Share

Bab 68: Mau Egois

Author: NACL
last update Last Updated: 2025-12-25 09:04:03

Ciuman Dhava makin dalam, menuntut, dan penuh hasrat yang gejolak membara.

Sama seperti pria itu, Diana tidak memberi ampun. Ia menekan tengkuk terapisnya agar memperdalam tautan bibir mereka. Ia menolak ciuman itu terlepas barang sedetik pun. Kehangatan tubuh Dhava membakar sisa-sisa akal sehat wanita itu.

Dhava bergerak liar, tangannya yang besar merangkak naik, meraba lembut gundukan kenyal di balik blus Diana. Tanpa buang waktu, jemarinya teramat terampil menyelip ke punggung sang sepupu. Secepat kilat, ia melepas pengait bra nude wanita itu.

Dhava menarik napas dalam, telapak tangannya kini leluasa membelai kulit punggung Diana yang lembut dan lembab oleh keringat gairah.

"Aahh ... Mas, Dhava," satu lenguhan lolos dari bibir Diana.

Memutuskan tautan bibir mereka, Dhava bergeser turun ke leher Diana yang jenjang, ia meninggalkan jejak basah yang membakar. Bahkan tangannya beralih cekatan, melepas tiga kancing blus yang ada di depan.

Kain itu tersingkap, menampilkan pemandangan buk
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 105

    “Tidak bisa!” tegas Dhava, suaranya itu memenuhi ruangan.Sontak Maharani dan maminya Renita menoleh. Menatap Dhava dengan sorot yang penuh tanda tanya. “Kamu tidak bisa bertemu anak-anak dalam keadaan seperti ini!”Dalam hati Renita tertawa. Suaminya ini sungguh lucu, bukankah ia dituntut menjadi ibu yang baik, inilah saatnya, menggunakan momen.Renita menggosok hidungnya, lalu mengatupkan tangan. Pandangannya penuh permohonan pada Dhava. “Dhava … aku kangen mereka. Aku serius, aku mau sembuh. Aku … capek. Aku—”Maminya gegas bangkit dan memeluk Renita penuh kasih sayang. Ruang rawat ini mendadak berubah menjadi panggung sandiwara yang menjanjikan karena peran mumpuni dari para pemainnya.Maharani buru-buru menghampiri Dhava yang berdiri tegak di depan pintu kamar mandi. Wanita itu berjinjit untuk berbisik pada putranya.“Bawa aja, Nak. Mama paham perasaan Renita. Ibu mana yang bisa lama-lama jauh sama anaknya. Dia udah berubah, Dhava, seperti yang kamu inginkan.”Dhava mendengkus, t

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 104

    Mata agak sipit Diana membelalak, kedua tangannya yang ramping dan mulus itu bersiap melayangkan pukulan pada Rayan. Namun, pria itu mengantisipasinya lebih dulu, menangkup kedua tangan Diana, mencengkeramnya kuat.Rayan mendesis tepat sesaat bibirnya menjauh, “Diana sayangku. Kamu istriku, jangan nolak ciumanku, paham?”“Kurang ajar kamu, Mas!” pekik Diana lantas mendorong tangan Rayan.Pria itu hanya tersenyum sinis, rona wajahnya yang bercambang halus itu dipenuhi kepongahan. Menerima dorongan kuat di bahunya, Rayan naik pitam, membalasnya dengan menyudutkan Diana pada sandaran kursi.“Tubuhmu itu milikku. Kamu teriak minta tolong pun, nggak ada yang peduli. Kita ini suami istri!!!” tegasnya. Kemudian Rayan turun dari mobil dengan hentak langkah dipandangi setiap orang yang menyaksikan cumbuannya tadi di mobil.Ia merapikan dasinya, dan tersenyum pada mereka semua. Bisik-bisik mulai terdengar menyanjung, membuatnya makin terbang ke angkasa.“Memang beda kalau bisa nikahin adiknya B

