Bukan Sekedar Asisten Pribadi

Bukan Sekedar Asisten Pribadi

last updateLast Updated : 2026-01-08
By:  AngdanUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
8Chapters
30views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Zahra Nindya Prasongko bekerja di sebuah perusahaan besar bidang impor dan ekspor bahan mentah milik Hando Group sebagai Asisten Pribadi CEO yang dingin, disiplin dan tidak memiliki perasaan. CEO dingin bernama Kris Nando Handoyono. Zahra bukanlah asisten pribadi biasa, melainkan seorang anak pengusaha sukses yang keluarganya dihancurkan lalu hidup sebatang kara, tetapi sukses memikat hati CEO yang dingin, serta teman masa kecilnya. Tidak hanya itu, Zahra menyimpan banyak rahasia kelam sampai membuatnya menjadi wanita tangguh dan mandiri untuk menghadapi kerasnya dunia. Suatu hari, Zahra mendapat fakta yang mencengangkan dan hubungan dengan CEO dingin diambang kehancuran. Apakah Zahra dan Kris mengakhiri hubungan yang seharusnya tidak pernah terjadi dan ada dalam kehidupannya setelah mendapat fakta yang sesungguhnya?

View More

Chapter 1

1. Persetujuan Perjanjian Kontrak

“Kemasi barang-barang kamu sekarang!” Seorang pria memarahi karyawannya dengan memberikan sebuah map bening yang berisi dokumen penting.

“Jangan pecat saya, Pak.” Seorang pria meminta kelonggaran kepadanya sambil memegang pergelangan tangannya.

Pria bertubuh atletis dengan rahang yang tegas, rambut klimis dan tegap menampis tangan karyawan pria yang meminta kelonggaran untuk memakluminya. Dia sangat benci siapa pun yang melanggar waktu yang sudah ditentukan.

Tidak ada ampun untuk siapa pun, jika melanggar waktu dan kinerja yang tidak mumpuni. Semua harus sempurna dan tidak boleh ada sedikit kesalahan, apalagi ketika hendak rapat bersama klien.

Pria dingin, disiplin dan kejam menurut pandangan semua karyawannya merupakan CEO perusahaan impor dan ekspor ternama dan terbesar bernama Kris Nando Handoyono. Kris sangat menghargai waktu, baginya waktu adalah uang dan emas.

Dua barang yang sangat berharga dan bernilai. Jika meremehkan maka kesempatan yang seharusnya datang malah pergi.

Kris keluar dari ruangan tanpa menoleh dan mengeluarkan satu kata pun untuk kesekian kali. Kalimat yang keluar beberapa menit dari mulutnya sudah menjadi makanan keseharian para karyawannya.

“Mbak Zahra, tolong saya. Saya hanya telat lima detik saja,” rengek pria sambil memegang pergelangan tangannya.

Zahra hendak mengeluarkan satu kalimat, sudah dipotong oleh atasannya untuk mengikutinya kemana pun pergi.

“Kita sudah telat bertemu dengan klien!” seru Kris yang masih melangkah tanpa menoleh.

“Maaf, Pak Baim. Saya tidak bisa menolong bapak untuk ini. Bapak sudah tahu, bagaimana dengan Pak Kris.” Zahra menolak permintaan tolong karyawan pria yang sudah berumur sambil melepas tangannya pelan.

Zahra bergegas mengikuti langkah Kris sambil membawa tumpukan dokumen penting dengan berbagai jenis warna map.

“Dokumen untuk perjanjian kerja sama dengan sebuah perusahaan besar PT Komudia sudah dibawa dan siap diberikan?” tanya Kris sambil memperhatikan waktu di jam tangannya.

“Sudah, Pak. Dokumen untuk perusahaan PT Komudia sangat penting untuk menjalin kerja sama dengannya dan proyek ini sudah ditunggu-tunggu oleh bapak. Jadi, saya tidak bisa mengabaikannya.” Zahra menjawab dengan tegas dan penuh percaya diri sambil tersenyum profesional.

“Bagus.”

Zahra dan Kris pergi bersama naik mobil dinas ke perusahaan PT Komudia. Zahra sibuk mempersiapkan obrolan Kris dengan pemilik atau direktur PT Komudia untuk membuat pejabat perusahaan tersebut menerima kerja sama.

Lima menit yang dibutuhkan untuk membuat percakapan atasannya. Zahra mengirim percakapan ke nomor ponselnya.

“Ini apa?”

“Saya mengirim percakapan bapak untuk berbicara dengan pejabat tinggi perusahaan PT Komudia agar mereka setuju dan mau bekerja sama dengan kita.”

“Kenapa kamu membuatkan percakapan seperti ini? Kamu tidak percaya dengan saya?” protes Kris dengan intonasi penekanan sambil menautkan alis.

“Saya sangat percaya dengan bapak. Saya hanya menambahkan bumbu kalimat di di percakapan bapak. Saya bekerja sebagai asisten pribadi bapak dan pastinya ingin kerja sama dengan perusahaan tersebut berjalan dengan lancar sampai mendapatkan tanda tangan. PT Komudia adalah perusahaan yang bapak incar selama ini untuk bekerja sama karena perusahaan besar yang bisa membantu perekonomian perusahaan dan negara ini.”

Zahra menjelaskan dengan penuh keberanian dan tatapan yang bersinar saat menatap ke atasannya.

Kris membisu setelah mendengar jawaban darinya. Dia memastikan kalimat demi kalimat dari layar tabletnya lalu mengangguk pelan.

Anggukan pelan yang hanya dilakukan sekali merupakan tanda setuju dan kerja yang bagus.

“Setelah pertemuan dengan klien PT Komudia, bapak ada jadwal rapat bersama tim keuangan setelah jam makan siang, sekitar jam setengah dua. Jika pertemuan dengan pejabat tinggi PT Komudia melewati jam dua belas siang, saya sudah memiliki tempat rekomendasi untuk makan siang bersama klien,” imbuh Zahra sambil memainkan layar tabletnya.

“Tidak perlu. Sepertinya, tidak melewati jam dua belas siang. Pertemuan kita hanya sampai jam setengah dua belas siang.”

“Baiklah. Kalau begitu, saya mencari restoran untuk makan siang bapak,” balas Zahra dengan satu jemari yang sibuk pada layar tablet sambil tersenyum lebar dan mata berbinar.

“Makan di restoran biasanya saja.”

“Restoran biasanya?” tanya Zahra yang tiba-tiba senyumannya mengecil dan hanya menatap layar tablet.

Restoran yang menjadi tempat langganan Kris adalah restoran dengan menu masakan barat. Dia sangat suka dengan menu kepiting soka bumbu inggris, tetapi tempat itu menjadi hantu untuk Zahra.

Restoran kesukaan Kris bernama Auto Notive dengan lambang pesan dan menjadi tempat adegan ciumannya dengan seorang wanita yang mengaku sebagai calon istrinya.

Tidak hanya itu, kewanitaannya hampir direnggut oleh seorang pria barat yang tidak dikenal dengan tato kupu-kupu di pergelangan tangan dan rambut setelah dari toilet setahun yang lalu di gudang.

“Tidak ada yang menyakitimu lagi di sana.”

“Bagaimana bisa?” tanya Zahra nada bergetar dan tidak percaya dengannya.

Empat puluh lima menit perjalanan dari kantor Hando Group menuju kantor PT Komudia. Zahra dan Kris menunggu di ruangan tertutup yang terdapat meja panjang dan banyak kursi selama dua menit.

“Tahan emosi, ya, Pak,” bisik Zahra mengingatkan ketika mendengar pintu ruangan dibuka.

Zahra dan Kris berdiri untuk menyambut kedatangan pejabat tinggi PT Komudia. Dua pria berpakaian jas hitam dan rapi bersalaman dengannya.

“Kris Nando Handoyono, kamu pengusaha muda yang sukses dan berani. Saya langsung takjub bertemu denganmu untuk pertama kali,” ucap seorang pria berambut putih dengan kulit yang sudah tidak muda lagi.

Kris hanya menatap pria berambut putih tanpa ekspresi dan hanya mengangguk sekilas.

“Silakan duduk.”

Pria berambut putih mempersilakan Zahra dan Kris duduk di kursi sambil memperhatikan Kris dengan senyuman lebar dan mengangguk-angguk.

Pria yang ada di hadapan Zahra tampak mengenal Kris, tetapi Kris tidak mengenalnya. Dia juga mengatakan bahwa pertama kali bertemu dengannya.

“Apakah Bapak sudah membaca proposal dari kami?” Kris bertanya saat suasana hening di dalam ruangan.

“Baiklah. Saya sudah membacanya dan isi proposalnya sangat menarik dan berbobot. Sebelum itu, perkenalkan nama saya adalah Aris Suroyo, pemilik perusahaan PT Komudia dan pria yang ada di samping saya adalah Sekretaris saya. Dia adalah Galih Ambarukmo.”

Aris Suroyo bukan sekadar pemilik perusahaan, melainkan kakek dari seorang model dunia yang menjadi calon istri Kris. Wanita yang mengecup bibir Kris di restoran Auto Notive.

“Maaf, apakah Anda adalah seorang Kakek dari seorang wanita model kelas dunia?” tanya Zahra sambil menatap Aris.

“Saya menjawab pertanyaan dari kamu nanti saja karena saya mengenalmu. Kamu adalah seorang asisten pribadi yang cerdas, pintar, cekatan, kemampuan bahasa inggris dan pencarian informasi yang berkaitan dengan pekerjaanmu sangat cepat, latar pendidikan yang baik dan bagus.”

“Baiklah.”

“Tanpa membahas panjang lebar, saya menerima kerja sama ini karena isi proposal yang berbobot dan … saya juga ada pertemuan lagi.”

Pak Aris menandatangani perjanjian kerja sama tanpa membaca aturannya dan sangat mempercayai kemampuan Kris dalam bekerja. Kemudian, Pak Aris pergi setelah berjabat tangan dan keluar bersama Kris dan Zahra.

“Kamu sungguh mencari latar belakang beliau?” tanya Kris dengan intonasi penekanan.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status