Chapter: Bab 118Di ruang kerjanya, Brata mengamuk membabi buta, menghancurkan segala benda yang ada di atas meja kerjanya hingga hingga berjatuhan dan berserakan di atas karpet. Tumpukan dokumen beterbangan, lampu baca terjungkal, bahkan laptop mahalnya ikut terhempas ketika tangannya menghantam meja dengan kasar. Napas Brata memburu, dadanya naik turun dengan keras, sampai akhirnya tubuhnya terasa kehilangan tenaga dan ia menjatuhkan diri ke kursi, lalu menenggelamkan wajah di kedua telapak tangannya. Namun, di tengah keputusasaan yang menggelapkan akal sehatnya, memori Brata kembali berputar pada detik-detik saat ia berdiri di depan brankas besi yang setengah terbuka itu. Ada sesuatu yang janggal. Di atas lantai safe house yang seharusnya berdebu dan lama tak tersentuh, ia melihat jejak basah sepatu bot dengan sol bergerigi, serta secercah abu cerutu langka yang baunya masih menguar tipis di udara. Haryo
Terakhir Diperbarui: 2026-09-01
Chapter: Bab 117Satu jam kemudian, rumah itu kembali riuh oleh jeritan panik Ratna yang mengaku liontin berlian peninggalan ibunya hilang. Para pelayan segera berhamburan mencari ke berbagai sudut rumah, membuka laci, memeriksa kamar, bahkan menggeledah ruangan-ruangan yang jarang digunakan. Suasana rumah mendadak kacau, masing-masing orang sibuk mencari tanpa tahu di mana sebenarnya benda berharga itu terakhir kali terlihat. Tepat di tengah kekacauan tersebut, pintu utama mendadak didorong terbuka dengan kasar. Brata pulang dengan wajah merah padam dan napas memburu. Kemejanya kusut, rambutnya sedikit berantakan, sementara urat di pelipisnya menonjol jelas. Wajah pria itu menunjukkan bahwa sesuatu yang buruk baru saja terjadi. "Ada apa ini?!" bentak Brata begitu melihat para pelayan mondar-mandir tanpa arah. Ratna segera memutar kursi rodanya dan menghampiri sang suami. Wajahnya tampak panik, matanya berkaca-kaca, seolah benar-benar berada dalam keadaan terdesak. "Mass... liontin berlian penin
Terakhir Diperbarui: 2026-08-31
Chapter: Bab 116Begitu Brata pergi, Ratna masih terpaku di kursi rodanya, pikirannya dipenuhi tuduhan yang baru saja dilontarkan suaminya sebelum berangkat mengecek langsung ke lokasi tersebut.Menjebaknya ke safe house yang diawasi polisi?Ratna sama sekali tidak mengerti dari mana tuduhan itu berasal. Ia memang menyimpan alamat tempat tersebut sebagai alat tawar, tetapi tidak pernah sedikit pun berniat mengirim Brata ke sana dengan tujuan mencelakakannya. Jika Brata sampai tertangkap polisi, rencananya untuk mendapatkan kembali saham perusahaan justru akan berantakan. Ia masih membutuhkan suaminya untuk menandatangani pengalihan saham itu.Untuk apa ia menghancurkan rencananya sendiri?Rahang Ratna mengeras. Satu kemungkinan mulai memenuhi pikirannya.Seseorang sudah membisikkan hal itu kepada Brata. Dan di rumah ini, hanya ada satu orang yang cukup dekat dengan suaminya sekaligus cukup pandai mempengaruhi pikirannya.Mira.Amarah dan rasa terhina bercampur jadi satu di dadanya. Ia difitnah atas se
Terakhir Diperbarui: 2026-08-31
Chapter: Bab 115Keesokan harinya, Ratna duduk kaku di kursi rodanya dengan paspor bersampul hijau dan tumpukan dokumen usang peninggalan ayahnya di pangkuan. Matanya menatap tajam ke arah Brata yang baru saja keluar dari kamar tidurnya. Pria itu tampak sangat kacau– kantung matanya menghitam dan ia hanya mengenakan pakaian rumahan yang kusut"Aku sudah menelepon pengacara dan notaris kenalan Bapak," ucap Ratna tanpa basa-basi, suaranya terdengar mendesak. "Mereka bersedia datang ke rumah ini siang ini juga. Pengalihan saham bisa diproses menggunakan paspor ku sebagai pengganti KTP yang dicuri pelayan kesayanganmu itu. Siapkan dirimu, Mas. Waktu dari bank tinggal empat hari."Ratna mengira Brata akan menunjukkan kepanikan yang sama, tetapi pria itu justru terdiam. Matanya perlahan turun menatap paspor di pangkuan istrinya sebelum kembali terangkat dengan sorot yang jauh lebih dingin daripada yang Ratna duga. Brata kemudian berjalan mendekat dan berhenti tepat di hadapannya."Batalkan kedatangan merek
Terakhir Diperbarui: 2026-08-30
Chapter: Bab 114"Aku tidak tahu, Mira," desah Brata dengan suara serak, menjatuhkan keningnya ke bahu gadis itu. Pria yang biasanya begitu tegas dan sulit digoyahkan itu kini terlihat lelah dan putus asa. "Bank hanya memberiku sisa waktu lima hari. Ratna tahu persis aku sedang dikejar dengan waktu. Dia terus mendesakku agar segera menandatangani akta pengalihan saham itu, atau dia tidak akan pernah memberikan kata sandinya. Kalau aku melewati batas lima hari ini... aku akan kehilangan rumah ini, sisa perusahaanku, semuanya."Di balik bahu Brata, tatapan Mira perlahan berubah. Otaknya segera bekerja menghitung kemungkinan yang ada. Lima hari bukan waktu yang panjang, tetapi cukup untuk menghancurkan rencana Ratna jika Brata bisa dibuat menunda keputusan. Kalau pria itu panik dan menyerahkan separuh sahamnya sekarang, Ratna akan kembali mendapatkan kendali atas perusahaan dan posisi Mira akan semakin sulit. Ia tidak boleh membiarkan hal itu terjadi. Sebelum Brata benar-benar mengambil keputusan, ia ha
Terakhir Diperbarui: 2026-08-30
Chapter: Bab 113Dua hari berlalu seperti neraka bagi Brata. Batas waktu penyitaan dari pihak bank semakin dekat dan tekanan itu terus menghimpitnya dari segala arah.Di saat yang sama, Ratna dengan cerdik memanfaatkan keputusasaan itu dengan mengurung diri dikamar tamu, menolak memberikan kata sandi maupun lokasi harta rahasia Haryo sebelum Brata membaliknamakan separuh saham kepadanya.Namun, yang paling menguras kewarasan Brata selama empat puluh delapan jam terakhir bukanlah ancaman bank atau tuntutan Ratna. Melainkan diamnya Mira.Gadis itu masih berada di rumah, tetapi sikapnya berubah seolah-olah ia telah menjadi orang lain. Tidak ada lagi secangkir kopi hitam yang diam-diam tersaji di meja kerjanya setiap malam, tidak ada lagi sapaan lembut ketika ia berpapasan, bahkan pijatan ringan di pundak saat ia kelelahan di kursi pun tidak pernah diberikan lagi.Mira tetap menjalankan semua pekerjaannya seperti biasa, menyapu, mengepel, mencuci, dan menyiapkan kebutuhan rumah, tetapi semuanya dilakukan
Terakhir Diperbarui: 2026-08-29
Chapter: Bab 10"N–Nyonya... Nyonya sudah bangun?" cicit Mira. Suaranya dibuat serak dan dipenuhi ketakutan yang begitu nyata."Aku tanya, ngapain tanganmu dekat-dekat kotak perhiasanku?!" Ratna menjerit. Suaranya parau khas orang baru terbangun, namun dipenuhi bisa kebencian."S–saya cuma membereskan kamar, Nyonya," kilah Mira. Tangannya meremas ujung bajunya dengan gemetar.Ratna memaksakan diri untuk duduk bersandar di kepala ranjang. Matanya menyapu sekeliling ruangan. Pecahan vas dan gelas sudah tak bersisa, bantal-bantal kembali pada tempatnya, dan karpet bulu tampak bersih. Semuanya sudah rapi. Namun, tatapan wanita itu kembali menancap pada meja rias."Terus kenapa kotak perhiasanku bisa terbuka begitu?!" bentak Ratna, menunjuk dengan dagunya."Kotak ini memang sudah terbuka sejak saya masuk. Saya bersumpah, Nyonya, saya sama sekali tidak menyentuhnya." jawab Mira setenang mungkin, suaranya sengaja dibuat sedikit bergetar.Ratna mendecih tajam. Didorong oleh rasa curiga dan amarah yang
Terakhir Diperbarui: 2026-07-17
Chapter: Bab 23Naomi masih duduk di kursi dekat teras sambil memangku buku yang sejak tadi sudah tidak lagi ia baca. Perhatiannya beberapa kali teralih ke arah ruang tengah, tempat Ethan masih memimpin rapat dengan wajah serius. Meski tidak berniat menguping, suara para direksi terdengar cukup jelas di ruangan yang kembali hening setelah hujan sedikit mereda."Kalau proyek ini dipaksakan sekarang, risikonya terlalu besar, Pak Ethan," ujar direktur keuangan."Justru kalau kita menunggu, kompetitor akan lebih dulu masuk ke pasar," sahut direktur pemasaran."Data pasar menunjukkan permintaannya sedang naik. Kalau terlambat, kita akan kehilangan momentum.""Tapi tim operasional belum siap. Saya tidak ingin proyek sebesar ini gagal hanya karena kita terburu-buru."Perdebatan kembali berputar di tempat. Masing-masing mempertahankan pendapatnya dengan alasan yang masuk akal, tetapi tidak ada satu pun yang mampu menawarkan jalan keluar. Ethan tetap duduk tenang
Terakhir Diperbarui: 2026-07-13
Chapter: Bab 22Ethan melirik jam tangan di pergelangan kirinya. Jarum pendek hampir menunjuk pukul sembilan malam. Ia mengangkat pandangan ke arah Naomi. "Aku harus kembali ke villa. Rapat dimulai sebentar lagi." Naomi mengangguk pelan. "Kalau begitu kamu duluan saja." Ethan mengernyit tipis. "Kau?" "Aku ingin jalan sebentar menikmati malam. Sayang kalau langsung pulang."“Baik.”Ethan berbalik dan berjalan kembali menuju vila, sementara Naomi melanjutkan langkahnya menyusuri jalan setapak di sekitar resort. Lampu-lampu kecil berjajar di sepanjang jalur kayu, menerangi taman tropis yang tenang. Angin laut bertiup lembut, membawa aroma asin yang khas.Naomi berjalan santai tanpa tujuan tertentu. Sesekali ia berhenti memandangi laut yang berkilau diterpa cahaya bulan, lalu kembali melangkah menikmati suasana yang jarang bisa ia rasakan. Selama hampir tiga puluh menit ia berkeliling area resort, hingga akhirnya ia mendongak ke langit. Awan gelap perlahan menutupi bulan. Angin mulai bertiup lebih
Terakhir Diperbarui: 2026-07-13
Chapter: Bab 21Panggilan itu masih berlangsung selama beberapa menit. Ethan lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Sesekali ia mengajukan pertanyaan singkat dengan nada tenang, sementara Victor terus menjelaskan situasi yang sedang terjadi di perusahaan.Naomi memilih diam. Ia tahu pekerjaan selalu menjadi prioritas Ethan. Jika perusahaan benar-benar membutuhkan kehadirannya, bukan hal yang aneh bila pria itu memutuskan kembali ke Jakarta.Beberapa saat kemudian, Ethan akhirnya membuka suara. "Kumpulkan seluruh direksi."Victor segera menanggapi dari seberang. "Baik, Pak. Lalu bagaimana dengan Bapak? Apa kami perlu menyiapkan penerbangan kembali?""Tidak," jawab Ethan tegas. "Aku akan bergabung melalui video conference.""Tapi keputusan akhirnya tetap harus menunggu persetujuan Bapak.""Kirim semua dokumen ke tabletku sekarang. Aku akan mempelajarinya sebelum rapat dimulai. Pastikan juga tidak ada satu pun keputusan yang diambil tanpa persetujuanku.""Baik, Pak. Saya mengerti."Setelah memas
Terakhir Diperbarui: 2026-07-12
Chapter: Bab 20"Jangan salah paham." Ethan merapikan jam di pergelangan tangannya sebelum menatap Naomi. "Aku hanya tidak suka berhutang budi. Anggap saja ini balasan karena kau sudah merawatku." Sudut bibir Naomi perlahan terangkat membentuk senyum kecil. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia membuka pintu villa lebih lebar. "Kalau begitu... ayo." Ethan melangkah mengikutinya keluar, sementara di dalam hati ia terus mengulang alasan yang sama. Ini hanya balas budi. Tidak lebih. Naomi dan Ethan berjalan berdampingan menyusuri jembatan kayu yang membentang di atas laut. Langit malam dipenuhi bintang, sementara cahaya bulan memantul di permukaan air yang tenang. Naomi menoleh ke arah Ethan yang berjalan di sampingnya dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. "Terima kasih." Ethan meliriknya sekilas. "Untuk apa?" "Karena sudah mau meninggalkan laptopmu dan ikut berjalan bersamaku." Ethan mengalihkan pandangan ke laut. "Jangan salah paham. Aku hanya sedang membayar utang budi. Kau sudah m
Terakhir Diperbarui: 2026-07-12
Chapter: Bab 19Naomi menghampiri sofa tempat Ethan duduk sejak tadi. Hamparan laut biru yang membentang di balik dinding kaca vila seolah sama sekali tidak menarik perhatian pria itu. Seluruh fokus Ethan tertuju pada layar laptop di pangkuannya. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard, sesekali berhenti hanya untuk berpindah ke berkas lain sebelum kembali mengetik. "Ethan." "Hm?" sahutnya singkat tanpa mengalihkan pandangan. Naomi menggeleng pelan. "Kamu nggak bosan? Sejak bangun tadi yang kamu lihat cuma laptop." "Aku sedang bekerja." "Justru itu masalahnya." Naomi tersenyum tipis. "Kita memang datang ke sini karena keadaan, tapi tetap saja sayang kalau sudah sampai di Maldives malah terus mengurung diri di dalam vila." "Itu tidak mengubah pekerjaanku." "Pekerjaanmu juga tidak akan lari kalau ditinggal satu jam." "Tidak tertarik." Jawaban singkat itu membuat Naomi mengembuskan napas pelan. Ia menatap Ethan beberapa detik, berharap pria itu setidaknya mau mempertimbangkan ajakannya. Sa
Terakhir Diperbarui: 2026-07-11