LOGIN“Do—dokter Dashel ... ini …," desah Lenora. "Ini apa, hm? Enak?" "Dokter Dashel, ja-jangan! A-ada suamiku." Lenora tak pernah menyangka, atasan baru suaminya datang sebagai tamu kehormatan. Di saat Lenora terjebak dalam pernikahan yang penuh luka dan pengkhianatan, Dokter Dashel hadir, menawarkan kesempatan kedua untuk mengejar mimpi yang telah lama ia kubur. Namun, semakin Lenora menghindarinya, Dashel terus mendekat dan menjeratnya. Haruskah Lenora bertahan demi status sebagai seorang istri... atau memilih kehidupan baru yang penuh godaan dan kejutan?
View More"Kamu tuh boros!" Suara bentakan Enzo berdenging di telinga.
Lenora sampai berjengit mendengarnya dan tangannya yang sedang memegang kain lap gemetar, tetapi ia menahannya. Jangan sampai pria itu, suaminya, melihat kegoyahannya.
“Tapi Enzo. Ibuku lagi butuh uang, untuk beli obat. Tolong izinin aku kerja. Please,” lirih Lenora sembari menatap nanar suaminya tengah mengenakan kemeja hijau muda.
“Nggak! Kamu tetap di rumah! Nggak ada untungnya juga kamu kerja!” cecar pria itu yang selesai merapikan penampilannya. “Sekarang ambil sepatuku yang udah kamu bersihin. Hari ini ada atasan baru, aku harus kelihatan menonjol.”
Langkah Lenora tertatih menuju rak sepatu di sudut kamar. Pandangannya bergerak perlahan mencari sepatu pantofel hitam milik sang suami. Setelah mendapatkannya, ia mendekati Enzo. Namun bukan sekadar menyerahkan, tetapi membantu mengenakannya.
“Ini sudah,” cicit Lenora, mendongak menatap pada pria yang tengah tersenyum melihat penampilannya di cermin.
Enzo lantas mengambil tas kerjanya, lalu meninggalkan Lenora yang berjongkok di lantai. Kala mesin mobil menyala, ia lekas mengejar sang suami.
“Apa lagi? Udah telat, reputasiku bisa rusak karena kamu!” Suara ketus Enzo.
“Enzo, aku mohon. Aku mau kerja supaya dapat uang lebih untuk ibuku,” pinta Lenora lagi, manik hitamnya memandang lekat pada sang suami yang duduk di balik kemudi.
“Berapa kali aku bilang nggak, ya, nggak! Kamu tahu kan tahu sendiri ibuku stroke. Kalau kamu kerja, apalagi pulang malam, siapa yang ngerawat ibuku?!” Pria itu memelotot dengan urat rahang yang mencuat.
Alih-alih menjawab, Lenora terdiam kaku. Mulutnya pun terkatup erat, karena ia sudah tahu apa jawaban suaminya ini. Sudah pasti karena biaya.
“Sewa perawat itu mahal. Inget, aku masih pendidikan dokter spesialis perlu uang banyak. Kita harus hemat! Paham, sana masuk, mandiin Ibu!” titah Enzo, mulai memundurkan mobil, meninggalkan pekarangan rumah minimalis mereka.
Benar bukan? Pria itu memang selalu mempermasalahkan uang. Jika sudah menyangkut masalah satu itu, membuatnya enggan mendebat. Dapat dipastikan ia kalah.
Sepeninggal Enzo, Lenora meratapi isi dompet yang tersisa uang lima belas ribu— sisa untuk hari ini. Ia menghela napas panjang, jangankan mengirim uang untuk orang tua, membeli skincare saja kesulitan. Hanya bisa ia masukkan ke keranjang kuning tanpa tahu kapan bisa memilikinya.
Lenora lantas mengirimkan pesan pada ibunya.
[Maaf, Bu. Aku belum ada uang.]
Setelah selesai memandikan dan menyuapi ibu mertuanya hingga tertidur lelap karena efek obat, Lenora lekas mencuci tumpukan pakaian. Semua ia bersihkan menggunakan tangan, itu perintah sang suami agar kainnya tidak mudah kusam.
Tidak terasa sudah setengah hari ia lewati. Rutinitas ini selalu saja berulang setiap harinya. Tidak ada yang istimewa dari ibu rumah tangga seperti dirinya. Apalagi tanpa anak membuat menit demi menit teramat panjang dan lelah tanpa hiburan.
Mungkin itu yang membuatnya tak kunjung mengandung. Meskipun usia pernikahan mereka telah menginjak tiga tahun lebih. Kelelahan dan stres bisa jadi faktor utama.
Kala tengah merenung sembari mengangkat jemuran yang kering, telepon genggam di sakunya berdering. Buru-buru Lenora menerimanya.
“Ya, halo Enzo?”
“Aku ada berita bagus untuk kamu.”
Lenora sumringah, apakah Enzo akan berubah pikiran? Semoga saja.
“Aku ngundang atasanku ke rumah untuk makan malam. Kamu masak yang enak dan dandan yang cantik! Jangan bikin malu suami!”
Kabar itu melunturkan senyum tipis Lenora dengan cepat.
"Masak yang enak? Tapi uangnya sisa lima belas ribu. Tadi pagi kan dipotong beli sayur bening sama popok Ibu, sisanya cuma segini." Intonasi Lenora terdengar pelan.
“Sisa lima belas ribu? Aku kasih kamu lima puluh ribu. Harusnya sisa banyak! Kalau kamu masak menu biasa, nanti atasanku nggak terkesan!” cecar Enzo lagi.
“Ya, itu sisanya. Aku juga udah sehemat mungkin. Tapi sekarang apa-apa mahal, Enzo.” Lenora berusaha menjelaskan, berharap sang suami paham.
Helaan napas panjang terdengar dari dalam telepon genggam.
"Tabunganku kepakai buat biaya ujian semester ini, Lenora! Limit kartu kreditku juga habis. Ajuin pinjaman online sekarang, pakai nama kamu dulu!"
“Aku nggak mau! Kapok gali lobang tutup lobang. Nanti aku diteror dept collector lagi.” Genggaman Lenora pada ponselnya mengeras.
Sungguh ia tak ingin kejadian menyeramkan itu terulang kembali. Sudah cukup!
“Kamu bantah suami?” Suara Enzo melunak. "Ini demi masa depan kita, Sayang. Kalau sambutan di rumah bagus, karirku di rumah sakit makin mulus. Kamu mau kan punya suami sukses?" tekan pria itu, seolah memiliki seribu satu cara.
Telapak kaki Lenora yang terbingkai sandal jepit bergerak-gerak di atas rumput. Bola matanya terputar ke samping. Hening sejenak, tak ada percakapan di antara mereka.
“Ya, udah. Aku ajukan dulu.” Akhirnya jawaban bernada lirih itu keluar dari bibir Lenora.
“Terima kasih, Sayang. Hari ini aku pulang cepat. Kita sambut atasanku ini bersama.”
Panggilan suara yang tak diinginkan itu terputus sepihak.
Lenora menatap sendu pada aplikasi pinjaman online. Perasaan hina yang luar biasa membakar dadanya. Ia seorang mantan mahasiswi kedokteran yang dulu berprestasi, tetapi harus menanggung utang berbunga mencekik hanya demi memenuhi gengsi suaminya. Dengan napas sesak dan mata berembun, ia memejamkan mata rapat-rapat lalu menekan layar itu.
Notifikasi berhasil.
Lenora memanfaatkan aplikasi belanja online. Ia tak mungkin meninggalkan ibu mertuanya yang sedang terlelap di kamar.
Setelah kurir datang, Lenora memotong sayur dengan tergesa, menumis rempah sambil menyapu lantai, hingga menyempatkan diri mengganti gorden ruang tamu yang kusam. Setiap detik yang berlalu menguras habis sisa tenaganya.
Keringat yang menetes membuat kulitnya lengket. Daster-nya pun lumayan basah terciprat air dari sink. Meskipun tubuhnya lelah, Lenora tersenyum puas melihat kerja kerasnya dengan waktu sesempit ini.
“Huh, akhirnya selesai juga. Sekarang tinggal aku yang mandi.”
Lenora melihat jam, sisa waktu satu jam lagi. Pandangannya pun bergeser pada lemari berisi hiasan. Ia menghembuskan napas berat melihat pantulan diri. Cepolan rambutnya berantakan dan daster putihnya basah. Namun baginya masih memiliki waktu untuk mematut diri sebelum menerima tamu.
Lenora hendak ke kamar, tetapi langkahnya terhenti karena bel pintu berbunyi. Tanpa merapikan penampilannya ia berlari kecil menuju pintu utama. Sudah pasti itu Enzo.
Pintu sengaja dibuka lebar.
“Enzo, kam—”
Ucapan itu menggantung. Napasnya terasa sesak dan kerongkongannya mengering. Matanya pun membelalak tatkala melihat pria tinggi dengan kulit putih bersih ada di hadapannya.
“Ka—kamu?”
Pria itu menatap Lenora tanpa berkedip sedikit pun.
Beberapa hari menginap di vila perbukitan terasa menyenangkan bagi Dashel dan Lenora. Mereka bisa menikmati waktu berdua, jauh dari kesibukan sehari-hari. Namun, sesekali, perhatian mereka tetap tertuju pada Liam, Lucas, dan Lily yang tidak ikut dalam perjalanan itu.Akhirnya, Dashel dan Lenora sepakat untuk menjemput anak-anak. Mereka ingin menghabiskan sisa waktu liburan bersama, kali ini dengan keluarga lengkap.Pagi di akhir pekan pun terasa hangat.Di dapur, Dashel berdiri di depan kompor dengan celemek hitam terikat di pinggangnya. Ia sibuk menyiapkan nasi goreng untuk sarapan, sesekali melirik ke arah ruang keluarga.Dashel tersenyum kecil. Ia tidak pernah menyangka hal sesederhana itu bisa membuatnya merasa begitu bahagia.“Anak-anak, Lenora! Sarapan sudah siap!”“Yeay! Nasi goreng Papa!” Lucas langsung berdiri dan berlari menuju meja makan.“Jangan lari-lari. Nanti jatuh,” tegur Lenora.“Iya, Mama!” jawab Lucas, meskipun langkahnya tetap saja terburu-buru.Liam menyusul adikny
Dua tahun akhirnya berlalu. Bagi Lenora dan Dashel, waktu itu terasa panjang karena mereka harus menjalani hubungan jarak jauh, mengatur jadwal untuk bertemu, dan menahan rindu setiap kali akhir pekan berakhir. Namun, hari ini semua perjuangan itu terbayar. Di aula universitas di Semarang, Lenora berdiri anggun mengenakan kebaya. Senyum bahagia tak pernah lepas dari wajahnya ketika namanya dipanggil dalam prosesi sumpah dokter. Setelah menyelesaikan masa koas dan lulus ujian profesi, akhirnya ia resmi menyandang gelar dokter umum. Begitu acara selesai, Lenora segera mencari keluarganya di antara para tamu. Matanya langsung menemukan Dashel yang berdiri tak jauh dari pintu keluar, membawa buket mawar putih berukuran besar. Belum sempat ia menghampiri suaminya, Liam, Lucas, dan Lily sudah berlari lebih dulu. “Selamat, Dokter Mama!” seru ketiganya bersamaan. Lenora tertawa haru. Ia berjongkok, lalu merentangkan tangan untuk menyambut ketiga anaknya. “Aduh, sini peluk Mama. Kalian bik
Suara mobil Dashel terdengar memasuki halaman kediaman Bradley. Pria itu baru saja pulang dan langsung tersenyum membayangkan bisa bertemu Lenora. Ia tahu istrinya sudah kembali dari Semarang hari ini, jadi ia sengaja menyempatkan diri pulang lebih awal.Namun, senyumnya perlahan menghilang begitu memasuki ruang tengah.Ada yang tidak beres.Lenora berdiri di dekat tangga dengan wajah pucat dan mata sembab. Sementara itu, Dewi terlihat mondar-mandir sambil menelepon seseorang. Keduanya tampak begitu cemas hingga tak menyadari kedatangan Dashel.“Kenapa? Ada apa ini?” tanya Dashel sambil menghampiri mereka.Lenora langsung menoleh. Begitu melihat suaminya, ia bergegas mendekat dan mencengkeram lengan Dashel.“Dash, Lily nggak ada!”Dashel terdiam sesaat, seolah perlu memastikan dirinya tidak salah dengar.“Maksud kamu, Lily di mana?”“Nggak tahu!” jawab Lenora dengan suara bergetar. “Aku sudah cari ke semua kamar, ruang bermain, sampai halaman belakang. Tapi dia nggak ada. Liam sama Lu
Lenora berjalan mengikuti Dashel menyusuri koridor hotel berbintang di pusat kota Semarang. Sejak tadi, pria itu tak melepaskan genggaman tangannya sedikit pun.Begitu mereka masuk ke kamar dan pintu tertutup, Dashel langsung merengkuh pinggang istrinya, menariknya mendekat hingga tak ada lagi jarak di antara mereka.Lenora terkekeh, lalu menyandarkan kepala di dada suaminya.“Dash, kamu benar-benar nekat. Jauh-jauh datang ke sini cuma buat jemput aku.”Dashel menunduk, menatap wajah wanita yang sudah lima tahun mengisi hatinya itu.“Aku sudah menunggu lebih dari lima tahun sampai akhirnya bisa menikahi kamu. Setelah itu, aku masih harus menjalani seminggu penuh cuma dengan melihat wajahmu lewat layar ponsel.” Ia mengusap pinggang Lenora pelan. “Menurutmu, aku masih sanggup bersabar lebih lama?”Lenora tersenyum malu. Tatapan mata hazel Dashel membuatnya sulit membalas ucapan pria itu. Ada begitu banyak kerinduan yang tersimpan di sana, dan Lenora tahu dirinya pun merasakan hal yang s












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore