LOGINOne drunken night and a $5 casino chapel - that's all it took to turn Ava Jensen's life completely upside down. When the struggling single mom wakes up next to a naked billionaire stranger with a gigantic mansion and a vindictive ex-fiancée hell-bent on destroying him, Ava realizes her biggest mistake is only just beginning. Jackson Reynolds may be obscenely rich, ridiculously handsome, and thousands of miles out of Ava's little blue-collar world, but he needs her sham marriage to protect his tech empire. At least, that's what he claims. The infuriating alpha male is all too happy to consummate their fake vows at every turn, stoking Ava's hatred...and an alarming, traitorous lust. But as Ava is dragged deeper into Jackson's glittering,sinful world of prosecco and corporate intrigue, she must decide whether their irreversible union is truly an unavoidable sham, or the greatest luck of her life. Can she trust the magnetic billionaire who invaded her life and body so completely? Or is she heading for the ultimate billionaire wife disaster?
View More"kau takkan pernah tahu takdir , bahkan kau takkan menyangka bahwa Kematianmu adalah setelah kau mencicipi secuil kebahagiaan,"
Selamat membaca .
_______________________________________
AUTHOR POV
Manhattan, New York
Terdengar begitu keras suara alunan musik rock menggema di ruang tamu, terlihat sesosok gadis yang terbaring di sofa dengan tatapan yang begitu jenuh.
Gadis itu menutup telinganya sendiri "astagaa Mario.. kuharap telingamu itu tidak pecah dengan volume sebesar ini," teriak Grace ditunjukkan pada Mario yang terlihat menikmati.
Rasanya musik rock sudah menjadi sarapan setiap hari bagi Mario, "hai baby nikmatilah, Musik ini sungguh enak," Mario adalah kekasih Grace, ia sudah menjalin hubungan hampir 2 tahun namun ia sempat menjalin hubungan jarak jauh karena urusan keluarga dan Mario yang harus berpindah.
Melihat Mario kekasih tercinta nya lebih memilih musik rock dibanding dirinya yang di biarkan, gadis itu berdiri dari sofa, " aku pulang saja, menikah saja dengan musik jangan dengan ku," ucap Grace.
Mario memeluk Grace dari belakang menahan tubuh Grace, "baiklah aku matikan," ucap Mario mengambil remot lalu menekan tombol off.
Terluas senyum kecil di bibir Grace, "I love you Mario," Grace sungguh mencintai Mario dan ia sudah menetapkan hatinya hanya untuk Mario.
Begitupun sebaliknya, Mario sangat mencintai Grace, "I love you too Grace," ia membalas dengan mencium rambut Grace.
"Grace kau takkan meninggalkan aku kan?" Tanya Mario menarik tubuh Grace jatuh atas sofa yang baru saja ia duduki.
Grace menggelengkan kepala berulang kali, "tidak, bagaimana aku bisa jatuh cinta dengan pria lain jika namamu sudah tertanam indah di jantungku Mario?"
"Grace tunggulah aku kaya, aku akan membuat pernikahan kita indah bagai dongeng Grace," seru Mario meyakinkan Grace.
Sebenarnya Grace tak begitu masalah dengan status Mario saat ini yang bisa dibilang jauh dari kata kaya raya, namun Grace menyetujui saja ucapan Mario karena itu juga baik untuk masa depannya.
"Aku selalu menunggumu Mario," Grace sudah bertekad akan menikah dengan Mario, bahkan ia menjaga kesuciannya demi Mario yang nanti akan menjadi suaminya.
Mereka berdua begitu saling setia, bahkan saling terbuka dengan semua hal, bukankah itu pasangan yang sangat sulit di dapatkan?
_____***____
Berbanding balik dengan pasangan Kenzo dan Jesseli, mereka lebih suka dengan sesuatu yang berhubungan dengan Sex, baginya itu adalah hal paling yang menyenangkan.
Setelah cukup lama mereka saling bercumbu di dalam kamar Kenzo memakai kembali jas nya dengan rapi "terimakasih waktumu baby, aku mencintaimu,"
Jesseli tersenyum kepada tunangan tercintanya, "aku juga mencintaimu Ken, kau takkan pernah berpaling dariku kan Ken?" Jesseli telah menyerahkan sepenuh hidupnya pada Kenzo, bahkan satu-satunya mahkota yang ia punya telah ia berikan kepada Kenzo.
Namun semua itu tak merubah pandangan Kenzo bahwa jesseli adalah wanita murahan, tidak... tentu tidak sama sekali, justru itulah yang membuat Kenzo jatuh cinta dengan keberanian nya. Dan hari pernikahan mereka akan dilaksanakan dalam waktu empat hari lagi .
"Bergantilah baju, kita akan ke club seperti biasanya," perintah Kenzo dengan mengelus lembut pucuk kepala Jesseli.
Mereka sudah sampai ditempat club, wanita-wanita dengan balutan gaun seksi tentu sudah tak asing, lampu yang penuh warna selalu mengisi seluruh ruangan, ditambah dengan musik yang selalu membuat tubuh merasa tak ingin berhenti untuk bergerak.
Disana sudah ada Roger dan Pete yang menunggu mereka untuk bergabung bersama, "Hai Ken," Roger menyapa dengan bersalaman ciri khas mereka, "Hai Roger," Ken tersenyum pada Roger, disamping Roger terlihat Pete yang juga senang menyambut kedatangan mereka.
"Kau tahu, kita harus bermain judi malam ini," Roger berbicara kepada Ken yang tentu tak perlu di tanyakan tentang kehebatan seorang Kenzo jika bermain Judi .
"Oh ya? Apakah ada lawan?" ucap Kenzo meremehkan.
Roger menarik tangan Kenzo diikuti Pete yang menarik tangan Jesseli, ia mengajak Ken ke tempat dimana disana terdapat sebuah meja dan kartu sebagai permainannya. Sudah ada beberapa orang yang menyerah karena uang mereka telah habis, dan masih ada sebagian yang bertahan dengan uang yang dimiliki.
Mata Ken tertuju pada seorang pria bersama dengan satu wanita cantik dengan tumpukan uang di depan, itu artinya bahwa pria itu adalah pemain yang memenangkan beberapa kali, sepertinya Ken tertarik sekarang.
"Aku pertaruhkan tunanganku Jesseli, tapi aku ingin kau pertaruhkan seluruh uang mu yang ada di depan meja," tiba-tiba saja Ken berbicara seperti itu, tentu Jesseli syok dengan Ken yang bermaksud ingin mempertaruhkan dirinya.
Sedangkan Roger dan Pete malah tersenyum melihat sosok Ken, "ini lah yang aku tunggu," ucap Roger.
Ken duduk di hadapan pria yang ia sendiri pun tak kenal, ia menarik lengan Jesseli dan memangku nya di atas paha kiri, "bagaimana apakah kau tertarik, aku mempertaruhkan tunangan ku," mata Jesseli sudah memandang Ken dengan tatapan tak suka, namun Ken hanya mengedipkan sebelah mata yang berarti semua akan baik-baik saja.
"Baiklah," balas pria itu dengan menatap Jesseli penuh nafsu karena kecantikannya.
Dengan persetujuan masing-masing mulailah satu orang pria mengocok kartu di tangannya tanpa memihak antara satu dan lainya. Ken mengambil beberapa lembar kartu yang sudah dibagi untuknya, begitupun dengan pria yang di depan Ken.
Terlihat keduanya begitu serius dalam bermain hingga beberapa menit Ken tersenyum jahat dan menunjukan seluruh kartu yang ia punya, "i'm the winner," ucap Ken dengan senyuman jahat.
Wajah Jesseli begitu lega mendengar kata itu, sungguh ia tak bisa membayangkan jika Ken akan kalah dalam permainan ini.
Pria itu terlihat syok dengan kehebatan Ken dalam bermain, dengan paksa pria itu menyerahkan uang yang dari tadi ia kumpulkan dengan susah payah namun hilang sekejap bahkan dalam hitungan menit, "aku salut dengan cara bermain mu, siapa namamu," tanya pria itu penasaran.
"Kenzo Jordanio, tapi kau bisa memanggilku ku hanya dengan 3 huruf saja yaitu KEN," ucap Ken, mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan.
"Aku Nicholas, senang bertemu denganmu Ken," ia membalas uluran tangan Ken.
Ken berdiri meninggalkan Nicholas, tentu Ken sudah menyuruh Roger dan Pete merampas uang nya dan mereka kembali duduk di tempat semula yaitu di depan bartender.
"Tak ada yang bisa mengalahkan ku, kau lihat? Oh ya pesanlah minuman yang kau mau dan bayarkan saja uang itu," ucap Ken meneguk cairan keemasannya.
Jesseli sang tunangan pun ikut merayakan kemenangan kecil itu, ia bahkan meminum 4 gelas bir yang cukup membuatnya pusing .
"Ken dimana kunci mobilmu, aku ingin mengambil ponselku," ucap Jesseli lupa bahwa ia harus menghubungi teman untuk mengajaknya bergabung, namun kesalahannya adalah mengapa disaat ia mabuk?
Ken memberikan kunci mobil itu kepada Jesseli, dan Jesseli pun berjalan sedikit berat menuju mobil. Sesampai di luar pintu Jesseli melihat bahwa mobil Ken berada sedikit jauh dan harus menyeberang, ia melangkah tak memperhatikan kanan dan kiri. Ia masih saja terus berjalan beranggapan tak ada kendaraan yang akan lewat.
Bruuuugggg.....
Sebuah mobil telah menabrak tubuh Jesseli dengan keras, akibat benturan itu kepala Jesseli terhantam oleh aspal dan mengeluarkan banyak darah yang mengalir di kepalanya.
____________________________
Haiiii.... Follow i* aku yaa.. i* : Hes_Ree
The following morning arrived with a renewed sense of urgency. Ava and Jackson had hardly slept, their minds racing with strategies and possible scenarios. They were both eager to see how the media would continue to cover the fallout from Evans’s press conference and whether their efforts would make a lasting impact.Jackson was up early, already reviewing the latest news updates on his laptop. Ava, still groggy, joined him at the kitchen table, where the smell of fresh coffee provided a comforting backdrop to their tense conversation.“Any new developments?” Ava asked, her voice still heavy with sleep.Jackson looked up, his expression serious. “The media coverage is escalating. Evans’s team is scrambling to manage the damage control. There’s a lot of speculation about his future with the company.”Ava poured herself a cup of coffee and sat down next to him. “That’s good news, but we can’t let our guard down. He’s bound to try something drastic to shift the narrative.”Just then, Jac
Ava awoke to the soft rays of sunlight streaming through the curtains, casting a warm glow over the room. She turned to see Jackson already awake, his eyes focused on the laptop in his lap. The tension from the previous night had not yet dissipated, and both were eager to see the full impact of their efforts."Morning," Jackson said, glancing up as Ava stirred. "Looks like the media is starting to pick up on the story."Ava sat up, rubbing her eyes. "Good morning. Any major updates?"Jackson tapped a few keys and turned the screen towards her. News headlines flashed across the screen, some of them already featuring stories about Evans’s questionable activities. The coverage was beginning to shift, with investigative reports and interviews bringing Evans’s unethical practices into the spotlight."It looks like our plan is working," Jackson said, his tone a mix of relief and satisfaction. "But we need to stay vigilant. Evans won’t take this lying down."Ava nodded, her anxiety slightly
Ava woke up with a start, her heart racing. The shadows of the night were still clinging to the room, and the uneasy silence was only broken by the distant hum of the security system. Jackson was beside her, asleep but tense, his face set in lines of worry even in rest.The events of the previous day were still fresh in Ava’s mind—the confrontation with Marcus and the startling revelations about Evans’s plans. As she slipped out of bed and padded softly to the kitchen, she tried to calm her racing thoughts. The fight was far from over, and they needed a solid plan to counter Evans's next moves.Claire had been working tirelessly to gather more evidence, but Ava knew they needed to act swiftly. If they didn’t get ahead of Evans, the public’s perception could be swayed beyond repair.By the time Jackson joined her in the kitchen, Ava had already brewed a pot of coffee. She looked up as he entered, his eyes bleary but determined.“Morning,” he said, his voice rough with sleep.Ava offere
Ava stared at the darkened sky from the window of the secure house, her thoughts tangled in worry and determination. The threats against Eddy had added a new layer of urgency to their mission. They couldn’t afford to falter, not with their family and their future on the line.Jackson joined her, his presence a comforting anchor in the storm of emotions swirling within her. “We’ll get through this, Ava,” he said softly, placing a reassuring hand on her shoulder.She turned to face him, her eyes reflecting the fatigue and resolve that had become their constant companions. “I know. But I can’t help but worry about what Evans might do next.”Jackson nodded, his expression serious. “We need to stay one step ahead of him. We have to focus on gathering more evidence and making sure that everything we’ve uncovered is used effectively.”They spent the next few hours reviewing their strategy and preparing for the press release. Claire had arranged for a high-profile press conference to address
The night was thick with tension as Ava and Jackson ventured into the darkness, their minds racing with the urgency of their situation. The eerie silence was occasionally broken by the distant hum of city traffic and the occasional rustle of leaves in the breeze. Marcus’s unexpected appearance had l
The morning sun peeked through the curtains of the secure house, casting a soft light over the room. Ava and Jackson were already up, their minds focused on the next steps in their investigation. The tension of the previous night still hung in the air, but they were determined to press on.Jackson pa
The sleek, glass doors of the law firm closed behind Ava and Jackson with a soft whoosh, sealing them in a world of high-stakes legal battles and hidden agendas. The office was pristine and intimidating, filled with the polished veneer of corporate power.Jackson's expression was steely as he led Ava
The morning sun had just started to cast its golden hues over the horizon when Ava and Jackson sat at their kitchen table, surrounded by a myriad of documents, photos, and notes. The previous day’s meeting with David Collins had left them with more questions than answers, but it had also provided cr












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews