LOGIN“Ah… uhm..” Sebuah ingatan singkat menghantam Hanna. Alarm KB—ia lupa menyalakannya pagi ini. Di negara Valthera, masa depan setiap perempuan ditentukan oleh implan KB—alat kendali biologis yang menautkan mereka dengan pasangan pilihan pemerintah sesuai DNA. Sistem itu diciptakan demi stabilitas- menekan populasi, memastikan kecocokan genetik, menciptakan keluarga “sempurna.” Tapi kenyataannya jauh dari utopia. Angka perceraian justru meroket. Kehangatan keluarga hilang, berganti hubungan hampa yang hanya patuh pada aturan. Tapi satu kesalahan kecil mengubah segalanya—malam itu ia lupa mengaktifkan implan. Tubuhnya justru terkunci dengan pria terakhir yang seharusnya ia hindari—Profesor Liam, pencipta sistem itu sendiri. Jika aturan dilanggar, implan tidak lagi melindungi, melainkan mengikat. Tubuh akan mengenali pria pertama yang menyentuhnya sebagai pusat loyalitas biologis. Dan yang paling ironis—pria itu kini resmi menjadi kakak tirinya.
View More“Mmm…”
Napas Hanna seolah direnggut paksa saat bibir itu menubruknya. Ciuman itu bukan sekadar desakan—ia menyerbu seperti badai, menghancurkan batasan yang Hanna pegang teguh. Lidah pria itu masuk tanpa kompromi, menjarah mulutnya, menyapu setiap sudut hingga dirinya gemetar tak berdaya.
Suara itu lolos tanpa izin, memalukan, tapi tak bisa ia bendung. Segala kekuatan di sendi-sendinya lenyap. Handuk tipis yang hanya menutupi tubuhnya terasa konyol di tengah belitan tubuh Liam yang basah dan membara.
Hanna berusaha menolak, tapi setiap upaya hanyalah percikan kecil di hadapan arus deras. Aroma mint dari mulut Liam menempel, menusuk, menyisakan rasa getir yang anehnya memabukkan. Saat kepala pria itu miring, memperdalam ciuman, kain terakhir pelindung Hanna jatuh ke lantai, terinjak air.
“Tidak…” batinnya berteriak, tetapi tubuhnya… tubuhnya mengkhianati dirinya. “Kamu siapa?!”
“Bagaimana kamu bisa ada di sini?!” suaranya memantul di dinding.
Semburan air hangat mengguyur, menciptakan ruang pengap dan pekat. Punggung Hanna terhimpit pada kaca dingin, sementara tubuh Liam mendesak dari depan, keras, menuntut. Ia tak lagi punya ruang untuk bernapas, apalagi berpikir jernih.
Ia tahu ini salah. Ia tahu ia sedang jatuh ke jurang. Namun, setiap desahan napas, setiap helaan di telinganya, menelanjangi sisa pertahanannya. Dan ketika Liam mendorongnya lebih dalam, menyatukan mereka dalam desakan yang brutal dan primitif, semua perlawanan Hanna terkubur.
Lalu—sebuah ingatan singkat menghantamnya. Hari ini seharusnya menjadi garis akhir perjuangannya bahwa sidang makalah tugas akhir yang menentang fondasi sistem negara Valthera—Implan Alarm KB yang selama sepuluh tahun mengatur jodoh warga berdasarkan kecocokan genetik. Di atas kertas, sistem itu menjanjikan generasi emas. Di lapangan, angka perceraian tetap tinggi. Itulah sebabnya Hanna menolak.
Tapi justru hari ini juga hidupnya seperti mulai runtuh.
Di ruang sidang tadi sore, ia menantang Profesor Liam A. O’Hara—arsitek utama Alarm KB, ilmuwan paling berpengaruh di Valthera.
“Cinta hanyalah interpretasi emosional dari keterikatan biologis, Nona Walsh. Sistem ini tidak meniadakannya—ia menstabilkannya,” katanya tenang.
Hanna membalas tanpa ragu, “Kalau cinta bisa distabilkan oleh sistem, kita tak lebih dari mesin reproduksi.”
Semua menatapnya seolah gila. Liam hanya tersenyum—seutas senyum yang terlalu tenang untuk orang yang baru saja ditentang di hadapan publik. Senyum itu ikut pulang, membuntuti langkahnya sampai ke ambang pintu. Kenapa pula professor itu disini?!
Sial, ciuman ini makin mendesak. Sebentar—
Alarm KB! Ia lupa menyalakannya pagi ini!
Darahnya membeku. Nafasnya tercekat. Rasa ngeri menelan seluruh kenikmatan yang mengikatnya.
“Ah… shiiit!!”
Jeritannya pecah, bercampur kenikmatan yang menghancurkan kesadarannya. Tubuh Hanna bergetar, tangannya mengepal, menghantam punggung Liam dengan pukulan lemah. Itu bukan perlawanan, melainkan letupan frustrasi—marah pada dirinya, takut akan akibat, tapi tak kuasa melepaskan diri dari sensasi yang meremukkan akal sehatnya.
Bagaimana bisa ia jatuh sejauh ini? Bagaimana bisa Hanna—perempuan yang selalu rasional—menyerahkan dirinya pada pria yang bahkan tak benar-benar ia kenal? Ia hanya ingat. Ini adalah Liam. Professor pula. Orang yang dulu ia lawan di forum, dalam debat panas yang berakhir tanpa pemenang.
“Bagaimana kamu bisa ada di sini?!” suaranya sekali lagi. “Pertanyaanku—kenapa kamu ada di apartemenku?!” Nada Hanna meninggi, getir, nyaris putus asa.
Liam menatapnya datar. “Pertanyaannya harusnya untukmu. Ini apartemen saudari tiriku. Aku sudah menginap sejak kemarin.”
“Apa?!” Hanna hampir histeris.
Jarak di antara mereka menipis tanpa ia sadari. Dan tiba-tiba, tanpa pengantar, bibir Liam menemuinya.
Ciuman itu bukan lembut, Hanna mendapati dirinya goyah, bukan karena kalah argumen, melainkan karena terseret arus. Ia memukul dadanya pelan, berniat menolak, namun jemarinya justru berhenti di kerah kemejanya—terbakar rasa penasaran pada tatapan yang berani menantangnya di forum, pada logika yang dengan kejam menggoyahkan keyakinannya.
“Tolong puaskan aku. Rasanya di bawah ini sesak.” katanya dengan mata yang menggantung. Aroma alkohol menyeruak kala ciuman itu terlepas.
Dunia seakan runtuh di hadapannya. Ini bukan sekadar bencana—ini “malapetaka berlapis”.
Pertama, kenyataan absurd— Profesor Liam adalah anak dari ayah tirinya.
Kedua, dosa yang baru saja mereka lakukan—tak mungkin ditarik kembali.
Ketiga, yang paling mematikan—ia lupa mengaktifkan alarm KB.
Risiko hamil mungkin kecil, tapi bukan itu yang menghantamnya paling keras. Yang ia takuti adalah kutukan yang sudah diperingatkan sejak usia tujuh belas– jika berhubungan tanpa perlindungan dengan pria yang bukan jodohnya, tubuhnya bisa terikat, terjerat dalam ketergantungan seksual yang tak bisa diputus.
Namun, Hanna tahu itu sejatinya bukan kutukan. Bukan takhayul. Itu adalah konsekuensi nyata dari sistem implan alarm KB—sebuah ciptaan dingin dan kejam yang ditanamkan di tubuh setiap perempuan Valthera. Tujuannya sederhana tapi menakutkan—memastikan setiap orang tetap setia pada pasangan yang sudah ditentukan negara.
Jika aturan itu dilanggar, implan tidak melindungi, melainkan mengikat. Tubuh akan mengenali pria pertama yang menyentuhnya sebagai “pusat loyalitas biologis,” memaksa perasaan dan gairah untuk tunduk padanya, entah suka atau tidak.
Hanna sadar, tubuhnya telah memilih Profesor Liam. Padahal jodohnya sudah ditentukan semenjak usia tujuh belas tahun—seseorang yang seharusnya menjadi satu-satunya pusat kesetiaan biologisnya.
Kesadaran itu menampar lebih keras dari air panas yang mengguyur kulitnya. Ia tidak hanya melanggar aturan, ia telah merusak takdir yang dipaksakan negara padanya. Dan konsekuensinya… tidak akan berhenti di sini.
Hanna merasakan sesuatu yang lebih menyeramkan daripada sekadar kehilangan kontrol barusan. Seolah ada mekanisme halus di dalam tubuhnya yang terpicu, bergerak perlahan, namun pasti.
Implan alarm KB yang seharusnya ia aktifkan pagi tadi—alat kecil yang ditanam di bawah tulang selangka sejak ia berusia tujuh belas—bukan hanya berfungsi sebagai pengatur kesuburan. Lebih dari itu, teknologi itu dirancang sebagai penjaga kesetiaan. Negara menyebutnya “sistem loyalitas biologis” Sebuah program yang memastikan setiap warga tetap setia pada pasangan yang telah ditentukan demi kestabilan populasi Valthera.
Jika sistem itu gagal diaktifkan, tubuh akan mencatat “kontak pertama” dengan pria yang bukan jodohnya sebagai pemicu ikatan. Reaksinya tidak langsung terasa seperti sakit, melainkan jauh lebih licik—pelepasan hormon pengikat yang mengikat syaraf otak, menciptakan ketergantungan seksual dan emosional pada pria itu.
Dan sekarang, Hanna merasakan sinyal-sinyal samar mulai menjalari tubuhnya. Degup jantungnya terlalu cepat, bukan sekadar karena gairah tadi, tapi seperti ada denyut baru yang sinkron dengan ritme napas Liam. Aroma tubuhnya menempel di indera penciumannya, tak bisa ia usir. Bahkan setelah Liam melepaskannya, tubuh Hanna masih mencari, masih merindukan sentuhan yang barusan menghancurkannya.
Ini bukan cinta. Bukan pilihan. Ini adalah belenggu halus yang diprogram masuk ke dalam dagingnya sendiri.
Ketakutan itu merayap, menyatu dengan sisa kenikmatan yang masih menghantui syarafnya. Hanna tahu, sejak detik itu, ia mungkin takkan pernah bisa lepas dari Profesor Liam—bukan karena ia mau, melainkan karena tubuhnya sudah dipaksa untuk setia pada pria yang salah.
Dan yang paling ironis—pria itu adalah anak dari ayah tirinya.
Hanna sampai di pelaminan. Lily menempatkan tangan Hanna di tangan Liam, lalu mencium pipi keduanya sebelum bergabung dengan lingkaran. Leo diangkat oleh Kaela untuk menyaksikan dari barisan depan.Jujur saja, sebenarnya moment ini sangat mendebarkan.Elian melangkah maju. Suaranya yang dalam dan tenang mengisi keheningan yang khidmat."Kita berkumpul hari ini bukan hanya untuk menyatukan dua insan, tetapi untuk merayakan sebuah pilihan. Pilihan untuk mencintai di tengah ketidakpastian, untuk membangun di atas puing-puing, dan untuk percaya pada ikatan yang lebih kuat dari semua rekayasa."Dia menoleh kepada Liam dan Hanna. "Liam, Hanna, kalian telah melalui api ujian dan datang ke sini, lebih kuat dan lebih jelas tentang apa yang penting. Apakah kalian datang dengan bebas dan dengan sepenuh hati untuk menyatukan hidup kalian?""Ya," jawab mereka berdua serentak, suara mereka mantap.Elian mengulurkan sebuah tali yang terbuat dari tiga helai serat berbeda: satu dari akar Pohon Kehidup
Musim dingin pertama di Oasis datang dengan kelembutan. Salju turun jarang, hanya memberi lapisan tipis seperti gula halus di atap-atap kayu dan dedaunan Pohon Kehidupan yang tetap berkilauan dengan cahaya perak kehijauannya. Di dalam pondok, kehangatan dari perapian dan cinta membuat udara terasa nyaman.Suatu malam, setelah Leo tertidur dengan pipi merah merona, Hanna dan Liam duduk berhadapan di dekat api. Liam memegang tangan Hanna, jempolnya mengusap-usap cincin sederhana dari anyaman akar willow yang dia buat sendiri."Kita bicara tentang pernikahan sejak di Rensfold," kata Liam, suaranya rendah dan penuh arti. "Lalu semuanya kacau. Kita dikejar, ketakutan, melahirkan dalam pelarian... dan kemudian kita punya waktu bernapas di sini."Hanna tersenyum, matanya berbinar diterpa cahaya api. "Dan sekarang?""Dan sekarang," Liam menghela napas, tapi senyum kecil mengembang di bibirnya, "aku melihat data terbaru dari Valthera."Hanna mengerutkan kening. "Data?""GAIA sukses besar. Keta
Kertas dari Julian O'Hara terbentang di atas meja kayu, diterangi cahaya matahari pagi yang hangat. Liam memandanginya bukan sebagai seorang ilmuwan yang menganalisis data, tetapi sebagai seorang anak laki-laki yang akhirnya mendapat pesan dari ayahnya. Sketsa lingkaran-lingkaran yang saling bertautan itu bukan sekadar diagram; itu adalah sebuah puisi visual, sebuah visi yang diwariskan.Elian, yang diundang untuk melihatnya, berdiri di samping Liam, jari-jarinya yang keriput menelusuri garis-garis tinta. "Ini… ini adalah jantung dari Pohon Kehidupan," gumamnya, takjub. "Tapi lebih dari itu. Ini adalah cetak biru untuk sebuah ekosistem yang sadar dan saling terhubung. Ayahmu melihat lebih jauh dari sekadar genetika tanaman. Dia melihat pola kesadaran itu sendiri."Hanna, sambil mendukung Leo yang sedang aktif bergerak di pangkuannya, bertanya, "Apa artinya bagi kita? Bagi Oasis?"Liam menghela napas, mengumpulkan pikirannya. "Artinya, kita tidak hanya bisa bertahan hidup di sini. Kita
Hembusan angin musim gugur membawa udara segar beraroma daun kering ke dalam rumah pondok. Hanna sedang duduk di lantai, mengawasi Leo yang asyik menjelajahi mainan-mainan kayu buatan tangan. Liam sibuk di meja kecilnya, mempelajari catatan tanaman dari para tetua Oasis. Suasana tenang itu tiba-tiba pecah saat Lily, yang biasanya lebih banyak diam, menarik napas dalam dan berkata dengan suara penuh keyakinan:“Aku ingin bertemu dengan Julian.”Hanna menoleh, pandangannya bertemu dengan mata ibunya yang berkilat. “Mama…,” bisiknya, tahu betul kompleksitas dan risiko permintaan itu.“Aku tahu, Sayang,” ujar Lily sebelum Hanna menyelesaikan kalimatnya. “Tapi dia masih suamiku. Secara hukum, secara hati. Dan setelah semua yang terjadi… setelah mengetahui tentang Leo… aku merasa dia berhak tahu. Bahwa ada secercah cahaya dari garis keturunan O’Hara yang terus bersinar.” Tangannya gemetar saat membetulkan kerudungnya. “Ini bukan hanya tentang Julian. Ini tentang memberikan penutup… atau mu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore