LOGINKalau kamu dan cinta sejati suamimu mengalami kecelakaan bersamaan, siapa yang akan diselamatkan suamimu? Devan memilih menggendong cinta sejatinya pergi. Bersama darah yang mengalir, bukan hanya nyawa bayi dalam kandungan yang mati, tetapi hati Scarlett juga ikut mati. Pernikahan mereka hanyalah sebuah transaksi. Semua orang tahu Scarlett merebut Devan dari wanita yang benar-benar dia cintai. Namun, dia percaya seiring berjalannya waktu, dia pasti bisa menunggu hari saat Devan menoleh dan melihat dirinya. Sampai tiba hari ketika harus mengubur anak yang sudah tiga bulan berada dalam rahimnya, Scarlett akhirnya sadar. "Kita cerai." Satu lembar perjanjian, dua hati yang tidak lagi terikat. Tiga bulan kemudian, di bawah gemerlap cahaya panggung, Scarlett berdiri menerima penghargaan. Devan terpaku menatapnya selama beberapa detik, lalu berkata dengan tenang kepada semua orang, "Ya, itu istriku." "Istri?" Scarlett tersenyum tipis, menyodorkan surat perjanjian cerai ke tangannya. "Maaf sekali, Pak Devan. Yang benar itu mantan istri." Untuk pertama kalinya, pria yang selama ini selalu tenang dan dingin itu kehilangan kendali. Matanya memerah, suaranya bergetar. "Mantan? Aku nggak pernah menyetujui perceraian ini!"
View More"Sudahlah, urusan hari ini kita akhiri sampai di sini. Aku masih ada pekerjaan, jadi aku harus kembali bekerja."Setelah berkata demikian, Scarlett tersenyum kepadanya, lalu langsung berbalik dan pergi.Mavin memandangi punggungnya yang makin menjauh. Hatinya masih tidak bisa tenang. Perasaannya dipenuhi kegelisahan.Belakangan dia mendengar dari pengacara tentang apa yang terjadi di vila Vivian. Menurutnya, Devan bukan tipe orang yang akan semudah itu memutuskan untuk mengakhiri semuanya.Devan memang mengatakan bahwa uang itu adalah kompensasi untuk Scarlett, tetapi jika kabar itu tersebar, belum tentu orang lain akan menganggapnya seperti itu.Dulu karena kelalaiannya, hidup Florence hampir dihancurkan oleh seorang pria. Sekarang, dia tidak akan membiarkan Scarlett juga dihancurkan oleh seorang pria.Setelah terdiam beberapa saat, dia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada Devan.[ Aku mau ketemu. ]....Malam harinya, setelah selesai makan malam, Scarlett kembali ke kamar
Edric tersenyum. "Aku sebenarnya cukup ingin menerima ucapan terima kasihmu, tapi aku nggak pernah meminta Scarlett melakukan hal seperti itu. Mungkin kamu salah paham."Mavin terdiam sejenak. Dia teringat ekspresi Scarlett yang terlihat sedikit gugup saat mereka hendak mengonfirmasi ulang kontrak kepemilikan saham waktu itu.Samar-samar, dia seperti mulai memahami sesuatu.Mavin tidak mengatakan terlalu banyak kepada Edric dan hanya tersenyum. "Sepertinya memang aku yang salah paham. Maaf."Setelah menutup telepon, Mavin langsung pergi mencari Scarlett.Saat itu, Scarlett sedang sibuk bekerja. Ketika melihat Mavin, dia tidak terlalu memedulikannya."Ikut aku keluar."Setelah mengatakan itu, Mavin berbalik dan berjalan keluar.Scarlett menyadari ada yang tidak beres dengan nada bicaranya. Meski sedikit bingung, dia tetap meletakkan pekerjaannya dan mengikuti Mavin.Mereka naik lift menuju atap gedung. Setelah memastikan tidak ada siapa pun di sekitar, Mavin baru menatapnya dengan seriu
Edric tersenyum. "Jadi singkatnya, kemungkinan mataku nggak bisa melihat lagi memang lebih besar."Kalau menjalani operasi, ada kemungkinan dia akan kehilangan penglihatannya. Kalau tidak menjalani operasi, beberapa bulan kemudian dia juga mungkin akan kehilangan penglihatannya.Dokter asing itu mengangguk.Jari Edric mengetuk pelan permukaan meja. Setelah berpikir selama dua detik, dia berkata, "Kalau begitu, lakukan operasinya."Dokter asing itu melirik ke arah orang di sampingnya, lalu berkata, "Apa kamu ingin menghubungi keluargamu terlebih dahulu untuk membicarakan hal ini?"Edric menggeleng sambil tersenyum tipis. "Dia sangat sibuk. Aku nggak ingin dia mengkhawatirkanku. Lagi pula, aku percaya pada pacarku. Dia nggak akan meninggalkanku hanya karena operasinya gagal."Dokter asing itu mengacungkan jempol. "Benar-benar wanita yang luar biasa. Aku sudah melihat terlalu banyak pasangan, baik yang masih pacaran maupun yang sudah menikah, semuanya saling meninggalkan saat musibah data
"Kamu akan baik-baik saja, Florence, kamu pasti akan baik-baik saja."Suara Harris belum pernah selembut ini. Ucapannya begitu lirih. Entah kata-kata itu sedang dia ucapkan untuk Florence atau untuk menghibur dirinya sendiri.Florence sudah tidak memiliki tenaga. Kesadarannya mengambang antara sadar dan tidak. Namun, rasa anyir di mulutnya serta rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh terus-menerus menyeretnya kembali ke kenyataan."Cari cara! Cari cara untuk sembuhkan dia!" Harris berteriak kepada para dokter keluarga di sampingnya.Salah seorang dokter maju dengan tubuh gemetar."Pak Harris, kondisi Bu Florence saat ini sangat dipengaruhi oleh emosinya. Kalaupun diberi obat, itu hanya mengatasi gejalanya, bukan akar masalah.""Lagi pula, setiap obat pasti memiliki efek samping. Dengan kondisi tubuh Bu Florence sekarang, kalau terus diberi obat, organ tubuh lainnya juga mungkin akan terdampak.""Memberinya obat sekarang sama saja seperti meminum racun untuk menghilangkan dahaga.""P
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore