author-banner
Toyusa
Toyusa
Author

Novels by Toyusa

Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan

Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan

Belum lama bekerja sebagai perawat pribadi majikannya, Mira tak sengaja memergoki suami majikannya sedang menuntaskan hasratnya seorang diri. Pria yang selama ini dikenal sabar rupanya menyimpan kesepian. Dan kini Mira dalam masalah besar!
Read
Chapter: Bab 109
Wajah Ratna langsung memucat. Ia menoleh ke arah Brata dengan panik. "Mas, telepon rumah! Pasti tertinggal di laci nakas atau di atas kasur! Suruh Bi Sumi mencarinya dan minta Mang Udin mengantarkannya ke sini sekarang juga!"Brata mengusap wajahnya kasar, berusaha menahan emosi yang sejak tadi semakin sulit dikendalikan. Dalam kondisi terdesak oleh utang bank, ia memaksa dirinya untuk tetap bersabar. Ia mengambil ponsel dari saku, lalu segera menghubungi nomor rumah.​"Bi! Bongkar seluruh kamar tamu! Cari KTP Ratna sekarang juga! Kalau sudah ketemu, suruh Udin segera antarkan ke kantor notaris!" perintah Brata tak sabar.Waktu berjalan terasa begitu lambat. Brata berkali-kali melirik jam tangannya sambil mengetukkan jari ke meja. Di hadapannya, sang notaris mulai terlihat tidak nyaman karena urusan yang seharusnya sederhana justru berlarut-larut.Ratna sendiri tak lagi banyak bicara. Ia hanya menggigit bibir, sementara keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.Tak lama kemudian, po
Last Updated: 2026-08-27
Chapter: Bab 108
"Siapkan dirimu, Ratna. Kita berangkat ke notaris jam sepuluh pagi ini," putus Brata dengan rahang mengeras. Di meja makan itu, ia akhirnya menelan harga dirinya sendiri demi menyelamatkan rumah mereka.​Mendengar keputusan itu, senyum kemenangan merekah di bibir pucat Ratna. Ia langsung memerintahkan Bi Sumi untuk mendorongnya ke kamar dan memakaikan pakaian terbaiknya.Di sudut ruang makan, Mira yang sedang memegang gagang pel hanya diam. Matanya mengikuti Ratna yang dibawa pergi, sementara pikirannya mulai mencari cara untuk menggagalkan rencana itu.Setengah jam kemudian, ketika Brata berada di ruang kerja dan sedang memasukkan dokumen-dokumen penting ke dalam tas, Mira masuk sambil membawa secangkir kopi."Mas..." panggilnya pelan. Ia menundukkan wajah, memasang raut cemas. "Apa aman membawa Nyonya Ratna ke notaris hari ini? Tuan Haryo baru saja ditangkap semalam. Polisi pasti sedang mengawasi aliran dana keluarganya. Kalau Mas mengalihkan aset atas nama Nyonya Ratna sekarang, bu
Last Updated: 2026-08-27
Chapter: Bab 107
"Lakukan saja apa yang dia minta, Mira. Pakai seragam itu dan bekerjalah seperti yang dia suruh. Sementara waktu... bersabarlah sedikit."​Ucapan datar dari mulut Brata itu memecah ketegangan di ruang makan, sekaligus menghancurkan sisa-sisa harapan di hati Mira. Pria itu membuang muka, sengaja menghindari tatapan pelayan yang selama ini selalu dibelanya.​Mira yang berdiri mematung menatap pria itu dengan lekat. Tadi ia sengaja mengadu, menanti dan menguji apakah masih ada sisa-sisa keberanian Brata untuk melindunginya seperti sebelum-sebelumnya.​Namun, keputusan Brata barusan menjadi sebuah tamparan kenyataan keras bagi harapannya.​Tangan Brata yang sebelumnya mengepal kuat perlahan mengendur di atas meja. Pria itu memejamkan mata sejenak, jelas telah kalah oleh keadaan. Ia terpaksa mengesampingkan harga dirinya demi menghindari ancaman kebangkrutan yang semakin mencekik.​Di detik itu juga, sebuah pemahaman tiba-tiba menghantam benak Mira. ​Jadi ini alasan kenapa sikapnya beruba
Last Updated: 2026-08-27
Chapter: Bab 106
Brak!Pintu kamar utama didorong terbuka dengan kasar, membuyarkan tidur Mira. Gadis itu baru saja membuka mata ketika gulungan kain melayang ke arahnya dan jatuh tepat mengenai wajahnya.​Mira terkesiap. Ia gelagapan menyingkirkan kain itu dari wajahnya, lalu mendongak dengan napas tersengal.​Di ambang pintu, Ratna duduk di atas kursi rodanya. Di belakang wanita itu, berdirilah Siti– pelayan muda yang kini gemetar hebat dengan wajah pucat pasi setelah dipaksa mendorong kursi roda sang mantan nyonya besar.​Ratna menatap Mira tanpa sedikitpun rasa iba dan senyum penuh kemenangan.​"Bangun, pemalas!" bentak Ratna dengan suara serak.​Mira menunduk menatap gulungan kain yang kini tergeletak di pangkuannya. Itu adalah seragam pelayan berwarna pudar miliknya dulu.​"Waktu bermainmu sebagai nyonya di rumah ini sudah habis, babu," ucap Ratna angkuh, menunjuk ke arah seragam itu. "Mulai pagi
Last Updated: 2026-08-26
Chapter: Bab 105
​"Kenapa mendadak bisu, Mira? Jawab pertanyaan suamiku."​Suara serak Ratna memecah keheningan lorong, disusul oleh senyum sinis yang semakin melebar di wajah pucatnya. "Kau benar-benar mau pergi, kan? Pintu keluarnya ada di sebelah sana. Biar Bi Sumi yang membukakan gerbangnya untukmu."Mira terdiam. Pertanyaan Brata yang sebelumnya terdengar datar terus terngiang di kepalanya.Dia tidak menahanku... Mas Brata benar-benar membiarkanku pergi? Untuk pertama kalinya, otaknya yang biasanya mampu menyusun berbagai rencana dengan cepat terasa buntu.Jika ia mengiyakan dan meninggalkan rumah itu malam ini, semuanya akan berakhir. Pengorbanannya, dendam yang selama ini ia pendam akan lenyap begitu saja. Memang masih ada kampung halaman dan Dokter Rahman yang selalu menunggunya pulang, tetapi kembali dengan tangan kosong berarti mengakui kekalahan. Ia tidak mau membiarkan keluarga Haryo lolos begitu saja dari dosa masa lalu mereka.
Last Updated: 2026-08-26
Chapter: Bab 104
​Di dalam kamarnya, Mira bergerak cepat. Ia membanting koper kecilnya ke atas tempat tidur, lalu mulai memasukkan pakaian-pakaiannya secara acak untuk menciptakan kesan bahwa ia benar-benar bersiap kabur karena merasa putus asa. Air mata palsunya kembali dipoles sempurna di pelupuk matanya. ​Ia menunggu waktu yang tepat. Menjelang malam, ketika ia mendengar derap langkah berat Brata melangkah gontai melewati lorong menuju kamar utama, Mira tahu inilah saatnya melancarkan aksinya. ​Ia membuka pintu kamarnya setengah, lalu melangkah keluar dengan kepala tertunduk, membiarkan isak tangisnya terdengar pecah. ​"Mas..." panggil Mira lirih, suaranya gemetar seolah menahan beban hidup yang teramat berat. ​Brata yang sedang memijat pelipisnya karena stres berat menghentikan langkah. Pria itu menoleh dan terkejut melihat Mira menyeret sebuah koper kecil di lorong. ​"Mira? Apa-apaan ini? Mau kemana malam-malam begini?!" tanya Brata panik, langsung menghampiri gadis itu. ​Mira senga
Last Updated: 2026-08-26
Nikah Kontrak : Awalnya Menolak Akhirnya Kecanduan

Nikah Kontrak : Awalnya Menolak Akhirnya Kecanduan

Naomi menerima tawaran menjadi istri kontrak Ethan Alexander, CEO dingin yang menolak percaya pada cinta dan pernikahan. Demi biaya pengobatan ibunya dan sebuah rahasia yang melibatkan keluarga Alexander, Naomi harus menjalankan peran sebagai istri sempurna sekaligus membuat Ethan membuka kembali hatinya yang terluka. Namun semakin lama mereka berpura-pura menjadi pasangan bahagia, batas antara sandiwara dan perasaan yang sesungguhnya mulai kabur. Di tengah kontrak yang memiliki batas waktu, mampukah mereka bertahan tanpa jatuh cinta, atau justru cinta akan menghancurkan keduanya lebih dulu?
Read
Chapter: Bab 10
​"N–Nyonya... Nyonya sudah bangun?" cicit Mira. Suaranya dibuat serak dan dipenuhi ketakutan yang begitu nyata.​"Aku tanya, ngapain tanganmu dekat-dekat kotak perhiasanku?!" Ratna menjerit. Suaranya parau khas orang baru terbangun, namun dipenuhi bisa kebencian.​"S–saya cuma membereskan kamar, Nyonya," kilah Mira. Tangannya meremas ujung bajunya dengan gemetar.Ratna memaksakan diri untuk duduk bersandar di kepala ranjang. Matanya menyapu sekeliling ruangan. Pecahan vas dan gelas sudah tak bersisa, bantal-bantal kembali pada tempatnya, dan karpet bulu tampak bersih. Semuanya sudah rapi. Namun, tatapan wanita itu kembali menancap pada meja rias.​"Terus kenapa kotak perhiasanku bisa terbuka begitu?!" bentak Ratna, menunjuk dengan dagunya.​"Kotak ini memang sudah terbuka sejak saya masuk. Saya bersumpah, Nyonya, saya sama sekali tidak menyentuhnya." jawab Mira setenang mungkin, suaranya sengaja dibuat sedikit bergetar.​Ratna mendecih tajam. Didorong oleh rasa curiga dan amarah yang
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Bab 23
Naomi masih duduk di kursi dekat teras sambil memangku buku yang sejak tadi sudah tidak lagi ia baca. Perhatiannya beberapa kali teralih ke arah ruang tengah, tempat Ethan masih memimpin rapat dengan wajah serius. Meski tidak berniat menguping, suara para direksi terdengar cukup jelas di ruangan yang kembali hening setelah hujan sedikit mereda."Kalau proyek ini dipaksakan sekarang, risikonya terlalu besar, Pak Ethan," ujar direktur keuangan."Justru kalau kita menunggu, kompetitor akan lebih dulu masuk ke pasar," sahut direktur pemasaran."Data pasar menunjukkan permintaannya sedang naik. Kalau terlambat, kita akan kehilangan momentum.""Tapi tim operasional belum siap. Saya tidak ingin proyek sebesar ini gagal hanya karena kita terburu-buru."Perdebatan kembali berputar di tempat. Masing-masing mempertahankan pendapatnya dengan alasan yang masuk akal, tetapi tidak ada satu pun yang mampu menawarkan jalan keluar. Ethan tetap duduk tenang
Last Updated: 2026-07-13
Chapter: Bab 22
Ethan melirik jam tangan di pergelangan kirinya. Jarum pendek hampir menunjuk pukul sembilan malam. Ia mengangkat pandangan ke arah Naomi. "Aku harus kembali ke villa. Rapat dimulai sebentar lagi." Naomi mengangguk pelan. "Kalau begitu kamu duluan saja." Ethan mengernyit tipis. "Kau?" "Aku ingin jalan sebentar menikmati malam. Sayang kalau langsung pulang."“Baik.”Ethan berbalik dan berjalan kembali menuju vila, sementara Naomi melanjutkan langkahnya menyusuri jalan setapak di sekitar resort. Lampu-lampu kecil berjajar di sepanjang jalur kayu, menerangi taman tropis yang tenang. Angin laut bertiup lembut, membawa aroma asin yang khas.Naomi berjalan santai tanpa tujuan tertentu. Sesekali ia berhenti memandangi laut yang berkilau diterpa cahaya bulan, lalu kembali melangkah menikmati suasana yang jarang bisa ia rasakan. Selama hampir tiga puluh menit ia berkeliling area resort, hingga akhirnya ia mendongak ke langit. Awan gelap perlahan menutupi bulan. Angin mulai bertiup lebih
Last Updated: 2026-07-13
Chapter: Bab 21
Panggilan itu masih berlangsung selama beberapa menit. Ethan lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Sesekali ia mengajukan pertanyaan singkat dengan nada tenang, sementara Victor terus menjelaskan situasi yang sedang terjadi di perusahaan.Naomi memilih diam. Ia tahu pekerjaan selalu menjadi prioritas Ethan. Jika perusahaan benar-benar membutuhkan kehadirannya, bukan hal yang aneh bila pria itu memutuskan kembali ke Jakarta.Beberapa saat kemudian, Ethan akhirnya membuka suara. "Kumpulkan seluruh direksi."Victor segera menanggapi dari seberang. "Baik, Pak. Lalu bagaimana dengan Bapak? Apa kami perlu menyiapkan penerbangan kembali?""Tidak," jawab Ethan tegas. "Aku akan bergabung melalui video conference.""Tapi keputusan akhirnya tetap harus menunggu persetujuan Bapak.""Kirim semua dokumen ke tabletku sekarang. Aku akan mempelajarinya sebelum rapat dimulai. Pastikan juga tidak ada satu pun keputusan yang diambil tanpa persetujuanku.""Baik, Pak. Saya mengerti."Setelah memas
Last Updated: 2026-07-12
Chapter: Bab 20
"Jangan salah paham." Ethan merapikan jam di pergelangan tangannya sebelum menatap Naomi. "Aku hanya tidak suka berhutang budi. Anggap saja ini balasan karena kau sudah merawatku." Sudut bibir Naomi perlahan terangkat membentuk senyum kecil. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia membuka pintu villa lebih lebar. "Kalau begitu... ayo." Ethan melangkah mengikutinya keluar, sementara di dalam hati ia terus mengulang alasan yang sama. Ini hanya balas budi. Tidak lebih. Naomi dan Ethan berjalan berdampingan menyusuri jembatan kayu yang membentang di atas laut. Langit malam dipenuhi bintang, sementara cahaya bulan memantul di permukaan air yang tenang. Naomi menoleh ke arah Ethan yang berjalan di sampingnya dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. "Terima kasih." Ethan meliriknya sekilas. "Untuk apa?" "Karena sudah mau meninggalkan laptopmu dan ikut berjalan bersamaku." Ethan mengalihkan pandangan ke laut. "Jangan salah paham. Aku hanya sedang membayar utang budi. Kau sudah m
Last Updated: 2026-07-12
Chapter: Bab 19
Naomi menghampiri sofa tempat Ethan duduk sejak tadi. Hamparan laut biru yang membentang di balik dinding kaca vila seolah sama sekali tidak menarik perhatian pria itu. Seluruh fokus Ethan tertuju pada layar laptop di pangkuannya. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard, sesekali berhenti hanya untuk berpindah ke berkas lain sebelum kembali mengetik. "Ethan." "Hm?" sahutnya singkat tanpa mengalihkan pandangan. Naomi menggeleng pelan. "Kamu nggak bosan? Sejak bangun tadi yang kamu lihat cuma laptop." "Aku sedang bekerja." "Justru itu masalahnya." Naomi tersenyum tipis. "Kita memang datang ke sini karena keadaan, tapi tetap saja sayang kalau sudah sampai di Maldives malah terus mengurung diri di dalam vila." "Itu tidak mengubah pekerjaanku." "Pekerjaanmu juga tidak akan lari kalau ditinggal satu jam." "Tidak tertarik." Jawaban singkat itu membuat Naomi mengembuskan napas pelan. Ia menatap Ethan beberapa detik, berharap pria itu setidaknya mau mempertimbangkan ajakannya. Sa
Last Updated: 2026-07-11
You may also like
Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Romansa · Hibatillah S.
4.6K views
Antara Dilema & Cinta
Antara Dilema & Cinta
Romansa · Faver
4.6K views
Handsome CEO
Handsome CEO
Romansa · Nrshfms
4.6K views
Waltz 101
Waltz 101
Romansa · Pie
4.6K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status