LOGINA human girl ventures into the pack of the wolves in search of a cure for her sick father even though she's aware of the consequences. The warnings were clear; humans were forbidden from crossing the pack borders, but Rea was desperately in search of a wolfsbane while Damien Remington, alpha of the Darkclaw pack—the same pack she'd just invaded and broken the rules—was ever ready to ruin humanity tirelessly. Rea had crossed that line and it infuriated the most why? Because she hadn't only come to steal a wolfsbane but her scent intoxicates and messes with his senses. How much can punishment can be inflicted to a human intruder in order to get her scent of out of a mysterious alpha's senses for good. Find out.
View MoreDi kaki Gunung Lu yang menjulang, musim semi menghamparkan keindahannya. Ribuan bunga pohon plum bermekaran, kelopak-kelopaknya yang berwarna merah muda dan putih seakan menari tertiup angin semilir.
Di tengah pemandangan memesona itu, seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun terlihat sibuk memetik buah-buah plum yang ranum. Rambut hitamnya yang berantakan sesekali tertiup angin. Ia mengenakan pakaian sederhana, sedikit kusam oleh debu dan keringat. "Du Fei … Du Fei! Di mana kau, Nak?” Anak laki-laki yang dipanggil Du Fei itu menoleh ke arah sumber suara. Mata bulatnya berbinar-binar mengenali suara yang sangat ia kenal. "Ibu, aku di sini!" teriak Du Fei kecil dengan suara kanak-kanaknya yang khas. Saat sosok ibunya mulai terlihat di balik rimbunnya pepohonan, Du Fei berlari kecil menghampirinya. Keranjang di tangan berayun-ayun mengikuti irama gerakannya.. "Lihat, Ibu! Hasil petikan ku makin hari makin banyak!" seru Du Fei mengangkat keranjangnya tinggi-tinggi, memamerkan buah-buah plum yang terlihat ranum di bawah sinar matahari. Senyum lebarnya menampakkan deretan gigi susu yang rapi, dengan satu celah kecil di bagian depan - tanda bahwa ia sedang dalam masa pergantian gigi. Melihat hasil kerja keras putranya, sang Ibu memasang mimik kagum yang tulus. Matanya yang lembut membelalak takjub, alisnya terangkat tinggi, dan bibirnya yang ranum terbuka membentuk huruf 'O' kecil. Ekspresinya memancarkan kebanggaan dan kasih sayang yang mendalam. "Wah, Du Fei sayang! Kau benar-benar anak yang rajin dan berbakat!" puji sang Ibu. Ia berlutut di hadapan Du Fei, menyejajarkan pandangannya dengan sang anak. Tangannya mengusap kepala Du Fei dengan penuh kasih sayang. "Apakah kau lupa hari ini kita harus ke kota berjualan manisan?" tanya Qing Ning, matanya menatap lembut Du Fei kecil. Wanita cantik ini, yang tak lain adalah cucu mendiang ketua Hoa San, meski sudah berusia 27 tahun dan hidup bersahaja, namun aura kecantikannya tetap terpancar. Du Fei, dengan mata sendu menjawab , "Maafkan Du Fei, menyusahkan Ibu!" Qing Ning tertawa kecil mendengar jawaban putranya. "Ayo cepat bergegas sebelum hari keburu siang!" ujarnya sambil menyentil dagu Du Fei dengan gemas. Perjalanan menuju kota cukup jauh dan menantang, terutama dengan berjalan kaki. Mereka harus melewati hutan yang membentang beberapa kilometer, dengan pepohonan rimbun dan sesekali suara binatang liar yang terdengar samar-samar. Du Fei, meskipun masih kecil, menunjukkan ketangguhan yang luar biasa. Kebiasaan berjalan jauh yang telah ia lakukan sejak berusia lima tahun telah menempa tubuh mungilnya menjadi kuat dan tangguh. Wajahnya yang berseri-seri tak menunjukkan tanda-tanda kelelahan, justru pancaran semangat dan kegembiraan terpancar jelas dari sorot matanya yang jenaka. Hari mulai siang saat mereka memasuki kota Xiuxiang. Suasana kota terasa hidup, jalanan dipenuhi oleh para pedagang dari berbagai daerah.. Qing Ning dan Du Fei bergegas menuju ke pasar, kaki-kaki mereka melangkah cepat di atas jalanan berbatu . Sesampainya di tempat berjualan, mereka disambut oleh barisan pelanggan yang sudah menanti -sebagian besar, anehnya, adalah laki-laki- dengan sorot mata penuh harap. "Aih, Nona, mengapa terlambat? Kami sudah menunggu dari tadi ingin bertemu denganmu!" protes seorang pelanggan yang berdiri di barisan antrian terdepan. Suaranya terdengar tidak sabar, namun ada nada gembira yang tak bisa disembunyikan. Tiba-tiba, ia menyadari tatapan aneh dari para pedagang wanita di sekitarnya. Wajahnya memerah, lalu buru-buru meralat ucapannya, "Eh, maksudku ... ingin membeli manisanmu!" Qing Ning menanggapi dengan senyuman manis, ia meletakkan keranjang manisan di atas sebuah meja bambu. "Maaf, Tuan ... kami kesiangan!" ucapnya dengan suara merdu yang membuat beberapa pelanggan pria menahan napas. "Tidak apa-apa, berikan aku sepuluh manisan!" Pelanggan tadi tersenyum genit, matanya tak lepas memandang wajah cantik Qing Ning. Namun, wanita itu dengan cerdik berpura-pura tidak menyadari, sibuk memasukkan manisan ke dalam kantung kertas dengan cekatan. Ketika Qing Ning hendak menyerahkan kantung yang sudah terisi, pria tersebut mengulurkan tangannya, berniat menyentuh jemari lentik sang penjual manisan. Namun, Du Fei yang waspada segera bertindak. Dengan gerakan cepat dan lincah, ia mengambil alih kantung itu dari tangan ibunya. "Ini, Paman!" seru Du Fei riang, menyodorkan kantung manisan kepada si pelanggan. Senyumnya lebar dan polos, tak menyadari kekecewaan yang terpancar di wajah pria itu. Pelanggan tersebut mendengus pelan, gemas bercampur kesal. "Dasar, Anak pengganggu!" desisnya nyaris tak terdengar. Dengan setengah hati, ia menyerahkan beberapa keping perak ke tangan kecil Du Fei, lalu berbalik pergi. Du Fei, masih dengan senyum lebarnya, melambaikan tangan pada pelanggan yang menjauh itu. Sementara Qing Ning tersenyum, matanya memancarkan rasa bangga pada kecerdikan putranya. Ia mengusap kepala Du Fei dengan penuh kasih sayang, membuat anak itu terkikik geli. Hari itu pun berlanjut, dengan Qing Ning dan Du Fei melayani pelanggan demi pelanggan. Manisan plum mereka laris manis, tidak hanya karena rasanya yang lezat, tetapi juga karena pesona tak tertahankan dari sang penjual cantik dan putranya yang menggemaskan. Dalam waktu singkat, keranjang Qing Ning telah kosong. Manisan plum mereka ludes terjual, meninggalkan aroma manis yang samar di udara. Kesuksesan ini, alih-alih memicu kegembiraan, justru memancing kecemburuan dari para pedagang di sekitar mereka, terutama para wanita yang merasa tersaingi. "Dasar wanita penggoda, bergenit-genit dengan pelanggan laki-laki supaya mereka mengeluarkan uangnya!" sindir pedagang bakpao di sebelah kanan Qing Ning. Suaranya sinis dan cukup keras untuk didengar oleh siapapun di sekitar mereka. "Benar, mentang-mentang cantik, menghalalkan segala cara untuk memperoleh uang ... tidak tahu malu!" Pedagang di sebelah kiri menimpali dengan nada mencemooh. Matanya menyipit penuh kebencian saat melirik ke arah Qing Ning. Mereka melirik Qing Ning dengan tatapan merendahkan, seolah-olah ia adalah kotoran di sepatu mereka. Qing Ning, meski hatinya terluka, berusaha keras menjaga ekspresinya tetap tenang. Hinaan-hinaan seperti ini bukan hal baru baginya, namun tetap saja terasa menyakitkan setiap kali ia mendengarnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas cercaan mereka, Qing Ning mulai berkemas. "Du Fei, ayo kita pulang," ujarnya pada sang putra, berusaha menyembunyikan getaran dalam suaranya. Tergesa-gesa, Du Fei tak sengaja menabrak seorang