author-banner
Toyusa
Toyusa
Author

Novel-novel oleh Toyusa

Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan

Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan

Belum lama bekerja sebagai perawat pribadi majikannya, Mira tak sengaja memergoki suami majikannya sedang menuntaskan hasratnya seorang diri. Pria yang selama ini dikenal sabar rupanya menyimpan kesepian. Dan kini Mira dalam masalah besar!
Baca
Chapter: Bab 8
Gerakan tangan Brata yang hendak meraih gelas mendadak kaku di udara. Napasnya tercekat, seolah oksigen di meja makan mendadak lenyap. Ia tahu pasti dari mana asalnya tanda merah di leher jenjang itu. Itu adalah bekas cengkeramannya yang terlalu kuat semalam, saat ia kehilangan akal sehatnya di dinding gudang.Mira berdiri mematung. Dengan gerakan pelan yang seolah dipenuhi kepanikan, tangannya refleks naik menutupi kerah bajunya. Matanya membola, memancarkan ketakutan yang begitu meyakinkan.​"M–merah apa, Nyonya? S-saya tidak mengerti..." cicit Mira, suaranya sengaja dibuat bergetar hebat.​"Jangan pura-pura bodoh!" Ratna menggebrak meja kaca dengan keras, mengabaikan kakinya yang masih sakit. Wanita itu berdiri dengan napas memburu, matanya menatap liar ke arah pelayan barunya."Sini kamu! Kudekatkan matamu ke cermin supaya kamu bisa lihat sendiri!"​"Ratna, cukup! Kamu ini kenapa lagi, sih?!" tegur Brata, suaranya meninggi menutupi kepanikannya sendiri. Ia berusaha bangkit dari k
Terakhir Diperbarui: 2026-07-16
Chapter: Bab 7
Tubuh Mira menegang. Sentuhan ibu jari Brata di rahangnya terasa membakar, namun lebih dari itu, pertanyaan pria itu membunyikan alarm bahaya di kepalanya.Jika ia mengangguk atau membalas sentuhan itu, topeng kepolosan yang ia bangun dengan susah payah akan hancur seketika. Brata akan melihatnya sebagai wanita gampangan, bukan gadis malang yang terjebak dalam situasi yang salah. Mira tahu betul, ia harus mempertahankan kendali psikologis atas pria ini.Dengan gerakan pelan namun sengaja dibuat gemetar, Mira menepis tangan Brata. Ia mundur selangkah, membiarkan punggungnya menabrak dinding kayu gudang yang dingin."Ndoro... jangan..." bisik Mira. Suaranya sengaja dibuat serak, diiringi setetes air mata buatan yang meluncur di sudut matanya. Ia merapatkan handuknya hingga buku-buku jarinya memutih, menutupi tubuhnya seolah merasa sangat terhina. "Saya... saya sadar diri siapa saya di rumah ini."Brata tertegun. Gairah liar di matanya yang tadi menyala terang, perlahan memudar, digant
Terakhir Diperbarui: 2026-07-16
Chapter: Bab 6
“S-saya tidak mengerti, Ndoro. Apa yang bisa saya bantu?” cicit Mira dengan suara bergetar. Tatapannya mendongak memperlihatkan raut lugu yang begitu meyakinkan, meski di dalam hatinya ia bersorak penuh kemenangan. Rencananya benar-benar bekerja dengan sempurna. “Jangan pura-pura tidak tahu, Mira.” geram Brata. Rahangnya mengeras menahan gejolak yang semakin memuncak. Tanpa membuang waktu, Brata meraih sebelah tangan Mira yang bebas dan menariknya turun, menempelkannya tepat di atas pusat gairahnya yang mengeras menyakitkan di balik resleting celana. ​Mira terkesiap pelan, matanya membelalak lebar. "Ndoro..." ​"Bantu saya, Mira. Sentuh," geram Brata parau. Tangannya yang besar menutupi punggung tangan gadis itu, memaksanya untuk merasakan seberapa putus asa dirinya malam ini. "Saya tidak tahan lagi." ​"T-tapi Ndoro... bagaimana kalau ada yang lihat?" cicit Mira, masih mempertahankan ekspresi lugunya. ​"Tidak akan ada yang kemari." Tangan besar Brata perlahan turun, meraih perg
Terakhir Diperbarui: 2026-06-13
Chapter: Bab 5
Mira baru saja keluar dari kamar mandi diluar– bangunan semen tua yang dingin dan lembab di ujung area pekerja. Tubuhnya hanya dibalut selembar handuk putih yang dililitkan seadanya, sementara rambutnya yang masih basah meneteskan butiran air ke bahu dan lehernya. Baru beberapa langkah menuju kamarnya, ia mendadak menghentikan langkah ketika mendengar suara desahan.“Ah… ahh… ahh..”Siapa disana?!Ini kamar mandi luar. Berada di pekarangan belakang rumah Brata. Seperti biasa, hanya bunyi nyaring jangkrik yang saling bersahutan di antara pepohonan. Area itu merupakan wilayah yang nyaris tak pernah didatangi keluarga inti, hanya para pelayan dan pekerja kasar yang beraktivitas di sana. Karena itulah, Mira sama sekali tidak menyangka akan ada suara.Apalagi sampai suara desahan.Mira mengendap-endap. Pria itu… Brata Yuda. Majikannya itu tampaknya menyandar ke tembok, kemejanya terbuka di bagian atas. Napasnya memburu tidak teratur, disertai desahan rendah yang tertahan di tenggoroka
Terakhir Diperbarui: 2026-06-13
Chapter: Bab 4
Mira baru saja memejamkan mata ketika pintu kamarnya berderit. Ia memikirkan perkataan Bi Sumi tadi. Masalahnya, ia kesini bukan untuk menggoda majikannya. Tapi…Krek!Itu bukan ketukan, melainkan suara kayu yang didorong.Brata Yuda berdiri di sana. Wajahnya yang biasanya tegas kini tampak kehilangan nyawa– pucat pasi dengan mata yang sayu.Ia berpegangan pada kusen pintu, buku-buku jarinya memutih, napasnya tersengal seolah setiap hirupan oksigen terasa menyakitkan."Ndoro?" Mira bangkit. Rasa kantuknya lenyap seketika berganti dengan kewaspadaan."Kepalaku..." Brata meringis sambil memejamkan mata. "Pusing sekali, Mira. Seperti ada palu yang menghantam kepalaku terus-menerus. Aku tidak bisa tidur... badanku rasanya seperti bongkahan batu."Mira segera mendekat, lalu mengangkat tangannya untuk menyentuh dahi Brata. Begitu kulit mereka bersentuhan, ia langsung merasakan panas yang tidak wajar. Demam pria itu begitu tinggi hingga telapak tangannya seolah ikut terbakar. Alisnya pun be
Terakhir Diperbarui: 2026-06-13
Chapter: Bab 3
"Ndoro, boleh saya masuk? Saya bawakan kopi buat Ndoro..."Suara ketukan pelan dipintu membuat Brata Yuda mendongak dari tumpukan berkas di mejanya. Pria berkepala tiga itu memijat pangkal hidungnya yang terasa pening."Masuk, Mira," sahut Brata, suaranya serak karena kelelahan.Pintu terbuka sedikit. Mira melangkah masuk dengan sangat hati-hati, kedua tangannya memegangi nampan berisi secangkir kopi hitam dan sepiring kecil biskuit rumahan. Mira menatap Brata sendu. Pria semuda ini harus menanggung beban memiliki istri seperti Ratna.Kepalanya menunduk, matanya sengaja tidak menatap langsung ke arah Brata. Ada jarak dua langkah yang sengaja ia jaga di depan meja kerja."Ditaruh di sini saja, Mir," ucap Brata lembut, menunjuk area kosong di mejanya.Mira melangkah maju, meletakkan cangkir itu tanpa menimbulkan suara. Namun, saat tangannya hendak menarik nampan, pandangannya tidak sengaja jatuh pada wajah Brata yang pucat dengan lingkaran hitam di bawah mata."Ndoro... maaf," bisik Mi
Terakhir Diperbarui: 2026-06-13
Nikah Kontrak : Awalnya Menolak Akhirnya Kecanduan

Nikah Kontrak : Awalnya Menolak Akhirnya Kecanduan

Naomi menerima tawaran menjadi istri kontrak Ethan Alexander, CEO dingin yang menolak percaya pada cinta dan pernikahan. Demi biaya pengobatan ibunya dan sebuah rahasia yang melibatkan keluarga Alexander, Naomi harus menjalankan peran sebagai istri sempurna sekaligus membuat Ethan membuka kembali hatinya yang terluka. Namun semakin lama mereka berpura-pura menjadi pasangan bahagia, batas antara sandiwara dan perasaan yang sesungguhnya mulai kabur. Di tengah kontrak yang memiliki batas waktu, mampukah mereka bertahan tanpa jatuh cinta, atau justru cinta akan menghancurkan keduanya lebih dulu?
Baca
Chapter: Bab 23
Naomi masih duduk di kursi dekat teras sambil memangku buku yang sejak tadi sudah tidak lagi ia baca. Perhatiannya beberapa kali teralih ke arah ruang tengah, tempat Ethan masih memimpin rapat dengan wajah serius. Meski tidak berniat menguping, suara para direksi terdengar cukup jelas di ruangan yang kembali hening setelah hujan sedikit mereda."Kalau proyek ini dipaksakan sekarang, risikonya terlalu besar, Pak Ethan," ujar direktur keuangan."Justru kalau kita menunggu, kompetitor akan lebih dulu masuk ke pasar," sahut direktur pemasaran."Data pasar menunjukkan permintaannya sedang naik. Kalau terlambat, kita akan kehilangan momentum.""Tapi tim operasional belum siap. Saya tidak ingin proyek sebesar ini gagal hanya karena kita terburu-buru."Perdebatan kembali berputar di tempat. Masing-masing mempertahankan pendapatnya dengan alasan yang masuk akal, tetapi tidak ada satu pun yang mampu menawarkan jalan keluar. Ethan tetap duduk tenang
Terakhir Diperbarui: 2026-07-13
Chapter: Bab 22
Ethan melirik jam tangan di pergelangan kirinya. Jarum pendek hampir menunjuk pukul sembilan malam. Ia mengangkat pandangan ke arah Naomi. "Aku harus kembali ke villa. Rapat dimulai sebentar lagi." Naomi mengangguk pelan. "Kalau begitu kamu duluan saja." Ethan mengernyit tipis. "Kau?" "Aku ingin jalan sebentar menikmati malam. Sayang kalau langsung pulang."“Baik.”Ethan berbalik dan berjalan kembali menuju vila, sementara Naomi melanjutkan langkahnya menyusuri jalan setapak di sekitar resort. Lampu-lampu kecil berjajar di sepanjang jalur kayu, menerangi taman tropis yang tenang. Angin laut bertiup lembut, membawa aroma asin yang khas.Naomi berjalan santai tanpa tujuan tertentu. Sesekali ia berhenti memandangi laut yang berkilau diterpa cahaya bulan, lalu kembali melangkah menikmati suasana yang jarang bisa ia rasakan. Selama hampir tiga puluh menit ia berkeliling area resort, hingga akhirnya ia mendongak ke langit. Awan gelap perlahan menutupi bulan. Angin mulai bertiup lebih
Terakhir Diperbarui: 2026-07-13
Chapter: Bab 21
Panggilan itu masih berlangsung selama beberapa menit. Ethan lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Sesekali ia mengajukan pertanyaan singkat dengan nada tenang, sementara Victor terus menjelaskan situasi yang sedang terjadi di perusahaan.Naomi memilih diam. Ia tahu pekerjaan selalu menjadi prioritas Ethan. Jika perusahaan benar-benar membutuhkan kehadirannya, bukan hal yang aneh bila pria itu memutuskan kembali ke Jakarta.Beberapa saat kemudian, Ethan akhirnya membuka suara. "Kumpulkan seluruh direksi."Victor segera menanggapi dari seberang. "Baik, Pak. Lalu bagaimana dengan Bapak? Apa kami perlu menyiapkan penerbangan kembali?""Tidak," jawab Ethan tegas. "Aku akan bergabung melalui video conference.""Tapi keputusan akhirnya tetap harus menunggu persetujuan Bapak.""Kirim semua dokumen ke tabletku sekarang. Aku akan mempelajarinya sebelum rapat dimulai. Pastikan juga tidak ada satu pun keputusan yang diambil tanpa persetujuanku.""Baik, Pak. Saya mengerti."Setelah memas
Terakhir Diperbarui: 2026-07-12
Chapter: Bab 20
"Jangan salah paham." Ethan merapikan jam di pergelangan tangannya sebelum menatap Naomi. "Aku hanya tidak suka berhutang budi. Anggap saja ini balasan karena kau sudah merawatku." Sudut bibir Naomi perlahan terangkat membentuk senyum kecil. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia membuka pintu villa lebih lebar. "Kalau begitu... ayo." Ethan melangkah mengikutinya keluar, sementara di dalam hati ia terus mengulang alasan yang sama. Ini hanya balas budi. Tidak lebih. Naomi dan Ethan berjalan berdampingan menyusuri jembatan kayu yang membentang di atas laut. Langit malam dipenuhi bintang, sementara cahaya bulan memantul di permukaan air yang tenang. Naomi menoleh ke arah Ethan yang berjalan di sampingnya dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. "Terima kasih." Ethan meliriknya sekilas. "Untuk apa?" "Karena sudah mau meninggalkan laptopmu dan ikut berjalan bersamaku." Ethan mengalihkan pandangan ke laut. "Jangan salah paham. Aku hanya sedang membayar utang budi. Kau sudah m
Terakhir Diperbarui: 2026-07-12
Chapter: Bab 19
Naomi menghampiri sofa tempat Ethan duduk sejak tadi. Hamparan laut biru yang membentang di balik dinding kaca vila seolah sama sekali tidak menarik perhatian pria itu. Seluruh fokus Ethan tertuju pada layar laptop di pangkuannya. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard, sesekali berhenti hanya untuk berpindah ke berkas lain sebelum kembali mengetik. "Ethan." "Hm?" sahutnya singkat tanpa mengalihkan pandangan. Naomi menggeleng pelan. "Kamu nggak bosan? Sejak bangun tadi yang kamu lihat cuma laptop." "Aku sedang bekerja." "Justru itu masalahnya." Naomi tersenyum tipis. "Kita memang datang ke sini karena keadaan, tapi tetap saja sayang kalau sudah sampai di Maldives malah terus mengurung diri di dalam vila." "Itu tidak mengubah pekerjaanku." "Pekerjaanmu juga tidak akan lari kalau ditinggal satu jam." "Tidak tertarik." Jawaban singkat itu membuat Naomi mengembuskan napas pelan. Ia menatap Ethan beberapa detik, berharap pria itu setidaknya mau mempertimbangkan ajakannya. Sa
Terakhir Diperbarui: 2026-07-11
Chapter: Bab 18
Cahaya matahari telah lama menghilang, digantikan langit malam Maldives yang dipenuhi bintang.Di ruang utama villa, terdengar suara pelan jemari Ethan yang mengetuk keyboard laptop memecah keheningan malam. Pria itu sudah kembali mengenakan kemeja rapi. Meski wajahnya masih sedikit pucat, tapi sorot matanya telah kembali setajam biasanya, seolah kejadian sepanjang hari tadi tidak pernah terjadi. Naomi yang berdiri di ambang pintu kamar hanya bisa memandanginya dalam diam. Sulit dipercaya, baru beberapa jam yang lalu Ethan masih terbaring lemah di atas ranjang dengan infus terpasang di punggung tangannya, bahkan untuk memegang sendok pun ia kesulitan. Kini, baru saja kondisinya mulai membaik, pria itu sudah kembali berkutat dengan pekerjaannya, membiarkan jemarinya terus bergerak di atas keyboard seolah tubuhnya tidak pernah memberi peringatan untuk beristirahat.Sudut bibir Naomi sedikit mengerucut. "Benar-benar keras kepala," gumamnya lirih.Merasa bosan di dalam, Naomi mengambil
Terakhir Diperbarui: 2026-07-11
Anda juga akan menyukai
Istri Kecil untuk Bos Duda
Istri Kecil untuk Bos Duda
Romansa · Writergaje23_
5.8K Dibaca
Ranjang Panas Sang Arjuna
Ranjang Panas Sang Arjuna
Romansa · Handira Rezza
5.8K Dibaca
CEO WITH BENEFITS
CEO WITH BENEFITS
Romansa · Rose Marberry
5.8K Dibaca
Princessa (Love and Revenge)
Princessa (Love and Revenge)
Romansa · Rose Dreamers
5.8K Dibaca
Pelakor XXL
Pelakor XXL
Romansa · Reistya
5.8K Dibaca
You Are Mine
You Are Mine
Romansa · yuneverknow
5.8K Dibaca
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status