LOGINHidup Aisha nyaris kiamat di tangan seorang CEO yang misterius! Dengan misi tertentu, gadis muda itu melamar di perusahaan ganas bernama Pierce Holdings. Demi mendapat pengakuan dari keluarga, Aisha rela mempertaruhkan hidup dan cita-cita dokternya pada sang CEO, Cakrawala. Seiring berjalannya waktu, Aisha terjebak dalam keadaan misterius sang CEO. Pria itu membutuhkan sentuhan Aisha untuk membuat tubuhnya tetap stabil. Hingga akhirnya, Aisha mengerti jika kasih sayang keluarga lengkap yang diidamkan hanyalah fatamorgana yang tak berujung. Aisha jatuh ke dalam pelukan sang CEO misterius yang memberikan perlakuan ratu padanya. Bagaimana kisah cinta mereka bisa tetap terlaksana di antara keluarga yang tak adil dan sikap yang misterius?
View More"Aku harus bisa keluar dari sini dengan keadaan hidup!"
Hanya ada dua kemungkinan di ruang yang kejam ini. Serupa antara hidup dan mati bagi seorang manusia. Entah apa yang membuatnya begitu kuat menghadapi dunia. Ruang yang dingin ini, kini mencekik seorang gadis dalam kesunyian. Aisha Nasywah Willow duduk tegak di kursi putar berlapis kulit hitam. Kedua tangan Aisha tertaut sempurna di atas lutut. Dia telah berperang dengan jantungnya sendiri selama lima menit, waktu yang cukup lama untuk memahami bahwa jendela kokoh yang berada di belakang meja bukanlah sekadar hiasan. Itu adalah batas tak bertelak, antara dirinya dengan dunia yang belum sepenuhnya dapat dia pahami. Di luar sana, Kota Valemont tampak membisu dengan segala kemegahannya. Gedung-gedung tinggi nan mewah terlihat seperti miniatur, ribuan kendaraan yang saling memacu menjelma menjadi titik-titik kecil, serta tak sedikit manusia yang terlalu sibuk hingga tak sempat untuk bersuara. Aisha mengeratkan tautan tangannya, melirik pintu yang masih tertutup dengan perasaan tak beremosi. Gadis muda itu menghela napas, tidak merasakan gugup seperti biasanya. Tubuh Aisha menolak untuk gemetar, meski dalam situasi yang menegangkan. Yang ada hanya seonggok perasaan asing yang mampu menekan dada Aisha, memahami bahwa begitu pintu di sampingnya terbuka, maka tak ada lagi sekat untuk mundur. Hanya ada dua kemungkinan, gugur atau bertahan. Gadis berambut panjang itu mengingat betul kalimat terakhir dari HRD tadi, "Tidak ada lagi toleransi lain, ini adalah tahap terakhir." Tak ada basa-basi, hanya sikap profesional HRD-lah yang membuat Aisha semakin terpacu. Pintu samping terbuka. Serupa bom waktu yang telah menemukan momen yang tepat! Seorang pria berwajah tegas masuk dengan langkah teratur, tanpa menoleh apa pun. Jas gelap jatuh sempurna di tubuhnya yang menjulang tenang, menciptakan kesan profesional yang terstruktur matang. Rambut hitam pria itu tampil dengan rapi, memperlihatkan wajah terkendali yang justru memancarkan aura otoritas alami. Aisha menatap sang pria sekilas, lalu buru-buru fokus ke tujuan intinya. Dia telah mempersiapkan diri. Dalam hitungan menit, hidup Aisha akan terkunci. Apakah akan berjalan baik, atau runtuh seketika. Suara kursi bergeser mengiringi gerakan mantap sang pria saat duduk. Aisha berdiri secara refleks. "Duduklah," ucap sang pria singkat. Suaranya rendah dan datar. Tidak dingin, tapi juga jauh dari kesan ramah. Hanya ... final. Aisha tak membantah, dia kembali duduk dengan patuh sembari menggigit bibirnya. Pria itu merentangkan tangan, meraih map tipis berwarna coklat, lalu menahannya di udara. Tatapan sang pria yang tajam langsung menguliti sebaris nama yang terpampang di sampul map itu. Sang pria membuka map dan melihatnya dengan acuh tak acuh. Bukan tak peduli, melainkan karena telah terbiasa menilai semua hal berdasarkan harga dan fungsinya. "Anda Nona Aisha Nasywah Willow?" tanya sang pria dengan suara kaku. Sorot matanya melesat ke arah gadis di hadapan. Aisha menjawab lugas, "Ya, Tuan." Sang pria mengangguk samar, arah matanya langsung turun ke arah berkas. "Usia?" tanya sang pria lagi. Kali ini tanpa mengalihkan fokus dari berkas lamaran yang terbuka. "Sembilan belas tahun," jawab Aisha. Sang pria menggerakkan alisnya sedikit, gerakan yang nyaris tak terlihat. Bukan karena terkejut, hanya sedang mencatat hal penting di kepalanya. "Masih mahasiswi." Suara meremehkan sang pria terdengar, serupa pisau tajam yang hampir mengiris kepercayaan diri Aisha. Di tempatnya, Aisha sama sekali tak goyah. Punggungnya malah semakin tegak, bersiap untuk menghadapi permainan hidup hingga babak akhir. "Ya!" Aisha berseru dengan percaya diri. Rambut panjangnya ikut bergetar, hingga tersingkap ke belakang bahu. "Jurusan apa?" Sang pria kembali bertanya dengan datar, tanpa menunjukkan emosi apa pun. "Kedokteran." Aisha menjawab apa adanya. Saat ini, sang pria berhenti membaca berkas. Ada suatu hal yang menarik tatapannya ke sorot mata indah milik Aisha. Tanpa sadar, sang pria menatapnya lebih dalam, lebih lama. "Kedokteran," ulang sang pria dengan tawa kecil yang terasa menyakitkan. Suaranya terdengar seperti nada mengejek yang terasa menusuk. "Benar." Aisha masih bertahan dan duduk dengan tegak. "Lalu, Anda melamar sebagai sekretaris paruh waktu ...." Sang pria memiringkan bibir, memutar jari telunjuknya, menimbang hal setimpal yang layak diputuskan untuk sang gadis. "Anda benar, Tuan." Aisha masih cukup menguasai emosinya. Gerak-gerik gadis itu terlihat stabil dan tenang, tak terpengaruh dengan sikap sang pria yang dingin dan mengintimidasi. Sunyi mengendap begitu saja tanpa berkompromi, menaungi dua manusia yang sama-sama kukuh di tempatnya. Aisha memilih bungkam, membiarkan semesta bekerja dengan ritme yang semestinya. Banyak orang yang langsung berbicara dengan banyak kalimat tak penting, yang justru membuat orang itu terkesan terlalu mudah. Akan tetapi, tentu saja Aisha tak sudi masuk ke kategori itu. Gadis itu terdiam sekarang karena dia mengerti. Kapan harus unjuk suara, dan kapan harus menunggu. Sang pria menyandarkan tubuh ke kursinya, menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Perkenalkan, saya adalah Cakrawala Agnibrata Pierce," kata sang pria akhirnya. "CEO dari perusahaan yang Anda lamar, Pierce Holdings. Orang-orang terbiasa memanggil nama singkat saya, yaitu Cakra." Aisha menatap sang pria sejenak, mengangguk kecil dengan bibir yang terkatup rapat. Tentu saja dia tahu. Semua orang di Kota Valemont pun mengenalnya. CEO muda yang merajai dunia Bisnis dan Manajemen di negeri ini, dengan segala kuasanya. Cakra mengelus dagunya yang bersih, lalu lanjut berkata, "Saya sudah membaca Curriculum Vitae dari Anda." Dia menghela napas sejenak. "Saya akui, memang sangat rapi. Bahkan terlalu rapi untuk wanita seusia Anda." Pandangan Aisha sedikit goyah. "Terima kasih, Tuan. Itu sudah terbiasa saya lakukan," jawab Aisha, menunjukkan kepolosan gadis sembilan belas tahun yang terlihat natural. Alis kanan Cakra sedikit terangkat. "Kebiasaan?" "Benar sekali." Aisha membusungkan dada dengan bangga. "Dari mana?" Cakra kembali bertanya. Aisha menjawab tegas, "Dari rumah." Cakra menatap Aisha lagi, menebak hal apa yang dapat membentuk kebiasaan seperti itu. "Posisi ini," jelas Cakra. "Bukan pekerjaan yang ringan. Bukan tempat untuk belajar, dan nggak ada waktu untuk berkompromi." "Saya tentu tahu, dan sudah mempertimbangkannya dengan matang," sahut Aisha tenang. "Waktu Anda terbatas," timpal Cakra dengan sorot mata yang gelap. "Saya mengerti." Aisha tetap kukuh dengan keyakinan yang dipegang. "Tapi, fokus Anda seharusnya di kedokteran." "Benar." Aisha tak pernah mengelak kebenaran. Cakra menutup map dengan gerakan cepat. Pandangan Aisha sedikit bergetar. "Kalau begitu, saya nggak menemukan alasan untuk menerima Anda!"Tanpa Arsen duga, sosok yang sangat memenuhi ruang pikirnya tiba-tiba menghampiri, menatap matanya dengan pandangan menelisik.Sebelum itu, Cakrawala merasa jengah dan berniat ingin mencari udara segar. Dia memutuskan untuk keluar dari ruang rawat sejenak. Namun ketika baru saja berdiri dan memutar badan, pria itu menangkap tubuh Arsen yang telah berjalan menjauh beberapa langkah dari ruang rawat Aisha."Arsen, kenapa gerak langkahnya terlihat nggak seperti biasanya? Apa dia sedang sakit, atau berada dalam suatu masalah?" renung Cakrawala ketika terus melanjutkan langkah dan telah berada di luar ruang rawat. Dia mengerutkan kening, seraya terus mengikuti intuisinya untuk masuk ke ruang pribadi Arsen."Ck, ck, ck, luar biasa, Arsen!" seru Cakrawala sambil menepuk tangan dan menggelengkan kepala. Dia merasa tak habis pikir dengan tingkah sang sahabat yang agak lalai.Detik itu juga, Arsen sontak tertarik dan kelyar dari tabir lamunannya. Untuk sesaat, dia hanya bisa terdiam, lalu menol
Daphne mengatupkan bibir, lalu mendesah pelan. Wanita itu tak menyangka jika putri kecilnya yang baru saja beranjak dewasa, tapi sudah berhadapan dengan situasi yang mengancam nyawa. "Kenapa harus putri kecilku yang mengalami semua ini? Kenapa bukan aku saja yang sudah tua?" gumam Daphne pilu. Suaranya terdengar sangat tak memiliki daya.Saat itu, perawat wanita telah melangkahkan kaki untuk meninggalkan ruang rawat. Namun ketika tak sengaja mendengar gumaman itu, dia tersenyum kecil, lalu membalikkan badan ke sumber suara."Nyonya, justru itulah keistimewaan putri Anda!" seru sang perawat wanita dengan ekspresi yakin.Daphne merasa sedikit terkejut dan membeku selama beberapa saat. Kala selesai menghela napas cepat, wanita itu menengok ke samping, menatap sosok perawat wanita yang sedang tersenyum dengan apa adanya."Yang diuji oleh Tuhan adalah manusia terpilih dan hebat. Putri Anda dipilih oleh Tuhan untuk mengalami ujian ini karena dia akan menjadi individu yang kuat dan bernilai
"Lalu, apa manfaat dari ini semua untuk mereka?" Daphne segera merespon dengan menyodorkan sebuah pertanyaan. Wanita itu berniat masuk semakin jauh ke pembahasan para muda-mudi di hadapannya, agar mereka tak sampai mencium aroma pernikahan dadakan Aisha dan bosnya. Lora langsung tersenyum simpul setelah mendengar pertanyaan dari Daphne yang memang tampak polos. "Bibi, tentu saja itu akan membuat mereka samgat puas," terang gadis itu, sambil memperagakan kemungkinan yang terjadi dengan kedua tangan yang bergerak lincah. Reya ikut merasa gemas sambil menahan senyum. Dia hanya bertolak pinggang, seraya mengamati Lora yang masih menjelaskan dengan menggebu-gebu. Sementara itu, Nate mengajak Elias dan Keenan untuk mencari udara segar dulu di luar, karena Bibi Daphne mereka sepertinya sudah lebih baik ketika mendapat penghiburan dari Lora dan Reya. "Baiklah." "Ya." Keenan dan Elias menanggapi ajakan Nate bersamaan, tapi dengan kata yang berbeda. Mereka bertiga pun memberi kode pada
"Apa?! Berita macam apa ini?" Daphne mengerutkan kening, lalu refleks menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan ketika baru saja melihat berita dari ponsel Reya.Dahi Reya ikut berkerut. Gadis itu merasa iba dengan respon Daphne yang terlihat kebingunan. Dia mendekap tubuh ibu sahabatnya itu dengan gerakan refleks."Bibi, tenanglah dulu." Lora ikut mendekat. Dia juga terlihat terpukul dengan semua yang telah terjadi pada Aisha, juga berita nyeleneh yang beredar, sehingga makin memperkeruh suasana. "Siapa yang membuat berita seperti itu? Bagaimana orang lain tahu jika Aisha telah kecelakaan, sementara aku yang ibunya saja baru mengetahuinya?" Daphne mengusap lengannya berkali-kali ketika dia mencoba berpikir dengan jernih.Tiga teman laki-laki Aisha tiba-tiba berdiri serempak. Nate, Elias, juga Keenan. Mereka saling pandang, hingga Keenan-lah yang akhirnya berjalan mendekati Daphne yang sedang ditenangkan oleh Reya dan Lora. "Bibi, saya adalah teman dekat Aisha sejak kecil." Keena
"Aisha, kapan kamu akan bangun?" Cakrawala membungkuk sedikit. Dia mengusap bahu sang istri lembut ketika hendak beranjak dari ruang rawat karena harus bekerja."Sayang, aku harus bekerja. Nanti akan aku kabari Ibu Daphne untuk menjaga kamu," ujar pria itu lagi.Dia mulai mengayunkan langkah ke dep
"Cakra, tetap saja aku lebih baik dari kamu!" tegas Arsen dengan senyum yang terlihat menusuk. Di kursinya, Cakrawala mengepalkan tangan."Apa maksud dia?" gumam Cakrawala, mengepalkan kedua telapak tangan kuat-kuat. Namun, dia tetap bertahan di tempat, tak menampakkan kemarahannya pada Arsen. Ca
Menanggapi pertanyaan itu, Arsen sempat terkekeh kecil. Bukan karena lucu, tapi dia hanya merasa sangat ironis. "Cakra, aku hanya ingin tahu apa yang membuat kamu bisa jatuh cinta dan menikah, bahkan tanpa memberi kabar padaku?" Arsen maju selangkah. Rahang pria itu sedikit mengencang. "Jatuh cint
Puluhan panggilan tak terjawab telah memenuhi bilah notifikasi ponsel pria itu, membuat dua alisnya yang hitam pun berkerut secara bersamaan. Namun, dia tak lantas balik memanggil Cakrawala. Dia memeriksa pesan lokasi Cakrawala, dan ssgera melacak dengan cepat. "Ah, syukurlah. Tempatnya berada di












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore