LOGINAlana melarikan diri dari siksaan Rogue King, tetapi justru jatuh ke tangan tiga Alpha yang jauh lebih berbahaya. Xavier, Supreme Alpha berdarah dingin, serta Bastian dan Julian, dua saudara kembar yang telah lama menyimpan obsesi terhadapnya. Sebagai Omega Murni, spesies langka yang dianggap sebagai kutukan, Alana memiliki feromon yang mampu membuat para Alpha kehilangan kendali. Ketiganya bertekad menjadikan Alana milik mereka, tanpa memberinya kesempatan untuk menentukan pilihan. Namun, Alana bukan wanita yang mudah ditaklukkan. Setelah semua penderitaan yang dialaminya, ia bersumpah tak akan lagi menjadi korban. Dengan kekuatan yang dimilikinya, Alana bertekad membalikkan keadaan hingga ketiga Alpha paling berbahaya itu justru berlutut di hadapannya.
View MoreSatu langkah lagi, dan jika aku menyerah sekarang, belenggu besi Raja Buangan akan menyeretku kembali ke neraka bawah tanahnya.
Hujan badai menghantam punggungku yang hancur.
Rasa perih luar biasa menjalar saat air hujan bercampur lumpur mengoyak kembali luka cambukan perak—siksaan yang sengaja dirancang khusus untuk menjinakkan serigala keras kepala sepertiku.
Aku harus bertahan.
Hanya wilayah Kawanan Bloodmoon di depan sana yang bisa menyelamatkanku dari kejaran para pemburu itu.
Namun lututku bergetar hebat. Napas yang keluar dari tenggorokanku terasa seperti pasir kering.
Tepat saat kesadaranku mulai terkikis di batas hutan pinus, sebuah bayangan tinggi membelah kabut malam.
Aroma tajam kayu pinus basah langsung menyerbu indra penciumanku yang sensitif.
Pria itu mendadak berbalik. Sepasang matanya menyala emas dalam kegelapan, mengunci sosokku yang malang.
Aku kehilangan keseimbangan, tubuhku limbung dan langsung menabrak dadanya yang sekeras batu dan luar biasa panas.
"Alana? Kau... masih hidup?"
Suara berat itu milik Bastian, putra sulung Alpha Kawanan Bloodmoon.
"Bastian... tolong aku... mereka mengejarku..." desisku, mencengkeram kemejanya yang basah sebelum duniaku berputar hebat.
Sepasang lengan kokoh langsung melingkari pinggangku, merenggutku dari tanah berlumpur ke dalam dekapannya yang posesif.
Rahang Bastian mengeras, napasnya memburu cepat saat kepalanya menunduk, mengendus leherku dengan liar.
"Sialan, Alana! Aroma vanilamu... kau mengalami heat? Tubuhmu sudah matang sebagai Omega Murni!" bisik Bastian dengan suara parau yang dipenuhi gairah purba.
"Bastian, lepaskan... luka di punggungku..." rintihku, mencoba mendorong dadanya yang membara.
"Diamlah! Kau aman bersamaku sekarang. Aku tidak akan membiarkan jantan mana pun menyentuh kulitmu setelah malam ini," geramnya, mempererat cengkeramannya seolah aku adalah jarahan miliknya.
"Turunkan dia sekarang juga, Bastian. Kau mempermalukan kawanan kita."
Sebuah suara sedingin es memotong langkah kami.
Dari balik kegelapan gerbang bagian dalam, Julian—saudara laki-laki Bastian—muncul dengan langkah anggun. Dia berdiri tegak, memutar cincin peraknya dengan tatapan penuh perhitungan yang membuat bulu kudukku berdiri.
"Dia terluka parah, Julian! Minggir dari jalanku!" bentak Bastian, matanya berkilat menantang saudaranya sendiri.
"Aku tahu dia terluka," sahut Julian tenang, melangkah mendekat tanpa suara. "Tapi membawanya seperti budak pemuas nafsu hanya akan menurunkan martabat kita di mata para pengawal."
Tanpa peringatan, ujung jari Julian yang sedingin es menyentuh luka menganga di punggungku.
"Aaakh! Perih! Jangan sentuh aku!" tangisku pecah, air mata bercampur air hujan meleleh di pipiku.
"Cambukan perak murni," gumam Julian dingin, menatap ujung jarinya yang bernoda darahku tanpa empati sedikit pun. "Raja Buangan tidak akan menggunakan senjata sefatal ini jika dia bukan Omega Murni yang membawa rahasia besar."
Julian menatapku, senyum tipis yang penuh ancaman terukir di bibirnya. "Selamat datang kembali di rumah, Alana. Fase Satu rencana kita akhirnya dimulai."
"Apa maksudmu, Julian?!" tanyaku panik, rasa takut mendadak mengalahkan rasa sakit di tubuhku.
Namun Julian tidak menjawab. Dia hanya menoleh, memberi isyarat tak kasat mata.
Seketika itu juga, atmosfer di sekitar halaman gerbang mendadak menjadi sangat tebal.
Udara seolah tersedot habis. Paru-paruku mendadak lumpuh, membuatku kesulitan bernapas.
Satu per satu, para pengawal kawanan yang bertubuh raksasa langsung berlutut serentak di atas lumpur basah.
"Bastian... ada apa ini?" bisikku ketakutan.
Tubuh tegap Bastian yang tadinya begitu mendominasi mendadak kaku, wajahnya pucat pasi seolah seluruh darahnya baru saja terkuras habis.
"Ayah..." desis Bastian dengan suara gemetar.
BRAAAK!
Pintu gerbang kayu bagian dalam hancur berkeping-keping.
Sesosok serigala hitam raksasa setinggi dua meter melompat keluar dari balik kabut debu reruntuhan. Bulunya sehitam jelaga, tanpa ada satu pun warna lain di tubuh besarnya.
Sepasang mata merah darahnya menyala terang dalam kegelapan, mengunci pandanganku secara mutlak.
Aura Alpha Tertinggi yang terpancar dari tubuhnya begitu pekat, menekan habis seluruh insting serigala di dalam diriku hingga aku ingin berlutut dan memohon ampun.
Namun, ada sisa harga diri di dalam darahku yang menolak untuk tunduk. Aku mengatupkan rahang, memaksa mataku tetap menatap balik sepasang mata merah itu meski seluruh tubuhku bergetar hebat.
Serigala raksasa itu menggeram rendah, lalu berubah wujud menjadi manusia dalam sekejap mata.
Xavier.
Alpha Tertinggi dari Kawanan Bloodmoon berdiri tegak di bawah guyuran hujan tanpa selembar benang pun. Tubuh kekarnya dipenuhi bekas luka pertempuran, memancarkan dominasi yang mutlak dan berbahaya.
Bastian terpaksa menjatuhkanku ke tanah berlumpur karena tidak kuat menahan tekanan feromon ayahnya sendiri.
Aku merosot pasrah di pilar batu, terengah-engah.
Xavier melangkah mendekat perlahan. Setiap hentakan kakinya terasa seperti detak jantung kematian bagiku. Tubuh raksasanya yang setinggi hampir dua meter sepenuhnya menutupi pandanganku dari dunia luar.
Tangan besarnya yang kasar menangkup rahangku, lalu mencengkeramnya dengan kekuatan baja hingga aku terpaksa mendongak menatap mata merahnya yang berkilat liar.
"Kau membawa bau bahaya yang sangat pekat, Omega," bisik Xavier dengan suara berat yang menggetarkan tulang rusukku.
Di bawah cengkeramannya yang menyakitkan, perut bagian bawahku mendadak berdenyut hangat. Saraf biologis Omega-ku mendadak berteriak histeris, menginginkan sentuhan dari Alpha dominan yang ada di depanku ini. Sialan, tubuhku mengkhianatiku di saat hidupku berada di ujung tanduk.
Xavier mencondongkan wajahnya yang tampan namun kejam, bibirnya hampir menyentuh telingaku saat dia berbisik dingin:
"Bau busuk Raja Buangan melekat erat di tubuhmu, Alana. Dan caraku memperlakukan mata-mata yang menyusup ke wilayahku adalah dengan—"
Suara deburan keras marmer yang hancur kembali memekakkan telingaku malam ini. Tubuh raksasa Xavier menghantam pilar batu altar dengan kekuatan murni Supreme Alpha."Kau sudah tua, Ayah! Sadarlah bahwa taring perakmu tidak bisa menahanku lagi!" teriak Bastian dengan taring emas yang memanjang sepenuhnya. Bastian menerjang maju kembali, mengabaikan rahang kirinya yang baru saja robek dan mengucurkan darah segar."Tutup mulutmu yang lancang itu, Bastian! Supreme Alpha paruh baya ini masih bisa mematahkan lehermu dalam sekali ayunan!" balas Xavier dengan geraman berat. Supreme Alpha itu memutar tubuhnya menghindari terkaman liar putranya dengan gerakan lincah."Jangan lupakan keberadaanku di sini, saudaraku. Sains membuktikan gen kita yang paling siap untuk Alana!" teriak Julian dari kegelapan sisi pilar. Julian melompat dengan belati perak tajam di bawah temaram obor aula pertemuan yang redup.Aku mencengkeram perut bawahku yang rata saat rasa nyeri tiba-tiba meremas rahimku dengan sang
Raungan liar Bastian mengguncang fondasi aula pertemuan malam ini. Suara itu memantul di antara pilar-pilar batu tinggi, menciptakan gema yang memekakkan telinga.Di bawah tatapan dingin patung serigala perak raksasa di altar utama, Bastian menerjang maju tanpa ragu. Cakar emasnya yang tajam mengarah lurus ke dada bidang Xavier yang tidak terlindungi jubah."Mundur, Bastian!" teriak Xavier dengan suara berat yang bergemuruh penuh dominasi. Alpha Tertinggi paruh baya itu tidak bergeser satu inci pun dari posisinya berdiri.Dengan kecepatan monster yang luar biasa, Xavier mengayunkan lengan besarnya untuk menangkis terkaman putranya. Benturan keras antara dua kekuatan fisik murni itu memercikkan suara debukan yang sangat mengerikan.Xavier menghindari cakar Bastian, lalu mendaratkan satu pukulan mentah tepat di rahang kiri Bastian. Suara retakan tulang terdengar sangat renyah bersamaan dengan tubuh Bastian yang terlempar menghantam lantai marmer."Akh!" geram Bastian sembari memuntahkan
Gigi sisir kayu yang tajam menggaruk kulit kepalaku dengan ritme yang lambat. Di depan cermin rias perunggu yang buram, aku menatap pantulan wajahku yang pucat.Mataku bergerak turun ke arah bahu kanan yang masih menyisakan keropeng samar bekas gigitan Xavier tempo hari. Namun, leherku masih terlihat sangat polos dan mulus tanpa ada tanda permanen dari siapa pun.Satu bulan telah berlalu sejak pembantaian dewan dan kematian Valerius di perbatasan utara. Pagi hari ini, batas waktu masa damai satu bulan yang kami sepakati resmi berakhir sepenuhnya.Aku mengembuskan napas panjang, merasakan ketegangan yang mendadak merayap ke dalam seluruh isi kamar tidur utama. Aroma udara di sekelilingku terasa sangat sesak dan panas secara tidak wajar sejak fajar menyingsing."Kau menyisir rambutmu terlalu lama, Alana," suara berat Bastian memecah keheningan dari arah belakang. Bastian melangkah mendekat, membiarkan dadanya yang bidang hampir menyentuh punggung jubah sutra abu-abu yang kukenakan.Aku
Bau tajam herbal antiseptik menusuk hidungku begitu kelopak mataku terbuka perlahan. Cahaya temaram dari lampu minyak yang tergantung di tiang tenda medis membuat kepalaku terasa sedikit pening.Aku berusaha menyandarkan tubuhku pada tumpukan bantal tebal di ranjang darurat ini. Gerakan kecil itu langsung mengirimkan rasa perih dari pergelangan tanganku yang terluka.Luka lecet merah keunguan bekas gesekan rantai brankas baja kemarin tampak sangat jelas. Kulitku yang pucat kini dihiasi bekas memar yang masih terasa berdenyut nyeri.Sesosok pria berambut hitam legam tampak berlutut dengan lutut langsung menyentuh lantai tanah yang dingin. Julian menundukkan wajahnya sangat dalam, menempelkan keningnya tepat di atas lutut gaun abu-abu yang kukenakan.Bahu kokohnya bergetar hebat tanpa suara, memancarkan aura keputusasaan yang sangat pekat. Sepasang tangannya yang biasanya dingin kini terasa hangat saat meraba perlahan bekas luka rantai di pergelangan tanganku.Aku merasakan beberapa tet
"Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen
Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k
"Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A
Seretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih."Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku."Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu,"






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.