MasukLuna patah hati, sepatah-patahnya. Pada pria yang sudah enam bulan jadi kekasihnya. Tapi sudah lebih dari tiga tahun jadi crush-nya. "Sorry Na, kamu masih terlalu muda untukku. Kamu tahu, aku perlu seorang wanita dewasa yang mampu mengimbangiku." Sakit hati, Luna memilih melarikan diri. Meninggalkan kuliah, memulai lagi di tempat lain. Setahun berlalu, Luna yang mulai bisa menata hati dan diri, justru dikejutkan dengan kehadiran sang mantan yang dia mati-matian hindari. Tidak terduga, mantan Luna muncul sebagai dosen di kampus Luna. Apa yang akan terjadi jika sang mantan sekarang balik mengejar Luna ugal-ugalan. Bahkan mengusulkan sebuah rencana yang membuat Luna ingin menghabisi nyawa mantannya. "Maafkan Papa, Na. Tapi kamu harus menikah dengan Alfa." Mari nikmati jungkir balik dunia Luna yang dijodohkan dengan mantan paling menyebalkan.
Lihat lebih banyak"Copet!"
Teriakan itu sontak membuat semua kepala menoleh ke arah yang sama. Tak berapa lama sejumlah orang mulai mengejar sesosok pria yang mengenakan kaos hitam dan celana jeans. Laki-laki yang diduga sebagai tersangka pencopet. "Kejar dia! Jangan sampai lolos! Enak saja mencopet di wilayah kita!" Seru seorang pria yang sepertinya kepala keamanan di tempat itu. Di antara kelompok pengejar tadi ada satu gadis dengan rambut digulung yang ikut mengejar si pencopet. Luna, nama gadis itu. Dia geram melihat aksi si pencopet. Pasalnya dia hampir jadi korban. Tapi dia berhasil menghindar. Sekarang si copet malah menargetkan orang lain. "Mbak kita kepung aja dia. Biar gak bisa lari." Satu pria di samping sang gadis menyarankan. Anggukan kepala jadi tanda persetujuan. "Saya ke kiri, Bang. Jalan ini mengarah ke Gang Botak." Mereka berpisah arah. Luna berbelok di sebuah gang. Luna akan menyergap si copet dari arah berlawanan. Luna terus berlari, dari kejauhan dia bisa mendengar kegaduhan mulai mendekat. Sudut bibirnya tertarik. Sebentar lagi, katanya dalam hati. Gang Botak lumayan ramai. Banyak pedagang menggelar dagangan mereka di sisi kiri dan kanan jalan. Mata Luna memicing, hingga dia melihatnya. Seorang pria berkaos hitam, dengan celana jeans berlari ke arahnya. Wajahnya tertutup masker. Di belakang lelaki itu, ada sejumlah pria yang berlari sambil menunjuk-nunjuk. "Dia pasti copetnya!" Ucap Luna penuh keyakinan. Lelaki itu menghindari Luna yang berdiri di tengah jalan. Saat itulah, Luna meraih bahu sang pria. lalu tanpa ampun menghantam wajahnya. Lantas membantingnya. Rintih kesakitan terdengar. Luna dengan bangga menahan tubuh lelaki tadi yang kini terkapar lantai semen. "Bang saya dapat copetnya!" Jerit Luna kegirangan. "Saya bukan copet!" Teriak sang lelaki tak terima. "Alah, kamu diam saja. Copet mana ada yang ngaku." Luna menekan punggung sang pria. "Bukan dia, Mbak. Copetnya itu!" Seorang bapak buru-buru menunjuk satu pria yang kini digelandang warga dengan wajah babak belur. Astaga! Luna salah tangkap juga salah hajar. Senyum kemenangan Luna pudar seketika. Gadis itu lekas membantu si lelaki yang sempat dia injak punggungnya. "Maaf, Mas. Saya salah paham tadi. Saya kira Masnya copet. Saya akan tanggung jawab. Biaya pengobatan Mas akan saya tanggung." Luna menunduk. Tidak berani menatap sepasang mata yang dia tahu kini menatapnya sangat tajam. Untuk sesaat hanya ada kesunyian di antara mereka. Meski kehebohan jadi latar belakang tempat itu. "Aku tidak kekurangan uang. Tapi kamu memang harus bertanggung jawab." Suara itu! Luna segera mengangkat kepalanya. Jantungnya berdebar begitu bertemu dengan sepasang manik mata kelam. Serta senyum tipis yang tetap menawan seperti biasa. Juga satu wajah yang dua tahun ini mati-matian ingin Luna lupakan. Sang mantan. "Ngapain kamu di sini?" Luna bertanya setelah berhasil meredakan debar jantungnya. Dalam hati muncul rasa bersalah, meski hanya sedikit. Wajah lelaki di depannya memar. Bekas pukulan Luna tadi. Namun di sisi lain ada amarah yang bangkit perlahan. Sudut bibir lelaki itu tertarik. "Cari calon istri." Luna mendengkus. Dia mengedarkan pandangan. "Memangnya ada ya klub malam buka siang-siang begini?" Balas Luna penuh sindiran. "Calon istriku gak dari klub malam. Dia ada di depan aku." Luna terbelalak. "Benarkah? Tapi aku tidak melihatnya. Wanita dewasa seperti yang kamu suka." Gadis itu berbalik. Sakit, perih dan sesak memenuhi dadanya. Sudah selama itu, tapi hatinya ternyata belum move on dari sang mantan. Alfa Taraka Attarazka. "Tunggu dulu, Na. Calon istriku itu kamu!" Luna mematung di tempatnya berdiri. "Anda jangan bercanda, Tuan Playboy." .... "Dia ada di sini, Kak. Aku baru saja ketemu dia." Begitu Luna sampai di kos. Gadis itu langsung menghubungi Rio, sang kakak. "Mungkin dia ada bisnis," balas Rio dari seberang. Walau begitu raut wajah Rio penuh dengan kebimbangan dan ketidakyakinan. Sang ayah baru saja memberitahunya satu kabar yang membuat Rio ingin mengamuk. "Semoga saja. Aku tidak mau berurusan dengan dia lagi. Aku sudah kabur ke sini. Hidup enak di sini. Masak iya aku harus ketemu dia lagi. Capek aku," keluh Luna. Ada jeda sesaat. Dua beradik itu terdiam untuk beberapa waktu. Rio jelas sedang menyembunyikan emosi di hatinya. Dia sudah peringatkan Alfa untuk menjauhi adiknya dua tahun lalu. Rio juga menghajar Alfa hingga babak belur saat itu. Rio pikir semua akan selesai sampai di situ. Tidak tahunya takdir berkata lain. Apa memang harus seperti ini. Tapi bagaimana perasaan Luna nantinya. "Na, Kakak mau kasih tahu sesuatu. Tapi jangan kaget ya," kata Rio sepelan mungkin. "Memangnya ada apa, Kak. Cepetan ya, aku sudah mau ke kafe." Rio mengetukkan jemari di meja. Ritmenya menggambarkan betapa galaunya pria itu. "Na, Papa baru saja bilang kalau kamu sebenarnya sudah dijodohkan dengan Alfa.""Brengsek! Bukannya itu anaknya. Darah dagingnya sendiri. Bagaimana bisa dia marah karena hal semacam ini.""Lagian masalah anak ini sulit. Tidak semua orang diberi kepercayaan untuk memilikinya. Dia sudah dikasih, malah terkesan menolak.""Panutan macam apa itu! Dia ini lebih buruk dari si rektor koruptor. Menelantarkan anak dan istri. Kejam!"Senyum di bibir Rina tak jua menghilang. Dia sejak tadi terus memantau perkembangan grup internal kampus.Di mana saat ini sebagian isinya menghujat seorang Alfa."Kamu akan memohon padaku. Kamu tidak mungkin mau kehilangan reputasimu. Benar tidak, Alfa."Lengkung bibir Rina kian kentara. Dia merasa telah mengambil kendali. Keyakinannya pulih kembal. Alfa akan jadi miliknya.Di tengah kegembiraan kecil yang perlahan tumbuh bak sulur tanaman. Satu pesan terkirim ke nomor Rina.Kesenangan Rina terganggu dengan adanya pesan tadi. Tapi Rina pilih mengabaikannya. "Tidak penting. Siska, Siska, akulah pemenangnya," kata Rina seraya minum jus alpukat.
Kevin menyemburkan tawa sepanjang jalan. Pemuda itu mengiringi Luna ketika wanita itu memilih pergi dari pada diinterogasi."Kesal, Nya. Kok jadi Rina yang naik," ejek Kevin penuh kepuasan.Dia suka melihat wajah cemberut Luna. Juga Luna yang berjalan sambil menghentakkan kaki."Mana aku tahu!""Apa suamimu setuju menikahinya?!" Goda Kevin."Apa dia sudah gila?!" Luna balas berteriak. Dadanya kembang kempis menahan emosi yang serasa membakarnya."Siapa tahu, aku kan nanya."Luna mendadak berhenti ketika dia teringat sesuatu. "Apa Rina sengaja merencanakan ini?"Kevin mengedikkan bahu. "Tidak tahu. Tapi bisa saja dia memanfaatkan situasi. Temanmu tidak bisa diremehkan ternyata."Luna kembali bergerak. Ketika mereka melewati koridor yang sepi. Langkah Kevin dan Luna terhenti kala mendapati dua orang sedang bicara.Dilihat dari gelagatnya, mereka sepertinya sedang ...."Na, itu bukannya Alfa."Luna lekas memicing. "Dia sama siapa?"Kevin lekas menarik Luna ke sudut. Tempat yang cukup dek
Kehebohan kembali melanda kampus tempat Luna mengenyam pendidikan.Dia tidak tahu menahu kalau Alfa telah membuka sedikit tabir pernikahan mereka. Sebab dia tak mengetahui jika Alfa punya akun medsos.Jadi ketika dia melangkahkan kaki di kelas keesokan paginya. Dia langsung dicecar Finda."Ahh, Luna. Ini hari patah hati sekampus."Gadis itu heboh mengejar Luna yang duduk di tempat biasa."Apa lagi sekarang, Nda?" Respon Luna malas-malasan."Lihat nih, lihat."Finda menunjukkan ponselnya. Di mana screen shot postingan akun Alfa jadi trending topik di grup internal kampus."Pak dekan udah sold out!" Kata Finda nyaris menjerit saking antusiasnya.Luna sendiri langsung menarik turun tangannya. Sementara jantungnya berdebar kencang waktu membaca postingan Alfa."To my beloved wife. The one and the only. Till death do us apart. I love you."Caption tadi disertai satu foto berupa dua tangan yang saling menggenggam. Dalam foto itu juga terlihat sepasang cincin pernikahan.Benda yang meski te
Hari pertama Luna kembali ke kampus. Rasanya dia ingin menghajar seseorang. Permintaan Rina sungguh membuatnya marah.Namun di depan perempuan yang sedang mengandung, Luna tak berdaya. Dia tidak tega marah. Apalagi Luna masih mode pura-pura tidak tahu kelakuan Rina di belakangnya.Rina sendiri berpikir, Luna akan bersimpati padanya. Hingga sudi melakukan apapun untuk menolongnya. Padahal aslinya Luna muak setengah mati. Di hadapan Rina, Luna diam saja. Entah mereka masih bisa disebut teman atau tidak. Ketika salah satu menyimpan kebohongan, walau tidak merugikan Luna secara langsung.Begitu Rina berlalu, Luna seketika mengayunkan tinju. Dia lampiaskan kemarahannya pada udara kosong."Brengsek!" Makinya seraya berbalik sambil menghentakkan kaki ketika melangkah.Tujuannya adalah kantor sang suami. Luna memang sudah dikenal kerap dipanggil ke ruangan Alfa. Mereka selalunya menduga jika Alfa sedang menghukum anak didiknya.Tidak ada yang mengira jika hal itu hanyalah kedok untuk menutup
Di tempat lain, seorang pria berperawakan tinggi besar, baru keluar dari air port. Seorang pria mengiringi langkahnya. Kaca mata hitam, sukses menyembunyikan tatapan elang sang pria. "Di mana dia?" "Jadi dosen di kota Yogyakarta." Tawa kecil menyambut jawaban sang asisten. "Main dosen-dosenan rup
Luna mengepalkan tangan di bawah meja. Jantungnya berdegup kencang laksana genderang perang yang ditabuh bertalu-talu. Kemarahannya memuncak. Kenapa juga dia harus bertemu mantan menyebalkan itu di sini. "Ya Tuhan, jauh-jauh aku melarikan diri. Kenapa masih juga dipertemukan. Mana jadi dosenku lag
"Dijodohkan? Yang benar saja!" Gerutu Luna sambil mengelap piring yang baru saja dicuci. "Tidak! Itu tidak mungkin. Mana mungkin kami dijodohkan. Kak Rio sama si buaya itu pasti bohong." Luna pilih denial untuk membuat hatinya lebih tenang. Ingatannya kembali ke kejadian dua tahun lalu. Saat Al
"Copet!" Teriakan itu sontak membuat semua kepala menoleh ke arah yang sama. Tak berapa lama sejumlah orang mulai mengejar sesosok pria yang mengenakan kaos hitam dan celana jeans. Laki-laki yang diduga sebagai tersangka pencopet. "Kejar dia! Jangan sampai lolos! Enak saja mencopet di wilayah ki












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan