LOGIN⚠️ 18+ ONLY "Berlutut. Buka kakimu lebar-lebar. Dan jangan berharap aku berhenti sebelum rahimmu penuh dengan benihku — benih yang akan melahirkan monster dan menghancurkan dunia." Alana melarikan diri dari siksaan Rogue King, lalu terjatuh ke tangan tiga predator yang lebih buas. Xavier, Supreme Alpha berdarah dingin yang feromonnya beraroma kayu bakar dan dosa. Bastian dan Julian, kembar sahabatnya yang menyimpan obsesi gila sejak usia tiga belas — saat feromon Alana pertama kali meledak dan meracuni darah mereka hingga gila. Mereka tidak meminta maaf. Mereka membuat pakta setan. Satu rahim. Tiga Alpha. Bergantian. Bersamaan. Tanpa batas. Alana tidak diminta. Alana tidak setuju. Alana hanya diberitahu bahwa tubuhnya adalah milik bersama. Dia adalah Omega Murni — spesies mitos yang dianggap kutukan. Feromonnya membuat Alpha menjadi binatang. Tubuhnya adalah medan perang. Setiap sentuhan adalah perang kimia. Setiap orgasme yang dipaksa adalah pengkhianatan terdalam. Dia benci mereka. Tapi rahimnya berkhianat. Kakinya terbuka. Basah. Dan dia tidak bisa berhenti merindukan gigitan mereka. Ini bukan cinta. Ini perang di mana satu-satunya cara bertahan adalah menjadi lebih monster dari para predator yang mengklaimnya. Tapi Alana sudah belajar. Rahimnya adalah takhta. Feromonnya adalah rantai. Dan ketiga Alpha paling berbahaya di dunia ini akan berlutut, memohon, dan mati — di atas tubuhnya atau di bawah kakinya. Kau sudah kucicipi. Sekarang bayar, atau mati dalam nafsu yang tak pernah usai.
View MoreSatu langkah lagi, dan jika aku menyerah sekarang, belenggu besi Raja Buangan akan menyeretku kembali ke neraka bawah tanahnya.
Hujan badai menghantam punggungku yang hancur.
Rasa perih luar biasa menjalar saat air hujan bercampur lumpur mengoyak kembali luka cambukan perak—siksaan yang sengaja dirancang khusus untuk menjinakkan serigala keras kepala sepertiku.
Aku harus bertahan.
Hanya wilayah Kawanan Bloodmoon di depan sana yang bisa menyelamatkanku dari kejaran para pemburu itu.
Namun lututku bergetar hebat. Napas yang keluar dari tenggorokanku terasa seperti pasir kering.
Tepat saat kesadaranku mulai terkikis di batas hutan pinus, sebuah bayangan tinggi membelah kabut malam.
Aroma tajam kayu pinus basah langsung menyerbu indra penciumanku yang sensitif.
Pria itu mendadak berbalik. Sepasang matanya menyala emas dalam kegelapan, mengunci sosokku yang malang.
Aku kehilangan keseimbangan, tubuhku limbung dan langsung menabrak dadanya yang sekeras batu dan luar biasa panas.
"Alana? Kau... masih hidup?"
Suara berat itu milik Bastian, putra sulung Alpha Kawanan Bloodmoon.
"Bastian... tolong aku... mereka mengejarku..." desisku, mencengkeram kemejanya yang basah sebelum duniaku berputar hebat.
Sepasang lengan kokoh langsung melingkari pinggangku, merenggutku dari tanah berlumpur ke dalam dekapannya yang posesif.
Rahang Bastian mengeras, napasnya memburu cepat saat kepalanya menunduk, mengendus leherku dengan liar.
"Sialan, Alana! Aroma vanilamu... kau mengalami heat? Tubuhmu sudah matang sebagai Omega Murni!" bisik Bastian dengan suara parau yang dipenuhi gairah purba.
"Bastian, lepaskan... luka di punggungku..." rintihku, mencoba mendorong dadanya yang membara.
"Diamlah! Kau aman bersamaku sekarang. Aku tidak akan membiarkan jantan mana pun menyentuh kulitmu setelah malam ini," geramnya, mempererat cengkeramannya seolah aku adalah jarahan miliknya.
"Turunkan dia sekarang juga, Bastian. Kau mempermalukan kawanan kita."
Sebuah suara sedingin es memotong langkah kami.
Dari balik kegelapan gerbang bagian dalam, Julian—saudara laki-laki Bastian—muncul dengan langkah anggun. Dia berdiri tegak, memutar cincin peraknya dengan tatapan penuh perhitungan yang membuat bulu kudukku berdiri.
"Dia terluka parah, Julian! Minggir dari jalanku!" bentak Bastian, matanya berkilat menantang saudaranya sendiri.
"Aku tahu dia terluka," sahut Julian tenang, melangkah mendekat tanpa suara. "Tapi membawanya seperti budak pemuas nafsu hanya akan menurunkan martabat kita di mata para pengawal."
Tanpa peringatan, ujung jari Julian yang sedingin es menyentuh luka menganga di punggungku.
"Aaakh! Perih! Jangan sentuh aku!" tangisku pecah, air mata bercampur air hujan meleleh di pipiku.
"Cambukan perak murni," gumam Julian dingin, menatap ujung jarinya yang bernoda darahku tanpa empati sedikit pun. "Raja Buangan tidak akan menggunakan senjata sefatal ini jika dia bukan Omega Murni yang membawa rahasia besar."
Julian menatapku, senyum tipis yang penuh ancaman terukir di bibirnya. "Selamat datang kembali di rumah, Alana. Fase Satu rencana kita akhirnya dimulai."
"Apa maksudmu, Julian?!" tanyaku panik, rasa takut mendadak mengalahkan rasa sakit di tubuhku.
Namun Julian tidak menjawab. Dia hanya menoleh, memberi isyarat tak kasat mata.
Seketika itu juga, atmosfer di sekitar halaman gerbang mendadak menjadi sangat tebal.
Udara seolah tersedot habis. Paru-paruku mendadak lumpuh, membuatku kesulitan bernapas.
Satu per satu, para pengawal kawanan yang bertubuh raksasa langsung berlutut serentak di atas lumpur basah.
"Bastian... ada apa ini?" bisikku ketakutan.
Tubuh tegap Bastian yang tadinya begitu mendominasi mendadak kaku, wajahnya pucat pasi seolah seluruh darahnya baru saja terkuras habis.
"Ayah..." desis Bastian dengan suara gemetar.
BRAAAK!
Pintu gerbang kayu bagian dalam hancur berkeping-keping.
Sesosok serigala hitam raksasa setinggi dua meter melompat keluar dari balik kabut debu reruntuhan. Bulunya sehitam jelaga, tanpa ada satu pun warna lain di tubuh besarnya.
Sepasang mata merah darahnya menyala terang dalam kegelapan, mengunci pandanganku secara mutlak.
Aura Alpha Tertinggi yang terpancar dari tubuhnya begitu pekat, menekan habis seluruh insting serigala di dalam diriku hingga aku ingin berlutut dan memohon ampun.
Namun, ada sisa harga diri di dalam darahku yang menolak untuk tunduk. Aku mengatupkan rahang, memaksa mataku tetap menatap balik sepasang mata merah itu meski seluruh tubuhku bergetar hebat.
Serigala raksasa itu menggeram rendah, lalu berubah wujud menjadi manusia dalam sekejap mata.
Xavier.
Alpha Tertinggi dari Kawanan Bloodmoon berdiri tegak di bawah guyuran hujan tanpa selembar benang pun. Tubuh kekarnya dipenuhi bekas luka pertempuran, memancarkan dominasi yang mutlak dan berbahaya.
Bastian terpaksa menjatuhkanku ke tanah berlumpur karena tidak kuat menahan tekanan feromon ayahnya sendiri.
Aku merosot pasrah di pilar batu, terengah-engah.
Xavier melangkah mendekat perlahan. Setiap hentakan kakinya terasa seperti detak jantung kematian bagiku. Tubuh raksasanya yang setinggi hampir dua meter sepenuhnya menutupi pandanganku dari dunia luar.
Tangan besarnya yang kasar menangkup rahangku, lalu mencengkeramnya dengan kekuatan baja hingga aku terpaksa mendongak menatap mata merahnya yang berkilat liar.
"Kau membawa bau bahaya yang sangat pekat, Omega," bisik Xavier dengan suara berat yang menggetarkan tulang rusukku.
Di bawah cengkeramannya yang menyakitkan, perut bagian bawahku mendadak berdenyut hangat. Saraf biologis Omega-ku mendadak berteriak histeris, menginginkan sentuhan dari Alpha dominan yang ada di depanku ini. Sialan, tubuhku mengkhianatiku di saat hidupku berada di ujung tanduk.
Xavier mencondongkan wajahnya yang tampan namun kejam, bibirnya hampir menyentuh telingaku saat dia berbisik dingin:
"Bau busuk Raja Buangan melekat erat di tubuhmu, Alana. Dan caraku memperlakukan mata-mata yang menyusup ke wilayahku adalah dengan—"
Cahaya fajar yang pucat menembus celah dinding kabin. Kulitku sudah tidak bisa membedakan antara suhu beku di luar atau hawa panas di dalam ruangan. Seluruh persendianku kebas setelah enam hari berturut-turut menerima gempuran fisik mereka.Aku berbaring terlentang di tengah ranjang kulit beruang. Lenganku tidak memiliki sisa tenaga untuk bergeser satu sentimeter pun. Napasku berembus pendek, sementara mataku menatap langit-langit kabin kayu yang mulai buram."Siklus gairah biologisnya akan mereda malam ini," sebuah suara datar terdengar dari ujung ranjang.Aku melirik perlahan. Xavier berdiri mengikat rambut peraknya yang acak-acakan. Alpha Tertinggi itu menatap lurus ke arah selangkanganku yang membengkak merah dengan tatapan penuh otoritas."Kita harus memberikan segel penguncian terakhir sebelum dinding rahimnya menutup sepenuhnya," lanjut Xavier merayap naik ke atas kasur."Apakah kita harus melakukannya secara beruntun tanpa jeda, Ayah?" tanya Bastian dari arah perapian batu.Ba
Udara malam di dalam kabin kayu terasa jauh lebih tenang dari malam-malam sebelumnya. Badai salju di luar sana mulai mereda, menyisakan keheningan yang terasa mengisolasi saraf pendengaranku.Aku berbaring miring di atas ranjang kulit beruang hitam. Mataku menatap nyala api perapian yang menari-nari redup memecah kegelapan. Tubuhku masih lemas, namun akal sehatku sudah jauh lebih jernih malam ini.Sebuah bayangan raksasa bergerak mendekati sisi ranjang dengan langkah tanpa suara. Aku menoleh perlahan. Bastian berdiri di sana dengan pupil mata keemasan yang terlihat suram.Pria yang biasanya dipenuhi amarah teritorial itu kini tampak dipenuhi keraguan. Dia tidak mengenakan kemeja, hanya celana panjang hitam yang membungkus kaki kokohnya.Bastian berlutut di tepi ranjang. Dia perlahan merangkak mendekatiku tanpa melepaskan pandangannya dari wajahku yang pucat."Kau belum tidur, Alana?" tanya Bastian. Suaranya sangat rendah, terdengar seperti geraman serak di tenggorokan."Bagaimana aku
Rasa perih yang luar biasa menjalar ke seluruh persendianku saat kelopak mataku terbuka perlahan. Sisa-sisa kegilaan Penyatuan Tiga Alpha kemarin masih berdenyut nyata di setiap jengkal kulitku yang memar.Aku mencoba menggeser lenganku, namun ototku terasa kaku dan mati rasa. Di sudut ruangan, uap hangat mengepul tinggi dari sebuah bak mandi kayu besar yang telah terisi penuh."Jangan bergerak terlalu banyak, Alana," sebuah suara berat bergema lembut memecah kesunyian.Xavier berdiri di sisi ranjang dengan sehelai kain bersih di tangannya. Alpha Tertinggi itu tidak memancarkan dominasi yang menekan, melainkan keheningan yang suram dan menenangkan."Tubuhku... sangat sakit, Xavier," rintihku dengan suara parau yang hampir tak terdengar."Aku tahu," sahut Xavier membungkuk. Dia mengangkat tubuh mungilku dari ranjang dengan gerakan yang sangat hati-hati.Aku tidak memiliki sisa agensi untuk menolak saat dia membawaku mendekati bak mandi kayu itu. Air di dalamnya berwarna kecokelatan, di
Uap panas di dalam kabin kecil ini mencekik rongga tenggorokanku. Aroma vanila tubuhku yang meledak liar beradu dengan feromon kasturi pekat milik tiga pria yang mengepung ranjang.Aku mencoba meremas seprai kulit beruang di bawah punggungku. Namun, sisa tenagaku sudah habis terkuras.Tubuhku terus bergetar tanpa henti. Demam masa subur mendidih di dalam darahku seiring datangnya hari keempat siklus maut ini.Julian berdiri di sisi kiriku. Cengkeraman tangannya yang sedingin es mengunci kedua pergelangan tanganku ke atas ranjang hingga aku tidak bisa meronta."Suhu tubuhnya sudah melewati batas aman untuk proses pematangan sel telur," ucap Julian. Suaranya bergetar hebat didera gairah biologis. "Dia bisa mati jika kita bertindak ceroboh.""Persetan dengan analisismu, Julian!" bentak Bastian. Dia merangkak naik dari ujung ranjang dengan pupil mata yang menyempit liar."Saraf serigalaku terus mendidih sejak kemarin. Aku harus memasukinya sekarang juga!" lanjut Bastian menarik paksa paha
"Jangan! Hentikan!" pekikku.Aku terbangun dengan napas pendek. Dadaku naik turun dengan cepat.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku.Aku meraba permukaan kasur beludru hitam di bawahku dengan jari gemetar.Mimpi buruk itu masih terasa sangat nyata.Penjara bawah tanah yang dingin
Bastian menendang pintu kamar perawatan sayap barat hingga jebol.Suara benturan kayu ek terdengar keras memenuhi koridor istana yang sepi.Dia menggendongku melewati ambang pintu dengan langkah lebar."Letakkan dia di ranjang, Tuan Muda! Kami sudah menyiapkan ramuannya," ucap seorang pelayan wanit
Lumpur merendam kakiku. Bekas cambukan besi di punggungku robek kembali akibat hujan.Kakiku kebas. Darah merembes membasahi tanah basah di perbatasan hutan."Aku harus bertahan," desisku pelan.Hujan deras menghantam punggungku yang terluka parah. Sisa gaun malamku hancur.Raja Buangan tidak boleh
"Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.