LOGINBlurb Rihana pikir, mempertahankan hubungan delapan tahun bersama Marcel adalah harga mati. Namun, ketika pria itu kian terang-terangan bermain api di belakangnya, kejenuhan Rihana meledak. Malam itu, berawal dari luapan emosi dan beberapa gelas minuman, Rihana melakukan dosa yang tak pernah ia bayangkan. Ia menyerahkan diri pada Bara—sahabat yang selama ini selalu ada di sisinya. "Gue mau nikahin elo, Ri." “Gue punya tunangan, Bar! Lo mau jadi perusak hubungan orang, hah?!” Rihana berusaha keras berlari, menutup rapat rahasia malam itu dari Marcel dan keluarganya yang makin menekan. Namun, Bara tidak berniat mundur. Laki-laki itu terus hadir, mencairkan pertahanan Rihana, dan menawarkan pelarian dari hubungan toksik yang mengurungnya. Ketika satu demi satu bangkai kebohongan tercium, Rihana harus memilih: bertahan pada pernikahan impian yang keropos, atau menyerahkan hatinya pada laki-laki yang telah mencuri malam rahasianya?
View More“Kalau aku bakalan susah punya anak gimana, Bar?”Satu pertanyaan rapuh itu membuat Bara menghela napas panjang sebelum ia menyunggingkan senyuman simpul yang menenangkan.“Aku mau sama kamu dengan atau tanpa anak, Ri. Kalau memang jalannya nggak bisa, ada kamu aja buat aku udah lebih dari cukup,” tutur Bara lembut seraya menyeka pelan telapak kaki Rihana yang terjulur hampir menyentuh lantai dengan handuk kecil basah.Kalimat sederhana penuh ketulusan itu berhasil menyalurkan kehangatan langsung ke dalam dada Rihana, membuatnya tersenyum tipis meski matanya masih menyisakan sisa lelah.Laki-laki itu lantas bangkit untuk mengembalikan kain basah tersebut ke kamar mandi sekaligus mencuci tangannya.Perempuan yang sedang terduduk bersandar di ranjang pasien itu sebenarnya sudah terbangun sejak pukul delapan pagi. Ia sempat terdiam cukup lama saat dokter spesialis datang mengontrol kondisinya sembari memberikan penjelasan medis pasca-tindakan. Meski dokter mengatakan semuanya berja
Nita bergerak mundur secara perlahan. Gadis berkaus jingga itu memilih bungkam dengan dada yang berdegup kencang tak beraturan. Ia sama sekali tidak menyangka surat medis rahasia itu bisa sampai begitu cepat ke tangan sang ibu.“Kamu benar-benar menggugurkannya? Jawab Ibu, Nita!” desak Ranti dengan suara bergetar yang sarat akan tekanan emosi luar biasa. “Jawab Ibu, Nita!” bentaknya penuh amarah.Satu bentakan keras itu membuat Nita terperanjat kaget. Pertahanan dirinya runtuh, digantikan oleh sikap defensif yang buruk. Ia spontan menggeleng kuat-kuat.“I-ini hidupku! Aku … sudah dewasa, Bu! Ibu nggak perlu ikut campur urusanku!”“Tapi aku ibumu, Nit! Ibu yang melahirkanmu! Ibu berhak meluruskanmu saat kamu berjalan di jalur yang salah!” Mata Ranti membelalak merah, menatap tajam penuh kecewa.“Nggak!” Putri bungsunya itu menghimpun sisa-sisa keberanian semu. Kertas keterangan medis di tangannya diremas kuat hingga beringsut kusut tak berbentuk. “Aku punya hak penuh mengatur jalan
Test-pack bergaris dua itu tergeletak tenang di atas permukaan meja kantin.Ranti masih tertegun, menatap lekat pada benda kecil di hadapannya dengan perasaan yang berkecamuk tak keruan. Sementara itu, Maira duduk diam di seberangnya, sabar menunggu reaksi dari wanita paruh baya itu.Keduanya duduk berdua di sudut kantin rumah sakit menjelang subuh. Sepanjang malam tadi, baik Bara, Maira, maupun Ranti tak ada yang sanggup memejamkan mata walau sedetik pun. Mereka dihantui rasa cemas yang teramat sangat saat tim medis berjuang di dalam ruang operasi demi menyelamatkan nyawa Rihana yang kehilangan banyak darah.Beruntung, di saat-saat kritis malam itu, Maira dengan sukarela menawarkan diri menjadi pendonor darah darurat setelah mengetahui golongan darah mereka sama persis. Nyawa putri sulung Ranti berhasil diselamatkan karenanya.Ketegangan yang mencengkeram dada mereka perlahan memudar, berganti menjadi air mata haru serta kelegaan yang luar biasa. Melihat wajah Ranti yang masih sa
Rihana hamil enam minggu. Sebuah kenyataan pahit yang menampar keras mental seorang ibu. Ranti terpekur dalam di dalam ruang dokter. Relung hatinya berusaha keras menyangkal kenyataan itu. Bagaimana mungkin putri sulungnya sudah dinyatakan hamil enam minggu, sementara usia pernikahannya dengan Bara baru berjalan belum ada seminggu? Lalu, dugaan lain yang mengerikan mendadak membuat Ranti semakin tegang. Apa mungkin … anak yang dikandung Rihana itu adalah anak Marcel? Bara terlalu baik jika harus dijadikan tersangka atas perbuatan sejauh itu. Sikap laki-laki itu yang ramah, sopan, penyayang, serta teramat menghargai kehormatan wanita, sangat bertolak belakang dengan tragedi kehamilan di luar nikah ini. Namun, diamnya Bara dan sikapnya yang terlalu protektif belakangan ini membuat Ranti berasumsi lain lagi. Melihat kondisi hubungan Rihana dan Marcel yang hancur, serta kedekatan putri sulungnya dengan Bara selama ini, tak menutup kemungkinan laki-laki yang menghamili Rihana me












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews