Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha

Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha

last updateLast Updated : 2026-06-08
By:  SurjellyOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
4views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

⚠️ 18+ ONLY "Berlutut. Buka kakimu lebar-lebar. Dan jangan berharap aku berhenti sebelum rahimmu penuh dengan benihku — benih yang akan melahirkan monster dan menghancurkan dunia." Alana melarikan diri dari siksaan Rogue King, lalu terjatuh ke tangan tiga predator yang lebih buas. Xavier, Supreme Alpha berdarah dingin yang feromonnya beraroma kayu bakar dan dosa. Bastian dan Julian, kembar sahabatnya yang menyimpan obsesi gila sejak usia tiga belas — saat feromon Alana pertama kali meledak dan meracuni darah mereka hingga gila. Mereka tidak meminta maaf. Mereka membuat pakta setan. Satu rahim. Tiga Alpha. Bergantian. Bersamaan. Tanpa batas. Alana tidak diminta. Alana tidak setuju. Alana hanya diberitahu bahwa tubuhnya adalah milik bersama. Dia adalah Omega Murni — spesies mitos yang dianggap kutukan. Feromonnya membuat Alpha menjadi binatang. Tubuhnya adalah medan perang. Setiap sentuhan adalah perang kimia. Setiap orgasme yang dipaksa adalah pengkhianatan terdalam. Dia benci mereka. Tapi rahimnya berkhianat. Kakinya terbuka. Basah. Dan dia tidak bisa berhenti merindukan gigitan mereka. Ini bukan cinta. Ini perang di mana satu-satunya cara bertahan adalah menjadi lebih monster dari para predator yang mengklaimnya. Tapi Alana sudah belajar. Rahimnya adalah takhta. Feromonnya adalah rantai. Dan ketiga Alpha paling berbahaya di dunia ini akan berlutut, memohon, dan mati — di atas tubuhnya atau di bawah kakinya. Kau sudah kucicipi. Sekarang bayar, atau mati dalam nafsu yang tak pernah usai.

View More

Chapter 1

Chapter 1: Kedatangan di Tengah Hujan

Lumpur merendam kakiku. Bekas cambukan besi di punggungku robek kembali akibat hujan.

Kakiku kebas. Darah merembes membasahi tanah basah di perbatasan hutan.

"Aku harus bertahan," desisku pelan.

Hujan deras menghantam punggungku yang terluka parah. Sisa gaun malamku hancur.

Raja Buangan tidak boleh menangkapku lagi. Penjara bawah tanah dingin tidak boleh kurasakan kembali.

Hutan di perbatasan Kawanan Bloodmoon tampak sangat gelap. Pepohonan pinus menghalangi cahaya langit.

Dadaku naik turun cepat. Napas terasa sesak.

Langkah kakiku kian melemah. Lututku bergetar hebat, siap ambruk ke tanah berlumpur.

Namun, aku terus memaksa kakiku melangkah maju demi kebebasanku.

Di balik kabut hujan, sesosok bayangan tinggi berdiri tegak menantang badai.

Pria itu mengendus udara malam. Dia menangkap aroma vanila manis yang pekat.

Kepalanya mendadak berbalik tepat ke arah kedatanganku sebelum aku menyadari keberadaannya.

Dua matanya menyala emas dalam kegelapan malam yang pekat.

Pria itu mengenali aromaku dari jauh, membuat insting berburunya bangkit seketika.

Aku tidak sempat menghindar. Langkahku limbung, membuatku menabrak dadanya yang panas.

Aroma kayu pinus dan tanah basah menyerbu hidungku.

"Alana? Kau sudah pulang," bisik suara berat di depanku.

Dadanya naik turun dengan cepat, menempel ketat pada wajahku yang basah.

Aku mendongak dengan sisa kekuatan terakhir.

"Bastian... tolong aku... dia mengejarku..." desisku pelan.

Pandanganku bergoyang hebat sebelum akhirnya menjadi gelap sepenuhnya.

Bastian bergerak cepat, mencengkeram pinggangku erat sebelum aku menyentuh tanah berlumpur.

Dia menarikku ke dekapannya, menekan tubuhku pada dadanya yang kokoh.

"Siapa yang melakukan ini padamu, Alana?" geram Bastian dengan rahang mengeras tajam.

"Raja Buangan... dia menyiksaku..." bisikku lirih sebelum memejamkan mata erat.

Bastian diam. Dia mengendus ceruk leherku dengan gerakan cepat.

"Aroma vanilamu sangat kuat, Alana. Tubuhmu sudah siap untuk kuambil," bisiknya serak.

Aku mencoba mendorong dadanya yang panas menggunakan kedua tanganku yang gemetar.

"Bastian, jangan... leherku sangat perih..."

"Diamlah, Alana. Kau aman di dekapanku sekarang," jawabnya dingin.

Dia menggendong tubuhku dalam satu gerakan kuat, tidak memedulikan penolakanku yang lemah.

"Aku tidak akan membiarkan pria lain menyentuh kulitmu setelah malam ini," tegasnya posesif.

"Letakkan dia sekarang juga, Bastian," sebuah suara dingin memotong langkah kami.

Julian muncul dari balik kegelapan gerbang bagian dalam Kawanan Bloodmoon.

Pria itu berdiri tegak, memutar cincin perak di jarinya dengan perlahan.

"Dia terluka parah, Julian! Minggir dari jalanku!" bentak Bastian dengan mata berkilat marah.

"Aku tahu dia terluka. Tapi menggendongnya seperti itu hanya merendahkan martabat kawanan kita," sahut Julian.

Julian melangkah maju tanpa suara, mengamatiku layaknya spesimen berharga.

Tanpa persetujuanku, ujung jarinya yang sedingin es menyentuh luka robek berdarah di punggungku.

"Ah! Perih... jangan sentuh aku!" pekikku tertahan dengan air mata menetes deras.

"Lukanya dalam akibat cambukan perak. Tapi luka ini tidak mematikan untuk seorang Omega," ucap Julian tenang.

Dia menatap noda merah di ujung jarinya dengan tatapan hambar tanpa empati.

"Dia masih kuat berdiri. Biarkan dia berjalan dengan kakinya sendiri."

"Bastian... turunkan aku. Aku bisa berjalan sendiri," bisikku lirih.

"Jangan dengarkan dia, Alana. Kau terlalu lemah untuk menyentuh tanah berlumpur ini," tolak Bastian.

Sudut bibir Julian tertarik sebelah. Matanya tidak berkedip menatapku.

"Kau selalu bertindak bodoh jika menyangkut emosi, saudaraku."

Julian berbalik perlahan, melangkah dengan gerakan anggun. "Fase Satu berhasil," gumamnya pelan.

"Apa maksud perkataanmu, Julian?" tanyaku curiga dari balik gendongan Bastian.

Julian tidak menjawab. Dia hanya menoleh sedikit, menatapku dengan tatapan kosong yang membekukan darahku.

Tiba-tiba, seluruh udara di sekitar halaman gerbang istana mendadak terasa tebal.

Dada ku terasa sangat sesak, membuatku kesulitan untuk menarik napas segar.

Para pengawal kawanan bertubuh raksasa langsung berlutut serentak di lumpur basah.

"Bastian... ada apa ini? Kenapa aku tidak bisa menggerakkan tubuhku?" tanyaku ketakutan.

"Ayah..." desis Bastian pelan dengan wajah yang mendadak pucat pasi.

Tubuh tegapnya mendadak kaku, membeku di tempat tanpa bisa bergeser sedikit pun.

BRAAAK!

Pintu gerbang kayu bagian dalam hancur berkeping-keping akibat kekuatan fisik yang dahsyat.

Sesosok serigala hitam raksasa melompat keluar dengan anggun dari balik reruntuhan tebal.

Bulunya hitam legam tanpa ada satu pun warna lain di tubuh besarnya yang setinggi dua meter.

Sepasang mata merah darahnya menyala terang dalam kegelapan, mengunci pandanganku secara mutlak.

Aroma kayu bakar bercampur bau darah kering pekat menyapu halaman gerbang istana.

Aura Alpha Tertinggi yang terpancar dari tubuhnya menindas seluruh kesadaran makhluk hidup di sekitarnya.

Aku merasakan ketakutan luar biasa menjalar di seluruh saraf dan pembuluh darahku saat ini.

Namun, ada tiga puluh persen kekuatan penolakanku di dalam diriku yang menolak menundukkan kepala.

Aku mengatupkan rahangku, tetap menatap balik mata merah serigala raksasa itu meskipun tubuhku gemetar.

Serigala hitam raksasa itu menggeram rendah, lalu berubah wujud menjadi manusia dalam sekejap mata.

Seorang pria paruh baya berdiri tegak di bawah derasnya hujan malam tanpa busana.

Rambut peraknya basah, membingkai wajah tampannya yang memiliki garis rahang tegas dan keras.

Sepasang mata merah darahnya menatapku penuh gairah yang membakar seluruh sistem pertahanan biologisku.

Bastian terpaksa menurunkanku ke tanah berlumpur karena tidak kuat menahan aura sang ayah.

Tekanan feromon sang Alpha Tertinggi melarang keras pria lain menyentuh tubuh Omega-nya malam ini.

Aku bersandar pasrah pada tiang batu gerbang, mencoba menstabilkan napasku yang kian memburu.

Kedua lututku lemas, memaksaku berjuang sekuat tenaga untuk menopang berat badanku.

Xavier melangkah mendekat perlahan, menatapku lurus tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun.

Bayangan tubuh raksasanya yang setinggi 195 cm sepenuhnya menghalangi pandanganku di sudut halaman gerbang.

Tangan besarnya yang kasar langsung mencengkeram rahangku dengan cengkeraman baja yang sangat erat.

Dia memaksaku mendongak menatap sepasang mata merah darahnya yang berkilat liar penuh dominasi.

"Kau membawa bau bahaya yang sangat pekat, Omega," bisik Xavier dengan suara berat penuh kuasa absolut.

"Bau yang akan menghancurkan seluruh isi kawananku jika aku membiarkanmu hidup lebih lama lagi."

Aku terengah-engah tanpa mampu mengeluarkan satu patah kata pun di depan wajahnya yang terlalu dekat.

Perut bagian bawahku terus berdenyut hangat menyambut aroma kayu bakar yang mengalir dari tubuh kekarnya.

Udara terasa tebal. Dan celana dalamku basah. Tubuhku menginginkan pria yang baru saja menghancurkan dinding itu.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status