencoba mengalihkan pandangannya dari dada dan juga paha mulus Aya yang tersingkap di balik belahan gaun bawahnya. Pikiran pemuda itu kacau balau. Antara rasa bersalah, canggung, dan dorongan biologis alami laki-laki muda yang mendadak bangkit akibat sentuhan fisik tadi. "Maaf, Tante... Saya... Saya Joni," kata Joni cepat-cepat, suaranya agak bergetar. "Joni, anak Bu Jena." Mendengar nama itu, ekspresi terkejut di wajah Aya perlahan melunak. Matanya mengerjap beberapa kali, mengamati wajah pemuda bertubuh tegap dan berparas polos yang ada di hadapannya. "Joni? Anak... Jena?" gumam Aya. "Iya, Tante. Ini... saya bawa surat dari Ibu sebelum Ibu meninggal." Joni merogoh saku jinsnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang sedikit kumal dan menyodorkannya dengan tangan yang agak gemetaran. Aya menatap amplop itu, lalu menatap Joni lagi. Perlahan, senyum canggung terbit di bibirnya yang teroles lipstik tipis. Kejadian konyol dan memalukan barusan tampaknya mulai menguap, berganti dengan rasa geli dan haru. Aya tidak langsung mengambil surat itu. Sebaliknya, ia melipat kedua tangannya di dada. Gerakannya justru semakin mempertegas lekuk tubuh bagian atasnya, lalu ia melangkah mendekat satu langkah. "Astaga... Joni?" Aya terkekeh pelan. Suaranya kembali terdengar santai, seperti berniat menutupi rasa malunya sendiri. "Terakhir Tante lihat kamu itu waktu kamu masih SD, pendek, dan sering ingusan. Sekarang... kok bisa jadi setinggi ini?" Aya mendongak sedikit untuk menatap mata Joni. Jarak mereka kini hanya terpaut setengah meter. Aroma wangi dari tubuh Aya kembali berembus menguasai indra Joni, membuat pemuda desa itu makin serba salah. Joni hanya bisa menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. "I-iya, Tante... Udah lama nggak ketemu ya." Aya menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu tertawa kecil yang terdengar sangat merdu di telinga Joni. "Dan Tante malah main peluk aja dari belakang... Ya ampun, Tante pikir kamu Om Rama. Lagian kamu diam aja lagi pas Tante megang-megang tadi. Suka, ya?" Aya mengedipkan sebelah matanya secara spontan, sebuah godaan kecil yang murni keluar karena sifat dasarnya yang jahil ketika mencoba mencairkan suasana canggung. Kata-kata itu sukses membuat wajah Joni terasa panas terbakar. "N-nggak gitu, Tante! Saya cuma kaget..." Aya tertawa lagi. Kepolosan dan kepanikan pemuda desa di depannya ini menurutnya sangat menggemaskan. Ia lalu mengulurkan tangan dan mengambil amplop cokelat dari tangan Joni. Sentuhan singkat jemari lembut Aya pada kulit tangannya membuat Joni lagi-lagi menahan napas. "Ya udah, masuk dulu. Kamu pasti capek abis perjalanan jauh," ucap Aya lembut. Ia berbalik badan, membelakangi Joni untuk berjalan masuk ke dalam rumah. Saat berjalan, gaun sutra tipis itu bergerak mengikuti lekuk pinggulnya yang indah, memperlihatkan bayangan punggung mulusnya yang hampir terbuka sepenuhnya. Joni yang berjalan di belakangnya terpaksa terus menundukkan kepala, memfokuskan pandangannya hanya pada lantai marmer rumah tersebut agar pikirannya tidak melayang ke mana-mana. "Kamar kamu di lantai satu, sebelah kiri," ujar Aya sambil menunjuk sebuah pintu kayu di dekat area tangga. "Tante mau ganti baju dulu sebentar. Nanti kita bicara lagi, ya." "Baik, Tante. Terima kasih." Aya berjalan naik ke lantai dua dengan langkah anggun. Sementara Joni berjalan masuk ke dalam kamar yang ditunjukkan. Begitu pintu kamar tertutup rapat, Joni menyandarkan punggungnya di pintu. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mengusap wajahnya yang masih terasa panas. Dadanya masih berdebar kencang. Bayangan sentuhan lembut, aroma wangi, dan lekuk tubuh wanita 37 tahun itu seolah melekat di ingatannya, menolak untuk hilang. ‘Dia sahabat Ibu, Joni... Inget, dia udah punya suami,’ batin Joni keras-keras pada dirinya sendiri.Seraphina Vance’s POV Code CrimsonThe ceiling was a blur of harsh, industrial white squares.Every time my eyes tried to focus on the plastic grid above me, the fluorescent lights burned through my retinas, leaving long, weeping trails of green and yellow in the dark corners of my vision. The anesthesia had dragged me down into a deep, suffocating trench, but it hadn't taken the pain away. It had only stolen my ability to scream.I was lying face down on a stainless steel surgical table. My forehead rested in a hollow foam ring that smelled faintly of old sweat and iodine. A heavy, coarse sheet was draped over my lower back, leaving my hips completely exposed to the bitter draft circulating through the room.Run, Lucian had whispered.The memory of his voice echoed in my head, distorted, sounding as if it were bouncing off the walls of a deep well. “The plane isn't taking you to Switzerland”.I tried to move my toes. Nothing happened. My legs felt like massive sacks of wet s
Seraphina Vance’ POV ‘Cold Steel’The air inside Surgery Prep Room 4 didn't feel like oxygen. It felt like aerosolized bleach, biting at the back of my throat, sharp and chemical, stripping away whatever warmth was left in my chest.I sat rigid on the metal edge of the prep table, my bare thighs pressed against the disposable paper sheet that crinkled loudly with every shallow breath I took. The thin, faded hospital gown offered no protection against the draft pushing through the industrial ventilation grates. I was cold, a bonedeep, marrow freezing cold that had nothing to do with the thermostat and everything to do with the man standing five feet away.Lucian stood framed by the glare of the corridor lights, his back pressed against the heavy double doors.His tailored jacket was gone. His white dress shirt was wrinkled, the top two buttons undone, revealing the hollow base of his throat where a pulse should have been hammering. But he didn't look frantic. He didn't look like a
Seraphina Vance’s POV ‘Price of Admission’The glass doors of the penthouse study clicked shut behind the guards, sealing the room in a heavy, unnatural silence. Outside, the city stretched toward the horizon, an ocean of flickering yellow streetlamps and crawling headlights under a charcoal sky. Inside, the only light came from the marble fireplace and the green glow of a banker’s lamp on the glass desk.Lucian was standing by the huge glass windows, his back to me. His tailored jacket was gone. His white shirt was unbuttoned at the collar, the sleeves rolled twice over his forearms. He held a crystal tumbler, but he wasn't drinking.My knees were shaking from the sedative still lingering in my bloodstream, but I refused to sit. I pressed my back against the heavy mahogany trim of the door frame, using it to keep myself upright. My hand throbbing where the nail had split during my attempt at the rotary phone, an attempt that had yielded nothing but Chloe’s laughing voice on the o
Seraphina Vance’s POV ‘The Bloodline Trap’The smell of antiseptic hit my throat before my eyes could make sense of the fluorescent glare above me. It was sharp, chemical, and suffocating.I pressed my back against the cold glass panel of the observation gallery, staring down into the intensive care unit of St. Jude’s Private Wing. Inside, wires crisscrossed over the frail chest of Chloe, my half-sister. The rhythm of the heart monitor was jagged, spiking with short, frantic beats that set off red warnings on the overhead screens."She collapsed forty minutes ago," my father’s quiet voice echoed behind me.Harrison Vance didn't touch my shoulder. He stood two paces back, his hands clasped behind his tailored coat, staring at the glass as if he were inspecting a failing investment rather than his dying daughter."She was stable yesterday, Harrison," I said, my voice barely a whisper above the low hum of the medical machinery. I was nervous and didn't trust him, so my tummy twiste
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.