Share

46 | Vitamin

Author: Strawberry
last update Last Updated: 2025-10-11 18:13:57

“Hanna… apa kamu benar-benar terlalu capek? Wajahmu pucat sekali.”

Lily menatap Hanna dengan cemas. Di meja makan, Julian dan Liam ikut menoleh. Pandangan mereka serentak tertuju pada wajah Hanna yang tampak letih dan pucat.

“Kamu istirahat saja dulu,” ucap Liam cepat, suaranya datar tapi tegas.

Lily mengangguk setuju, namun Hanna menggeleng pelan. “Aku sudah ketinggalan banyak...”

Liam menatap ke arah cangkir kopinya, tidak menoleh, tapi suaranya terdengar lagi.

“Aku akan bawakan laporan perkembangan terakhir penelitian, termasuk hasil konsul kamu terhadap pasangan yang memproses perceraian minggu lalu.”

“Dengar itu, Hanna. Liam benar,” sahut Lily menimpali.

“Tapi aku merasa baik-baik saja, Ma…” bantah Hanna lemah.

Julian menatapnya lembut. “Dengarkan ibumu, Hanna. Dia khawatir denganmu.”

Dan akhirnya Hanna hanya mengangguk, pasrah.

Setelah sarapan, Lily menggandeng putrinya kembali ke kamar. Begitu pintu dibuka, Lily terdiam sejenak.

Kamar itu masih berantakan. Koper kosong di pojok
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   225 | Gencatan Senjata

    Hari-hari pertama setelah kelahiran Leo berjalan dalam kabut kelelahan yang penuh kebahagiaan. Waktu kehilangan bentuknya, terfragmentasi menjadi interval menyusui, mengganti popok, dan tidur sebentar yang berharga. Dunia orang tua.Liam, yang terbiasa dengan presisi jadwal ilmiah, menemukan ritme baru yang kacau namun sempurna. Dia belajar membedakan tangisan lapar dari tangisan ketidaknyamanan, belajar membungkus bayi dengan selimut lembut, belajar berdiri dan bergoyang-goyang di tengah malam sementara Leo yang rewel akhirnya tertidur kembali di bahunya, napasnya hangat dan berdesis di lehernya.Hanna pulih dengan kekuatan yang mengejutkan dirinya sendiri. Tubuhnya yang telah melalui ujian hebat itu sekarang dengan sabar menyembuhkan dirinya sendiri. Air susunya deras, dan saat Leo menyusu dengan semangat, dia merasakan ikatan yang lebih dalam daripada apa pun yang pernah dia bayangkan—sebuah kesatuan biologis dan emosional yang melampaui semua rekayasa dan rencana.Komunitas Oasis

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   224 | Selamat Datang Leo

    Waktu di Oasis mengalir seperti sungai di lembah—tenang, namun tak terhentikan. Minggu-minggu berubah menjadi bulan. Perut Hanna membesar sempurna, sebuah bulan purnama yang hidup yang membawanya berjalan pelan, dengan satu tangan selalu menempel di punggung bawah, satu lagi dengan lembut mengusap tonjolan di mana bayinya bergerak.Udara musim semi Oasis berubah menjadi musim panas yang hangat. Pohon Kehidupan bersinar lebih terang di malam hari, seakan ikut memancarkan antisipasi. Liam hampir tak pernah jauh dari sisi Hanna. Dia yang memijat kakinya yang bengkak, yang mengambilkan air minum dari mata air jernih, yang membacakan puisi atau catatan ilmiah ayahnya dengan suara rendah saat Hanna susah tidur."Hari ini dia sangat aktif," bisik Hanna suatu sore, berbaring di hamparan rumbut lembut di bawah pohon willow dekat sungai. Liam berbaring di sampingnya, kepala bertumpu pada satu tangan, telapak tangan satunya terbuka di atas perut Hanna.Benar saja. Di bawah telapak tangannya, kehi

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   223 | Kamu Adalah Lab-ku!

    Pagi pertama di Oasis adalah sebuah simfoni. Bukan simfoni mesin atau pengumuman otomatis, melainkan simfoni kehidupan. Sesuatu yang jarang mereka dapatkan di Valthera.Kicau burung yang saling bersahutan, gemerisik dedaunan yang ditiup angin pagi, suara anak-anak tertawa di kejauhan, dan suara gemericik air sungai yang mengalir jernih. Bagi Hanna, setiap suara itu seperti cat air yang melukis keheningan hampa di dalam dirinya dengan warna-warna baru.Semua ini, seharusnya membuatnya merasa lebih tenang dan lebih baik.Dia berdiri di ambang pintu rumah kayu mereka, tangan menopangi punggung yang pegal, dan menghirup udara pagi yang berembun. Udara itu terasa hidup, penuh dengan aroma tanah basah, bunga liar, dan kayu bakar. Di dadanya, ada sebuah kelegaan yang begitu dalam, begitu tulus, hingga membuat matanya berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya sejak mengetahui kehamilannya—bahkan mungkin sejak lama—dia tidak merasa seperti sedang diawasi. Tidak ada kamera yang mengintip, tidak ada

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   222 | Oasis

    Perjalanan dengan kereta tua itu terasa abadi. Dalam kegelapan mutlak di luar jendela, waktu kehilangan maknanya. Hanya getaran rel dan suara mesin yang sudah tua menjadi pengingat bahwa mereka masih bergerak. Liam duduk di sebelah Hanna, memeluknya erat, mencoba memberikan kehangatan di tengah udara bawah tanah yang lembap dan dingin.Hanna tertidur sebentar, kelelahan. Dalam tidurnya, mimpi-mimpi aneh menyergap. Dia melihat ladang luas dengan tanaman yang bersinar lembut dalam gelap, langit penuh bintang yang tidak pernah dia lihat di Valthera, dan sekelompok orang dengan mata yang memancarkan kearifan dan kesedihan yang dalam. Di tengah mereka, ada sebuah kolam air jernih, dan dari kolam itu, dia mendengar sebuah panggilan—lembut namun mendesak.Dia terbangun dengan napas tersengal. Kereta mulai melambat."Kita hampir sampai," kata Liam, menatap peta hologram dari datachip. "Ujung jalur. Dari sana, kita harus berjalan kaki menuju permukaan."Kereta berhenti dengan hentakan. Pintu t

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   221 | Mencari Tempat Yang Aman

    Terowongan di bawah stasiun penelitian tua itu lembap dan berbau tanah. Lampu-lampu darurat kuning tua yang jarang menyala memberikan penerangan suram, memperlihatkan akar-akar tanaman yang menyusup melalui retakan beton. Suasana di antara mereka tegang, namun sunyi. Kabar dari Vance masih menggema di kepala mereka, meninggalkan rasa pahit dan keraguan.Liam berjalan di depan, memegang senter kecil dari data chip yang diberikan Vance—ternyata perangkat itu juga berfungsi sebagai pemandu. Peta holografik kecil memancar dari ujungnya, menunjukkan jalur labirin di bawah tanah yang rumit.Hanna berjalan pelan, tangannya berpegangan pada dinding yang dingin untuk keseimbangan. Perutnya semakin berat, dan setiap langkah terasa seperti usaha. Tapi bukan fisiknya yang paling sakit. Pikiran tentang dirinya yang mungkin hanya "subjek" dalam eksperimen ayahnya sendiri, bahwa pertemuannya dengan Liam bukanlah kebetulan… itu seperti pisau yang memutar-mutar di dalam dadanya."Liam," ucapnya akhirn

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   220 | Twist Membingungkan

    Vance mengangguk pelan, mengakui. "Genesis adalah segalanya bagi Valthera. Dan anakmu... dia adalah lompatan evolusioner yang tidak terduga. Dewan tidak bisa mengabaikannya.""Jadi kau di sini untuk membawa kami kembali? Sendirian?" tantang Liam."Tidak," jawab Vance. Dia memandang ke arah kendaraan, seolah bisa menembus kaca gelap dan melihat Hanna. "Aku di sini untuk memberitahumu sesuatu. Sesuatu yang tidak tercatat dalam arsip resmi."Liam diam, waspada."Proyek Genesis memiliki banyak cabang, Liam. Salah satunya, yang dijalankan diam-diam oleh Alderic setelah dia mengambil alih, adalah 'Proyek Kaledoskop'. Mereka tidak hanya memilih gen terbaik. Mereka juga... menguji kompatibilitas. Mencocokkan profil genetik tertentu untuk menghasilkan kombinasi yang tidak hanya unggul, tetapi juga terkendali."Liam merasa tengkuknya dingin. "Apa maksudmu?""Hanna bukanlah wanita sembarangan yang kau temui, Liam. Dia adalah salah satu dari sedikit subjek dalam program itu. Profil genetiknya dip

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status