Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda

Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda

last updateLast Updated : 2026-07-24
By:  Nofriza RahmaOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
7views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

“Jangan jatuh cinta padaku. Setelah satu tahun, kita akan bercerai.” Citra mengira pernikahan kontraknya dengan Adipati, pewaris konglomerat yang dingin dan misterius, hanya akan menjadi satu tahun penuh kepura-puraan. Namun di balik sikap dinginnya, Adipati dihantui trauma dan mimpi buruk, dan hanya Citra yang mampu membuatnya tenang. Meski tetap menjaga jarak, Adipati selalu menjadi orang pertama yang melindungi Citra dari siapa pun yang berani menyakitinya. Hingga saat kontrak mereka hampir berakhir, pria yang melarang Citra jatuh cinta itu justru menjadi orang yang paling tak sanggup melepaskannya!

View More

Chapter 1

Tawaran Nikah Kontrak

“Nona Citra. Kami sudah berusaha memberi waktu, tapi kondisi ayah Anda semakin kritis. Jika sampai besok uang muka operasi belum masuk, kami tidak punya pilihan selain membatalkan tindakan.”

Ucapan dokter itu membuat Citra membeku. Jemarinya terasa kebas. Di tangannya, selembar tagihan putih sudah berkali-kali diremas hingga kusut.

Ia bahkan hafal setiap angka yang tercetak di sana: Rp280.000.000. Harga yang harus dibayar agar ayahnya tetap bernapas.

“Baik, dokter. Saya mengerti. Saya akan usahakan secepatnya,” ujar Citra dengan suara bergetar, lalu berbalik pergi.

Lorong rumah sakit terasa menyiksa, seolah setiap langkah menambah bobot di dadanya.

Di ujung lorong, pintu ruang rawat ayahnya sedikit terbuka. Pria yang menjadi seluruh dunianya itu terbaring pucat, jauh lebih kurus dibanding sebulan lalu. Monitor jantung berbunyi konstan, menghitung sisa waktu yang mereka miliki.

Perlahan, Citra masuk dan duduk di samping ranjang. Ditempelkannya telapak tangan ke jemari sang ayah. Kasar dan penuh bekas luka kerja keras puluhan tahun.

Sejak ibu meninggal, ayahnya tak pernah menikah lagi. Saat dipaksa orang lain, pria itu selalu tertawa halus.

"Ayah sudah punya satu putri, itu lebih dari cukup."

Dulu ucapan itu terdengar manis. Kini, ingatan tersebut bagai pisau yang mengiris dadanya.

Kelopak mata sang ayah perlahan terbuka. Kelabu dan redup, namun senyum tipis mendadak terbit di wajah pucat itu. "Kamu belum makan, ya?"

Bukan tentang rasa sakitnya, hal pertama yang pria itu pikirkan tetap dirinya.

Citra memaksa tersenyum meski matanya mulai panas. "Nanti aku makan, Yah. Citra belum lapar."

"Jangan bohong." Ayahnya terkekeh pelan, lalu mendadak batuk hebat hingga tubuhnya bergetar.

Refleks, Citra menopang punggung ayahnya. Dadanya kian sesak. "Ayah..."

"Kalau uangnya nggak cukup..." suara pria itu melemah, "...nggak usah dipaksakan, Ayah nggak mau lihat kamu hancur demi Ayah."

Kalimat itu membuat Citra membeku.

Tidak. Ia tidak akan membiarkan ayahnya menyerah. Tidak setelah semua pengorbanan ini.

Genggamannya melembut namun penuh penekanan. "Ayah cuma perlu istirahat. Sisanya biar aku yang urus."

Malam kian larut saat Citra mengaduk-aduk seluruh opsi yang tersisa.

Pinjaman bank ditolak. Pengajuan kasbon gaji ditahan. Bahkan cincin emas peninggalan ibunya hanya dihargai murah, tak cukup membayar biaya ICU dua hari.

Citra juga mencoba meminjam uang pada pamannya, satu-satunya sanak saudara yang ia punya. Namun, pamannya menolak dengan keras.

“Nggak bisa. Kalau memang umur Bang Seto udah sampai, ya ikhlaskan aja!”

Citra tidak menangis. Ia bahkan tak punya tenaga untuk marah. Rasa sakitnya terlalu dalam hingga tak mampu diterjemahkan menjadi air mata.

Ia berdiri, membungkuk kaku, lalu berbalik pergi.

Hujan kembali mengguyur deras ketika Citra tiba di halaman rumah sakit.

Langkahnya terhenti di taman kecil. Ia ambruk di bangku kayu yang basah, menunduk dalam-dalam.

Seluruh usahanya gagal. Besok pagi... ayahnya mungkin tak akan pernah bangun lagi.

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah. Isaknya bersahut-sahutan dengan riuhnya suara hujan.

Di tengah keputusasaan itu, sorot lampu mobil membelah kegelapan. Sebuah sedan hitam mewah berhenti tepat di depannya. Pintu belakang terbuka, lalu seorang pria berjas gelap turun membawa payung.

"Nona Citra Pramesti?"

Citra mendongak pelan, mengangguk tanpa sisa tenaga. “I-iya?”

Pria itu menyodorkan sebuah amplop cokelat tebal. "Nama saya Raka."

Dengan jemari gemetar dan bingung, Citra membuka isi amplop itu. Di dalamnya terdapat salinan lengkap seluruh tagihan operasi ayahnya.

Jantung Citra berdegup kencang. “Dari mana... Anda tahu semua ini?”

Raka menatapnya lurus tanpa kedipan. “Tuan saya ingin menawarkan bantuan untuk melunasi seluruh biaya tersebut,” ujarnya dingin.

“B-bantuan?” Citra mengernyit, napasnya tertahan. “Siapa Tuan Anda?”

“Adipati Maheswara.”

Nama itu membuat udara malam mendadak kian membeku.

Adipati Maheswara.

Presdir utama Maheswara Group—tempat Citra bekerja sebagai staf biasa—sekaligus pria paling berkuasa yang sosoknya dikelilingi rumor kelam.

Di kalangan karyawan dan media, nama Adipati dibisikkan bagai monster berkemeja mahal. Pria kejam tak berperasaan yang menyingkirkan siapa saja yang menghalangi jalannya.

Bahkan desas-desus liar menyebutkan bahwa siapa pun yang berurusan terlalu dekat dengannya tak pernah berakhir baik.

Pria itu berbahaya, dingin, dan sangat ditakuti.

Bagaimana mungkin sosok sejauh langit itu bisa tahu kondisi ayahnya? Dan mengapa ia menawarkan bantuan?

Citra menelan ludah yang terasa sangat pahit. Ketakutan merayapi punggungnya.

“Tapi… untuk apa? Kenapa beliau mau membantu saya?”

Raka memperbaiki posisi payungnya, menatap Citra dengan tatapan datar. “Tuan Adipati tidak memberikan bantuan secara cuma-cuma, Nona. Beliau menawarkan sebuah kesepakatan.”

“Kesepakatan... apa?” suara Citra bergetar, firasat buruk kian mencekik lehernya.

“Beliau akan menanggung seluruh biaya operasi dan perawatan ayah Anda sampai sembuh total,” Raka memberi jeda sejenak, “dengan syarat, Anda bersedia menikah dengannya.”

Napas Citra tercekat seketika. Tubuhnya membeku kaku di bawah guyuran hujan yang makin membilas kulitnya.

Menikah dengan Adipati Maheswara? Pria iblis yang paling ditakuti seluruh kota?!

“A-apa?!”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status