Mag-log in“Kalau kau ingin tetap hidup, rawatlah lima suami buas itu dengan cinta dan kasih sayang!” Vania terbangun di penjara bawah tanah—diracun, dicekik, dan hampir dibunuh oleh tunangannya sendiri. Lebih buruknya lagi, ia terjebak dalam tubuh Violetta, villainess kejam yang terkenal karena menyiksa lima Abyss. Untuk bertahan hidup, Vania harus membuat kelima suami buasnya itu mempercayainya, melindunginya, dan tidak membunuhnya lebih dulu.
view moreAngin kencang berhembus menabrak wajah mereka saat Gargantua melesat membelah langit. Dengan sepasang sayap magma raksasanya yang membentang gagah, raksasa batu yang kini telah berevolusi menjadi Raja Chimera itu membawa Vania dan ketiga suaminya terbang menjauhi Dataran Tandus Kimerik. Dari atas awan, Vania bisa melihat bekas kehancuran Kimerik perlahan mulai diselimuti cahaya keemasan. Berkat restu leluhur, tanah mati itu perlahan kembali hidup.Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Semakin jauh mereka terbang ke arah utara, warna langit perlahan berubah. Awan putih yang bersih tergantikan oleh gumpalan awan merah gelap yang bergulung-gulung bagai lautan darah. Di sudut pandang Vania, layar Administrator berkedip pelan.[Peringatan: Waktu tersisa 6 Hari 21 Jam.][Target: Kawah Api Hitam Draconis.]Vania menarik napas panjang. Perjalanan ini bukan lagi sekadar misi penyelamatan. Ini adalah balapan melawan kematian dan ritual gila Kaisar Asterion."Ugh... sumpah demi dewa m
Keheningan yang mencekam menyelimuti pinggiran jurang Kimerik. Angin gurun yang biasanya menderu kini seolah menahan napas, membiarkan kebenaran pahit yang diucapkan Lycan meresap ke dalam sanubari Vania. Administrator Abyss, entitas emas di balik layar sistem, tetap diam, membiarkan mereka menyusun sendiri kepingan masa lalu yang telah hancur oleh kebohongan.Vania menatap tangannya yang gemetar. "Jadi... selama ini aku membenci pihak yang salah?""Tepat sekali," sahut Lycan, suaranya parau menahan amarah. "Ras Lunaris murni hanya memiliki dua warna bulu sejak fajar peradaban: putih keperakan sepertiku atau abu-abu kebiruan. Kami tidak pernah memiliki Serigala hitam pekat. Hitam adalah warna kematian, warna kekosongan.""Lalu bagaimana mereka bisa ada?" tanya Aegir, wajah pangeran duyung itu pucat pasi.Lycan mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangan. "Mereka mengambil anak-anak Lunaris yang yatim piatu, menyuntikkan Mana Void langsung ke jantung mereka, lal
Dentuman berirama layaknya detak jantung bumi bergema membelah sunyi. Dari dasar jurang Kimerik yang pekat, anak tangga batu hitam legam terus merambat naik. Langit di atas mereka perlahan retak, memancarkan kilatan petir ungu yang menggetarkan udara."Gravitasinya berubah," geram Lycan, menancapkan cakarnya ke dalam pasir untuk menahan tubuhnya. "Tekanannya sangat berat.""Bukan hanya gravitasi, energi manaku mendidih di dalam darahku," sahut Aegir, mencengkeram trisulanya erat-erat sambil mengernyit. "Sepertinya tempat ini merespons kita."TING!Panel sistem di depan Vania mendadak berubah wujud menjadi layar emas elegan dengan antarmuka yang benar-benar berbeda.[Selamat datang, Administrator Baru.][Sistem Manajemen Abyss Aktif.]"Administrator?" dahi Vania berkerut dalam, matanya menyipit membaca tulisan itu. "Sistem, apa-apaan ini? Aku bukan lagi pemain atau pewaris? Kenapa aku dipanggil Administrator?""Istriku, lihat ini!" Zephyr berseru dengan nada takjub, mengangkat tangann
Keheningan mutlak turun menyelimuti Dataran Tandus Kimerik. Tidak ada satu pun yang berani bergerak selama beberapa detik. Bahkan hembusan angin gurun seolah mati, enggan menyentuh jurang hitam pekat yang baru saja menganga di depan mata mereka."Aura apa ini?" bisik Lycan, memecah kesunyian. Cakar esnya perlahan memendek, namun bulu kuduk Raja Serigala itu meremang hebat. "Baunya... jauh lebih purba dari daratan es paling utara sekalipun.""Bahkan dasar lautan terdalam di kerajaanku tidak memiliki aura setua dan semencekam ini," gumam Aegir pelan. Trisula di tangan Aegir bergetar seiring dengan gemetar tangannya.Zephyr mendecakkan lidah, mencoba melemparkan lelucon meski suaranya terdengar sumbang dan dipaksakan. "Katakan padaku, Istriku. Kita tidak akan langsung melompat ke lubang hitam mengerikan itu sekarang, kan? Karena sumpah, aku benci tempat gelap.""Di dalam sana... auranya sangat menyesakkan," desis Gargantua, wajah itu memucat pasi menatap kedalaman jurang.TING!"Sis
Warning! Adegan Nganu!Hyper Lycan. **Lycan menggeram pelan, suaranya penuh kepuasan mendengar pengakuan Vania. Tangannya masih mencengkeram pinggul istrinya dengan kuat, batangnya masih tertanam sepenuhnya di dalam tubuh yang masih bergetar.“Bagus… sangat bagus,” bisik Lycan di telinga Vania.
“Jangan…” Vania mencengkeram punggung Aegir kuat-kuat, kuku-kukunya menekan kulitnya. Suaranya parau dan penuh nafsu."Tetap di dalam… diam dulu. Lubangku belum terbiasa… rasanya terlalu penuh.”Vania menggigit bibir, napasnya tersengal. “Thalassus-mu yang tebal ini… setiap tonjolannya menekan dind
“Ugh! Air! Beri aku air sekarang!”Vania memuntahkan cairan hitam itu ke lantai, terbatuk keras. “Uhuk! Tenggorokanku panas!”“Vio!” Aegir panik, menyodorkan segelas air. “Apa kau keracunan? Tolong jangan mati!”Vania meneguk air itu rakus.“Menarik,” Zephyr menyipit. “Apakah ekstrak jamurnya terla
"Kenapa... kenapa kau peduli pada sisikku?" Tanya Aegir saat hendak menyesap darah Vania. "Karena kau bilang kau cantik. Aku ingin membuktikannya. Aku ingin melihat sisikmu tumbuh kembali. Aku ingin melihat siripmu yang indah mengembang di dalam air... agar aku bisa melihatmu berenang dengan bebas






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu