Masuk"Kamu baik-baik saja?"Pertanyaan itu menyambut kedatangan Alfa. Begitu pintu dibuka ada Luna yang langsung memeluknya.Pria itu terkejut sesaat, sebelum menggulung senyum. Tangannya balik memeluk Luna yang menenggelamkan diri di dada sang suami."Aku tidak apa-apa, Nyonya.""Lalu orang itu. Aku yakin Kaisar memberitahumu soal mereka.""Ya, aku tahu. Kami sudah menanganinya. Menghukum dalangnya.""Siapa?" Luna terkejut ketika Alfa mengetahui siapa pelaku penyerangan padanya. "Coba tebak," tantang Alfa."Kalau benar aku kasih hadiah," lanjut sang suami sambil tersenyum."Memangnya apa hadiahnya. Aku punya semuanya."Alfa tepuk jidat. Istri punya segalanya susah. Tidak punya apa-apa juga jadi runyam. Tidak bisa disogok."Jawab saja dulu."Kata Alfa seraya melepas kemeja yang tadi dia pakai. Dalam sekejap, tubuh atletis Alfa terpampang di depan Luna.Netra Luna melebar. Air liurnya nyaris menetes melihat betapa seksi dan menggodanya sang suami. "Malah melototin orang. Kenapa? Mau?" God
"Nan!" Alfa berlari ke arah Nan yang berusaha duduk. Walau dia terluka. Alfa tahu, Nan menanggung lebih banyak cidera dibanding dirinya."Saya ndak apa-apa, Gusti.""Sebenarnya apa yang terjadi?" Alfa panik melihat keadaan Nan dan penjaga kakeknya."Saya tidak tahu bagaimana. Tapi Suhar berhasil mengumpulkan banyak jiwa. Di dalam sana bukan cuma Suhar. Tapi ada banyak. Tak terhitung. Kirno dalam bahaya. Tubuh manusianya tidak akan kuat menahan jiwa sebanyak itu.""Apalagi mereka kelaparan semua." Nan menambahi penjelasan penjaga Hadiwijaya."Mereka jadi beringas karena tahu Nan mendapat darah emas. Kami beruntung bisa lolos dari sana. Tapi Kirno, kita tidak tahu."Alfa menggeram marah. Dia berjalan menuju Kirno yang masih berkelahi dengan Biru."Suhar!"Biru terlempar. Dengan Kirno langsung menoleh pada Alfa. Seringai mengerikan muncul di wajah Kirno yang pucat.Alfa tahu Kirno tidak akan bertahan lama. Saat Alfa bersitatap dengan mata Kirno. Dia terkejut kala dia bisa mendengar suar
Namun Alfa merasa ada yang tidak beres dengan perkataan kakeknya. "Nan, memangnya apa yang terjadi?"Alfa bertanya melalui pikirannya. "Kami masih menyelidikinya, Gusti," balas Nan tak lama kemudian.Alfa coba menenangkan diri. Di depan ada ada Kirno yang duduk bersila. Bola matanya memandang ke satu titik. Menatap ke arah Alfa.Insting Alfa mengatakan Kirno atau siapapun itu tengah membidiknya."Kung, dia menginginkanku," bisik Alfa."Tidak heran. Darahmu masih jadi incaran. Keturunan pertama, laki-laki. Lahir tepat di bulan purnama bula Suro. Weton Seloso Kliwon.""Angker, Mas," seloroh Kaisar."Dan kau, kau kira kau tidak angker. Lahir pas gerhana matahari."Alfa ingin meledakkan tawa. "Ngatain orang, padahal dia sendiri sama wingitnya."Kaisar mencibir. "Tapi, Kung. Penjagaku mana, Mas Alfa sama Kakung punya. Aku?""Adalah, asal kamu panggil. Pasti datang.""Ciyus? Beneran?"Tingkah Kaisar sungguh seperti bocah. Dibandingkan dengan usia dewasa yang disandangnya."Makanya cobain.
Siska terhuyung ke belakang. Nyaris ambruk jika tidak tertahan kursi. Fakta menyakitkan juga mengerikan menamparnya berulang kali.Kenyataan kalau Luna adalah istri Alfa membuat Siska kaget luar biasa. Pria di depannya tidak menyangkal ketika dia menyebut Luna istrinya. Artinya semua itu benar."Tidak! Itu tidak benar!""Perlu aku tunjukkan foto nikah mereka. Pingsan kau nanti!" Cibir Kaisar merasa iba sekaligus tidak habis pikir dengan kelakuan Siska.Ada wanita yang begitu terobsesi pada seorang pria. Tidak peduli jika statusnya adalah suami orang."Jadi mulai sekarang, jauhi Luna." Alfa memperingatkan."Dia tidak akan kapok, Mas. Matanya saja bilang, dia akan cari cara untuk melenyapkan Mbak Luna."Siska menggeram. Dia benci ketika Kaisar bisa membaca isi pikirannya."Ada saran?" Alfa bertanya tanpa mengalihkan fokusnya dari Siska."Tentu saja ada. Ingat kasus Rina. Kasih saja ke dia. Rina sudah pergi dan bertobat. Biarkan dia hidup tenang di kampung.""Tidak! Kau tidak bisa melak
"Dia di mana?"Seorang pria membuka jalan bagi Alfa. Pria itu sedang berada di sebuah klub malam. Bersama Kaisar, dia berniat menyelesaikan masalah tadi sampai akar.Seperti rencana mereka.Tak berapa lama, mereka diarahkan ke lantai tiga Di mana mereka bisa melihat sebagian besar aktivitas lantai di bawah mereka."Itu dia, Gusti." Kaisar dan Alfa memicingkan mata. Menembus kepulan asap dan remang lampu. Mencoba memindai target mereka."Kamu tidak mual?" Tanya Alfa seraya memindai mangsanya."Anggap saja alkohol rumah sakit.""Dokter sepertimu akan aneh berada di tempat ini.""Asal jangan bilang-bilang. Aman," cengir Kaisar dari balik masker.Alfa tersenyum tipis sebelum melangkah menuju sasaran mereka."Mas, kamu dulu sering ke tempat seperti ini. Bagaimana rasanya?" Kaisar mengekor bak anak ayam mengikuti induknya."B aja," balas Alfa santai."Ngapusi! B aja kok ketagihan. Sampai Mbak dulu benci setengah hidup.""Meneng! Diam. Mending kamu pikirkan cara supaya penyamaranmu tidak te
"Kami ada urusan sama kamu.""Urusan apa? Katakan siapa yang menyuruh kalian!"Luna maju tanpa takut. Walau dua orang di depannya berwajah sangar dengan tubuh tinggi besar. Dia sudah pulih total. Bisa menghajar sepuluh orang kalau ada."Banyak tanya! Ikut saja!"Luna mundur ketika satu orang coba menangkapnya. Aksi Luna tak ayal memancing kemarahan lawannya."Jangan melawan jika tidak ingin wajah cantikmu babak belur."Luna mendengkus. Wajahnya babak belur. Dua minggu lalu jiwanya yang babak belur. Sekarang cuma diancam pakai wajah. Luna jelas tidak takut sama sekali."Na, serius kamu bisa ngadepin mereka. Aku panggil bantuan ya.""Gak perlu, aku bisa hadapi mereka. Tenang saja.""Sialan! Banyak omong!"Vania melotot ketika dia didorong menepi. Detik setelahnya perkelahian seru pecah di tepi jalan. Sejumlah pejalan kaki seketika berhenti untuk menonton adegan yang biasanya cuma ada di drama.Luna dengan lihai membalas tiap serangan yang datang padanya. Kali ini Luna akan buktikan jik
"Lama amat," protes Rina yang akhirnya memesan bakso lebih dulu karena kelamaan menunggu Luna. "Pak dosen banyak tanya." Luna menggertakkan gigi. Ingat bagaimana dia berakhir menindih tubuh Alfa. Dengan lelaki itu tersenyum puas. Tangan Alfa bertengger manis di pinggang Luna kemudian turun menje
Luna mengepalkan tangan di bawah meja. Jantungnya berdegup kencang laksana genderang perang yang ditabuh bertalu-talu. Kemarahannya memuncak. Kenapa juga dia harus bertemu mantan menyebalkan itu di sini. "Ya Tuhan, jauh-jauh aku melarikan diri. Kenapa masih juga dipertemukan. Mana jadi dosenku lag
"Dijodohkan? Yang benar saja!" Gerutu Luna sambil mengelap piring yang baru saja dicuci. "Tidak! Itu tidak mungkin. Mana mungkin kami dijodohkan. Kak Rio sama si buaya itu pasti bohong." Luna pilih denial untuk membuat hatinya lebih tenang. Ingatannya kembali ke kejadian dua tahun lalu. Saat Al
"Copet!" Teriakan itu sontak membuat semua kepala menoleh ke arah yang sama. Tak berapa lama sejumlah orang mulai mengejar sesosok pria yang mengenakan kaos hitam dan celana jeans. Laki-laki yang diduga sebagai tersangka pencopet. "Kejar dia! Jangan sampai lolos! Enak saja mencopet di wilayah ki







