author-banner
Hiro Sayank
Hiro Sayank
Author

Novels by Hiro Sayank

Abang Tiriku Yang Nakal

Abang Tiriku Yang Nakal

Bagi Embun, hidup di sekolah adalah siksaan tanpa henti. Berada di kasta terendah, ia hanya bisa memendam rasa kagumnya pada Semesta, ketua geng tampan berhati dingin, lewat puisi di buku diary merah mudanya. Namun, saat rahasia itu terbongkar di depan kelas, Embun tak hanya jadi bahan tertawaan, tetapi juga mendapat tatapan jijik dari cowok yang ia puja. ​Penderitaan Embun kian berlanjut saat ia tak sengaja menyaksikan sisi gelap Semesta di kamar mandi sekolah. Sebuah rahasia terlarang yang membawa Embun pada ancaman dan penderitaan baru. ​Namun, takdir memainkan lelucon paling kejam. Lewat pernikahan kedua ibunya, Embun diboyong ke sebuah apartemen mewah, hanya untuk mendapati fakta bahwa Semesta kini adalah kakak tirinya. ​Di depan sang Ayah, Semesta berakting menjadi anak penurut dan saudara yang manis. Namun begitu pintu kamar tertutup, iblis dalam diri Semesta kembali keluar. Dan malam itu, di balik dinding kamar mereka, Semesta berbisik tepat di telinga Embun: ​"Lo mau gue gituin?"
Read
Chapter: Bab 28
Motor sport milik Semesta akhirnya berhenti di depan sebuah area bangunan kos-kosan. Kamar-kamar berderet rapi di sana, menjadi tempat hunian para mahasiswa.​Semesta dan Embun turun dari motor. "Yuk, masuk!" ajak Semesta sambil mendorong pintu salah satu kamar kos yang tidak terkunci.​Embun melangkah masuk, mengedarkan pandangan mengamati ruangan tersebut. Kamar itu berukuran sedang dengan fasilitas kamar mandi di dalam. Di dalamnya hanya terdapat satu tempat tidur dan sebuah lemari pakaian.​"Ini kamar kos siapa, Kak?" tanya Embun.​"Punya Rivan. Tapi jarang dipakai. Cuma buat kumpul-kumpul doang, atau buat dia kalau lagi mojok sama ceweknya," jelas Semesta. Embun manggut-manggut mengerti.​"Lo duduk dulu! Gue mau cuci muka sebentar," ucap Semesta melangkah ke kamar mandi.​Embun duduk di tepi kasur. Jantungnya berdegup kencang membayangkan apa yang akan ia lakukan sebentar lagi. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.​Beberapa menit kemudian, Semesta keluar dari kamar
Last Updated: 2026-10-25
Chapter: Bab 27
​"Maksudnya aku disuruh berhubungan intim sama Kak Semesta?" tanya Embun. Suaranya terdengar bergetar karena efek keterkejutannya yang baru saja terjadi di koridor Fakultas Ekonomi.​"Bukan. Maksud gue cuma pakai tangan lo doang," jawab Semesta datar. Kening Embun tampak mengernyit, masih diselimuti kebingungan.​"Jadi gini, Mbun. Tangan lo nanti pegang anunya gue."​"Anu? Anu itu apa, Kak?" tanya Embun polos.​Sialan, polos banget nih cewek, batin Semesta merutuk dalam hati.​"Anu itu ... junior gue."​Embun masih mengernyitkan dahi. "Junior?"​"Iya, junior. Junior tuh ini, Mbun." Semesta kembali meraih jemari Embun dan menempelkannya ke area sensitif di balik celananya. ​Embun terkejut, lalu secara refleks menarik tangannya kembali ke dada. "Memang aku disuruh ngapain dengan juniornya Kak Semesta?" tanya Embun sedikit takut-takut.​"Lo cuma gue suruh pegang doang. Habis itu lo gerakin pelan-pelan. Kayak gini." Semesta memeragakan gerakan tangan naik-turun seperti sedang mengocok bo
Last Updated: 2026-10-25
Chapter: Bab 26
Keesokan harinya di area kampus, suasana ruangan kelas fakultas ekonomi terdengar cukup riuh dan bising oleh percakapan para mahasiswa sebelum jam pelajaran dimulai."Hei, lo tahu tidak berita hangat hari ini? Semesta akhirnya mau meminta maaf secara langsung pada Edo tadi pagi di ruang Dekanat," bisik Dika kepada Jordan dengan nada suara tertahan. Obrolan rahasia itu terdengar samar oleh telinga Embun yang duduk tidak terlalu jauh dari meja mereka."Kok tumben banget seorang Semesta yang arogan mau mengalah begitu saja?" sahut Jordan penasaran sambil menaikkan sebelah alisnya."Paling juga dia dipaksa sama ayahnya. Ayah Semesta kan orang yang sangat berpengaruh dan langsung dipanggil pihak kampus kemarin sore akibat insiden itu. Lo tahu sendiri kan, kalau berhadapan dengan ayahnya, Semesta itu penurut banget tanpa bisa melawan," terang Dika memberikan analisis panjang lebar."Ssssh ... orangnya datang!" bisik Jordan memberikan isyarat dengan menyenggol lengan temannya. Obrolan mereka
Last Updated: 2026-10-24
Chapter: Bab 25
Cekrekkk!​Pintu ruang kerja Andi tiba-tiba terbuka. Dengan wajah sembap dan mata memerah, Semesta melangkah keluar dari ruangan tersebut. Penampilannya sudah kembali rapi terbalut kemeja, meskipun sorot kesedihan dan rasa sakit yang mendalam masih sangat jelas terpancar dari raut wajahnya.​Semesta dan Embun pun saling bertatap muka di koridor bawah yang remang-remang. Keduanya sama-sama terkejut, terutama Embun. Ia tertangkap basah sedang mengintip kejadian memilukan yang baru saja berlangsung di dalam ruangan pribadi ayahnya.​"Kak__" hampir saja Embun berucap memanggil. Namun Semesta memilih memalingkan wajah dan melenggang pergi begitu saja menyusuri koridor menuju tangga tanpa mengucapkan sepatah kata pun.​Embun bergegas mengekor langkah Semesta menaiki anak tangga menuju lantai dua. Ketika Semesta hendak mendorong pintu kamarnya, Embun bergerak cepat mencegahnya.​Setttt!​Embun meraih pergelangan tangan Semesta, menahannya. "Tunggu, Kak!" ucapnya cemas.​Mau tak mau Semesta m
Last Updated: 2026-10-24
Chapter: Bab 24
Pak Sapto menatap kondisi Edo yang bersimbah darah di lantai, lalu beralih menatap Semesta dengan raut wajah sangat murka.​"Apa yang sudah kamu lakukan, Semesta? Kenapa kamu bisa bertindak sebrutal ini di lingkungan kampus?!" bentak Pak Sapto tegas. Semesta hanya diam mematung tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.​"Siapa yang memulai perkelahian ini duluan?" tanya Pak Sapto kepada mahasiswa lain di kelas.​Sukamto, salah satu teman Edo, angkat bicara. "Semesta yang memukul duluan, Pak! Dia mendadak menyerang Edo tanpa ampun saat Edo cuma ajak bicara!"​Pak Sapto memandang sekeliling, dan keheningan para mahasiswa menegaskan bahwa ucapan Sukamto memang benar adanya.​"Semesta!" panggil Pak Sapto tegas. "Sebelum kamu ikut Saya ke ruang Dekanat untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu, kamu harus meminta maaf terlebih dahulu kepada Edo!"​Semesta berdiri kaku. Tatapan matanya yang dingin menghunus lurus ke arah Edo yang sedang dibantu berdiri oleh teman-temannya.​"Ayo Semesta, minta ma
Last Updated: 2026-10-23
Chapter: Bab 23
"Kenapa lo manggil gue ke sini, Run?" tanya Mariska begitu Semesta melangkah masuk ke dalam ruangan gudang penyimpanan alat-alat olahraga kampus yang sepi dan berdebu. Pintu kayu tua itu langsung tertutup rapat di belakang punggung Semesta, mengunci mereka dari dunia luar.Tanpa menjawab sepatah kata pun, Semesta terus melangkah mendekat. Tatapan matanya kosong, dingin, namun tersimpan gelombang frustrasi dan dorongan destruktif yang mendesak untuk segera disalurkan. Begitu jarak di antara mereka terkikis habis, Semesta langsung menyergap tubuh Mariska secara agresif, mendorong punggung mahasiswi tingkat atas itu hingga membentur dinding gudang yang keras."Gue lagi pengin nih, Ris," lirih Semesta serak, napasnya berhembus panas tepat di leher jenjang seniornya.Mariska mendengus pelan, namun bibirnya langsung tersenyum tipis penuh antisipasi. Tanpa membuang waktu, Mariska merangkul leher Semesta, menyambut pagutan bibir cowok itu dengan ciuman yang sama laparnya. Semesta menghujani c
Last Updated: 2026-10-23
Ketika Atasan Suamiku Mendekapku

Ketika Atasan Suamiku Mendekapku

WARNING 21+++ Demi menutupi sebuah rahasia besar, Savana, seorang wanita yatim piatu, dijadikan tameng dalam sebuah pernikahan dingin yang penuh pengkhianatan. Tak tahan terus diabaikan dan disakiti, Savana nekat membalas rasa sakitnya dengan menjalin hubungan terlarang bersama seorang pria muda misterius. Di saat yang sama, ia diam-diam bekerja sebagai cleaning service di Rumah Sakit Harapan demi mengumpulkan modal untuk lepas dari cengkeraman sang suami. ​Namun, dunia Savana seketika jungkir balik saat mengetahui pria simpanannya ternyata adalah dr. Hanggara, Direktur Utama berdarah dingin sekaligus pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. ​Terjebak dalam intrik kekuasaan dan utang budi yang mengikat, Savana kini berada di bawah kendali penuh sang Direktur yang mengintimidasi. Di balik sikap dingin dan obsesi sang Direktur yang menolak melepaskannya, tersimpan rahasia masa lalu yang tak pernah Savana duga. ​Sanggupkah Savana meraih kebebasannya, atau ia justru akan tenggelam dalam jerat sang bos besar yang diam-diam telah mengincarnya sejak lama?
Read
Chapter: Bab 163
Keheningan menakutkan mencengkeram seluruh sudut ruang VIP. Pertanyaan asing yang keluar dari bibir Hanggara menghantam dada Savana bagai hantaman godam yang menghancurkan seluruh harapannya dalam sekejap."H-Hanggara... kau tidak bercanda, kan?" bisik Savana dengan bibir yang bergetar hebat. Air mata baru meluncur membasahi pipinya yang kian pucat. "Ini aku, Hanggara... Aku Savana."Savana melangkah satu pijakan lebih dekat, hendak mengulurkan tangannya yang gemetar untuk meraih jemari kekar pria itu. "Aku wanita yang kau cintai, Hanggara. Kita... kita seharusnya menikah kemarin pagi...""Tunggu dulu, Savana!" sela sebuah suara nyaring yang memotong kalimat Savana secara mendadak.Dokter Karin maju melangkah dengan sigap, memotong jarak antara Savana dan ranjang pembaringan Hanggara. Wajah wanita itu dipenuhi oleh tatapan dingin dan merendahkan.Dokter Karin menoleh pada Hanggara yang masih menatap bingung seraya memegangi kepalanya yang berdenyut pening. "Dokter Hanggara, jangan den
Last Updated: 2026-10-25
Chapter: Bab 162
Savana menahan napasnya. Manik matanya tak berkedip sedikit pun menatap genggaman tangannya. Gerakan di jemari Hanggara terasa kian nyata, bukan lagi sekadar halusinasi atau bunga tidur yang kerap menyiksanya."H-Hanggara...?" bisik Savana dengan suara bergetar pelan.Ia memajukan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke arah pembaringan. Dilihatnya kelopak mata tebal Hanggara yang terbungkus perban tipis di bagian dahi mulai bergerak-gerak. Bulu matanya yang lebat bergetar pelan, menunjukkan usaha keras dari sang dokter untuk keluar dari kegelapan koma yang membelenggunya berhari-hari."Hanggara! Kamu dengar suara aku, kan? Hanggara, buka matamu, Sayang!" seru Savana seraya mengusap pipi Hanggara yang masih pucat. Air mata kebahagiaan seketika meleleh membasahi pipinya.Melihat kelopak mata Hanggara yang makin bergerak-gerak seperti hendak terbuka, Savana langsung panik dan tergesa-gesa mencari tombol pemanggil perawat di kepala ranjang. Ia menekan tombol berwarna merah itu berulang kali de
Last Updated: 2026-10-24
Chapter: Bab 161
Matahari pagi kembali menyusup melalui celah gorden ruang perawatan VIP, membiaskan pendar cahaya lembut yang menyiram sebagian tubuh tegap Hanggara di atas ranjang medis. Savana masih setia berada di sana. Ia duduk bersandar di kursi kayu samping pembaringan, jemari halusnya tak pernah melepaskan genggaman pada pergelangan tangan Hanggara yang terasa hangat.Tiba-tiba, kelopak mata Hanggara perlahan melonggar, lalu terbuka lebar. Manik mata pekat yang amat dirindukan itu berkedip perlahan sebelum sepenuhnya mengunci pandangan pada wajah Savana.Savana membeku seketika. Jantungnya berdegup kencang, seolah tak percaya dengan apa yang ada di depan matanya. "H-Hanggara...?"Hanggara menyunggingkan senyum tipis yang amat menawan. Tanpa aba-aba, tubuh tegap itu langsung bangkit dan terduduk tegak. Pria itu mengulurkan tangan kekarnya, menangkup kedua pipi Savana dengan usapan lembut yang penuh gairah."Aku merindukanmu, Savana... Sangat merindukanmu," bisik Hanggara dengan suara berat nan
Last Updated: 2026-10-23
Chapter: Bab 160
