FAZER LOGINMereka bergantian memperkosa istrinya dan putrinya digantung di balok kayu, sementara dia menyaksikannya, terikat dan dibakar hidup-hidup. Api melahapnya, dan ketika jeritannya akhirnya berhenti, sesuatu yang lebih tua dari rasa sakit menjawab. Darah primordial yang menyatu dengan darahnya sendiri terbangun dan menyala. Mereka menyebutnya Abysswalker, seorang manusia yang darahnya telah berubah selamanya oleh esensi hidup makhluk primordial. Pemerintah memburunya, orang-orang takut padanya. Dunia yang merenggut segalanya darinya tidak tahu apa yang telah mereka bangunkan. Silver Ash tidak ingin bertahan hidup. Dia ingin membakar semuanya.
Ver maisDia tahu hari itu akan tiba, karena itu bukan yang pertama kalinya. Silver Ash, menutup pintu di lantai setelah memastikan Elira dan Lyanna sudah masuk ke dalam. Empat bulan dia membangun ruang bawah tanah itu untuk momen seperti ini.
"Apapun yang kau dengar, jangan pernah membuka pintu ini, mengerti!" Ash tergesa, dia tak ingin pintu itu sampai terlihat. "Ikutlah dengan kami! apa gunanya kau tetap diluar!" Elira tak sanggup menahan air matanya. Di bawahnya, Lyanna, putri mereka yang berusia 10 tahun hanya berdiri tanpa banyak mengerti apa yang terjadi. "Aku akan menjemput kalian, aku janji!" sebuah kecupan di kening dan pintu itu tertutup rapat. Ash menutupi pintu itu dengan karpet tepat saat bagian atap rumahnya tiba-tiba terbuka. Genteng dan potongan kayu berjatuhan saat makhluk berkaki enam itu mencoba masuk ke dalam. Ash berlari, meghindari puin-puing yang jatuh lalu meraih kapak kecil yang tergeletak di dekat perapian. Makhluk itu sebesar beruang dewasa, tubuhnya yang berat mendarat di hadapannya, membuat lantai kayu berdecit. "Heaa!" Ash mengayunkan Kapak, tapi makhluk itu mengayunkan tangannya ringan dan kapak itu jatuh begitu saja. Sedetik berikutnya Ash tiba-tiba terhempas melewati jendela oleh ayunan ekor makhluk itu. Tubuhnya jatuh berguling di tanah, Ash segera bangkit karena tahu serangan itu tidak akan begitu saja berhenti. "Arrggh!" "Tolonggg!" "Pergi!" Di luar suasana tak kalah kacau, orang berteriak, rumah-rumah hancur dan terbakar, makhluk itu ada dimana-mana. Ash terlalu sibuk mencari tempat berlindung sambil memegangi dadanya yang nyeri, tak sempat menghitung berapa jumlahnya. Sebuah peti kayu di depan rumah tetangganya kini menjadi tempatnya berlindung. Desa Pinedale yang tenang dan damai, kini seperti medan perang. Ash terus memandangi rumahnya, berharap makhluk itu tak akan menemukan istri dan putrinya. "Tolong!" Nyonya Milena, istri kepala desa yang sering membuatkan kue kering untuk Lyanna, mencoba meraih apapun di tanah yang kosong saat tubuh gemuknya terangkat. Satu kakinya sudah berada dalam gigitan makhluk tersebut. Makhluk lain datang dan meraih sebagian tubuh atasnya. Ash terbelalak dan memalingkan wajahnya saat kedua makhluk itu menarik tubuh Nyonya Milena ke arah yang berlawanan. "Sial, Nyonya Milena!" Ash mencengkeram erat papan kayu yang menutupinya, tubuhnya tak bisa berhenti gemetar saat kematian nyat begitu dekat dengannya. "TOLONG, ASH!" Ash menoleh, itu adalah Martin, pria yang biasa menemaninya mencari kayu bakar. Sama seperti Nyonya Milena, salah satu kakinya sudah berada dalam gigitan makhluk tersebut. Matanya melebar, Ash melihat sekelilingnya, mencari sesuatu yang lebih kuat dari kapak. Sebuah garpu jerami yang tersandar di samping gerobak menjadi pilihan terbaiknya. "Bertahanlah Martin!" Ash berlari, meraih garpu jerami dan langsung menusuk perut makhluk itu dari samping. Ash tercengang saat tiga besi tajam itu tak mampu menggores kulit makhluk tersebut. Ash seperti menusuk kulit pohon tua yang tebal. Makhluk itu melempar Martin ke udara lalu dengan cepat makhluk lain menyambarnya. Potongan tubuh, potongan organ dan darah pekat seketika menghujani tubuh Ash. "Martin! agh–" Rasa sakit tiba-tiba menusuk saat gigi-gigi tajam menancap di lengan kiri dan sisi tubuh Ash. Makhluk lain menyerangnya dari belakang dan mengangkat tubuh Ash tinggi ke udara. "AARRGHH!" Sakit, panik, garu jerami itu terlepas dari tangannya. Dari atas, dia bisa melihat makhluk yang melempar Martin tadi sedang bersiap. Menekuk empat kaki belakangnya, rahangnya yang penuh dengan gigi tajam terbuka. Ash mentap langit, matahari menyilaukan matanya. Waktu terasa berjalan lambat, detak jantungnya tedengar jelas dan hembusan nafasnya terasa panas di tenggorokan. "Apa aku akan mati?" batinnya. Ash memalingkan pandangannya, "Elira, Lyanna ...." Ash dapat melihat 3 makhluk itu mengepung rumahnya, dua terlihat dari jendela dan satu sedang merangkak di atap. "AAAHH!" Suara Elira, terdengar sangat jelas dan seolah membangunkan Ash. Liontin kalung berbentuk silang dengan salah satu sisinya lebih panjang, langsung terlepas dari leher Ash. "Berengsek!" dengan benda itu di tangannya, Ash langsung menusuk mata makhluk yang mencengkeramnya. Tubuhnya jatuh tepat saat makhluk yang tadi melempar Martin sudah melompat di udara dengan mulut mengatup. Dengan cepat, melawan rasa sakitnya, Ash meraih garpu jerami dan menusuk ke atas tepat di bagian bawah rahang makhluk itu. Serangan itu telak, darah merah mengalir deras membasahi tubuhnya. Ash segera berlari ke rumahnya, berharap masih sempat menyelamatkan Elira dan Lyanna, tapi tiba-tiba tubuhnya terpental, "uaghhh!" Makhluk lain datang dari samping dengan serangan kuat menggunakan kepalanya yang sekeras batu. Tubuh Ash yang bahkan seberat hampir 100 kilogram itu terpental seperti batu kecil dan menghantam dinding kayu. "UHUKK!" Darah keluar dari mulut, dan mengalir dari luka-luka di lengan dan sisi dadanya. Ash terbaring lemah di tanah, pandangannya hampir sepenuhnya gelap. Diambang kesadaran, Ash menatap makhluk yang menyerangnya, ukurannya lebih besar hampir dua kali lipat dari makhluk lainnya. Dia berjalan tenang tanpa ada makhluk lain yang mencoba merebut Ash darinya, seolah di adalah pemimpin kawanan tersebut. Berbeda dengan yang lain, terdapat sisik mengkilap melapisi kulitnya. Saat berjalan, sisik-sisik itu mekar dan mengatup lalu bergerak-gerak seperti sebuah komunikasi. Makhluk lain di sekitarnya merespon dengan menjauh, memburu penduduk lainnya. "Sial, Elira, Lyanna!" Ash berusaha bangkit, memaksa kedua kaki dan tangannya untuk bergerak. Ada yang hal lain berbeda dari makhluk itu, cahaya biru samar terlihat di bawah sisiknya, di area leher hingga dada saat keenam kakinya melangkah. Ash menghunuskan garpu jerami yang masih tergeletak di dekatnya. Akan tetapi benda itu sama sekali tak menolongnya. Satu hempasan tangan dan Ash kembali terlempar, tubuhnya jatuh berguling di tanah dan menghancurkan peti kayu. Makhluk itu berlari mengejar, menghempaskan Ash kembali ke arah lainnya. Membentur dinding kayu, menghancurkan gerobak hingga terguling-guling di tanah, Ash benar-benar sudah mencapai batasnya. Lemah, sekarat, Ash memandangi rumahnya lagi, suara Elira tak terdengar lagi dari sana. Dadanya sesak, karena serangan juga karena pikirannya yang sudah kemana-mana ke arah yang buruk. Kini tawaran Elira untuk tetap bersamanya menjadi penyesalan bagi Ash. Dia seharusnya tetap bersama istri dan putrinya. Tiba-tiba mata Ash melebar, Elira berlari dengan Lyanna dalam pelukannya, menuju gudang kecil di belakang rumah. Dua makhluk itu mengejar di belakangnya. "Elira!"Beberapa pria di kurungan-kurungan sekitarnya mulai berteriak, ada yang mundur ke sudut kurungannya, ada yang mencengkeram bilah kayu di depannya sampai otot-otot tangannya mengencang. Ash tidak bergerak, matanya mengikuti sosok-sosok Banshee yang turun satu per satu melalui lubang itu, cakar-cakar mereka mendarat di tepian batu dengan suara keras yang bergema di seluruh gua.Tapi Banshee-banshee itu tidak mendekati kurungan yang berisi manusia hidup.Mereka bergerak langsung ke kurungan-kurungan yang isinya sudah tidak bergerak, cakar-cakar panjang mereka membuka pintu kurungan dengan gerakan yang terbiasa dan terlihat mudah. Satu per satu mereka masuk dan suara yang keluar dari dalam kurungan-kurungan itu membuat beberapa pria berhenti berteriak dan memilih diam."Ugh, membuatku mual saja," gumam Ash memalingkan wajah saat makhluk-makhluk itu menyantap bangkai dengan cara yang menjijikan.Seorang pria di kurungan yang berhadapan dengan Ash mengamati cara Banshee membuka pintu kuru
Rynn tidak bergerak dari posisinya.Ia berdiri di antara akar-akar pohon besar, satu tangannya masih di gagang busur, kepalanya mendongak ke langit di antara celah-celah pepohonan. Suara kepakan sayap yang tadi memenuhi udara mulai mengecil, semakin jauh ke timur, sampai yang tersisa hanya angin malam yang bergerak di antara daun-daun.Para prajurit di sekitarnya menunggu dengan cara yang sama, tidak ada yang berbicara, tidak ada yang bergerak tanpa perintah."Kyra." Rynn tidak menoleh, matanya masih di langit. "Berhasil?"Seorang perempuan muncul dari balik batang pohon di sebelah kiri, rambutnya hitam tebal dipotong pendek rata di bawah telinga, tepat seperti garis yang diukir dengan penggaris. Kyra mengangguk satu kali, singkat dan pasti.Shiva melihat percakapan itu dari tempatnya berdiri. "Apa yang berhasil?" tanyanya. "Apa yang kalian tunggu tadi?"Rynn baru menoleh ke arahnya sekarang. "Kami sedang berburu." Ia berbicara dengan nada yang sama seperti saat memberi perintah, dat
Cakar itu sudah setengah jalan ke arahnya saat tali di tubuh Shiva terputus.Bukan terlepas, bukan terbuka simpulnya, tapi benar-benar terpotong oleh sesuatu yang bergerak cepat dari samping. Tubuh Shiva jatuh ke depan dari batang pohon dan ia menangkap dahan di bawahnya dengan kedua tangan. Ayunan tubuhnya itu membawa kakinya melewati ruang kosong tepat saat cakar itu menyambar tempat ia berdiri tadi dan hanya mendapatkan serpihan kulit kayu.Rynn ada di cabang sebelahnya, pisau pendek di tangannya masih mengarah ke bawah dari gerakan memotong tadi. "Kau berada di waktu dan tempat yang tidak tepat, elf.""Aku tahu itu." Shiva menarik dirinya ke atas dahan dan langsung berdiri. "Sekarang beri aku sesuatu untuk melawan."Rynn menatapnya satu detik, lalu melempar pisau cadangan dari ikat pinggangnya. Shiva menangkapnya tanpa melihat, matanya sudah kembali ke makhluk yang tadi menukik ke arahnya. Banshee itu membalikkan tubuhnya d
Pakaiannya adalah campuran warna tanah dan hijau tua, potongannya tidak beraturan dengan anyaman rumput dan daun kering yang dijahit di permukaannya sehingga mudah tersamarkan di dalam hutan. Di wajahnya ada goresan-goresan hitam tebal, bukan luka, melainkan coretan yang disengaja, membentuk pola yang memecah bentuk wajah sehingga sulit dibaca dari jarak jauh. Matanya cokelat gelap dan tidak berkedip.Shiva melihat ke kanan dan kiri. Di cabang-cabang pohon sekitar mereka, minimal empat sosok lain berdiri dengan postur yang sama, masing-masing dengan busur terangkat."Apa yang dilakukan seorang elf di hutanku." Wanita itu bukan bertanya dengan nada ingin tahu, lebih seperti seseorang yang sudah tahu jawabannya dan ingin memastikannya sendiri. "Tidakkah kau terlalu jauh bermain?""Bukan urusanmu." Shiva tidak menggerakkan kepalanya, hanya matanya yang bergerak ke arah area terbuka di bawah. "Lepaskan temanku."Perempuan itu menoleh ke bawa


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliações