MasukBagi Embun, hidup di sekolah adalah siksaan tanpa henti. Berada di kasta terendah, ia hanya bisa memendam rasa kagumnya pada Semesta, ketua geng tampan berhati dingin, lewat puisi di buku diary merah mudanya. Namun, saat rahasia itu terbongkar di depan kelas, Embun tak hanya jadi bahan tertawaan, tetapi juga mendapat tatapan jijik dari cowok yang ia puja. Penderitaan Embun kian berlanjut saat ia tak sengaja menyaksikan sisi gelap Semesta di kamar mandi sekolah. Sebuah rahasia terlarang yang membawa Embun pada ancaman dan penderitaan baru. Namun, takdir memainkan lelucon paling kejam. Lewat pernikahan kedua ibunya, Embun diboyong ke sebuah apartemen mewah, hanya untuk mendapati fakta bahwa Semesta kini adalah kakak tirinya. Di depan sang Ayah, Semesta berakting menjadi anak penurut dan saudara yang manis. Namun begitu pintu kamar tertutup, iblis dalam diri Semesta kembali keluar. Dan malam itu, di balik dinding kamar mereka, Semesta berbisik tepat di telinga Embun: "Lo mau gue gituin?"
Lihat lebih banyakSuara benturan terdengar cukup keras di depan pintu ruang kuliah gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Embun tersungkur seketika ke lantai semen koridor. Kaki Bayu sengaja terulur menjegal langkah Embun saat gadis itu baru saja menginjakkan kaki di ambang pintu kelas. Embun yang mengenakan kacamata berbingkai tebal itu tidak sempat bersiap, hingga tubuhnya jatuh berdebam begitu saja.
Gelak tawa langsung meledak dari seisi ruangan kuliah. Bagi para mahasiswa di kelas ini, kejadian seperti ini sudah menjadi pemandangan biasa. Embun adalah sasaran empuk untuk dijadikan sebagai bahan tertawaan. Bagi mereka, mahasiswi itu tidak ubahnya seorang lelucon berjalan yang hadir hanya untuk menghibur. Tas ransel kain milik Embun terlempar cukup jauh. Resletingnya yang longgar membuat seluruh isinya berhamburan di lantai. Buku-buku literatur tebal, tempat pensil, ponsel berlayar retak, hingga barang-barang kecil lainnya berserakan tanpa arah. Mita, salah seorang mahasiswi yang berdiri tak jauh dari pintu, membungkuk. Ia memungut sebuah buku catatan kecil berukuran tebal dengan sampul berwarna merah muda yang mendarat tepat di dekat kakinya. "Hei, lihat ini! Gue nemu sesuatu!" seru Mita dengan suara nyaring sambil mengangkat tinggi-tinggi buku tersebut ke udara. Perhatian seisi kelas langsung tertuju pada Mita. "Buku apaan tuh, Mit?" tanya Jonatan penasaran dari meja barisan depan. "Buku diary, dong! Hari gini anak kuliahan kayak si cupu Embun masih simpan buku diary?" jawab Mita sambil tertawa mengejek. Beberapa mahasiswa lain ikut bersorak gembira. "Buka dong, Mit! Baca isinya! Penasaran nih rahasia si cewek aneh!" seru yang lain dari barisan belakang. Mita tanpa ragu mulai membuka halaman pertama buku itu. Melihat hal tersebut, kepanikan luar biasa langsung melanda Embun. Rasa sakit di lututnya akibat terjatuh seolah hilang berganti rasa takut yang membakar dada. Buku itu adalah barang paling berharga baginya, satu-satunya tempat ia menuliskan perasaan yang tak pernah berani ia ucapkan secara langsung. Embun buru-buru bangkit berdiri dari lantai. Dengan langkah gemetar, ia berlari menghampiri Mita. Tangannya terulur ke depan. "Kembalikan buku diary-ku! Tolong, Mita, kembalikan!" pinta Embun dengan suara menahan tangis. Namun Mita dengan cepat menepis tangan Embun. Mita melangkah mundur menjauh, sengaja menjaga jarak agar Embun tidak bisa meraihnya. Ia kembali fokus melihat lembaran kertas bergaris di dalam buku itu. Matanya melebar penuh rasa puas. "Wah, kalian pasti kaget banget kalau dengar isinya!" seru Mita semakin memanasi suasana kelas. "Isinya apa sih? Cepat baca keras-keras, jangan bikin penasaran!" sahut Sisil dari sudut lain. Mita berdehem, lalu mulai membaca tulisan tangan di lembar tersebut dengan nada yang sengaja dibuat-buat. "Teruntuk Semesta ...!" Begitu nama itu terucap, suasana kelas yang tadinya riuh mendadak hening seketika. Nama itu memiliki pengaruh besar di kampus ini. Bahkan Semesta, sosok yang dimaksud, yang awalnya sedang duduk santai di barisan pojok belakang, ikut menghentikan kegiatannya bermain ponsel. Cowok itu mengangkat wajah dan menatap tajam ke arah Mita. Mita melanjutkan bacaannya dengan suara mantap, "Senyummu indah bak senja yang cantik. Memenuhi rongga kehidupan siapa pun yang menatapmu. Aku ikut terpukau, ikut larut dalam pesonamu yang begitu mematikan. Namun, aku sadar hanya segelintir debu yang tak ada arti. Bahkan bayangku pun, tak akan pernah kau hiraukan ...." Setelah kalimat terakhir selesai dibaca, ruang kelas kembali meledak dalam tawa yang lebih riuh. Puisi tulus yang ditulis Embun di kamarnya kini menjadi bahan ejekan bersama. Semuanya tertawa terbahak-bahak, sementara Embun berdiri mematung di tengah ruangan. Wajahnya memerah karena rasa malu yang amat sangat. Brakkkk! Suara dorongan kursi yang kasar terdengar dari belakang. Semesta berdiri dari tempat duduknya dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Seketika itu juga, tawa para mahasiswa mereda. Tidak ada yang berani memancing emosi Semesta. Ia adalah ketua pimpinan organisasi pemuda kampus yang paling ditakuti, sekaligus menjadi sosok ideal yang dipuja banyak mahasiswi karena paras dan karismanya. Semesta berjalan meninggalkan meja kuliahnya. Ia melangkah lurus menuju pintu keluar ruangan. Langkah kakinya membawa dirinya melintasi Embun yang masih berdiri terpaku di tengah jalan. Saat posisi mereka sejajar, Semesta menghentikan langkahnya sebentar. Tanpa menoleh penuh, ia berbisik dengan nada yang sangat dingin dan menancap tajam. "Benar-benar menjijikkan." Kata-kata kasar itu diucapkan khusus untuk Embun. Setelah menyampaikannya, Semesta kembali berjalan melenggang keluar dari kelas, meninggalkan suasana ruangan yang hening dan menegang.Setibanya di ruang kelas, Embun disambut oleh Prili, satu-satunya teman dekatnya di kampus. Prili juga sering menjadi sasaran perundungan dari mahasiswa lain, dan nasib yang sama itulah yang membuat mereka berdua menjadi akrab."Embun! Kamu dicari Bu Fitri. Kamu disuruh ke ruang dosen," kata Prili saat Embun meletakkan tas ransel di atas mejanya.Wajah Embun langsung berbinar gembira. Ia tahu Bu Fitri ingin membicarakan mengenai beasiswa akademik yang ia ajukan beberapa bulan lalu. "Oke, Prili. Aku langsung ke sana ya!"Embun berjalan penuh semangat menuju ruang dosen yang terletak di gedung utama fakultas. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, ia melangkah masuk."Ada apa, Embun?" sapa Pak Burhan, dosen Sejarah Perkuliahan yang sedang duduk di dekat pintu masuk."Saya disuruh Bu Fitri ke sini, Pak," jawab Embun sopan."Bu Fitri sedang ke perpustakaan pusat sebentar. Kamu tunggu saja di mejanya," ujar Pak Burhan."Baik, Pak."Embun berjalan menuju meja Bu Fitri yang berada di deretan
"Jangan, Kak! Tolong jangan lakukan itu!" ujar Embun ketakutan. Tubuhnya gemetar hebat."Kenapa lo nggak mau? Seks itu enak. Nanti lo bakal gue buat senang dan ketagihan. Setelah itu, lo pasti pengin lagi," ucap Semesta sambil terus melangkah mendekat. Ia menghimpit Embun hingga punggung gadis itu terbentur meja belajar."Aku nggak mau! Pokoknya aku nggak mau! Aku__" Embun tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Isakannya pecah dan air matanya menetes di hadapan Semesta.Semesta menghentikan gerakannya. Ia mendengus sebal melihat linangan air mata Embun. "Ah, nggak asyik lo! Malah menangis!" katanya sambil menarik diri dan menjauh."Pergi sana! Sebelum benar-benar gue perkosa!" ancam Semesta tajam.Tanpa membuang waktu, Embun berbalik dan berlari keluar dari kamar Semesta. Ia buru-buru masuk ke kamarnya sendiri, mengunci pintu, lalu merebahkan diri di atas tempat tidur. Embun memeluk bantal erat-erat, menahan tubuhnya yang masih bergetar karena rasa takut.***Keesokan harinya, suasan
Embun menyelesaikan kegiatannya menata pakaian ke dalam lemari kayu di kamar barunya. Setelah itu, ia menyusun barang-barangnya yang lain: buku-buku literatur perkuliahan, beberapa boneka kesayangannya, dan hiasan kecil di atas meja belajar. Kamar bernuansa merah muda itu kini terlihat semakin hidup dan cantik. Embun merasa sangat puas dan nyaman.Brukkkk!Embun menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk. Rasa lelah setelah seharian melewati kejadian berat di kampus dan proses pindah rumah membuat tenaganya terkuras habis. Ia berniat memejamkan mata sejenak."Pus ... Pus ...!"Sayup-sayup terdengar suara panggilan pelan dari luar. Embun menegakkan duduknya dan menajamkan pendengaran."Pus ... Sini, Pus ...."Suara itu bersumber dari area balkon. Embun beranjak dari tempat tidur, melangkah pelan menuju pintu kaca tebal yang menghubungkan kamarnya dengan balkon luar. Begitu pintu didorong, angin malam yang dingin langsung menyapa kulitnya.Embun mengedarkan pandangan. Di balkon sebelah,
"Semesta!" panggil Embun kaget, suara lirihnya refleks terucap begitu menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.Andi yang berdiri di samping mereka mengerutkan alisnya bingung. "Kalian berdua sudah saling kenal sebelumnya?""Kita teman satu angkatan di kampus, Yah," sahut Semesta cepat sebelum Embun sempat menjawab."Oh, ya? Benarkah!" Andi tampak terkejut sekaligus sangat gembira mendengar hal itu. "Bagus kalau begitu! Jadi kalian tidak perlu canggung lagi untuk saling kenal. Oh iya, Embun, bagaimana Semesta kalau di kampus? Dia anak yang baik dan penurut, kan?"Embun mendadak bingung. Tenggorokannya terasa menyempit. Mana mungkin ia berterus terang kepada sang ayah tentang kelakukan buruk Semesta di kampus, mulai dari sering membolos kuliah, menjadi ketua pimpinan organisasi yang paling ditakuti, bertindak sesuka hati, hingga gosip miringnya yang sering bergonta-ganti pasangan mahasiswi."Semesta anak yang baik kok, Yah. Dia mahasiswa teladan di kelas. Ya kan, Mbun?" potong Semest


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.