Ratna menjerit, suaranya pecah di antara isak tangis dan napas yang memburu. Dia berdiri di ambang pintu, menatap nanar ke arah sofa. Mira segera tersentak, menarik kakinya dari pangkuan Brata dengan gerakan kasar yang disengaja. Ia langsung bersimpuh di lantai, menundukkan kepala dalam-dalam sampai dahi hampir menyentuh karpet. “M—maaf, Nyonya.” "Jangan berlebihan, Ratna," suara Brata rendah, datar, dan tajam. Ia mengangkat Mira agar tidak menyentuh kaca yang sudah pecah. Ratna melangkah maju, tangannya gemetar hebat saat menunjuk ke arah Mira. "Berlebihan? Atau kamu memang sengaja mencari perhatian, hah?!" Brata menghela napas panjang, bangkit berdiri untuk memutus jarak di antara mereka. “Sudahlah, Ratna. Jangan berlebihan. "Mira, kamu ke sini... hati-hati. Tolong bantu Nyonya untuk mandi. Biar saya beresin ini." Mira tampak ragu, bahunya sedikit gemetar saat ia berusaha berdiri dengan kaki yang masih sakit. Ia menatap Ratna sekilas dengan tatapan sendu, lalu menunduk lagi
Last Updated : 2026-06-13 Read more