LOGIN“Jangan jatuh cinta padaku. Setelah satu tahun, kita akan bercerai.” Citra mengira pernikahan kontraknya dengan Adipati, pewaris konglomerat yang dingin dan misterius, hanya akan menjadi satu tahun penuh kepura-puraan. Namun di balik sikap dinginnya, Adipati dihantui trauma dan mimpi buruk, dan hanya Citra yang mampu membuatnya tenang. Meski tetap menjaga jarak, Adipati selalu menjadi orang pertama yang melindungi Citra dari siapa pun yang berani menyakitinya. Hingga saat kontrak mereka hampir berakhir, pria yang melarang Citra jatuh cinta itu justru menjadi orang yang paling tak sanggup melepaskannya!
View MoreRuang rapat itu hening, belasan pasang mata bergantian memandang Adipati, lalu beralih kepada Citra yang berdiri satu langkah di belakangnya, sebagian tampak bingung, sebagian lainnya saling bertukar pandang, tak ada seorang pun yang mengenali alasan Presdir mereka membawa seorang staf divisi keuangan ke ruang direksi.Adipati berjalan menuju kursi utama di ujung meja, "Mulai rapatnya."Seluruh direksi segera membuka dokumen masing-masing, seorang pria berkacamata berdiri lebih dulu, "Pak Adipati, terkait proyek akuisisi di Surabaya, pihak investor meminta kepastian mengenai isu yang beredar di media."Kening Adipati berkerut "Apa isunya?"Pria itu tampak ragu sebelum menjawab, "Mereka mempertanyakan kabar mengenai isu pernikahan Tuan."Ruangan kembali sunyi, beberapa direksi diam-diam memperhatikan ekspresi Adipati, pria itu tetap tenang, "Tidak ada yang perlu dipertanyakan."Jawaban singkat itu justru membuat semua orang semakin penasaran, pria berkacamata kembali membuka mulut, "Ma
Mobil hitam itu berhenti tepat di depan pintu utama rumah sakit. Begitu turun, Citra menatap bangunan di hadapannya dengan napas yang terasa lebih ringan. Sejak semalam, pikirannya tak pernah lepas dari sang ayah. Raka membukakan pintu, "Silakan, Nyonya." Citra mengangguk pelan. Namun baru beberapa langkah, ia menyadari Adipati masih berdiri di samping mobil, pria itu tidak ikut berjalan. "Tuan?" tanya Citra ragu. "Aku menunggu di sini." Sahut Adipati. Citra sempat terdiam, lalu mengangguk. Baginya, itu jauh lebih baik. Kehadiran Adipati di ruang rawat mungkin justru akan membuat ayahnya terkejut. Tanpa membuang waktu, ia berlari kecil menuju ruang perawatan. --- Pintu kamar dibuka perlahan, "Ayah..." Pria paruh baya di atas ranjang menoleh. Wajahnya memang masih pucat, tetapi senyum hangat langsung merekah begitu melihat putrinya, "Citra." Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh, Citra menghampiri ranjang dan menggenggam tangan ayahnya erat, "Operasinya berhasil, Ya
Ruangan itu membeku, Tak seorang pun bergerak setelah tubuh Adipati roboh ke dalam pelukan Citra.Raka menjadi orang pertama yang tersadar, "Dokter!"Tak lama kemudian, suara langkah kaki memenuhi lorong. Seorang dokter bersama dua perawat memasuki kamar dengan tergesa-gesa. Namun begitu melihat posisi Adipati, langkah mereka mendadak melambat, "Tolong baringkan Tuan."Raka segera mengangguk. Ia dan salah seorang petugas keamanan berjongkok untuk mengangkat tubuh Adipati. Baru saja tangan mereka menyentuh bahu pria itu, dokter mengangkat telapak tangannya, "Tunggu."Semua menoleh, Tatapan dokter jatuh pada tangan kanan Adipati yang masih menggenggam jemari Citra begitu erat."Paksa melepaskannya justru bisa membangunkan refleks tubuh Tuan," ujar dokter pelan.Raka mengangguk tipis, dengan sangat hati-hati, ia mencoba melonggarkan jemari Adipati, tetap tidak bergerak, genggaman itu justru semakin mengencang. Dokter mengembuskan napas pelan sebelum mengalihkan pandangan kepada Citra, "N
Bu Ratih tampak ragu sejenak. "Tuan... terkadang sulit tidur."“Sulit tidur?” ulang Citra dengan dahi mengerut. Namun, tanpa penjelasan tambahan, Bu Ratih segera mengundurkan diri, meninggalkan Citra yang berdiri mematung dalam keraguan.Malam kian merambat. Citra memandangi langit-langit kamar, matanya enggan terpejam. Pikirannya melayang pada sang ayah. Meski Raka sudah memberi tahu bahwa operasinya berjalan lancar, hatinya tak akan benar-benar tenang sebelum melihat keadaan Ayah secara langsung.Di luar, mansion mewah ini tenggelam dalam kesunyian yang ganjil. Hingga tiba-tiba…BRAK!Citra tersentak dan langsung terduduk di ranjang. Sensasi dingin merayapi tengkuknya saat mendengar erangan tertahan dari balik dinding."Tidak..." Suara bariton seorang pria bergetar hebat. "Jangan..."Erangan itu memuncak menjadi jeritan histeris yang memilukan. "IBU!"Darah Citra serasa berhenti mengalir. Suara itu datang dari lorong lantai dua, dari kamar Adipati.Teringat peringatan Bu Ratih, Ci






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.