LOGINAnais, a poor orphaned Omega who sells her body to make a living, finds herself in a life-altering situation when she wakes up mated and pregnant after a night with a mysterious alpha. Atlas Hawke, a wealthy Alpha used to being in complete control and getting his way. He discovers she’s bearing his pup and takes Anais away from the sex club where she works, making her his mate. They each come from two different worlds and it becomes painfully clear that Anais is out of his league. As they grapple with their differences in backgrounds.. Will Atlas and Anais be able to find a way to make their mating work or will the pressure of both of their past and the scrutiny of the media prevent them from their happily ever after? ***find me on FB @K.B and any social media platforms @artful.kamara***
View MoreAnnisa tersentak saat pintu kamarnya terbuka, padahal rasanya tadi sudah di kunci dengan rapat. Apa dia lupa? Lalu, wanita itu terkejut saat melihat siapa yang masuk.
"Kamu mau apa, Bima?" tanya wanita itu kepada adik iparnya saat laki-laki itu berjalan mendekat.
"Mau melepas kangen sama kamu, Nisa. Sudah lama kita gak ketemu," ucap Bima disertai dengan senyuman licik.
Benar, dia memang merindukan Annisa, ipar yang dulu adalah kekasihnya. Sayang, wanita itu malah memilih menikah dengan Rahman, kakak kandungnya, saat dia bersekolah ke luar negeri.
Hati Bima sakit dan kecewa menerima kenyataan itu. Sehingga dia memilih tidak datang ke pernikahan mereka dengan alasan sibuk.
"Keluar dari kamarku, sekarang!" teriak Annisa. Kini, posisinya mulai terpojok di sudut, sementara Bima berjalan semakin mendekat.
"Aku sudah terlanjur masuk, Nisa. Biar aja aku di sini main-main sebentar." Tanpa malu, Bima membuka kaus dan dan menyampirkannya di bahu.
"Jangan kurang ajar kamu! Aku ini istri kakakmu!" ancam Annisa. Wanita itu masih berusaha mencari jalan untuk bisa ke luar dari kamar.
Ibu mertuanya pergi sejak tadi pagi, jadi dia sendirian di rumah itu. Setelah menikah dengan Rahman, Annisa memang tinggal di sana, hingga hari kepergian suaminya.
"Tapi Mas Rahman sudah gak ada, Nisa. Baiknya kamu terima lamaranku," paksa Bima.
Saat kakaknya meninggal, Bima pulang ke Indonesia dan mengatakan kepada ibunya bahwa dia ingin meminang Annisa. Selain karena masih memendam rasa cinta, laki-laki itu juga tak mau sang ibu bersedih jika berpisah dengan menantunya.
Kini, dia kembali untuk mengambil alih menjaga ibu mereka dan menggantikan tugas kakaknya. Setelah beberapa hari tinggal bersama, rasa cintanya kepada Annisa semakin kuat. Dia bermaksud baik ingin menghalalkan wanita itu.
Sayang, Annisa menolak lamarannya. Padahal dulu mereka pernah berpacaran cukup lama. Kepergiannya untuk menimba ilmu justru membuat hati wanita itu berpaling kepada kakaknya sendiri.
"Masa iddahku belum selesai. Jadi, sebaiknya kamu urungkan niat untuk melamar," jawab Annisa tegas.
"Kalau begitu setelah iddah kamu selesai, kita bisa langsung menikah. Bukannya itu tinggal menghitung hari." Kini, Bima mengurung wanita itu dengan kedua tangannya.
"Tapi aku ... gak mau menikah dengan kamu Bima," tolak Annisa tegas. Dia baru saja kehilangan sang suami tercinta, dan belum ingin membuka hati untuk siapa pun.
"Bagaimana kalau kamu aku buat mau?" ucapnya sembari menahan tawa saat melihat Annisa yang ketakutan.
Bima harus melakukannya sekarang. Jika tidak, bisa saja nanti wanita itu akan jatuh ke pelukan laki-laki lain. Annisa begitu cantik dengan wajah mulus dan kulitnya yang putih bersih. Sejak gadis saja, dia sudah menjadi incaran para kaum Adam. Apalagi setelah menjadi janda, tentulah akan menjadi rebutan.
"Jangan lancang!" Annisa berteriak di depan wajah Bima, hingga membuat laki-laki itu marah dan menarik tubuhnya dengan sekali sentak.
"Lepas!" Annisa meronta mencoba membela diri. Tangan kecilnya memukul tubuh laki-laki itu dengan keras. Apalah daya, dia hanya wanita biasa.
Ketika Bima menyumpal mulutnya dengan kaus agar tak bisa berteriak, wanita itu kehilangan harga diri yang selama ini dia berusaha pertahankan mati-matian.
***
Dua bulan yang lalu."Menikah lagi?" Annisa menatap wajah ibu mertuanya dengan hati gamang karena itu sama sekali tak terpikirkan olehnya.
"Iya, Nisa. Kamu masih muda dan belum memiliki anak. Sebaiknya, menikahlah lagi agar ada yang menjaga dan melindungimu," ucap ibu mertuanya dengan lembut. Wanita paruh baya itu sangat menyayangi sang menantu. Oleh karena itu, dia mengikhlaskan jika Annisa ingin menikah lagi.
"Tapi ... masa iddah Nisa belum selesai, Bu. Tanah kubur Mas Rahman juga masih basah," sanggahnya.
Annisa mengerti, ada maksud baik dari permintaan sang ibu mertua tadi. Dia bukannya tidak ingat kepada mendiang putranya. Hanya saja, wanita paruh baya itu telah merelakan semua.
"Maksud Ibu juga tidak buru-buru, Nisa. Tapi kami sekeluarga ikhlas jika memang nanti kamu mendapatkan pendamping hidup yang baru."
Nisa tergugu menatap ibu mertuanya. Selama ini, beliau selalu memperlakukannya dengan baik selama dia tinggal di sana. Mendiang suaminya adalah putra pertama, sehingga mereka yang bertanggung jawab kepada keluarga.
"Nanti Nisa pikirkan lagi, Bu. Untuk sekarang memang lebih nyaman sendiri," lirihnya.
"Ya sudah kalau begitu. Ibu mengerti perasaanmu," ucap ibu mertuanya seraya mengusap wanita itu dengan lembut.
Annisa menghela napas panjang. Sudah beberapa bulan ini statusnya resmi menjadi janda di usia muda, 25 tahun. Pernikahan yang baru seumur jagung dan belum dikarunia keturunan harus berakhir ketika suami tercinta dipanggil oleh Sang Pencipta.
Rahman, mendiang suaminya menderita penyakit bawaan sejak lahir yaitu kelainan jantung. Itulah yang membuatnya menerima pinangan laki-laki itu. Awalnya hanya karena rasa kasihan, tapi lambat laun menjadi cinta.
Apalagi hubungannya dengan Bima, adik kandung Rahman semakin tidak jelas, setelah laki-laki itu sekolah ke luar negeri. Dia bahkan menjumpai foto Bima sedang berduaan wanita lain yang berpenampilan seronok di media sosial, yang diakuinya sebagai teman kuliah.
Hati Annisa begitu sakit, terlebih Bima jarang memberi kabar dan sibuk sendiri. Ketika Rahman mengatakan serius ingin mempersuntinya sebagai istri, maka wanita itu langsung menerima.
"Terima kasih kalau Ibu mengerti," lirihnya.
Tadi mereka baru saja selesai makan siang dan ibu mertunya ingin bicara dari hati ke hati. Annisa berpikir sang ibu akan membahas masalah lain, ternyata mengenai itu.
"Oh iya Nisa. Mungkin, Bima akan pulang ke sini untuk menemani kita," ucap wanita paruh itu dengan tenang. Dia tidak tahu bahwa sang menantu pernah berpacaran dengan putra keduanya.
Annisa terdiam sejenak, lalu berkata, "Syukurlah. Jadi Ibu ada yang menjaga. Nisa mungkin mau pulang ke kampung setelah iddah selesai. Mau ketemu Bapak."
"Iya, Nisa. Boleh saja. Ibu berikan izin. Tapi jangan pulang seterusnya. Ibu mau ditemani kamu di sini," pintanya dengan penuh harap.
"Insyaallah, Bu."
Suasana menjadi hening. Annisa menjadi serba salah kalau sudah begini. Padahal dia ingin kembali kepada orang tuanya.
"Oh iya, Nisa. Ibu mau bilang sesuatu,"
"Apa, Bu?"
"Ibu ndak mau kehilangan anak sebaik kamu. Jadi ... bagaimana kalau kita lanjutkan hubungan keluarga ini."
"Maksudnya?"
"Ini ... kalau kamu berkenan."
"Nisa gak ngerti, Bu."
"Bima belum memiliki calon istri. Kalau kamu mau, bagaimana kalau kamu menikah dengan Bima."
Jantung Annisa berdetak kencang mendengar itu. Dia terdiam lama, lalu menggelengkan kepala. Sifat Bima yang dulu dengan yang sekarang pasti sudah jauh berbeda. Sehingga dia tak ingin menghabiskan hidup dengan orang yang sama. Apa yang menjadi masa lalu, biarlah berlalu.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau. Ibu mau ke kamar dulu. Istirahat," ucap wanita paruh baya itu ke luar setelah memeluk menantunya dengan erat.
Accidentally Mated To Alpha Atlas .Chapter SIXTY: . Anais let Atlas lead her around in a swaying motion and realized that the evening had gone better than she ever thought it would. She relaxed and enjoyed dancing with Atlas. They stayed on the dance floor for several songs before Anais started to drag a little.Atlas noticed right away and pulled her back to their table where they said their good-byes. Anais followed Atlas as they made their way across the room to the doors. Anais stopped and stepped out of the way as Atlas moved to the window to get their coats from the coat check.“I didn’t think I’d see you here tonight,” a breathy voice said behind her. Anais turned to see Lilith approaching her.“Lilith, it’s nice to see you,” Anais said. She would be civil and cordial. She reminded himself that she and Atlas had had a wonderful night and she wasn’t going to let this woman ruin anything for her.“Wish I could say the same,” she simpered. Anais rolled her eyes.“What
Accidentally Mated To Alpha Atlas .Chapter FIFTY NINE: . They had been home for three days when Atlas brought up the subject of a charity ball.“What do you think?” he asked Anais.She paused. It would be the first function out in society since her illness. Anais licked her lips and thought about it. “Like, how big of an event are we talking?” Anais asked.Atlas handed her the glossy invitation and Anais stared at it. It was for the Rainforest Alliance Annual Gala. It looked fancy and it was going to be held at the American Museum of Natural History. A big event.“If you don’t want to go, it’s alright, we won’t.” Atlas’ scent was honest and the understanding look on his face made Anais feel like Atlas meant what he said.“I’ll have to go out sometime, right?” Anais asked jokingly. “Anais , it really is-““No, no, Atlas, it’s okay. I mean, we knew something was going to have to happen to get us back out there, it’s just…” She shrugged. Atlas stepped forward and took her
Accidentally Mated To Alpha Atlas .Chapter FIFTY EIGHT: . “What are you thinking about?” Atlas asked softly. They were laying together after Atlas had cleaned them both up, Anais’s head on his chest. Atlas had been brushing his hand through Anais’s hair, grooming her. He noticed that the omega’s scent was wavering. He knew Anais was thinking about something she wasn’t sure of and worried about. Atlas wanted to give her the chance to talk about whatever was bothering him.He continued to try and read Anais’s scent more than he had before. Anais was expressive and he wondered if the omega had been this way all along and Atlas had ignored it, or if she had controlled herself tightly the first few months.Anais sighed and shifted slightly. Atlas felt the brush of her rounded belly against her hip and he reached over to stroke it. He felt Anais’s mouth lift into a smile against his skin and it made Atlas smile in turn.“I don’t want to destroy the mood,” Anais told him. “It’s
Accidentally Mated To Alpha Atlas .Chapter FIFTY SEVEN: . ATLAS POVAtlas lay with Anais after they were knotted, thinking about their discussion. Her omega had dropped off after several minutes and Atlas took some time to look over her. They were laying on their sides, spooned together and he could see a clear view of most of his mate.His eyes followed his fingers as they trailed over her collarbone and down her back to her ribs. He brushed the hair off of Anais’s face and ears and looked at her lashes and freckles. Her perfect bow lips relaxed in sleep made her look young and youthful. He thought about what Anais had said that night and realized, again, what life was like for his omega. He felt sad and angry that Anais had gone through so much. Atlas was both appalled and honored that Anais had such a tie to him, but it also made him feel slightly ill to know that his mate’s situation was so precarious.He had been confident with Anais that this fragility wouldn’t be for
Accidentally Mated To Alpha Atlas .Chapter FIFTY FIVE: . “Atlas, dinner’s ready,” Anais called from the kitchen. She plated the food and set everything out but Atlas hadn’t appeared. She padded back into the hallway and knocked on the door to the office.“Come in,” Atlas’ voice called. Anais pushe
Accidentally Mated To Alpha Atlas .Chapter FIFTY THREE: . “You’re sure you’re ready for this?” Atlas asked her. Anais turned and smiled at the alpha. “Atlas, it’s been a week. I think it’s time.”“Do you think it’s time or are you ready?” Atlas asked. Anais nuzzled into Atlas’ neck. She scented th
Accidentally Mated To Alpha Atlas .Chapter FIFTY ONE: . “They took pictures. But we stopped it, mostly, right away. Charlie was able to get the reporters to give us the rights and we controlled the content. Digitally it’s a little tricky.”“And so…there are pictures of me going into the ambulance,
Accidentally Mated To Alpha Atlas .Chapter FIFTY: . “Are you hungry?” he asked Anais.She nodded and glanced at the clock. It was just after three o’clock, but they hadn’t had lunch at the hospital because of the discharge. She looked back to Atlas who held out the menus.“Where do you want to eat?”






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews