LOGINArya Bithwood is the daughter to an alpha king of pack Lacuna, she hates the responsibilities of being of royal blood and being born into a kingdom pack of fighters and warriors she has been trained to be a warrior since the day she was born. Her whole family are of warrior blood, so when an alliance is formed between their pack and the pack Solasta she would never have imagined that King Dimitri's son would be her fated mate. Adonis Thorin is her mate but her brother Sean demands that she reject him, will Arya follow her heart or stay loyal to her brother's wishes?
View More"Nyonya Savita, Anda mengidap kanker darah leukimia."
Kalimat itu terus terngiang di kepala Savita.
Setelah menerima surat rujukan, Savita langsung diarahkan ke dokter hemato-onkologi. Kini, dia duduk di ruang tunggu. Jantungnya berdegup tak menentu dan jemarinya saling meremas dalam diam.
"Savita Arrazka."
Suara lembut seorang perawat wanita membuyarkan lamunannya. Savita mendongak.
"Iya, saya," jawabnya pelan, lalu berdiri dan melangkah masuk ke ruang onkologi.
Dengan kepala menunduk, Savita segera duduk di kursi pasien. Begitu mengangkat wajah, matanya langsung bertemu dengan dokter pria yang sangat dia kenali di manapun berada.
Dimas Samitra.
Berbeda dengan Savita yang begitu terkejut, Dimas tampak biasa saja. Dia bersikap tenang seolah ini adalah pertemuan pertama mereka.
Dimas membuka map berwarna merah yang berisi kertas-kertas pemeriksaan dan mulai membacakan hasilnya.
"Savita Arrazka, 29 tahun. Saya sudah memeriksa hasil pemeriksaannya,” ucap Dimas dengan mata masih menatap map yang ada di hadapannya. “Leukimianya terdeteksi masih bisa sembuh dan peluangnya besar. Kalau bersedia, saya buat jadwal pengobatannya."
Setelah mengatakan itu, Dimas menulis sesuatu di kertas tersebut. Melihat hal itu, Savita menelan ludah. Dia tidak menyangka hari ini akan datang. Penyakit yang tidak pernah disangka olehnya sampai kapanpun.
Setelah hubungannya dengan Dimas berakhir 10 tahun lalu, takdir mempertemukan mereka kembali sebagai dokter dan pasien. Suatu hal yang sebenarnya tidak diinginkan oleh Savita.
Melihat Savita hanya diam, Dimas mengernyit lalu mengangkat kepalanya. "Savita?" panggilnya pelan.
“Ya,” jawab Savita sedikit gelagapan.
Suara Dimas membuatnya tersadar. Savita menghela napas pelan dan mencoba tersenyum tipis. Kedua tangannya mendadak dingin. Leukimia. Kanker yang tidak pernah disangka akan datang di tubuhnya.
"Maaf, aku melamun,” ucap Savita lagi. “Ya, aku setuju."
Dimas menatap Savita cukup lama lalu mengangguk. Dimas kembali menunjukkan ketenangannya. Pria itu kemudian menulis lagi sesuatu di dokumen dan beralih menatap Savita.
"Sebelum mulai pengobatan, saya mau jelaskan prosedur yang perlu kamu siapkan." Dimas berkata dengan suara tenang layaknya pada pasien pada umumnya dan menggunakan bahasa baku.
Lalu, Dimas memaparkan serangkaian langkah yang harus dijalani Savita. Suaranya tenang dan jelas, membuat Savita mudah memahami setiap penjelasan.
Begitu Dimas selesai berbicara, barulah Savita membuka suara. “Terima kasih penjelasannya, Dokter. Kalau begitu saya permisi.”
Saat Savita hendak bersiap untuk berdiri ketika Dimas menahan pergelangan tangannya.
“Tunggu,” kata Dimas.
Sadar dengan apa yang baru saja dilakukan, Dimas buru-buru melepaskannya perlahan.
"Kamu apa kabarnya?" tanya Dimas. Kali ini nada suaranya lebih lembut.
Ini pertama kalinya Dimas berbicara dengan nada informal, setelah sedari tadi bersikap seolah mereka tidak saling mengenal.
"Baik," jawab Savita singkat.
Savita mencoba untuk membuat kenangannya bersama dengan Dimas beberapa tahun lalu.
Ekspresi Dimas berubah. Meski hanya sekilas, ada gurat kesedihan yang sulit disembunyikan di wajahnya. Savita mengetahui itu. Mereka menjalin hubungan tidaklah sebentar.
"Begitu, ya,” angguk Dimas pelan. “Kayaknya Mahendra memperlakukan kamu baik banget."
Ucapan Dimas membuat Savita mengerutkan dahi seraya memandangi pria itu, mencoba membaca maksud dari ucapannya barusan.
"Maksudnya?" tanya Savita. Karena dia tidak paham yang dikatakan Dimas.
Dimas menggeleng cepat lalu tersenyum tipis. "Nggak. Nggak ada apa-apa. Kamu boleh pergi."
Savita memilih untuk tak memikirkan terlalu jauh maksud perkataan Dimas. Dia segera bangkit dan melangkah keluar.
Dimas memerhatikan punggung Savita yang menghilang di balik pintu ruang prakteknya. Dia menghela napas pelan. Diletakkan ballpoint yang sejak tadi dipegangnya sebagai penguat perasaannya yang hampir saja jatuh saat melihat Savita.
“Maaf,” bisik Dimas lalu menunduk.
Savita melangkahkan kakinya menyusuri lorong-lorong rumah sakit Kasih Medika yang berada di pusat kota Bekasi. Savita menghela napas pelan. Dia tidak bisa menyingkirkan begitu saja berita buruk yang diterimanya. Dia mendadak bingung harus berkata apa pada Mahendra dan Kaivan mengenai penyakitnya itu.
Dengan tangan yang tiba-tiba gemetar, Savita mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dicarinya aplikasi taksi daring lalu memesannya menuju rumah. Tertulis di aplikasi taksi dari tersebut waktu tempuh 30 menit sampai ke rumah.
Tidak lama menunggu, taksi tersebut sudah sampai. Tanpa banyak berkata, Savita segera menaiki mobil tersebut. Di dalam mobil, Savita mencoba memejamkan mata mengulang kembali ucapan Dimas di rumah sakit tadi.
“Leukimianya terdeteksi masih bisa sembuh.”
Entah, Dimas hanya menghibur atau kenyataan untuk Savita. Tetapi leukimia merupakan kanker darah yang menurutnya menakutkan.
“Sudah sampai, Bu Savita.”
Suara pengemudi itu membuat Savita membuka mata. Savita mencoba tersenyum. Langkah kakinya mendadak berat saat hendak turun dari mobil itu.
“Terima kasih, Pak. Sudah pakai e-wallet, ya, tadi,” ucapnya lalu perlahan keluar dari mobil.
Savita melangkahkan kakinya menuju rumah. Ditekan bel di samping pintu rumah itu perlahan. Pikirannya masih kacau berusaha merangkai kata untuk Mahendra nanti.
‘Atau langsung saja kuberikan hasil pemeriksaan tadi?’ pikirnya masih bingung.
Begitu pintu terbuka, seorang anak kecil berlari menghampirinya. Dia adalah Kaivan Janardana, putra Savita yang baru berusia lima tahun.
"Mama!" seru Kaivan riang dan segera memeluk Savita.
Savita membalas pelukan Kaivan. Melihat kaivan, hatinya pilu. Dia tidak sanggup mengatakan penyakitnya. Walau masih bisa sembuh, tetapi hanya Tuhan yang dapat menentukan segalanya.
"Mama, Papa juga udah pulang."
Savita mengernyit, alisnya bertaut rapat saat melihat jam tangannya. Pukul 5 sore.
"Oya? Di mana papa sekarang?" tanya Savita. “Mama mau ngomong sama Papa.”
Kemudian Savita menggamit lengan Kaivan bersamanya. Savita mencoba menepis keanehan Mahendra yang pulang cepat. Mahendra biasanya pulang pukul 7 malam atau paling terlambat pukul 10 malam.
"Papa ada di ruang tengah sama tante cantik," jawab Kaivan.
Savita sedikit bingung. ‘Apa maksud Kaivan? Siapa tante cantik yang dimaksudnya?’
“Oh. Teman Papa, ya?” Savita bertanya seraya tersenyum. Berpikir positif diantara kabar buruk mengenai penyakitnya. “Yuk, ketemu Papa.” Ajak Savita lagi tanpa menaruh curiga. Biasanya memang Mahendra menerima tamu di rumah itu.
"Tante cantik bilang, dia lagi hamil adik bayi perempuan," celetuk Kaivan lagi.
Wajah Kaivan bahagia dan bersemangat saat menceritakan tante cantik. Sebaliknya, Savita mulai bingung. Diangkat alisnya menatap Kaivan.
“Hamil?” Savita berbisik lebih kepada dirinya sendiri.
Savita menggeleng pelan. Dia memasang senyumnya. ‘Mungkin mau ajukan cuti,’ pikirnya.
“Ayo, Kaivan.” Ajak Savita lagi ketika langkah mereka hampir sampai di ruang tengah.
Savita merogoh tas tangan yang dibawanya. Dia akan memberikan saja surat pemeriksaan pada Mahendra. Jika Mahendra bertanya, maka dia akan menjawab sejujurnya.
"Kamu sudah pulang?"
Suara bariton terdengar membuat langkah kaki Savita berhenti. Mahendra Janardana berjalan menghampirinya.
Di belakang Mahendra, seorang wanita dengan kulit putih, rambut panjang bergelombang mencapai punggung dan memiliki hidung bangir tersenyum pada Savita. Dia terlihat elegan dan anggun dengan balutan midi dress biru serta sepatu hak tinggi 5 cm warna senada. Mata Savita tertuju pada perut yang masih rata itu.
Kedua alis Savita terangkat saat matanya tertuju pada mata yang memiliki riasan smokey eyes itu. "Gita?"
Ya, Savita mengenalnya.
Gita adalah artis yang berada di bawah naungan perusahaan Janardana Media Grup milik Mahendra. Perusahaan yang bergerak di bidang Media dan Musik. Seingat Savita, Gita belum menikah. Sekarang Gita hamil dan itu membuat Savita bingung.
"Savita, ada yang mau aku omongin," kata Mahendra. Wajahnya terlihat sangat serius.
Savita masih menatap Mahendra. "Apa?"
Perlahan Savita memasukkan kembali surat pemeriksaan itu ke dalam tasnya. Keinginannya untuk memberitahukan Mahendra mengenai penyakitnya batal. Perasaannya mulai tidak enak. Savita merasa ada yang janggal. Karena tidak biasanya Mahendra berekspresi seserius itu saat ingin berbicara dengannya.
‘Sebenarnya ada apa ini?’ tanya Savita dalam hati.
Keraguan tercetak jelas di wajah Mahendra. Savita masih diam menunggu sesuatu yang ingin dikatakan oleh suaminya tersebut. Kemudian, Mahendra menatap Gita yang berdiri di sampingnya. Hal itu membuat Savita semakin penasaran.
"Bilang saja, Mahendra," pinta Savita dengan suara pelan. Dia sudah tidak sanggup bersuara keras lagi.
Mahendra berdeham. "Gita hamil."
Adonis My beast is on the brink of losing his mind, I've been stuck in this cage with my men for hours, my father's beta is in here with me, and all in all, we're about twenty-two. There are a few more cages filled with our men and woman, our warriors and fighters. But all I can think of right now is my father, his lifeless body lying there, and Sean refusing to let me take him home for a proper burial. And then there's Arya, I wonder if she's still with her real family, I wish I could see her face one last time. I know the moon is almost at its highest and soon it will be too late, I'll be dead, and.... gulping my jaw clenches as my brows come together. And so will she... I'm sitting hunched over as my arms drape over my knees, my head is hung low and I'm blocking out the murmurs as Sean's men torment mine. But I don't care about that right now, time is ticking away and I'm stuck in here, my mate is far away and our time is basically up. Tonight the curse that has been weighing
Arya My head was spinning as I stood up, it was dark inside this section of the cave and the air seemed stuffier, it wasn't exactly my first choice to get in here but it would most likely prove to be the most successful. I know the way and even though it's a tight space of squeezing through an opening best suited for a child I know that this is the only way we will go undetected, Asher suddenly groans from behind me as he squeezes through the gap in the wall. "Seriously, Arya, this was your big plan, to lead us through a gap for midgets?" Scoffing I roll my eyes as I push on through the narrow space, "I didn't tell you to come with me, last time I checked you were the one who wouldn't let me come alone, remember?" "You can't be serious to think that you would have been able to take Sean on by yourself, I've had dealings with him in the past, and whether he's my cousin or not he's always been a bit of an entitled dick." "Firstly, I can handle Sean just fine. Yes, he's sort of los
Arya I had managed to convince alpha Blake, Aaron, and Axel to enter the cave through the only other opening they thought was there. Little do they know that I've sent them through the opening which would ultimately keep them as far away from danger as possible, long enough for me to get to Adonis and free him and his people. The entrance I had sent alpha Blake and my brothers into however would lead them to a section we like to call confusion, it's named that because to our enemies it would seem like the only way in if they happened to stumble across it, and once inside it's like a maze which has you wandering in circles before eventually coming across cages which would be unoccupied. They would be unoccupied because they were still being installed when my dad... cringing at the fact that I just referred to alpha Warrick as my father when he was nothing of the sorts has me reliving a moment in the section of confusion just a few weeks
Arya We headed out the back of the castle as the eerie silence made it all too real, the whole castle was deserted, it has gone from a vibrant and busy place to absolute emptiness. Mist and fog covered the grounds like a clouded blanket. Looking up at the sky it was plain to see that bad weather was approaching, the clouds were dark and I couldn't help but wonder if we were in for a blizzard as a sudden and unexpected gush of wind blew icy particles right past us swirling across the darkened sky. None of us said anything though, because honestly, a blizzard was the least of our worries right now, right? I didn't want any of my family going underground with me and an unimaginable fear started creeping deep inside of me at the realization of what we could be walking into, I've been down there so I know all too well each and every angle of the place, going alone would mean that I would be able to move unnoticed amongst the shadows, hav






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore