Partager

Bab 8

Auteur: Hiro Sayank
last update Date de publication: 2026-10-13 22:55:00

Setibanya di ruang kelas, Embun disambut oleh Prili, satu-satunya teman dekatnya di kampus. Prili juga sering menjadi sasaran perundungan dari mahasiswa lain, dan nasib yang sama itulah yang membuat mereka berdua menjadi akrab.

"Embun! Kamu dicari Bu Fitri. Kamu disuruh ke ruang dosen," kata Prili saat Embun meletakkan tas ransel di atas mejanya.

Wajah Embun langsung berbinar gembira. Ia tahu Bu Fitri ingin membicarakan mengenai beasiswa akademik yang ia ajukan beberapa bulan lalu. "Oke, Prili. Aku langsung ke sana ya!"

Embun berjalan penuh semangat menuju ruang dosen yang terletak di gedung utama fakultas. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, ia melangkah masuk.

"Ada apa, Embun?" sapa Pak Burhan, dosen Sejarah Perkuliahan yang sedang duduk di dekat pintu masuk.

"Saya disuruh Bu Fitri ke sini, Pak," jawab Embun sopan.

"Bu Fitri sedang ke perpustakaan pusat sebentar. Kamu tunggu saja di mejanya," ujar Pak Burhan.

"Baik, Pak."

Embun berjalan menuju meja Bu Fitri yang berada di deretan belakang. Namun, langkahnya melambat ketika matanya menangkap keberadaan Semesta. Mahasiswa itu sedang duduk di meja Bu Anis, dosen wali sekaligus bagian kemahasiswaan, yang letaknya tepat di sebelah meja Bu Fitri. Sepertinya Semesta sedang menerima teguran atas pelanggaran akademis yang ia lakukan.

"Bagaimana? Kamu sudah menyelesaikan tugas pernyataan hukumanmu?" tanya Bu Anis sambil duduk di samping Semesta.

"Belum, Bu. Capek," jawab Semesta santai sambil menyandarkan punggungnya di kursi.

"Capek? Nulis pernyataan begini kamu capek, tapi kalau bikin ulah dan berantem dengan mahasiswa lain tidak pernah capek!" tegur Bu Anis tegas. "Semesta! Kamu harus disiplin kalau masih mau kuliah di sini. Atau Ibu perlu melapor ke orang tuamu kalau kamu__”

Kalimat Bu Anis terhenti ketika Semesta tiba-tiba meraba lengan dosen muda itu. Semesta mendekatkan wajahnya sambil menyangga dagu dengan telapak tangan, menatap Bu Anis dengan pandangan redup.

"Bu Anis bisa marah sama saya?" bisik Semesta pelan.

Bu Anis mendadak terkejut dan tidak mampu berkata-kata. Keberanian dan pesona mahasiswa tingkat atas itu membuatnya tertegun.

"Bu Anis tidak merindukan kegiatan kita yang dulu?" tambah Semesta lagi.

"Aku tidak ingin mengulanginya lagi, Semesta," gumam Bu Anis pelan dengan nada ragu.

Semesta tidak mendengarkan penolakan itu. Ia memindahkan telapak tangannya ke atas paha Bu Anis yang terbalut rok di atas lutut, lalu mengelusnya secara lancang.

Embun yang pura-pura melihat ke arah lain mendadak terbelalak. Dari sudut matanya, ia melihat Bu Anis sama sekali tidak memberikan perlawanan tegas. Dosen muda itu justru tampak kewalahan menahan napasnya saat jemari Semesta bergerak semakin naik menyusuri pahanya.

Bu Anis hanya bisa menggeliat pelan sambil menahan suara desahan agar tidak terdengar oleh dosen-dosen lain yang masih berada di ruangan tersebut.

Embun berusaha keras mengalihkan pandangannya, namun ekor matanya tanpa sengaja kembali melirik. Saat itulah, mata Embun beradu dengan mata Semesta. Semesta menyadari bahwa Embun sedang memperhatikan perbuatannya.

Bukannya panik atau menghentikan aksinya, Semesta justru menyunggingkan senyum menyeringai ke arah Embun. Ia seolah-olah sengaja pamer di depan saudara barunya itu.

Teeeeeeeeeettttt!

Bel tanda masuk jam perkuliahan berikutnya berbunyi nyaring memecah ketegangan. Embun menghela napas lega.

"Kembalilah ke kelas perkuliahanmu," ujar Bu Anis dengan suara gemetar dan napas terengah-engah.

"Lalu hukuman saya?" tanya Semesta.

"Kamu tidak perlu melanjutkannya."

Semesta tersenyum puas. "Inilah yang saya suka dari Bu Anis," katanya sambil berdiri. "Saya kembali ke kelas ya, Bu."

Semesta melangkah pergi meninggalkan ruang dosen dengan raut kemenangan. Embun yang merasa tidak nyaman berada di sana akhirnya ikut keluar. Ia memutuskan untuk tidak menunggu Bu Fitri agar tidak terlambat mengikuti mata kuliah jam pertama pagi ini.

Saat melintasi koridor dekat toilet gedung fakultas, mata Embun kembali menangkap sosok Semesta. Cowok itu sedang berdiri di depan kran air luar. Badannya membungkuk, membilas kedua tangannya di bawah kucuran air.

Namun, gerakan Semesta terlihat aneh. Ia menggosok-gosok telapak tangannya dengan sangat kasar dan berlebihan, telapak tangan yang baru saja ia gunakan untuk menyentuh Bu Anis.

Semesta terus menggosok tangannya hingga kulitnya memerah dan memar, tetapi ia tidak juga berhenti. Air yang mengalir membasahi lengannya. Wajah Semesta menunjukkan ekspresi ketakutan sekaligus kejijikan yang amat sangat terhadap tangannya sendiri.

Embun berdiri terpaku dari jarak jauh. Ia merasa heran dan penasaran melihat kerapuhan serta keganjilan sikap yang ditunjukkan oleh saudara barunya itu.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 8

    Setibanya di ruang kelas, Embun disambut oleh Prili, satu-satunya teman dekatnya di kampus. Prili juga sering menjadi sasaran perundungan dari mahasiswa lain, dan nasib yang sama itulah yang membuat mereka berdua menjadi akrab."Embun! Kamu dicari Bu Fitri. Kamu disuruh ke ruang dosen," kata Prili saat Embun meletakkan tas ransel di atas mejanya.Wajah Embun langsung berbinar gembira. Ia tahu Bu Fitri ingin membicarakan mengenai beasiswa akademik yang ia ajukan beberapa bulan lalu. "Oke, Prili. Aku langsung ke sana ya!"Embun berjalan penuh semangat menuju ruang dosen yang terletak di gedung utama fakultas. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, ia melangkah masuk."Ada apa, Embun?" sapa Pak Burhan, dosen Sejarah Perkuliahan yang sedang duduk di dekat pintu masuk."Saya disuruh Bu Fitri ke sini, Pak," jawab Embun sopan."Bu Fitri sedang ke perpustakaan pusat sebentar. Kamu tunggu saja di mejanya," ujar Pak Burhan."Baik, Pak."Embun berjalan menuju meja Bu Fitri yang berada di deretan

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 7

    "Jangan, Kak! Tolong jangan lakukan itu!" ujar Embun ketakutan. Tubuhnya gemetar hebat."Kenapa lo nggak mau? Seks itu enak. Nanti lo bakal gue buat senang dan ketagihan. Setelah itu, lo pasti pengin lagi," ucap Semesta sambil terus melangkah mendekat. Ia menghimpit Embun hingga punggung gadis itu terbentur meja belajar."Aku nggak mau! Pokoknya aku nggak mau! Aku__" Embun tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Isakannya pecah dan air matanya menetes di hadapan Semesta.Semesta menghentikan gerakannya. Ia mendengus sebal melihat linangan air mata Embun. "Ah, nggak asyik lo! Malah menangis!" katanya sambil menarik diri dan menjauh."Pergi sana! Sebelum benar-benar gue perkosa!" ancam Semesta tajam.Tanpa membuang waktu, Embun berbalik dan berlari keluar dari kamar Semesta. Ia buru-buru masuk ke kamarnya sendiri, mengunci pintu, lalu merebahkan diri di atas tempat tidur. Embun memeluk bantal erat-erat, menahan tubuhnya yang masih bergetar karena rasa takut.***Keesokan harinya, suasan

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 6

    Embun menyelesaikan kegiatannya menata pakaian ke dalam lemari kayu di kamar barunya. Setelah itu, ia menyusun barang-barangnya yang lain: buku-buku literatur perkuliahan, beberapa boneka kesayangannya, dan hiasan kecil di atas meja belajar. Kamar bernuansa merah muda itu kini terlihat semakin hidup dan cantik. Embun merasa sangat puas dan nyaman.Brukkkk!Embun menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk. Rasa lelah setelah seharian melewati kejadian berat di kampus dan proses pindah rumah membuat tenaganya terkuras habis. Ia berniat memejamkan mata sejenak."Pus ... Pus ...!"Sayup-sayup terdengar suara panggilan pelan dari luar. Embun menegakkan duduknya dan menajamkan pendengaran."Pus ... Sini, Pus ...."Suara itu bersumber dari area balkon. Embun beranjak dari tempat tidur, melangkah pelan menuju pintu kaca tebal yang menghubungkan kamarnya dengan balkon luar. Begitu pintu didorong, angin malam yang dingin langsung menyapa kulitnya.Embun mengedarkan pandangan. Di balkon sebelah,

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 5

    "Semesta!" panggil Embun kaget, suara lirihnya refleks terucap begitu menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.Andi yang berdiri di samping mereka mengerutkan alisnya bingung. "Kalian berdua sudah saling kenal sebelumnya?""Kita teman satu angkatan di kampus, Yah," sahut Semesta cepat sebelum Embun sempat menjawab."Oh, ya? Benarkah!" Andi tampak terkejut sekaligus sangat gembira mendengar hal itu. "Bagus kalau begitu! Jadi kalian tidak perlu canggung lagi untuk saling kenal. Oh iya, Embun, bagaimana Semesta kalau di kampus? Dia anak yang baik dan penurut, kan?"Embun mendadak bingung. Tenggorokannya terasa menyempit. Mana mungkin ia berterus terang kepada sang ayah tentang kelakukan buruk Semesta di kampus, mulai dari sering membolos kuliah, menjadi ketua pimpinan organisasi yang paling ditakuti, bertindak sesuka hati, hingga gosip miringnya yang sering bergonta-ganti pasangan mahasiswi."Semesta anak yang baik kok, Yah. Dia mahasiswa teladan di kelas. Ya kan, Mbun?" potong Semest

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 4

    Sebuah sepeda motor berhenti di depan sebuah area indekos. Semesta dan Alin masuk ke dalam salah satu kamar di sana. Begitu pintu tertutup, suasana langsung berubah. Semesta mendaratkan ciumannya di leher Alin, memberikan kecupan-kecupan kecil sambil jemarinya meremas bagian tubuh mahasiswi baru itu di balik pakaian kuliahnya. Alin mendesah pelan, menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Semesta.Namun, di tengah-tengah aksinya, Semesta mendadak menghentikan gerakannya. Ia duduk di tepi kasur, membiarkan Alin yang kini berganti posisi mendekatinya."Pegang punya gue," perintah Semesta pendek.Alin menurut. Jemarinya yang lihai mulai membuka resleting celana Semesta dan melakukan gerakan lembut yang membuat Semesta memejamkan mata. Selama ini, Semesta memiliki masalah tersembunyi yang sulit ia kendalikan. Ia memiliki dorongan seksual berlebih yang membuatnya selalu mencari pelampiasan bersama mahasiswi-mahasiswi yang mengejar-ngejar dirinya. Semesta kembali menarik Alin ke dalam

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 3

    Suara bel tanda berakhirnya jam perkuliahan berdering nyaring dari pengeras suara gedung fakultas. Bagi Embun, kampus adalah tempat yang terasa seperti neraka. Begitu mendengar suara tersebut, ia merasa sangat lega karena penderitaannya untuk hari ini telah usai. Embun bergegas memasukkan buku-buku literatur perkuliahannya ke dalam tas ransel. Ia menggendong tasnya di punggung, lalu bangkit dari tempat duduknya dengan niat untuk segera pulang ke kosan.Namun, baru beberapa langkah bergerak menuju pintu keluar kelas, Maudi, Angel, dan Vanesa tiba-tiba muncul dan berdiri menghadang jalannya. Mereka sengaja mengunci langkah Embun agar mahasiswi itu tidak bisa keluar ruangan."Mau ke mana lo?" gertak Angel dengan nada galak."A-aku mau pulang," jawab Embun dengan suara terbata-bata. Firasat buruk langsung menyelimuti hatinya."Lo belum boleh pulang! Lo harus ikut kita dulu!" perintah Angel tegas.Tanpa menunggu persetujuan Embun, Maudi langsung memegang pergelangan tangan kanan Embun, sed

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status