LOGINZahra Nindya Prasongko bekerja di sebuah perusahaan besar bidang impor dan ekspor bahan mentah milik Hando Group sebagai Asisten Pribadi CEO yang dingin, disiplin dan tidak memiliki perasaan. CEO dingin bernama Kris Nando Handoyono. Zahra bukanlah asisten pribadi biasa, melainkan seorang anak pengusaha sukses yang keluarganya dihancurkan lalu hidup sebatang kara, tetapi sukses memikat hati CEO yang dingin, serta teman masa kecilnya. Tidak hanya itu, Zahra menyimpan banyak rahasia kelam sampai membuatnya menjadi wanita tangguh dan mandiri untuk menghadapi kerasnya dunia. Suatu hari, Zahra mendapat fakta yang mencengangkan dan hubungan dengan CEO dingin diambang kehancuran. Apakah Zahra dan Kris mengakhiri hubungan yang seharusnya tidak pernah terjadi dan ada dalam kehidupannya setelah mendapat fakta yang sesungguhnya?
View More“Kemasi barang-barang kamu sekarang!” Seorang pria memarahi karyawannya dengan memberikan sebuah map bening yang berisi dokumen penting.
“Jangan pecat saya, Pak.” Seorang pria meminta kelonggaran kepadanya sambil memegang pergelangan tangannya.
Pria bertubuh atletis dengan rahang yang tegas, rambut klimis dan tegap menampis tangan karyawan pria yang meminta kelonggaran untuk memakluminya. Dia sangat benci siapa pun yang melanggar waktu yang sudah ditentukan.
Tidak ada ampun untuk siapa pun, jika melanggar waktu dan kinerja yang tidak mumpuni. Semua harus sempurna dan tidak boleh ada sedikit kesalahan, apalagi ketika hendak rapat bersama klien.
Pria dingin, disiplin dan kejam menurut pandangan semua karyawannya merupakan CEO perusahaan impor dan ekspor ternama dan terbesar bernama Kris Nando Handoyono. Kris sangat menghargai waktu, baginya waktu adalah uang dan emas.
Dua barang yang sangat berharga dan bernilai. Jika meremehkan maka kesempatan yang seharusnya datang malah pergi.
Kris keluar dari ruangan tanpa menoleh dan mengeluarkan satu kata pun untuk kesekian kali. Kalimat yang keluar beberapa menit dari mulutnya sudah menjadi makanan keseharian para karyawannya.
“Mbak Zahra, tolong saya. Saya hanya telat lima detik saja,” rengek pria sambil memegang pergelangan tangannya.
Zahra hendak mengeluarkan satu kalimat, sudah dipotong oleh atasannya untuk mengikutinya kemana pun pergi.
“Kita sudah telat bertemu dengan klien!” seru Kris yang masih melangkah tanpa menoleh.
“Maaf, Pak Baim. Saya tidak bisa menolong bapak untuk ini. Bapak sudah tahu, bagaimana dengan Pak Kris.” Zahra menolak permintaan tolong karyawan pria yang sudah berumur sambil melepas tangannya pelan.
Zahra bergegas mengikuti langkah Kris sambil membawa tumpukan dokumen penting dengan berbagai jenis warna map.
“Dokumen untuk perjanjian kerja sama dengan sebuah perusahaan besar PT Komudia sudah dibawa dan siap diberikan?” tanya Kris sambil memperhatikan waktu di jam tangannya.
“Sudah, Pak. Dokumen untuk perusahaan PT Komudia sangat penting untuk menjalin kerja sama dengannya dan proyek ini sudah ditunggu-tunggu oleh bapak. Jadi, saya tidak bisa mengabaikannya.” Zahra menjawab dengan tegas dan penuh percaya diri sambil tersenyum profesional.
“Bagus.”
Zahra dan Kris pergi bersama naik mobil dinas ke perusahaan PT Komudia. Zahra sibuk mempersiapkan obrolan Kris dengan pemilik atau direktur PT Komudia untuk membuat pejabat perusahaan tersebut menerima kerja sama.
Lima menit yang dibutuhkan untuk membuat percakapan atasannya. Zahra mengirim percakapan ke nomor ponselnya.
“Ini apa?”
“Saya mengirim percakapan bapak untuk berbicara dengan pejabat tinggi perusahaan PT Komudia agar mereka setuju dan mau bekerja sama dengan kita.”
“Kenapa kamu membuatkan percakapan seperti ini? Kamu tidak percaya dengan saya?” protes Kris dengan intonasi penekanan sambil menautkan alis.
“Saya sangat percaya dengan bapak. Saya hanya menambahkan bumbu kalimat di di percakapan bapak. Saya bekerja sebagai asisten pribadi bapak dan pastinya ingin kerja sama dengan perusahaan tersebut berjalan dengan lancar sampai mendapatkan tanda tangan. PT Komudia adalah perusahaan yang bapak incar selama ini untuk bekerja sama karena perusahaan besar yang bisa membantu perekonomian perusahaan dan negara ini.”
Zahra menjelaskan dengan penuh keberanian dan tatapan yang bersinar saat menatap ke atasannya.
Kris membisu setelah mendengar jawaban darinya. Dia memastikan kalimat demi kalimat dari layar tabletnya lalu mengangguk pelan.
Anggukan pelan yang hanya dilakukan sekali merupakan tanda setuju dan kerja yang bagus.
“Setelah pertemuan dengan klien PT Komudia, bapak ada jadwal rapat bersama tim keuangan setelah jam makan siang, sekitar jam setengah dua. Jika pertemuan dengan pejabat tinggi PT Komudia melewati jam dua belas siang, saya sudah memiliki tempat rekomendasi untuk makan siang bersama klien,” imbuh Zahra sambil memainkan layar tabletnya.
“Tidak perlu. Sepertinya, tidak melewati jam dua belas siang. Pertemuan kita hanya sampai jam setengah dua belas siang.”
“Baiklah. Kalau begitu, saya mencari restoran untuk makan siang bapak,” balas Zahra dengan satu jemari yang sibuk pada layar tablet sambil tersenyum lebar dan mata berbinar.
“Makan di restoran biasanya saja.”
“Restoran biasanya?” tanya Zahra yang tiba-tiba senyumannya mengecil dan hanya menatap layar tablet.
Restoran yang menjadi tempat langganan Kris adalah restoran dengan menu masakan barat. Dia sangat suka dengan menu kepiting soka bumbu inggris, tetapi tempat itu menjadi hantu untuk Zahra.
Restoran kesukaan Kris bernama Auto Notive dengan lambang pesan dan menjadi tempat adegan ciumannya dengan seorang wanita yang mengaku sebagai calon istrinya.
Tidak hanya itu, kewanitaannya hampir direnggut oleh seorang pria barat yang tidak dikenal dengan tato kupu-kupu di pergelangan tangan dan rambut setelah dari toilet setahun yang lalu di gudang.
“Tidak ada yang menyakitimu lagi di sana.”
“Bagaimana bisa?” tanya Zahra nada bergetar dan tidak percaya dengannya.
Empat puluh lima menit perjalanan dari kantor Hando Group menuju kantor PT Komudia. Zahra dan Kris menunggu di ruangan tertutup yang terdapat meja panjang dan banyak kursi selama dua menit.
“Tahan emosi, ya, Pak,” bisik Zahra mengingatkan ketika mendengar pintu ruangan dibuka.
Zahra dan Kris berdiri untuk menyambut kedatangan pejabat tinggi PT Komudia. Dua pria berpakaian jas hitam dan rapi bersalaman dengannya.
“Kris Nando Handoyono, kamu pengusaha muda yang sukses dan berani. Saya langsung takjub bertemu denganmu untuk pertama kali,” ucap seorang pria berambut putih dengan kulit yang sudah tidak muda lagi.
Kris hanya menatap pria berambut putih tanpa ekspresi dan hanya mengangguk sekilas.
“Silakan duduk.”
Pria berambut putih mempersilakan Zahra dan Kris duduk di kursi sambil memperhatikan Kris dengan senyuman lebar dan mengangguk-angguk.
Pria yang ada di hadapan Zahra tampak mengenal Kris, tetapi Kris tidak mengenalnya. Dia juga mengatakan bahwa pertama kali bertemu dengannya.
“Apakah Bapak sudah membaca proposal dari kami?” Kris bertanya saat suasana hening di dalam ruangan.
“Baiklah. Saya sudah membacanya dan isi proposalnya sangat menarik dan berbobot. Sebelum itu, perkenalkan nama saya adalah Aris Suroyo, pemilik perusahaan PT Komudia dan pria yang ada di samping saya adalah Sekretaris saya. Dia adalah Galih Ambarukmo.”
Aris Suroyo bukan sekadar pemilik perusahaan, melainkan kakek dari seorang model dunia yang menjadi calon istri Kris. Wanita yang mengecup bibir Kris di restoran Auto Notive.
“Maaf, apakah Anda adalah seorang Kakek dari seorang wanita model kelas dunia?” tanya Zahra sambil menatap Aris.
“Saya menjawab pertanyaan dari kamu nanti saja karena saya mengenalmu. Kamu adalah seorang asisten pribadi yang cerdas, pintar, cekatan, kemampuan bahasa inggris dan pencarian informasi yang berkaitan dengan pekerjaanmu sangat cepat, latar pendidikan yang baik dan bagus.”
“Baiklah.”
“Tanpa membahas panjang lebar, saya menerima kerja sama ini karena isi proposal yang berbobot dan … saya juga ada pertemuan lagi.”
Pak Aris menandatangani perjanjian kerja sama tanpa membaca aturannya dan sangat mempercayai kemampuan Kris dalam bekerja. Kemudian, Pak Aris pergi setelah berjabat tangan dan keluar bersama Kris dan Zahra.
“Kamu sungguh mencari latar belakang beliau?” tanya Kris dengan intonasi penekanan.
“Aku sudah mengirim file rapat untuk hari Senin depan sebelum Bapak berangkat ke luar negeri bersama rekan kerja karena tanggal merah dan libur panjang. Jadi, Bapak bisa mempelajarinya terlebih dahulu sebelum rapat dan seperti biasa sudah saya buatkan naskah untuk rapat hari Senin,” cerocos Zahra sembari menggendong tas ransel dan meletakkan dokumen pekerjaannya di mejanya.Zahra pergi dari hadapannya, tetapi lagi dan lagi tangannya ditahan. Zahra tidak ingin membahas masalah dengan Kris yang terjadi kemarin.Walaupun masalahnya tidak besar, tetapi ia tidak ingin siapa pun bertanya masalah pribadinya dan tidak ingin menyusahkan orang lain.“Aku sedang bicara denganmu, Zahra,” kata Kris pelan sambil menatap lamat.“Tidak ada yang perlu dibicarakan dan hubungan kita sudah selesai!” balas Zahra dengan intonasi penekanan sambil menatap tajam lalu menampis tangan Kris dengan kasar.“Bagi kamu hubungan kita sudah selesai, tapi aku gak, Zahra!” balas Kris yang berusaha menahan emosinya.“Sud
Zahra melirik Kris yang terlihat sedang sibuk dengan layar laptop dan kertas yang ada di mejanya. Ia tidak sedang ingin berdebat dengannya karena tidak penting untuknya.Zahra tetap sibuk dengan papan ketik dan layar laptop yang berisi angka dan huruf serta diberi tanda dengan warna yang berbeda. Zahra juga memeriksa jadwal Kris untuk esok hari dan ke depannya.“Minggu depan Bapak ada rapat bersama orang Inggris yang pertemuannya diadakan di sebuah restoran yang ada di hotel.” Zahra memberitahu Kris dengan ramah sambil membawa tablet untuk memberitahu jadwal padatnya.Kris melirik tablet yang diserahkan oleh Zahra lalu diambil olehnya. Kris memeriksa jadwal yang ada di tablet dan pertemuan itu diadakan sebelum mereka pergi ke luar negeri.“Oke. Kamu atur pertemuannya saja dan aku tunggu di restoran yang menyediakan makanan barat di tengah kota bernama Kuich,” ucap Kris pelan sambil menatap lamat.“Saya tidak bisa datang ke sana nanti sore. Saya sibuk kalau bukan pekerjaan dan bapak pa
“Saya yakin bisa melawan mereka dengan keyakinan dan bukti yang kuat maka dari itu saya menghubungi Zahra dan meminta dukungan penuh untuk mengusut kasus kematian Ayah dan adik Anda yang belum terungkap hampir puluhan tahun,” jawab Robby dengan santai lalu tersenyum lebar.“Tidak ada satu orang dari kepolisian yang mengusut kasus kematian adik saya dan hasil forensik sudah jelas mengatakan bahwa ada cairan putih dan kental pada bagian sensitif adik saya, artinya dia tidak bunuh diri, tapi dibunuh.” Zahra menjelaskan dengan pelan sambil menatap foto adiknya yang ada pada berkasnya.“Mereka berspekulasi bahwa adik Zahra bunuh diri?” tanya Robby dengan intonasi penekanan.“Iya. Mereka berspekulasi, padahal ada bukti yang menjawab atau bisa mematahkan argumen mereka terhadap kasus kematian adik saya,” jawab Zahra dengan intonasi penekanan dan anggukan yang tajam sembari menatap lamat kepadanya.Robby menghela napas pelan seraya melirik berkas dokumen yang dibawa olehnya yang diletakkan di
“Karena aku sayang, cinta dan peduli denganmu. Apa pun yang ada dalam dirimu, aku menerimanya dan kamu jangan mengkhawatirkan itu.” Kris menjawab dengan santai sambil mengendarai mobil.“Kamu lebih baik tidak perlu sayang, cinta dan peduli denganku karena aku adalah orang yang berbahaya. Aku bisa menyakiti siapa pun yang aku mau lukai, termasuk kamu,” balas Zahra dengan intonasi penekanan sembari menyeka air mata dan mengalihkan pandangan ke jalanan.“Apa maksudmu, Zahra?” tanya Kris dengan intonasi penekanan dan nada bergetar.“Maksudku adalah kamu mundur dan jalanin saja hari saat aku bekerja denganmu. Jalanin hari dengan sikapmu yang dingin dan tak berperasaan. Aku ingin kembali seperti dulu dan jangan pernah menganggap pernah menjalin hubungan denganku. Anggap saja aku angin lalu dan kamu bisa menikah dengan Maya,” jawab Zahra dengan intonasi penekanan sambil menatap lamat ke arah Kris sedang menyetir.“Tidak. Aku tidak mau dan akan pernah melepaskanmu.” Kris menolak permintaan Za
“Cepat ganti baju. Aku mau mengajakmu jalan-jalan sekalian ke pantai untuk menikmati matahari terbenam,” jawab Kris sambil tersenyum lebar.“Jalan-jalan ke mana?” tanya Zahra penasaran sembari mendekatinya.“Ada deh. Kamu ganti sekarang di kamar baru,” ucap Kris sambil mengambil koper Zahra lalu me
Maya merupakan perempuan yang dilihat oleh Zahra di restoran pertama kali saat sedang mengecup Kris. Dia juga pernah bertemu di rumahnya ketika Kris dijodohkan dengannya.“Aku ingin bersamamu, Sayang. Mama dan Papa tahu kalau aku tidak ikut. Aku sengaja membiarkan mereka menghabiskan waktu bersama,
Bola mata perlahan turun ke arah bawah yang kancing kemeja sudah terbuka tiga. Sontak, Zahra membuka mulut dengan lebar lalu menutupnya kembali sambil menggeleng cepat. “Maaf, Pak. Saya tidak sadar dan … reflek membersihkan kemeja bapak yang mahal dan tidak ingin merusak dan mengotorinya,” jelas Z
Zahra membisu sambil menatap lamat. Jantung berdegup dengan kencang dan aliran darah mengalir dengan deras seakan sesuatu yang membuat tubuhnya panas dan merinding akan terjadi kepadanya.Zahra takut ketika melakukan hubungan suami istri dengan seorang pria yang belum resmi menjadi suaminya. Ia tak
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.