pria setengah baya mengenakan pakaian pejabat daerah berwarna merah tua. Pakaian itu tampak mahal dan mencolok di antara kerumunan pasar. "Maafkan anak saya, Tuan!" Qing Ning segera membungkuk dalam-dalam, rambut hitamnya yang tergerai sedikit menutupi wajahnya yang cantik. "Ah, tidak apa-apa!" Pria itu terkekeh pelan, namun ada sesuatu dalam tawanya yang tidak tulus. Matanya menatap Qing Ning dengan cara yang membuat wanita itu merasa tidak nyaman. "Siapakah nama Nyonya? Sepertinya bukan berasal dari sini." Qing Ning merasakan firasat buruk menyergap hatinya. "Nama saya Mei dari desa sebelah," jawabnya singkat. Tangannya menggenggam erat jemari kecil Du Fei, seolah berusaha melindunginya dari bahaya yang tak kasat mata. "Kau boleh memanggilku Pejabat Yuan," ujar pria itu, senyumnya melebar namun mata berkilat penuh nafsu. "Bisakah kita berbincang dulu sambil makan bersama di rumah makan terbaik di kota ini?" "Maaf, saya harus pulang!" tolak Qing Ning dengan halus namun tegas. Tanpa menunggu respon, ia menarik tangan Du Fei, bergegas meninggalkan kota. Pejabat Yuan menatap punggung Qing Ning yang menjauh, senyum sinis terkembang di wajahnya yang mulai menua. "Jangan kira kau bisa lolos dariku!" gumamnya pelan seolah bicara pada diri sendiri, suaranya penuh ancaman. "Tak ada sesuatu pun yang kuinginkan tak dapat kumiliki." Sementara itu, Qing Ning dan Du Fei terus berjalan cepat, meninggalkan hiruk pikuk kota di belakang mereka. Qing Ning merasakan kelegaan mulai menyelimuti hatinya seiring jarak yang semakin jauh dari kota. Ketika melintasi jalan setapak di tepi hutan yang rimbun, telinga Qing Ning yang terlatih menangkap suara langkah-langkah kaki asing mengikuti mereka. Suara itu samar, namun cukup jelas untuk memicu kewaspadaannya. "Du Fei, kita harus bergegas," bisiknya lembut. Mereka berdua mempercepat langkah, nyaris berlari. Di belakang mereka, Pejabat Yuan muncul dari balik pepohonan, bergerak dengan gesit. Ia mengejar Qing Ning dan Du Fei, namun kehilangan jejak ketika ibu dan anak itu berbelok tajam di tikungan yang tersembunyi di balik semak belukar.Rea's POVHis words struck through my skull like a spear, sharp and impossible to escape, piercing through every shred of pride in me, leaving me numb with shame.I felt my face burn hotter than a furnace.Not again.What was he aiming at?Would this make him change his mind?Ordering me around in the most sinful ways.Who would have thought that being watched like this could feel completely humiliating?He surely had the act of humiliation embedded in his brain, that he knew the smallest things could get a person."Oh f**k," I mumbled, an inaudible cuss under my breath, as I tossed the towel away slowly.His eyes lit up like a flash of sunlight in a stormy sky. That dark, infuriated gaze disappeared for a fraction of a second, then, almost like it hadn't happened, he locked onto me with a predatory stare again, expression unimpressed.Who would have thought that being watched like this could feel completely humiliating?The dryer was next.I steered onto the next availab
Damien POVI knew turning around was the next thing that comes after she had stripped. So I waited patiently to see it, locking on my sit and taking in the confused, nearly humiliated look in her features. First to drop was the pullover, revealing the true maddening size of her breast. The winter clothes she walked in her with, hasn't done any good to those mad curves. I better stop her from walking around here those before it gets out of hand.I never took in a good view of those t*ts the first day, I only moved with the heat of the moment, rage and desire mingling with my messed up senses. Her scent had me rushing to get a good taste of her skin without thinking of any thing else.I let my gaze trail the contours of those heavy t*ts, teasing the curves of her ribs, and resting there like they knew exactly where they belonged. The pink hue of her n**ples only had me wondering what they'd take like when they are savored in my mouth, not in a hurry, trying to steady my f****ng twi
Rea's POV My hands shook badly the second I touched the digital screen in the glass shower panel to activate it.Having a bath in front of Alpha Damien Remington felt awkward and strangely humiliating. I should probably give up, pick up my clothes, and beg to leave Darkclaws. Maybe agree to Dad's plans about getting men to do the task when I finally get home and speak with Dad. But leaving the pack wasn't optional, just as I was warned. What was I thinking? Alpha Damien Remington would let me take a bow and leave just like that?The look in his eyes said it all; he intended to hunt me and wouldn't stop until he's done unraveling me piece by piece, whether that meant breaking me or consuming me, but in the end, victory must be his.And as a girl raised in a small town, intimacy was only something I've heard about, and orgasm was something I only gave myself, never experienced it from a man. I wasn't used to being watched like this. Being watched while in the shower felt humiliating
Rea's POVLord, please... just this one chance to prove myself, make him trust me enough, and make this journey short, or else Dad would be thinking I must have died—killed by Darkclaw's brutal army or even their alpha.Damien hasn't said a word since he walked out of the bathroom, nor has he even spared a glance at me. He just angled by the dresser, putting on lotions and colognes.I notice that I'd been holding my pants longer than necessary, trying to keep myself grounded and my mind busy and avoid the excessive wild suggestions it gives.Having my hands and legs freely to myself felt indescribably good; the spot where the chains held still throbbed, but at last, my hands and legs were no longer bound in chains. The last twenty hours have been horribly hectic for me, and all I wanted to do was just sink into a chair or a bed and let it carry me, instead of my feet. My weight felt too heavy for my feet alone to carry now, but it was just that; the tall sculpted man who's facing a
Rea's POV"What do you want?" I choked out, "I'd do it." desperation laced into every word. Tears followed, blurring my vision all at once. There was just one thing about tears: they know how to betray me. I hadn't wanted to sound weak. Time was slipping away. I needed to get home before dawn."S
Damien's POVThe air grew heavy with her scent—a sweet, intoxicating scent that drifted through the air like it mattered—marking her presence undeniably and unapologetically. What the hell was she even doing here? I drove a sharp punch right into the heavy leather bag, and it swung lazily away f
Rea's POVThe door slammed shut, with a thunderous bang and a sudden silence pressed hard against me.My eyes were tied with a thick piece of cloth that replaced my vision with a heavy darkness and left terror clenched around my chest.Then I heard it—strong fist stricking on a heavy leather bag
Rea's POVThe air wasn't just chilled; it smelled faintly of damp leaves as I raced far into the wolves' domain.Cold winds sliced across my face as I forced my way through brittle twigs, letting the snow bite my skin, while withered leaves and broken branches clung to my pullovers until, finally,






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.