LOGINSenja yang temaram menemani Diana yang tengah berdiri anggun di depan salon kecantikan. Ia mengenakan gaun warna pastel terbaik hasil rancangan butiknya sendiri. Persiapan ini khusus untuk menghadiri pesta ulang tahun perusahaan keluarga, malam ini. Senyum Diana merekah saat mobil suaminya berhenti tepat di depannya. Begitu pintu terbuka, Diana langsung merajuk, "Mas, lama banget! Kakiku sampai pegal nunggu." Bukannya meminta maaf dengan kata-kata, Dhava justru menyodorkan kotak beludru merah kecil. Jantung Diana berdesir, pun ia gegas masuk ke mobil. Ia pikir isinya adalah perhiasan baru. Namun saat dibuka, matanya membulat melihat cokelat berbentuk hati yang tampak lezat. "Coba dimakan, Sayang. Rasanya enak." Suara Dhava terdengar lembut. Diana mendengkus, meskipun pipinya makin merona. "Mas, kamu keterlaluan. Aku pikir isinya cincin!" "Kamu sudah punya banyak perhiasan, aku bingung mau kasih apa lagi. Anggap saja ini ucapan maaf karena aku terlambat jemput," sahut Dhava
Civic RS hitam milik Davka meluncur membelah jalanan. Namun suasana di dalam kabin begitu hening. Pemuda itu sesekali melirik ke samping, mendapati Gadis yang duduk kaku dengan kedua tangan meremas sabuk pengaman erat-erat. "Rumahmu di mana?" tanya Davka mengalun pelan. Gadis tidak menyahut. Kepala gadis itu makin menunduk, membuat rambut kuncir kudanya yang agak berantakan menutupi sebagian wajah. Jemarinya yang masih terbalut saputangan kini gemetaran. "Gadis? Kamu ok?" Davka mengulurkan tangan, menyentuh lembut bahu gadis itu. Seketika Gadis bak tersengat listrik. Tubuhnya menegang, dan rona merah menjalar cepat dari leher hingga ke telinga. Merasa ada yang tidak beres, Davka justru mendekatkan punggung tangannya ke dahi Gadis. "Kamu sakit?" "En-enggak, Kak …," suara Gadis mencicit. "Aku antar ke rumah sakit saja kalau begitu." “Bukan, Kak. Jangan!” Tepat saat Davka hendak memutar kemudi, mendada suara cukup nyaring terdengar dari dalam perut Gadis. Gadis itu m
Memiliki garis wajah tegas dan tatapan yang lembut, membuat Davka yang kini duduk di tingkat tiga perkuliahan menjadi idola kampus yang tak terbantahkan. Sebagai Presiden Mahasiswa, karismanya berlipat ganda, menjadikannya sosok yang dikagumi sekaligus sulit digapai."Kak Davka!" panggil seorang gadis berkacamata dengan suara agak gemetar.Davka tidak menoleh. Ia terus melangkah mantap di koridor fakultas dengan jaket almamater yang tersampir di bahunya. Kepalanya tampak mengangguk-angguk mengikuti irama musik dari airpods yang terpasang di telinga."Kak Davka!" panggil gadis itu lagi, kali ini sedikit lebih keras. "Kak, tunggu! Ada yang ketinggalan!"Langkah Davka justru makin cepat. Gadis itu hanya bisa terpaku saat melihat seorang perempuan lain berdiri di depan Davka.Tanpa diduga, Davka berhenti dan menyapa perempuan itu dengan senyum hangat. Pemandangan itu membuat si gadis berkacamata meremas tali tasnya erat-erat."Kak Davka...," gumamnya, ada rasa sesak yang tiba-tiba menyusu
Sore itu, kediaman keluarga Dhava mendadak bertegangan tinggi, bahkan lebih tegang daripada saat Dhava menghadapi ayah mertua yang garang dan banyak maunya. Penyebabnya tidak lain karena, ada dua pemuda berjaket jeans dan kulit yang duduk di teras rumah, menunggu Myesha dan Davira keluar.Tak tenang, Dhava bergegas menuju kamar si kembar. Begitu pintu terbuka, matanya menangkap sosok Myesha yang nampak anggun dalam balutan dress pink di bawah lutut, beda dengan Davira tampil santai dengan kaos maron, jeans, dan sudah siap dengan sneakers-nya."Lelaki di depan itu teman kalian?" tanya Dhava dengan nada menginterogasi.Myesha terkikik. "Iya, Pa. Dia ... umm, lebih dari teman sih, iya kan, Vir?"Myesha menyenggol lengan Davira, membuat mata Dhava seketika melotot tajam."Apa? Kalian berani sekali pacaran? Papa sudah bilang jangan pacaran dulu!" seru Dhava yang mungkin suaranya terdengar keluar..Davira buru-buru menyikut Myesha agar diam. "Bukan pacar, Pa. Teman saja kok, mereka kakak ke
Meskipun Dhava kini disibukkan dengan bisnis alat-alat kesehatan milik keluarganya, ia tak pernah lupa mengunjungi klinik terapi di Jakarta. Klinik yang penuh kenangan itu kini dikelola oleh adik tingkatnya semasa kuliah psikologi dulu.Diana mematung menatap fasad bangunan klinik yang kini berubah menjadi jauh lebih modern dengan sentuhan minimalis."Mas, aku masih ingat waktu datang ke sini pertama kali. Aku bingung, takut, dan nggak yakin sama sekali."Dhava menoleh, menatap istrinya dengan dalam. "Aku sebenarnya sudah lihat kamu dari parkiran, Di. Aku kaget setengah mati. Ternyata wanita yang aku rindukan datang ke sini demi belajar menjadi istri yang baik."Diana tersentak, lalu menatap Dhava."Ih, Mas! Jadi waktu kita berpapasan di dalam itu bukan kebetulan?""Bukan," jawab Dhava sembari meraih jemari Diana. "Nggak ada kebetulan hari itu. Aku memang sengaja keluar ruangan … untuk memastikan itu benar-benar kamu. Aku ... kangen kamu, Di. Aku cuma mau lihat kamu sedekat mungkin.""
"Baby? Diana!"Dhava terlonjak dari ranjang dengan napas berhembus liar. Bahkan jantungnya berdegup tidak keruan saat tangannya hanya meraba sisi tempat tidur yang kosong dan … dingin. Kamar mereka tampak remang, hanya diterangi cahaya lampu tidur yang kekuningan, parahnya lagi suasana menjadi sunyi. Ketakutan yang tidak rasional tiba-tiba menyergap.“Sayang, Diana?” panggil Dhava lagi."Aku di kamar mandi, Mas!" teriak Diana dari balik pintu kayu.Dhava mengusap dadanya, mencoba menenangkan debar jantung yang menggila, lalu bergegas lari menuju sumber suara. Begitu Diana baru saja melangkah di ambang pintu, Dhava langsung menyergap, mendekap tubuh istrinya itu dengan sangat erat. Sungguh ia takut sedetik saja ia lengah, Diana akan pergi."Jangan pergi, Baby," bisik Dhava, parau tepat di ceruk leher Diana.Meskipun Diana sempat terkesiap, tetapi hatinya menghangat. Ia mengusap pinggang suaminya. "Mas Dhava kenapa, sih? Kenapa jadi begini?" Diana rasakan ada udara panas menguar
“Apa, Di? Umm, mana mungkin? Itu … Dhava sendiri yang kasih ke Mama.” Bibir Dewi melengkung kaku, dan ingatannya terbawa pada tempe gosong yang tadi. Ia merasa perlu membuang makanan itu dnegan segera, karena tidak layak makan.Diana menggigit bibir dan meraba tekstur tempe itu. Seingatnya, bentuk
Dhava begitu santai menghampiri kedua orang tua Renita di ruang keluarga. “Pi, Mi, saya pamit.” Dhava mencium tangan mertuanya sebagai tanda hormat.Papinya Renita mangut-mangut dan tersenyum merekah. “Duduk dulu, Dhav. Sudah lama kita tidak ketemu. Selamat—”Sebelum mertuanya itu selesai, Dhava le
Seketika wajah Dhava menggelap, rahangnya berkedut, dan tangannya mengepal hingga otot-ototnya menonjol. Bahkan napasnya memburu, dan ini sulit baginya untuk meredakan dadanya yang turun naik dengan cepat.“Mami, saya mau bicara dengan Renita, berdua.” Dhava menelan ludahnya yang pahit dan sakit me
Sementara itu, Diana baru saja selesai makan. Ia mengusap perutnya karena terasa kenyang. Entah sudah berapa banyak ia menghabiskan keripik tempe itu. Sialnya, ada kehampaan yang menyambar setiap kali menggigit makanan renyah itu. Wajah Dhava terbayang dalam benaknya. Tempe goreng gosong serta jus







