LOGIN“Jangan jatuh cinta padaku. Setelah satu tahun, kita akan bercerai.” Citra mengira pernikahan kontraknya dengan Adipati, pewaris konglomerat yang dingin dan misterius, hanya akan menjadi satu tahun penuh kepura-puraan. Namun di balik sikap dinginnya, Adipati dihantui trauma dan mimpi buruk, dan hanya Citra yang mampu membuatnya tenang. Meski tetap menjaga jarak, Adipati selalu menjadi orang pertama yang melindungi Citra dari siapa pun yang berani menyakitinya. Hingga saat kontrak mereka hampir berakhir, pria yang melarang Citra jatuh cinta itu justru menjadi orang yang paling tak sanggup melepaskannya!
View MoreLangkah kaki Adipati Maheswara dan Citra yang berdampingan saat melewati ambang pintu besar menuju aula utama pesta dansa seketika mengubah atmosfer ruangan yang semula dipenuhi dengung percakapan ringan menjadi hening dalam hitungan detik. Lampu kristal raksasa di langit-langit seolah menumpahkan seluruh cahaya kemerahannya tepat ke arah mereka, menjadikan lorong masuk itu sebagai panggung utama di mana seluruh pasang mata dari para investor senior, direktur eksekutif, hingga para pencari berita tertuju tajam ke satu titik. Bagi siapa pun yang hadir malam itu, kemunculan kembali Adipati bersama Citra bukan sekadar kembalinya sang CEO ke tengah-tengah kerumunan itu adalah sebuah pernyataan sikap yang amat lantang. Lengan kokoh Adipati terlingkar sempurna di pinggang Citra, memberikan sokongan yang begitu nyata sekaligus tanda kepemilikan mutlak yang tidak menyisakan ruang bagi siapa pun untuk meragukan status gadis itu. Cekrek... cekrek... cekrek! Kilatan cahaya dari kamera tersemb
Ujung jemari Adipati menggenggam pergelangan tangan Citra dengan cengkeraman yang begitu pas, tidak terlalu longgar untuk lepas, namun tidak pula terlalu erat hingga menyakiti. Namun, di balik sentuhan yang menenangkan itu, rahang pria tersebut mengeras sempurna. Garis-garis ketegangan tercetak jelas di sekitar bibirnya, dan manik mata gelapnya menyapu wajah Citra berkali-kali, seolah memastikan tidak ada satu pun goresan luka atau air mata yang tertinggal di sana akibat insiden di sudut galeri ini. Bagi siapa pun di luar sana, Adipati Maheswara adalah lambang dari kesempurnaan seorang pemimpin puncak: dingin, kalkulatif, tidak tersentuh oleh emosi murah, dan selalu berdiri tegak di atas kepala para pesaingnya. Namun, di balik benteng gengsi yang dibangunnya selama bertahun-tahun, ada api kecemasan yang membakar hebat, mendesak untuk keluar dari balik dinding pertahanannya yang kokoh. "Apa yang kamu pikirkan, Citra?" suara Adipati memecah keheningan galeri. Nada bicaranya tetap rend
Kilau lampu kristal di aula utama Maheswara Group mendadak terasa seperti sorot lampu interogasi yang membakar kulit, sementara aroma parfum mahal dan anggur vintage menguar pekat di udara, bercampur dengan dengung percakapan para elite korporat yang sibuk merajut intrik. Di tengah kemegahan yang menyesakkan itu, Vanessa berdiri terlampau dekat dengan Adipati, tubuhnya condong ke depan seolah gravitasi bumi mendadak berpihak sepenuhnya untuk menariknya jatuh ke dalam pelukan sang CEO muda. Wanita itu tahu betul bagaimana cara memanfaatkan setiap inci keunggulannya. Di hadapan puluhan pasang mata petinggi faksi dan lensa kamera tersembunyi yang mengincar dari balik pilar-pilar marmer, Vanessa dengan sengaja melangkah goyah saat mereka berjalan menuruni anak tangga panggung kehormatan. Suara erangan kecil lolos dari bibirnya yang terpoles gincu merah klasik. Dengan gerakan yang terhitung dramatis namun disembunyikan di balik kepiawaian akting kelas atas, tubuh ramping berbalut gaun eme
Udara malam di galeri sudut itu seolah kehilangan oksigennya, menyisakan dingin yang merayap lambat menembus kain gaun Citra, mendinginkan kulit yang seketika basah oleh keringat dingin. Langkah kaki Pakusadewo telah lama lenyap di balik pintu marmer berat, namun gaung suaranya setiap patah kata, setiap tatapan tajam berbalut uban di pelipis itu masih berdenging nyaring di kepala Citra, menghantam kesadarannya berkali-kali tanpa ampun. Citra mematung, manik matanya menatap kosong ke arah hamparan rumput hijau yang disinari lampu sorot taman di balik dinding kaca tebal. Pertanyaan-pertanyaan keji mulai berbaris rapi di dalam benaknya, mencabik-cabik sisa pertahanan mental yang susah payah ia bangun sejak hari pertama menginjakkan kaki di dunia yang asing ini. 'Apakah aku sudah salah dalam melangkah?' Pikiran itu berkelebat liar, memantul di dinding-dinding kesadarannya yang mulai goyah. Selama ini, ia mengira posisinya di sisi Adipati Maheswara hanyalah bagian dari sebuah sandiwara






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews