Rahasia Satu Malam

Rahasia Satu Malam

last updateLast Updated : 2026-09-21
By:  Oh HanaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
6Chapters
8views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Blurb Rihana pikir, mempertahankan hubungan delapan tahun bersama Marcel adalah harga mati. Namun, ketika pria itu kian terang-terangan bermain api di belakangnya, kejenuhan Rihana meledak. ​Malam itu, berawal dari luapan emosi dan beberapa gelas minuman, Rihana melakukan dosa yang tak pernah ia bayangkan. Ia menyerahkan diri pada Bara—sahabat yang selama ini selalu ada di sisinya. ​"Gue mau nikahin elo, Ri." ​“Gue punya tunangan, Bar! Lo mau jadi perusak hubungan orang, hah?!” ​Rihana berusaha keras berlari, menutup rapat rahasia malam itu dari Marcel dan keluarganya yang makin menekan. Namun, Bara tidak berniat mundur. Laki-laki itu terus hadir, mencairkan pertahanan Rihana, dan menawarkan pelarian dari hubungan toksik yang mengurungnya. ​Ketika satu demi satu bangkai kebohongan tercium, Rihana harus memilih: bertahan pada pernikahan impian yang keropos, atau menyerahkan hatinya pada laki-laki yang telah mencuri malam rahasianya?

View More

Chapter 1

Bab 1. Rahasia Satu Malam

​“Lo yang narik gue semalam, Bar! Harusnya lo sadar, lo cowok!”

​“Gue mabuk, Ri! Lo pikir gue sengaja, hah?! Kenapa lo sendiri nggak dorong gue kalau lo masih sadar?!”

​Suara pertengkaran itu memecah keheningan kamar yang kacau. Keduanya duduk di atas satu ranjang yang sama, napas mereka terengah saling memburu. Pakaian berceceran di lantai, selimut terbelit tak beraturan, dan tubuh mereka yang polos tadi pagi menyadarkan satu fakta mengerikan, mereka telah melewati batas.

​Setelah erupsi emosi dan saling menuding tentang siapa yang paling bersalah, kekuatan mereka habis. Lelah bertengkar—karena sadar semalam mereka sama-sama terlalu mabuk usai acara makan-makan bersama rekan kantor—keduanya akhirnya bungkam. Pilihan terakhir hanyalah menghela napas panjang dan terdiam beberapa menit lamanya.

​Tidak, tidak ….

​Dalam hati kecil masing-masing, mereka tahu ini bukan salah satu pihak saja. Bara, laki-laki yang masih terdiam dalam kebingungan itu, bukanlah orang brengsek yang suka memanfaatkan keadaan. Pun Rihana bukan tipe perempuan urakan yang hobi berganti-ganti pasangan.

​“Gue bersedia ….” Bara akhirnya bersuara, berniat mengambil tanggung jawab penuh.

​“Lupain aja gimana, Bar?” Rihana menyela cepat. Ada kepanikan terselubung dalam suaranya.

​Laki-laki yang masih bertelanjang dada itu mengerjap sebentar. Pikiran Bara berusaha keras mencerna permintaan perempuan yang kini mengenakan kaus kebesaran miliknya.

​Ia menoleh, menatap Rihana tak percaya. “Lo gila, ya?”

​Kelopak mata Rihana memejam rapat. Leher jenjang berhias bilur biru di sisi kiri tampak terlihat makin jelas ketika ia menengadah—menahan gejolak penyesalan yang membakar dadanya.

​“Ya, gimana lagi emang?” Kali ini Rihana bertanya dengan nada ketus, benteng pertahanan terakhir untuk menutupi ketakutannya.

​Masalah utamanya, Rihana tahu betul dirinya masih berstatus tunangan Marcel. Laki-laki yang sudah delapan tahun ini menjalin hubungan serius dengannya dan berencana menikah dalam waktu dekat.

