เข้าสู่ระบบHari-hari berikutnya, suasana di rumah besar itu berubah drastis. Ratna tak lagi berteriak histeris, membanting barang, atau melontarkan umpatan. Wanita itu memilih memainkan siasatnya dengan sangat cermat, menyadari bahwa setiap ledakan emosi hanya akan mendorong suaminya semakin menjauh dan mencari ketenangan pada pelayan muda itu. Sampai akhirnya, pada suatu sore di ruang keluarga. Ratna yang duduk di kursi rodanya sengaja meminta Bi Sumi untuk memanggilkan Mira. Begitu Mira datang dan menunduk patuh di hadapan majikannya, Ratna melakukan langkah pamungkasnya untuk memutus rantai perlindungan Brata terhadap pelayan itu. "Mira..." panggil Ratna lembut. Ia mengulurkan tangannya yang kurus, menatap Mira dengan sepasang mata yang menunjukan penyesalan mendalam. "Aku memanggilmu kesini karena aku ingin meminta maaf dari lubuk hatiku yang paling dalam." Brata, yang duduk di sofa sebelah istrinya, tampak terkejut. Matanya membelalak tak percaya. "Aku sadar selama ini aku sangat
"Ratna, bagaimana keadaanmu? Dokter Hans sebentar lagi tiba," ucap Brata lembut.Brata melangkah masuk ke dalam kamar utama dengan membawa mangkuk kecil berisi air hangat dan handuk bersih yang baru saja ia ambil dari Bi Sumi. Ia langsung duduk di tepi ranjang dan menyeka pelan sisa debu serta keringat di dahi istrinya dengan penuh kehati-hatian.Dalam hitungan detik, Ratna sudah memasang wajah yang sama sekali berbeda. Tak ada lagi tatapan tajam atau senyum sinis yang sempat membuat Mira gemetar. Di hadapan Brata, ia kembali menjadi sosok istri yang tampak lemah, rapuh, dan seakan hanya menemukan rasa aman saat berada di sisi suaminya."Aku tidak apa-apa, Mas... Asalkan kamu ada di sini… di sampingku," bisik Ratna manja, sengaja menyandarkan kepalanya yang lemas ke dada Brata. Tangannya yang sempat melukai pergelangan tangannya sendiri kini terulur memeluk pinggang suaminya erat-erat. "Jangan tinggalkan aku
"Maafkan aku, Mas..." bisik Ratna begitu lirih, nyaris tertelan angin siang. Suaranya serak, patah-patah, seolah setiap kata menguras sisa tenaga yang masih ia miliki.Dengan gerakan kaku, Brata mengambil alih tubuh istrinya dari rengkuhan Danu. Begitu berada dalam pelukan suaminya, Ratna tidak memberontak sedikit pun. Ia justru menenggelamkan wajahnya yang kotor dan basah oleh air mata ke dada Brata.Wanita itu menangis tanpa suara. Tak ada lagi jeritan histeris atau rentetan tuduhan menyakitkan seperti biasanya. Yang tersisa hanya isakan tertahan yang membuat bahu kurusnya bergetar hebat. Jemarinya yang lecet dan berdarah mencengkeram kemeja Brata erat-erat, seolah hanya itu yang masih mampu menopang dirinya."Maafkan aku..." ulang Ratna dengan suara yang semakin lemah.Brata menelan ludah, tenggorokannya mendadak terasa sakit dan tercekat. "Ratna...""Kewarasanku... rasanya sempat hilang, Mas,"
"Apa maksudmu, Bi?! Bagaimana bisa dia kabur?!" bentak Brata dengan suara panik yang tak lagi bisa ia sembunyikan. "Saya... saya tidak tahu, Ndoro! Tadi saya mau mengantar makan siang ke kamarnya, tapi pintunya tidak terkunci dari luar. Begitu saya masuk, perawat itu sudah tergeletak di lantai dengan kepala bocor, dan tempat tidur Nyonya Ratna sudah kosong!" tangis Bi Sumi histeris dari seberang telepon. Brata langsung memutus sambungan. Napasnya memburu cepat. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia menyambar kunci mobilnya di atas meja. Mira, yang berdiri di dekatnya, segera memasang ekspresi paling cemas yang bisa ia perlihatkan. Ia mendekat, menyentuh lengan Brata dengan jemari yang dibikin bergetar. "Ndoro... ada apa? Nyonya Ratna... kenapa?" tanya Mira cemas. "Dia kabur," ucap Brata dengan suara berat, rahangnya mengeras penuh kepanikan. "Perawatnya diserang. Kita harus kembali ke rumah sekarang." Tanpa menunggu jawaban, Brata menarik tangan Mira keluar dari ruang kerja
Di tengah kesibukan area perkebunan, Brata berada di lapangan dan tak sengaja bertemu dengan Danu– tangan kanan kepercayaan Haryo. Danu menatap Brata dengan sorot mata penuh rasa penasaran yang tak bisa disembunyikannya. Sebagai orang kepercayaan Haryo, ia selalu mengawasi gerak-gerik sang tuan muda. "Tuan Muda," sapa Danu sopan, meski nada bicaranya menyimpan rasa ingin tahu. "Tadi pagi, sepertinya saya melihat Tuan Muda bersama seorang wanita... Kalau boleh tahu, siapa dia?" Brata langsung menatap tajam ke arah Danu. Rahangnya mengeras, raut wajahnya berubah dingin dalam sekejap. "Urus saja pekerjaanmu di lapangan, Danu. Jangan urusi hal-hal lain yang bukan urusanmu," desis Brata tajam, tanpa memberikan ruang bagi Danu untuk memperpanjang percakapan, lalu melangkah pergi begitu saja. Danu terpaku di tempatnya. Reaksi Brata yang berlebihan justru memperkuat kecurigaan di benaknya. Merasa ada sesuatu yang tidak beres dan berbahaya bagi posisi Ratna, Danu tidak tinggal diam.
Sinar matahari mulai menembus celah jendela rumah besar itu, membawa serta sisa-sisa embun yang masih menempel di dedaunan. Namun, suasana di dalam rumah masih diselimuti ketegangan yang belum benar-benar reda sejak semalam. Di dapur, Mira baru saja selesai mandi. Alih-alih mengeringkan rambutnya dengan handuk, gadis itu sengaja membiarkannya basah kuyup. Tetesan air dari ujung rambut hitamnya meluncur bebas, membasahi daster katun tipis bermotif bunga pudar yang ia kenakan. Kain daster murahan itu seketika menempel ketat, menjiplak dengan sangat sempurna setiap lekuk tubuhnya yang sintal. Dari balik kain basah itu, siluet lekukan pinggang dan kepenuhan dadanya terekspos tanpa ampun, menciptakan pemandangan yang begitu menggoda bagi siapapun yang melihatnya. Dengan langkah pelan dan raut wajah polos yang telah ia persiapkan, Mira membawa nampan berisi semangkuk bubur hangat. Tujuannya pagi ini sangat jelas, ia ingin melihat secara langsung keadaan Ratna yang kini terkurung di







