Kekasih Bayaran CEO Muda

Kekasih Bayaran CEO Muda

last updateÚltima atualização : 2026-09-21
Por:  Ana. R. Atualizado agora
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Classificações insuficientes
10Capítulos
5visualizações
Ler
Adicionar à biblioteca

Compartilhar:  

Denunciar
Visão geral
Catálogo
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP

Demi lolos dari perjodohan paksa, Hazel Vance nekat mengambil keputusan paling gila yaitu menjadi kekasih bayaran Lucas Sterling, CEO triliuner berhati dingin yang irit bicara. Bermodal sandiwara cinta demi fasilitas kartu kredit unlimited, Hazel justru terjebak dalam medan perang keluarga yang penuh intimidasi dan intrik. ​Skenario mereka diuji habis-habisan saat ibu Lucas melancarkan sidak mendadak, memaksa pasangan palsu ini tampil mesra di depan publik. Namun, di balik argumen konyol, ketegangan yang intens, hingga insiden-insiden intim tak terduga, benteng es sang CEO perlahan terkikis. Kisah ini mungkin terdengar seperti romansa klise biasa, tapi apakah kamu yakin tebakanmu soal akhir sandiwara miliaran dolar ini benar-benar tepat?

Ver mais

Capítulo 1

bab 1 Awal Pertaruhan Dua Nasib

Suara gesekan roda koper besar beradu dengan permukaan trotoar yang basah. Gerimis tipis yang mengguyur kota Verdelia mulai membasahi helai-helai rambut cokelat gelombang milik Hazel Vance. Dengan napas terengah dan gaun yang sedikit menggelembung diterpa angin dingin, ia berusaha keras memindahkan tumpuan berat kopernya melewati pintu kaca sebuah kafe di sudut jalan.

"Aduh! Koper sialan," umpat Hazel pelan, menyapu poni basah yang menempel di dahi.

Pintu kaca itu mendadak ditahan oleh sesosok pria berjas rapi dari dalam. "Butuh bantuan?"

Hazel mendongak. Pandangannya yang semula kesal berubah menjadi binar cerah begitu mengenali wajah familier di hadapannya. "Kak Thomas?"

Pria itu mengerutkan dahi sejenak sebelum matanya melebar terkejut. "Hazel? Hazel Vance?"

"Iya! Wah, kebetulan banget ketemu di sini!" seru Hazel dengan senyum lebar. Saking bersemangatnya, ia melepaskan pegangan koper begitu saja hingga benda besar itu hampir terguling jika Thomas tidak cepat menyergapnya.

"Kamu sedang apa membawa koper sebesar ini di tengah hujan?" tanya Thomas heran sembari menarik koper itu masuk ke dalam kafe yang hangat.

"Ceritanya panjang, Kak. Aku haus banget, boleh duduk bareng?"

Thomas mengangguk dan mengarahkannya ke meja kosong di sudut ruangan yang tenang. Setelah dua cangkir kopi hangat dan beberapa pastry tersaji, Thomas melipat tangannya di atas meja, menatap Hazel tajam. "Sekarang jelaskan padaku. Kenapa kamu berada di luar membawa koper seperti orang yang kabur dari rumah?"

Hazel menyandarkan punggungnya di kursi, melipat tangan lalu menghela napas dramatis. "Aku memang kabur dari rumah, Kak."

"Daniel membiarkanmu pergi?"

"Gak, Kak. Kak Daniel lagi ada perjalanan bisnis ke luar negeri dari minggu lalu. Tapi kalau ada dia di rumah pun, dia pasti malah setuju kalau aku dijodohkan sama anak temannya Papi," adu Hazel dengan bibir mengerucut kesal.

"Dijodohkan lagi?"

"Iya! Papi mulai lagi. Kali ini sama pria kaku yang hobinya cuma bahas saham. Aku tidak mau! Aku baru dua puluh tiga tahun, masih ingin bebas dan mencari pria pilihanku sendiri," cerocos Hazel.

"Tapi kabur bukan solusi, Hazel. Sekarang kamu mau ke mana?"

Hazel mengaduk kopinya yang beruap lesu. "Gak tahu. Papi langsung memblokir semua kartu kreditku sejam yang lalu. Uang tunai di dompetku cuma bertahan buat tiga hari kalau hemat."

"Kamu tidak mencoba menginap di tempat temanmu?"

"Teman-temanku pasti bakal ditanya sama Papi. Kalau di tempat Kak Thomas kan Papi gak bakal curiga," Hazel terkekeh pelan.

Thomas mengusap dagunya, berpikir sejenak sebelum berkata, "Ya sudah begini saja, kamu bisa tinggal di apartemenku dulu sampai masalahmu selesai."

Mata bulat Hazel melotot kaget, lalu senyum lebar terukir di wajahnya. "Aku tidak mau merepotkanmu, Kak. Tapi aku tidak akan menolak! Heehee."

Thomas tertawa kecil, namun tatapannya mendadak meneliti Hazel dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gadis di depannya ini cantik, berpendidikan tinggi, paham etika kalangan atas karena berasal dari keluarga terpandang, dan yang paling penting: adik dari sahabat baiknya sendiri. Seorang gadis yang bisa dipercaya.

"Lagipula... aku ada pekerjaan. Kamu mau?" tawar Thomas sambil memajukan tubuhnya.

Binar di mata Hazel mendadak menyala. "Mau! Kerja apa? Aku butuh uang banget nih, Kak, biar gak tergantung sama Papi lagi."

"Pekerjaannya cukup sederhana, tapi butuh akting yang bagus," bisik Thomas pelan. "Kamu hanya perlu berpura-pura menjadi kekasih dari atasanku."

Hazel menaikkan sebelah alisnya, ingatan tentang atasan Thomas yang legendaris mendadak muncul di kepalanya. "Bosmu? Si kaku kaya raya itu? Siapa namanya... Lucas Sterling?"

"Benar."

Tawa kecil keluar dari bibir Hazel. "Tunggu, pria sesempurna dan sekaya Lucas Sterling butuh menyewa kekasih bayaran? Dia tidak laku atau bagaimana?"

Thomas meringis pelan. "Orang tuanya menuntut dia membawa kekasih dalam dua minggu, atau dia akan dijodohkan secara paksa dengan putri keluarga Miller. Dia menolak perjodohan itu."

"Wah, nasib kita mirip dong!" seru Hazel tertawa. "Berapa dibayarnya?"

"Sangat cukup untuk membayarmu menyewa apartemen mewah selama setahun penuh," jawab Thomas mantap.

Hazel mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Bayaran melimpah, tempat tinggal aman, dan kesempatan emas untuk membuktikan pada papinya bahwa ia bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Penawaran ini terlalu sempurna untuk dilewatkan.

"Oke, aku ambil pekerjaannya!" Hazel mengulurkan tangannya mantap.

°°°

Gedung pencakar langit Sterling Group berdiri megah menjulang lima puluh lantai, menyebarkan aura intimidasi yang pekat. Namun, Hazel melangkah melewati lobi bernuansa marmer hitam itu dengan santai. Gaun kasualnya yang rapi bergerak ringan seirama langkah kakinya di samping Thomas.

Mereka naik menggunakan lift khusus eksekutif menuju lantai paling atas. Begitu pintu lift terbuka, kesunyian yang kaku menyergap indra pendengaran Hazel.

"Ingat, Hazel. Di dalam nanti, jaga sikapmu. Jangan memancing emosinya," bisik Thomas berhati-hati saat berdiri di depan pintu kayu jati tebal.

Hazel mengedipkan sebelah matanya, mengukir senyum percaya diri. "Tenang saja, Kak. Aku kan profesional."

Thomas mengetuk pintu dua kali lalu membukanya. "Tuan Sterling, saya membawa kandidat yang saya ceritakan kemarin."

Hazel melangkah masuk dan pandangannya langsung tertuju pada pria di balik meja kerja kayu gelap yang sangat besar. Pria itu memakai kemeja putih dengan lengan tergulung hingga siku. Begitu menatap ke atas, Hazel disuguhi wajah bergaris rahang tegas dan sepasang iris mata abu-abu yang teramat dingin.

Lucas Sterling meneliti Hazel dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapan itu terkesan begitu menilai, seolah Hazel adalah barang dagangan di etalase.

Expandir
Próximo capítulo
Baixar

Último capítulo

Mais capítulos

Para os leitores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sem comentários
10 Capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status