​Namun, Rihana juga tak bisa membohongi rasa sakitnya. Semalam ia mabuk berat karena emosinya memuncak pada Marcel. Di tahun kedelapan hubungan mereka, suasana justru mendingin. Marcel kerap menghilang beberapa hari tanpa kabar. Jika ditelpon dan ditanya, dengan enteng pria itu menjawab, “Aku sibuk, Yang.”

Setiap kali Rihana mengajak membahas pesta pernikahan, Marcel selalu menghindar. Lebih menyakitkan lagi, Rihana sudah lebih dari tiga kali memergoki calon suaminya itu jalan dengan perempuan lain.

​Kalau bukan karena tekanan keluarga, mungkin Rihana sudah memupus pertunangan sialan itu sejak lama. Kalau bukan karena keinginan kuatnya untuk segera hengkang dari rumah orang tuanya, ia tak sudi terburu-buru menikah.

​“Gue mau nikahin elo, Ri!”

​Satu kalimat tegas dari mulut Bara membuat Rihana terperanjat kaget. Jantungnya berdegup kencang.

​“Gue punya tunangan, Bar! Lo mau jadi perusak hubungan orang, hah?!”

Dua tangan Rihana mengepal erat di atas pangkuan. Ia menatap sahabatnya lebih intens, berusaha menyembunyikan getaran di matanya.

​“Tapi semalam kita udah ngelakuin ….” Bara mencoba menyadarkan fakta di antara mereka.

​“Stop! Lupain! Gue mau kita lupain! Jalani hidup seperti biasa. Oke …?” Rihana memohon, tatapannya menyiratkan ketakutan akan kehancuran hidupnya.

“Please, jangan persulit kondisi gue ….”

​Tanpa menunggu jawaban Bara, Rihana menyingkap selimut dan meraih celana jins-nya dengan cepat.

​“Ri ….” Bara memanggil dengan suara tertahan.

​Saat Rihana menoleh sekilas, Bara terpaku. Tatapan mata laki-laki itu tertuju pada noda merah di atas permukaan sprei—tepat di mana Rihana berbaring di bawah kungkungannya semalam. Penyesalan Bara kian menghantam dada. Ia telah merenggut kesucian sahabatnya sendiri.

​Rihana yang menyadari arah pandang Bara langsung menggigit bibir bawahnya, mengusap wajah secara kasar. Sebelum Bara meminta lebih banyak penjelasan dan melontarkan tuntutan, Rihana bergegas meraih handbag di sofa.

​Rihana berlari kecil dengan mata berkaca-kaca, melangkah keluar dari apartemen sahabat masa kecilnya itu. Sementara Bara, yang hanya mengenakan jins belel, sempat berusaha mengejar namun terhenti begitu melihat Rihana melangkah masuk ke dalam lift yang terbuka.

​Di dalam lift yang dingin, Rihana terengah-engah. Tubuhnya merosot, berjongkok sembari menangis di balik kedua telapak tangan. Perasaannya hancur. Ada penyesalan mendalam dan rasa malu yang melingkupinya.

Apa bedanya aku dengan Marcel sekarang?

Sama-sama pengkhianat, batin Rihana meratapi nasib pertunangannya yang kian retak.

​Usai malam itu, Rihana seolah lenyap ditelan bumi. Di sisi lain, Bara diliputi rasa cemas dan gelisah luar biasa. Ia tak pernah lelah berusaha menghubungi Rihana.

Telepon tak pernah diangkat.

Pesannya tak pernah dibalas.

Rasa frustrasinya bertambah saat tahu Rihana mengambil cuti seminggu.

​Bara benar-benar uring-uringan. Ia sering mengabaikan jam makan dan tidur. Rasa bersalah terus menggerogoti otaknya karena telah meniduri calon istri orang.

​“Calon bini orang! Berhenti inget-inget itu terus nggak lo?!” rutuk Bara geram pada bayangannya sendiri di depan cermin kamar apartemen.

​Namun, setiap kali ia merebahkan diri di tempat tidur, ingatan tentang aroma vanilla yang manis dari tubuh Rihana seolah masih tertinggal di indra penciumannya, membuat frustrasinya semakin menjadi.

​Pagi ini, Bara memutuskan bangkit dari kasur bernuansa abu-abu miliknya. Ia harus bekerja. Rasa stres membuatnya terbangun sejak pukul tiga pagi dan tak bisa memejamkan mata lagi. Setidaknya, deru lalu lintas dan kemacetan kota selama 20 menit berkendara dengan motor matic-nya mampu mengalihkan sedikit benang kusut di kepala.

​Pukul tujuh pagi, kantor masih sepi. Untuk mengusir rasa kantuk, Bara melangkah ke pantry dan menyeduh kopi. Namun, gerakan tangannya mengaduk cangkir mendadak terhenti saat sosok perempuan yang ia cari seminggu ini muncul di ambang pintu.

​Ada desir aneh yang menghantam dada Bara—campuran antara lega melihat Rihana tampak baik-baik saja, dan emosi tertahan yang siap meluap.

​Rihana sendiri terkejut melihat Bara, tapi berusaha tetap tenang. Ia melangkah maju dan menyeduh kopinya sendiri, mengaduk cairan hitam itu dengan gerakan canggung. Rihana sangat sadar betapa intens tatapan Bara yang sedang menyesap kopi di sisinya.

​“Apa kabar, Bar?” tanya Rihana pelan, mencoba memecah keheningan.

​Bara memutar bola matanya jengkel. “Menurut lo?”

​Rihana makin merasa serba salah. Ia menyelipkan rambut ke balik telinga, berdeham ragu, lalu menyesap kopinya untuk menutupi rasa gugup.

​Saat Bara berbalik dan menyandarkan setengah tubuhnya ke meja bar, Rihana menelisik sekitar—memastikan area pantry benar-benar aman.

​“Bar ….”

​“Hm?”

​“Gue … nggak hamil. Tadi pagi udah cek,” bisik Rihana pelan, berharap kalimat itu bisa menjadi jalan keluar dan menenangkan Bara. Meski Rihana belum sepenuhnya yakin perbuatan mereka tak menumbuhkan sesuatu di dalam dirinya.

​Namun sebaliknya, berita itu justru menyentil perasaan Bara secara aneh. Ada letupan emosi mengesalkan yang sulit ia jelaskan. Rasa tanggung jawab dan kepeduliannya seolah disepelekan begitu saja.

​“Terus, dengan begitu menurut lo bisa menghapus kejadian malam itu gitu?” tanya Bara sinis.

​“Nggak gitu juga. Maksud gue aman, Bar. Kita bisa merahasiakan kejadian malam itu dan hidup normal seperti biasa tanpa terbebani. Gue ….”

​“Ck!” Bara berdecak, menatap tajam manik mata Rihana yang redup. “Lo pikir cuma karena lo hamil apa nggak, gue jadi cemas dan ngerasa bersalah gitu?”

​Hening menyelimuti mereka. Keduanya saling tatap dengan beban emosi masing-masing yang saling bertabrakan.

​“Lo picik banget sumpah, Ri,” mendesah marah, Bara memalingkan wajah ke arah jendela.

​Rihana tertunduk lesu, menatap kepulan asap kopi di tangannya. Hatinya mencelos. “Gue cuma mau ngebebasin elo, Bar. Pun kalau gue hamil ….”

​“Hamil? Siapa, Ri?!”

​Bara dan Rihana sontak terperanjat. Suara nyaring dari arah pintu pantry mengejutkan mereka berdua, menyadarkan bahwa rahasia besar mereka mungkin baru saja terancam bongkar.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Ardhya Rahma
Ardhya Rahma
Seru nih ceritanya. Semangat update ya .........
2026-09-21 09:54:08
1
1
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status