Se connecter"Jangan, Kak! Tolong jangan lakukan itu!" ujar Embun ketakutan. Tubuhnya gemetar hebat.
"Kenapa lo nggak mau? Seks itu enak. Nanti lo bakal gue buat senang dan ketagihan. Setelah itu, lo pasti pengin lagi," ucap Semesta sambil terus melangkah mendekat. Ia menghimpit Embun hingga punggung gadis itu terbentur meja belajar. "Aku nggak mau! Pokoknya aku nggak mau! Aku__" Embun tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Isakannya pecah dan air matanya menetes di hadapan Semesta. Semesta menghentikan gerakannya. Ia mendengus sebal melihat linangan air mata Embun. "Ah, nggak asyik lo! Malah menangis!" katanya sambil menarik diri dan menjauh. "Pergi sana! Sebelum benar-benar gue perkosa!" ancam Semesta tajam. Tanpa membuang waktu, Embun berbalik dan berlari keluar dari kamar Semesta. Ia buru-buru masuk ke kamarnya sendiri, mengunci pintu, lalu merebahkan diri di atas tempat tidur. Embun memeluk bantal erat-erat, menahan tubuhnya yang masih bergetar karena rasa takut. *** Keesokan harinya, suasana di meja makan terasa sangat hangat. "Bagaimana Semesta, masakan Ibu enak?" tanya Alya sambil memperhatikan putra tirinya yang makan dengan lahap. Alya sudah berkutat di dapur sejak subuh untuk menyajikan sarapan perdana mereka sebagai keluarga utuh. "Enak sekali, Bu," jawab Semesta sopan. Alya tersenyum lega mendengar pujian itu. Andi kemudian beralih menatap Embun. "Embun, bagaimana tidurmu semalam?" "Nyenyak, Yah. Embun sampai mimpi indah," jawab Embun mencoba bersikap biasa. Jawaban itu disambut tawa kecil dari Andi dan Alya. "Oh ya, Embun. Kamu berangkat ke kampus bareng Semesta saja naik motor. Tidak apa-apa kan, Semesta?" tanya Andi pada putranya. "Tidak apa-apa, Yah," jawab Semesta ramah sambil mengangguk. Embun merasa lega mendengarnya. Setidaknya pagi ini ia tidak perlu berdesakan di dalam bus umum menuju area kampus. "Sarapanku sudah selesai. Semesta berangkat ke kampus sekarang ya, Yah, Bu," pamit Semesta. Ia berdiri, menyampirkan tas ransel perkuliahan ke punggungnya, lalu melangkah keluar dari apartemen. "Embun juga berangkat sekarang ya, Yah, Bu!" Embun bergegas menyusul. Namun, langkah kaki Semesta yang panjang membuat Embun kesulitan mengejarnya. Begitu Embun sampai di depan area lift, pintu lift yang dinaiki Semesta sudah tertutup dan meluncur turun. Embun terpaksa menunggu lift sebelahnya. Begitu sampai di lantai dasar, Embun berlari menuju area parkir kendaraan. Di sana, Semesta sudah berada di atas sepeda motor sport hitam metalik miliknya sambil mengenakan helm. "Tunggu aku, Kak Semesta!" panggil Embun lantang sambil berlari mendekat saat mendengar mesin motor mulai dinyalakan. Namun, Semesta sama sekali tidak menghiraukannya. Tanpa menoleh sedikit pun, ia memutar gas dan menjalankan motornya melesat pergi meninggalkan Embun begitu saja di area parkir. Embun berdiri terpaku. Ia tertegun melihat perubahan sikap Semesta yang begitu cepat. Di dalam rumah tadi cowok itu menyetujui ajakan ayahnya, tetapi saat di luar rumah, ia langsung meninggalkannya tanpa peduli. *** Bus kampus berhenti tepat di depan halte utama gerbang universitas. Embun turun bersama puluhan mahasiswa lainnya dan berjalan tergesa-gesa menuju gedung fakultas karena jam kuliah pertama akan dimulai sebentar lagi. Saat berjalan di selasar koridor lantai dua menuju kelasnya, Embun berpapasan dengan rombongan Semesta yang sedang berjalan dari arah berlawanan. "Semalam lo ke mana? Kok nggak ikut kumpul-kumpul?" tanya Rivan, salah satu teman nongkrong Semesta di kampus. "Gue di rumah," jawab Semesta singkat. "Tumben banget! Lo lagi dipingit sama bokap lo?" celetuk Rivan bercanda. Seketika Semesta menatap Rivan dengan pandangan tajam yang menakutkan. Rivan yang menyadari perubahan aura itu langsung merasa bersalah. "Sorry, gue cuma bercanda," bisiknya pelan. Jarak antara Embun dan rombongan Semesta semakin dekat. Embun yang biasanya selalu menunduk saat berjalan, mencoba memberanikan diri mendongak. Bagaimanapun juga, Semesta kini adalah anggota keluarga barunya. Embun melempar senyum tipis ke arah Semesta. Namun, alih-alih membalas senyuman itu, Semesta malah membuang muka dan berjalan melenggang begitu saja seolah Embun tidak pernah ada. Teman-teman Semesta yang melihat hal itu tertawa mengejek. "Ngapain si cupu senyum-senyum ke lo? Bikin geli saja," bisik salah satu dari mereka. Embun menundukkan kepala kembali dan menahan rasa sakit di hatinya. Cemoohan seperti itu memang sudah menjadi konsumsi sehari-harinya di lingkungan kampus ini.Setibanya di ruang kelas, Embun disambut oleh Prili, satu-satunya teman dekatnya di kampus. Prili juga sering menjadi sasaran perundungan dari mahasiswa lain, dan nasib yang sama itulah yang membuat mereka berdua menjadi akrab."Embun! Kamu dicari Bu Fitri. Kamu disuruh ke ruang dosen," kata Prili saat Embun meletakkan tas ransel di atas mejanya.Wajah Embun langsung berbinar gembira. Ia tahu Bu Fitri ingin membicarakan mengenai beasiswa akademik yang ia ajukan beberapa bulan lalu. "Oke, Prili. Aku langsung ke sana ya!"Embun berjalan penuh semangat menuju ruang dosen yang terletak di gedung utama fakultas. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, ia melangkah masuk."Ada apa, Embun?" sapa Pak Burhan, dosen Sejarah Perkuliahan yang sedang duduk di dekat pintu masuk."Saya disuruh Bu Fitri ke sini, Pak," jawab Embun sopan."Bu Fitri sedang ke perpustakaan pusat sebentar. Kamu tunggu saja di mejanya," ujar Pak Burhan."Baik, Pak."Embun berjalan menuju meja Bu Fitri yang berada di deretan
"Jangan, Kak! Tolong jangan lakukan itu!" ujar Embun ketakutan. Tubuhnya gemetar hebat."Kenapa lo nggak mau? Seks itu enak. Nanti lo bakal gue buat senang dan ketagihan. Setelah itu, lo pasti pengin lagi," ucap Semesta sambil terus melangkah mendekat. Ia menghimpit Embun hingga punggung gadis itu terbentur meja belajar."Aku nggak mau! Pokoknya aku nggak mau! Aku__" Embun tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Isakannya pecah dan air matanya menetes di hadapan Semesta.Semesta menghentikan gerakannya. Ia mendengus sebal melihat linangan air mata Embun. "Ah, nggak asyik lo! Malah menangis!" katanya sambil menarik diri dan menjauh."Pergi sana! Sebelum benar-benar gue perkosa!" ancam Semesta tajam.Tanpa membuang waktu, Embun berbalik dan berlari keluar dari kamar Semesta. Ia buru-buru masuk ke kamarnya sendiri, mengunci pintu, lalu merebahkan diri di atas tempat tidur. Embun memeluk bantal erat-erat, menahan tubuhnya yang masih bergetar karena rasa takut.***Keesokan harinya, suasan
Embun menyelesaikan kegiatannya menata pakaian ke dalam lemari kayu di kamar barunya. Setelah itu, ia menyusun barang-barangnya yang lain: buku-buku literatur perkuliahan, beberapa boneka kesayangannya, dan hiasan kecil di atas meja belajar. Kamar bernuansa merah muda itu kini terlihat semakin hidup dan cantik. Embun merasa sangat puas dan nyaman.Brukkkk!Embun menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk. Rasa lelah setelah seharian melewati kejadian berat di kampus dan proses pindah rumah membuat tenaganya terkuras habis. Ia berniat memejamkan mata sejenak."Pus ... Pus ...!"Sayup-sayup terdengar suara panggilan pelan dari luar. Embun menegakkan duduknya dan menajamkan pendengaran."Pus ... Sini, Pus ...."Suara itu bersumber dari area balkon. Embun beranjak dari tempat tidur, melangkah pelan menuju pintu kaca tebal yang menghubungkan kamarnya dengan balkon luar. Begitu pintu didorong, angin malam yang dingin langsung menyapa kulitnya.Embun mengedarkan pandangan. Di balkon sebelah,
"Semesta!" panggil Embun kaget, suara lirihnya refleks terucap begitu menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.Andi yang berdiri di samping mereka mengerutkan alisnya bingung. "Kalian berdua sudah saling kenal sebelumnya?""Kita teman satu angkatan di kampus, Yah," sahut Semesta cepat sebelum Embun sempat menjawab."Oh, ya? Benarkah!" Andi tampak terkejut sekaligus sangat gembira mendengar hal itu. "Bagus kalau begitu! Jadi kalian tidak perlu canggung lagi untuk saling kenal. Oh iya, Embun, bagaimana Semesta kalau di kampus? Dia anak yang baik dan penurut, kan?"Embun mendadak bingung. Tenggorokannya terasa menyempit. Mana mungkin ia berterus terang kepada sang ayah tentang kelakukan buruk Semesta di kampus, mulai dari sering membolos kuliah, menjadi ketua pimpinan organisasi yang paling ditakuti, bertindak sesuka hati, hingga gosip miringnya yang sering bergonta-ganti pasangan mahasiswi."Semesta anak yang baik kok, Yah. Dia mahasiswa teladan di kelas. Ya kan, Mbun?" potong Semest
Sebuah sepeda motor berhenti di depan sebuah area indekos. Semesta dan Alin masuk ke dalam salah satu kamar di sana. Begitu pintu tertutup, suasana langsung berubah. Semesta mendaratkan ciumannya di leher Alin, memberikan kecupan-kecupan kecil sambil jemarinya meremas bagian tubuh mahasiswi baru itu di balik pakaian kuliahnya. Alin mendesah pelan, menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Semesta.Namun, di tengah-tengah aksinya, Semesta mendadak menghentikan gerakannya. Ia duduk di tepi kasur, membiarkan Alin yang kini berganti posisi mendekatinya."Pegang punya gue," perintah Semesta pendek.Alin menurut. Jemarinya yang lihai mulai membuka resleting celana Semesta dan melakukan gerakan lembut yang membuat Semesta memejamkan mata. Selama ini, Semesta memiliki masalah tersembunyi yang sulit ia kendalikan. Ia memiliki dorongan seksual berlebih yang membuatnya selalu mencari pelampiasan bersama mahasiswi-mahasiswi yang mengejar-ngejar dirinya. Semesta kembali menarik Alin ke dalam
Suara bel tanda berakhirnya jam perkuliahan berdering nyaring dari pengeras suara gedung fakultas. Bagi Embun, kampus adalah tempat yang terasa seperti neraka. Begitu mendengar suara tersebut, ia merasa sangat lega karena penderitaannya untuk hari ini telah usai. Embun bergegas memasukkan buku-buku literatur perkuliahannya ke dalam tas ransel. Ia menggendong tasnya di punggung, lalu bangkit dari tempat duduknya dengan niat untuk segera pulang ke kosan.Namun, baru beberapa langkah bergerak menuju pintu keluar kelas, Maudi, Angel, dan Vanesa tiba-tiba muncul dan berdiri menghadang jalannya. Mereka sengaja mengunci langkah Embun agar mahasiswi itu tidak bisa keluar ruangan."Mau ke mana lo?" gertak Angel dengan nada galak."A-aku mau pulang," jawab Embun dengan suara terbata-bata. Firasat buruk langsung menyelimuti hatinya."Lo belum boleh pulang! Lo harus ikut kita dulu!" perintah Angel tegas.Tanpa menunggu persetujuan Embun, Maudi langsung memegang pergelangan tangan kanan Embun, sed