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 103

    Sampai dengan sore hari Renita hanya menghabiskan waktu dengan memainkan ponselnya. Namun, saat ada panggilan masu dari rumah, ia tidak menerima. Terlalu malas menanggapi, paling-paling itu hanyalah Davka yang merengek atau para nanny atau Maharani—ibu mertuanya yang berlagak perhatian.Tepat pukul tujuh malam, maminya bangkit dari sofa. “Mami pulang, sebentar lagi Dhava ke sini. Ingat, jangan buat masalah. Mami tidak bisa mentolerirnya lagi.”Renita mendengkus dan melambaikan tangan lalu bergelung dengan selimut.Setelah maminya benar-benar pergi, ia mengambil ponselnya lagi. Menekan kontak seseorang yang sudah lama ia hindari, seseorang yang ia abaikan selama bertahun-tahun. Namun kali ini ia membutuhkannya, demi menyelamatkan diri, memenangkan persaingannya, bukan karena cinta semata atau materi, tetapi sebuah gengsi yang tidak tertandingin oleh apa pun.“Renita? Ada apa?” Suara maskulin itu terdengar kecil di antara dentum musik yang terasa akrab di telinga.“Gue butuh lu. Tapi bu

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 102

    ‘Oh, ya, ampun!!! Jangan sampai ketahuan, Di!’ pekik Diana dalam hati. Tubuhnya nyaris terhuyung ke depan seperti tadi saat Dhava membuka pintu. ‘Run … Diana, Run!’ pikirannya lagi berisik.Pintu itu makin lama makin lebar, dan sepasang mata karamel menyusur setiap sudut. Ketemu!Yang paling dekat, ya, ruang staf, meskipun jaraknya beberapa langkah. Mengandalkan kekuatannya dan sisa waktu yang dimiliki, Diana melompat ke samping dan menjebloskan diri ke ruangan itu. Detik itu juga pintu ruang praktik Dhava benar-benar terbuka lebar.Dari celah yang Diana sisakan sedikit, ia bisa melihat bayangan seseorang. Sudah pasti itu ibunya Renita.“Mami pergi dulu! Ingat perintah Mami.” Wanita paruh baya itu mengedarkan pandangan, seolah mencari-cari perempuan muda yang dijumpainya di ruang sang menantu.Dhava nyaris saja mendengkus, tetapi ia ingat yang dihadapinya adalah wanita tua keras kepala. Ia harus menahan diri.Wanita itu berkata lagi, kali ini lebih tegas, “Apa susahnya setia sama Renit

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 101

    Sontak saja genggaman kunci dari tangannya terlepas, berdenting di atas lantai. Bahkan Diana mendorong kuat bahu Dhava. Ia melompat turun dari meja. Pantulan dirinya terpatri jelas di cermin… berantakan.“Dhava?” Suara wanita yang asing di telinga Diana itu membuatnya makin panik.“Mas, aduh. Aku … aku sembunyi di mana?” tanya Diana, suaranya tercekat. Mata Diana menyapu liar ke sekeliling ruangan. Kulit wajahnya mendadak pucat pasi.Ia menarik kemejanya yang sudah terbuka sebagian, berusaha menutup belahan dadanya yang terekspos dan merapikan blusnya lagi. Jantungnya berdetak kencang hingga terasa sakit di telinga.“Sial!” Dhava mengumpat pelan, rahangnya mengeras.“Mas aku sembu—” Kata-kata itu lenyap seketika seiring gagangnya bergetar. Pintu itu seolah tidak tertutup sempurna setelah Diana terhuyung masuk, sebab Dhava terlalu terburu-buru menyergapnya dengan ciuman.Nahas, Diana baru menyadari kecerobohan mereka saat itu juga. Harusnya ia ingat, gairah Dhava memang sulit dibendung!

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 100

    Sejak muda dan memang sekarang masih muda, tidak pernah ia berpikir akan diberikan benda-benda oleh seorang pria kecuali bunga, ya, karena itu menyatakan keromantisan. Namun, untuk pertama kali dalam hidup, ada pria selain keluarga memberikan barang mewah seperti ini. Terlebih itu adalah Madhava, suami orang, yang selama ini ia nikmati kehangatannya.Tidak! Diana bersama pria itu bukan karena butuh materi, ia masih mampu untuk bekerja, mencari uang untuk memenuhi keinginannya sendiri. Bisa jadi uang membeli mobil itu nafkah milik Renita dan anak-anak mereka.Tidak ada sahutan apa pun dari dalam membuat wanita itu impulsif membuka pintunya saja, mumpung masih sepi semua ini harus diselesaikan, sekarang juga!Ketika ia mendorong gagangnya, pintu itu ternyata sudah dibuka dari dalam. Sontak saja Diana terhuyung ke depan dan terpekik, “Akh!”Kedua tangannya pun siap menopang bobot tubuhnya pada kedua kursi di hadapannya. Namun, ia lebih dulu mendarat di pelukan Dhava yang meraih pinggulnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status