Berhari-hari telah berlalu sejak insiden berdarah yang menimpa Hanggara, namun tak sedikit pun menyurutkan kesetiaan Savana. Wanita itu menolak untuk beranjak dari ruang perawatan VIP tempat calon suaminya terbaring koma. Bagi Savana, ruangan beraroma antiseptik itu kini telah menjadi dunianya.Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya terbit, Savana sudah bangun. Dengan telaten dan penuh rasa kasih, ia mengelap tubuh tegap Hanggara menggunakan waslap basah berair hangat. Jemari halusnya menyapu perlahan dada bidang yang dulu kerap memeluknya erat, membersihkan setiap inci kulit pria itu dari debu dan keringat dengan kelembutan yang teramat sangat.Savana juga rutin merapikan rambut hitam Hanggara, memotong kuku-kuku jarinya dengan hati-hati, hingga mengoleskan pelembab pada bibir sang dokter yang pucat dan kering. Ia tak pernah membiarkan penampilan Hanggara tampak kusam sedikit pun.Tak hanya merawat fisiknya, Savana terus mengajak Hanggara berbicara sepanjang hari. Sembari memijat l
Last Updated: 2026-10-22
Chapter: Bab 159
Hari berikutnya... Suasana di dalam ruang perawatan Intensive Care Unit (ICU) terasa begitu sunyi dan dingin, hanya didominasi oleh denting konstan dari monitor pendeteksi jantung serta deru halus mesin respirator.Savana duduk di kursi samping tempat tidur medis. Wajahnya yang pucat nampak begitu tirus, dengan lingkaran hitam tebal mengitari matanya yang sembap. Ia mengenakan pakaian kasual kusam, sama sekali tak memedulikan penampilannya sendiri sejak peristiwa mengerikan kemarin.Jemari halus Savana bergerak gemetar, menggenggam erat telapak tangan kanan Hanggara yang terbebat jarum infus dan terasa begitu dingin. Di atas ranjang, tubuh tegap yang biasanya memancarkan dominasi dan kekuasaan mutlak itu kini terbaring lemah tak berdaya. Kepala Hanggara terbungkus perban putih tebal, sementara selang pernapasan terpasang menutupi mulut dan hidungnya.Air mata yang seolah tak pernah kering kembali menetes pelan dari sudut mata Savana, jatuh tepat di atas jemari kekar Hanggara."Hangga
Last Updated: 2026-10-21
Chapter: Bab 158
Beberapa waktu sebelumnya.Suara indikator medis yang konstan berganti dengan derap langkah tergesa-gesa saat Hanggara melangkah keluar dari ruang operasi utama. Dokter tegap itu melepas sarung tangan steril dan masker bedahnya dengan gerakan memburu, melemparkannya ke dalam tempat sampah medis tanpa membuang waktu satu detik pun. Operasi darurat bedah saraf yang dipimpinnya berjalan sukses, namun waktu di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit."Siapkan mobil di depan lobi sekarang!" perintah Hanggara tegas pada staf perawat yang melintas.Pria itu berlari kecil menyusuri koridor rumah sakit, mengganti jas medisnya dengan kemeja putih yang tersisa di ruang kerjanya, lalu melesat turun menuju pintu utama. Begitu kakinya memijak lobi, supir pribadinya sudah bersiaga membukakan pintu belakang sedan hitam mewah milik Hanggara.Namun Hanggara menahan pintu mobil tersebut. "Biar aku yang mengemudikan sendiri.""Tapi Tuan, lalu lintas menuju perbukitan cu
Last Updated: 2026-10-20
You May Also Like
Terjebak Gairah Paman Billionaire
Terjebak Gairah Paman Billionaire
Romansa · Adinasya Mahila
102.5K views
My Boss
My Boss
Romansa · Rahayu avilia
102.1K views
Nafkah Terakhir sebelum Ditalak
Nafkah Terakhir sebelum Ditalak
Romansa · Ina Shalsabila
101.8K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status