/ Romansa / Ah! Enak Mas Dokter / Bab 468: Dunia Seakan Runtuh

공유

Bab 468: Dunia Seakan Runtuh

작가: Dita SY
last update 게시일: 2026-01-09 08:00:26
"Hubby!" Teriakan histeris Elina memecah keheningan kamar mewah bernuansa pink putih. Disusul suara tangis lirih Edgar.

Bocah kecil itu merangkak, mendekati sang ibu lalu memeluknya erat. Tak ada kata yang terucap, Edgar hanya menangis melihat ibunya menjerit-jerit.

Sementara di tempat lain, ia melihat sang ayah terbaring lemah tak sadarkan diri.

Wajah tampan itu, yang selalu tersenyum meski ia sedang marah, terlihat pucat dengan bibir berbusa.

"Mommy ... kenapa Daddy tidak menatapku?"
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (24)
goodnovel comment avatar
Wardah Faizah
pram nya meninggal aja...dah lelah
goodnovel comment avatar
Mira
wajar Pram begitu, begitu mudahnya dia menghilangkan nyawa banyak orang.manusia yg ga punya hati. emosi lihat dia.tapi disaat dia jd suami dan ayah yg baik jd kasian jg liat dia
goodnovel comment avatar
Ayu Ayuningtiyas
Klo ada sesion duanya ,entar ceritanya yg enak ya Thor,jgn ada balas dendam balas dendaman ,cerita cinta ,komedi ,romantis dan ada sedihnya dikit" ,biar alurnya tdk bosen... hehehehe
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 622: Terkunci

    "Jangan putus komunikasi ini!" tegas Darko di tengah-tengah rasa cemasnya."Ya," sahut Adrian datar.Adrian berhasil menyelinap masuk melalui celah pintu bawah yang berhasil diretas Darko.Begitu kakinya menapak di dalam ruangan, keheningan yang pekat dan aroma khas besi tua yang berkarat langsung menyambutnya.Udara di dalam sini terasa sangat pengap, dingin, dan dipenuhi debu tebal yang langsung membuat tenggorokannya terasa gatal.​Dengan menggunakan senter taktis yang disorotkan rendah ke lantai, Adrian mulai menjelajahi ruangan yang luas itu.Ini adalah bagian terdalam dari bangunan kosong yang terhubung dengan sisa-sisa jaringan bawah tanah Marco.Di sekelilingnya, deretan lemari besi tua dan sisa-sisa instalasi pipa pembuangan air tampak seperti monster logam yang membeku dalam kegelapan.​Adrian melangkah deng

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 621: Nekat!

    Di tempat berbeda, Adrian tengah berusaha menyelesaikan missi berbahayanya.Saat ini ia sedang berjongkok di balik sisa-sisa pilar beton bangunan bekas pabrik pengolahan air yang lembab.Dari celah dinding yang retak, ia menempelkan teropong night vision ke matanya. Melalui pendaran visual hijau monokrom itu, Adrian mengamati situasi dengan napas tertahan.​Kondisi bangunan kosong tempatnya berada memang sunyi senyap, sesuai dengan prediksi Darko. Namun, masalah besarnya terletak tepat di seberang tembok pembatas.Pabrik pengolahan kayu yang berdiri persis di sebelah bangunan ini tampak sangat hidup.Cahaya lampu tembak menerangi setiap sudut halaman pabrik tersebut. Di sana, setidaknya ada enam orang pria tegap dengan seragam taktis hitam dan senjata laras panjang berpatroli secara berkala. Mereka adalah Vultures.​"Adrian, kau sudah di dalam?" Suara Darko b

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 620: Serba-Salah

    Lama Intan terpaku di atas sofa, membiarkan dilema hebat mengoyak batinnya.Namun, dorongan naluri seorang istri ternyata jauh lebih kuat daripada rasa takutnya.Tepat pukul setengah empat pagi, di saat langit Jakarta masih pekat dan udara malam terasa sangat menusuk, Intan bangkit berdiri. Wajahnya yang pucat kini menyiratkan sebuah ketetapan hati yang nekat.​"Ibu ... beneran mau pergi?" Mbak Lastri bertanya dengan nada sangat cemas saat melihat Intan meraih kunci mobil di atas meja.​"Saya harus pergi, Mbak. Maaf ya, saya titip Maura. Tolong jaga dia baik-baik. Saya janji tidak akan lama," jawab Intan dengan suara parau namun tegas.​Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Intan melangkah ke luar dari apartemen. Di area parkir bawah tanah yang sepi, ia masuk ke dalam mobil Avanza Hitam mobil baru yang sengaja dibelikan Adrian beberapa bulan lalu agar ia bisa bepergian dengan aman

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 619: Bimbang

    "Kok belum datang?" Intan menoleh ke arah pintu apartemen, tak ada tanda-tanda orang datang.Jam dinding di apartemen terus berdetik hingga jarumnya menunjukkan pukul tiga lewat lima belas menit.Intan menghela napas kian panjang, dengan perasaan gelisah yang menyelimuti hatinya.Detik-detik berlalu. Setelah penantian yang terasa seperti berabad-abad bagi Intan, bel pintu akhirnya berbunyi pelan.Intan langsung bergegas membuka pintu dan menemukan Mbak Lastri yang berdiri dengan napas sedikit terengah-engah, ditemani suaminya yang mengantar sampai ke depan pintu unit apartemen.​"Mbak Lastri, terima kasih banyak sudah datang ke sini. Maaf merepotkan," ucap Intan lirih, dengan kedua manik mata yang berkaca-kaca.Ia menyalami suami Mbak Lastri yang kemudian berpamitan untuk menunggu di lobi bawah.​"Sama-sama, Bu Intan. Maaf sebelumnya ya B

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 618: Semakin Cemas

    Di rumah Nila, suara desah dan lenguh yang terdengar memenuhi ruang kamar. Sementara di apartemen, suara jantung Intan berdegup cepat seperti genderang.Di dalam apartemen yang sunyi itu, Intan berjalan mondar-mandir di ruang tengah dengan langkah yang tak tenang.Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua lewat tiga puluh menit dini hari. Kecemasannya terhadap Adrian sudah berada di titik puncak.Sebagai seorang istri dari seorang Detektif, ia tahu bahwa ketika ponsel Adrian mati di tengah malam tanpa ada kabar apa pun, itu bukanlah pertanda baik.​"Aku harus mencarinya," gumam Intan pada diri sendiri, jemarinya meremas ujung daster yang ia kenakan dengan kuat-kuat.​Namun, tepat ketika ia hendak meraih kunci mobil di atas meja, langkahnya terhenti.Ia menoleh ke arah pintu kamar yang tertutup rapat. Di kamar itu ada anak perempuannya yang belum genap berusia d

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 617: Perkasa ++

    "Siapa yang nelepon Sweety?" tanya Andi sambil menatap punggung istrinya dengan senyuman mesum."Intan Mas," jawab Nila.Ia meletakkan ponsel di atas meja rias dengan helaan napas panjang. Pikirannya masih sedikit tertinggal pada curhatan Intan yang terdengar sangat cemas.Namun, begitu ia membalikkan tubuh dan melangkah kembali ke arah tempat tidur, suasana di dalam kamar langsung terasa sangat berbeda.Ketegangan karena rasa khawatir seketika menguap, digantikan oleh ketegangan jenis lain yang jauh lebih mendebarkan.​Di bawah temaram lampu tidur yang memancarkan cahaya kuning keemasan, Andi, sedang bersandar di tumpukan bantal.Pria itu sama sekali belum memejamkan mata. Sebaliknya, tatapannya begitu tajam dan fokus, langsung terkunci pada sosok Nila yang hanya mengenakan lingerie satin tipis berwarna merah marun.​Andi menyunggingkan

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status